Riyan Sadewa, seorang kuli bangunan di Bandung, hidup pas-pasan hingga sebuah kecelakaan di lokasi kerja mengubah segalanya. Sebuah sistem misterius muncul, memaksanya menghabiskan uang dengan syarat tidak boleh mendapatkan keuntungan sedikit pun. Jika ia untung, nominal uang yang harus dibuang justru berlipat ganda. Riyan terjebak dalam permainan ekonomi yang absurd, membeli aset besar hanya untuk merusak harganya demi memuaskan sistem. Di tengah tekanan ini, ia harus belajar bahwa membuang uang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari nafkah, dan ia harus menemukan cara untuk menghentikan siklus ini sebelum hidupnya hancur.
"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah bertambah."
"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"
Bagaimana kelanjutannya..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Keesokan paginya, Lembang disambut oleh kabut tipis yang menyelimuti perkebunan teh, tetapi di dalam resor privat Keluarga Zevan, Riyan sudah bangun sejak subuh. Bukan karena dia bersemangat menjadi calon menantu konglomerat, melainkan karena dada kirinya sudah mulai terasa nyut-nyutan sebuah sinyal pengingat dari Sistem bahwa waktu satu triliun rupiahnya sedang berjalan mundur.
[Sisa Waktu Misi Utama: 22 Jam : 10 Menit]
[Target Pengeluaran Sektor Vandersen: 1.000.000.000.000 Rupiah]
Riyan keluar dari kamar VIP dengan setelan yang sama: kaus oblong abu-abu bernoda semen yang sudah agak kering dan celana jins robek. Saat dia tiba di lobi resor, dua pengawal berjas hitam kemarin malam sudah berdiri tegap di samping sebuah kunci mobil yang diletakkan di atas nampan perak.
"Selamat pagi, Pak Riyan," sapa pengawal itu seraya membungkuk hormat.
"Nona Kezia sudah berangkat ke kantor pusat Zevan Group sejak jam lima subuh. Beliau berpesan agar kami memfasilitasi seluruh kebutuhan Anda hari ini. Ini adalah kunci mobil mewah custom milik resor, silakan Bapak gunakan sesuka hati."
Riyan menyambar kunci mobil itu tanpa banyak cengkerama.
"Makasih, Bang. Gua cabut dulu. Ada urusan mendesak yang menyangkut hidup dan mati."
Kedua pengawal itu saling pandang dengan tatapan takjub. Lihat itu, bisik salah satu pengawal setelah Riyan menjauh. 'Seorang miliarder triliun terhormat, tapi tatapan matanya begitu liar dan terburu-buru. Beliau pasti sedang mengejar kesepakatan bisnis rahasia antarkontinen!
Padahal, Riyan hanya sedang panik mencari mal terbesar di pusat kota Bandung yang dimiliki oleh Keluarga Vandersen sebuah dinasti penguasa pasar barang mewah impor, perhiasan berlian, dan supercar eksklusif.
Nama tempatnya adalah Vandersen Plaza, sebuah mal megah di kawasan pusat kota yang hanya boleh dimasuki oleh kalangan jetset. Di depan pintunya bahkan tertulis papan peringatan halus bahwa pengunjung berpakaian tidak rapi dilarang masuk.
Setengah jam kemudian, mobil SUV hitam besar yang dikendarai Riyan berhenti tepat di lobi utama Vandersen Plaza. Begitu Riyan turun dengan sandal jepit swau-nya, petugas keamanan lobi langsung memasang wajah tegang. Tiga orang satpam bertubuh tegap segera menghadang langkah Riyan tepat di depan pintu kaca otomatis.
"Maaf, Mas. Mau kirim barang atau ada proyek renovasi di dalam?" tanya kepala satpam dengan nada meremehkan, tangannya berjaga di atas kopel senjatanya.
"Kalau mau lewat, pintu masuk karyawan dan buruh ada di basement belakang. Area lobi ini hanya untuk pengunjung mal."
Riyan mendengus pelan, matanya melirik ke dalam mal yang lantainya dilapisi marmer Italia mengilat.
"Gua bukan mau renovasi, Bang. Gua ke sini mau belanja. Emang kuli bangunan gak boleh belanja di sini?"
Satpam itu terkekeh sinis. "Mas, jangan bercanda. Di dalam ini isinya toko Gucci, Rolex, sama butik mobil Ferrari. Satu kaus kaki di dalam sana harganya bisa buat bayar gaji kuli kamu setahun. Mending Mas pergi sebelum kami usir secara kasar."
Riyan tidak ingin membuang waktu berharganya yang tinggal 22 jam. Tanpa bersuara, dia mengeluarkan ponsel pintarnya yang layarnya retak seribu.
Aplikasi Mobile Banking dibuka, lalu dia menekan menu profil akun prioritas VIP internasionalnya dan menyodorkannya tepat di depan hidung sang kepala satpam.
"Gua tanya sekali lagi. Cukup gak duit di HP rusak gua ini buat beli seisi mal lu?" ucap Riyan dengan nada suara yang teramat santai.
Satpam tersebut awalnya menatap layar ponsel itu dengan malas, namun sedetik kemudian, wajahnya mendadak kaku.
Pupil matanya membesar hingga batas maksimal. Angka 3,45 triliun rupiah tertera di sana dengan kode enkripsi bank paling aman di dunia yang hanya dipegang oleh segelintir manusia paling berkuasa di bumi.
G-Gila! Ini pemilik modal kelas paus! Jantung kepala satpam itu hampir copot. Kakinya mendadak lemas hingga dia harus berpegangan pada tiang pembatas besi.
"M-Mohon maaf sebesar-besarnya, Tuan!" suara kepala satpam itu mendadak melengking tinggi karena panik. Dia langsung membungkuk sembilan puluh derajat hingga kepalanya hampir menyentuh marmer.
"Saya benar-benar buta! Saya tidak mengenali bahwa Anda adalah seorang konglomerat agung yang sedang... melakukan penyamaran! Silakan masuk, Tuan! Buka pintunya! Cepat buka!"
Dua satpam lainnya yang ikut melihat angka itu langsung ikut membungkuk gemetaran, membuka pintu kaca lebar-lebar seolah-olah Riyan adalah seorang presiden yang sedang berkunjung.
Riyan berjalan masuk membelah mal mewah itu dengan langkah santai, mengabaikan tatapan heran dari para sosialita bergaun mahal yang berpapasan dengannya.
Target pertamanya adalah "Vandersen Auto Gallery", sebuah ruang pameran (showroom) raksasa di lantai dasar mal yang memajang puluhan mobil sport mewah impor dengan harga puluhan miliar rupiah per unitnya.
Ruang pameran ini adalah salah satu sumber pendapatan terbesar sekaligus kebanggaan utama dari Valerie Vandersen, anak gadis Keluarga Vandersen yang terkenal sombong dan sangat menjaga gengsi kelas atasnya.
Di dalam showroom yang wangi interior kulit baru itu, seorang manajer penjualan pria berdasi kupu-kupu sedang sibuk melayani sepasang suami istri kaya. Begitu melihat Riyan yang dekil masuk dan langsung memegang-megang kap mesin mobil Lamborghini Aventador seharga dua puluh miliar dengan tangannya yang bekas semen, si manajer langsung berteriak murka.
"Hei! Tangan kotor kamu jangan pegang-pegang bodi mobil itu! Kalau catnya tergores, kamu gak bakal mampu ganti rugi meskipun kamu jual seluruh ginjal keluarga kamu!" bentak si manajer penjualan dengan wajah merah padam.
Riyan menoleh, matanya berbinar riang. Bagus! Bentak gua lagi yang keras! Hina gua terus! Biar skenario kerugian gua berjalan mulus! batin Riyan bersorak gembira.
"Oh, gak mampu ganti ya?" Riyan tersenyum geli.
Dia melangkah mendekati meja kasir showroom tersebut, diikuti oleh manajer yang masih terus mengomel. Riyan mengeluarkan ponsel retaknya dan menggebrak meja kasir dengan pelan.
"Gua gak mau ganti catnya. Gua mau beli seluruh mobil yang ada di dalam showroom ini sekarang juga. Totalnya ada berapa unit?"
Manajer penjualan itu tertawa mengejek.
"Beli semua? Kamu pikir ini pasar loak? Di sini ada tiga puluh unit supercar impor edisi terbatas. Total nilainya mencapai satu triliun dua ratus miliar rupiah! Kamu mau bayar pakai daun jengkol?!"
"Gua bayar pakai transfer tunai sekarang. Satu triliun dua ratus miliar. Gak pakai dicicil," kata Riyan tegas.
"Tapi setelah gua beli, gua punya satu aturan mutlak yang harus ditulis di dalam surat kontrak."
Si manajer langsung terdiam, tawanya terhenti melihat keyakinan di mata Riyan. Pihak kasir yang penasaran mencoba memasukkan nomor rekening perusahaan mereka ke ponsel Riyan. Dan dalam hitungan detik...
TINGGG!
Sebuah notifikasi dana masuk dengan nominal 1,2 Triliun Rupiah resmi mendarat di rekening utama Vandersen Auto Gallery. Sistem komputer mereka langsung membunyikan alarm tanda transaksi terbesar dalam sejarah korporasi telah pecah.
Manajer penjualan itu seketika lemas, berlutut di atas lantai marmer dengan wajah pucat pasi karena syok sekaligus ketakutan telah menghina pria paling kaya yang pernah menginjakkan kaki di mal mereka.
"A-Anda... Anda benar-benar membelinya... Mohon ampun, Tuan! Apa aturan mutlak yang Anda inginkan? Kami akan penuhi semuanya!"
Riyan tersenyum sangat lebar, sebuah senyuman gila yang membuat merinding siapa saja.
"Aturan mutlak gua sederhana," ucap Riyan dengan suara lantang yang menggema di seluruh mal.
"Mulai menit ini, seluruh mobil sport mewah seharga puluhan miliar ini resmi gua jual kembali untuk umum dengan harga dua puluh juta rupiah per unit, alias setara harga motor matic bekas! Dan siapa saja kuli bangunan, tukang ojek, atau sopir angkot di luar sana boleh beli tanpa syarat! Gua mau hancurin nilai eksklusivitas barang mewah Keluarga Vandersen sampai gak ada harganya lagi!"
Suasana di dalam Vandersen Auto Gallery seketika berubah menjadi senyap senyap, seolah-olah petir kembali menyambar di dalam ruangan tertutup tersebut. Tindakan gila Riyan menghancurkan harga pasar barang elit baru saja resmi dimulai.