Pada malam Tahun Baru 2035, seluruh manusia di bumi menerima sebuah notifikasi misterius yang muncul tepat di depan mata mereka.
【Integrasi Dunia akan dimulai dalam 365 hari.】
Tak ada yang tahu siapa pengirimnya. Tak ada yang mampu menjelaskan bagaimana layar itu muncul. Setelah berbulan-bulan tanpa kejadian apa pun, dunia mulai melupakannya dan menganggapnya sebagai fenomena aneh semata.
Namun, tidak dengan Leon.
Di malam yang sama, ia menerima notifikasi kedua yang hanya bisa dilihat olehnya.
【Sistem Simulasi Satu Tahun berhasil diaktifkan.】
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 — Kawanan Dire Wolf (Bagian 1)
Lolongan panjang itu masih menggema di antara pepohonan.
Udara yang semula hanya terasa dingin kini berubah menjadi menyesakkan.
Leon menghitung bayangan yang keluar dari balik semak-semak.
Satu...
Tiga...
Lima...
Delapan...
Dan jumlahnya terus bertambah.
Dalam beberapa saat, sebelas ekor Dire Wolf telah berdiri mengelilingi area itu. Ukurannya sedikit lebih kecil daripada pemimpin kawanan, tetapi aura buas yang mereka pancarkan tetap membuat siapa pun bergidik.
Mereka tidak menggeram.
Tidak pula langsung menyerang.
Mereka hanya mengamati.
Seolah sedang menunggu perintah.
Di sisi lain, Forest Gob yang tadi begitu percaya diri kini mundur hingga puluhan meter. Bahkan pemimpin mereka menundukkan kepala dalam-dalam kepada kawanan serigala itu.
Leon menyadari sesuatu.
"Monster yang lebih lemah..."
"...takut pada monster yang lebih kuat."
Rowan mengangguk tanpa mengalihkan pandangan.
"Di hutan, kekuatan menentukan segalanya."
Ia perlahan menggeser posisi hingga berdiri di depan Leon.
"Mulai sekarang, jangan bergerak sembarangan."
"Tapi kita dikepung."
"Itulah sebabnya kau harus tetap tenang."
Leon menarik napas dalam.
Ketakutan masih ada.
Namun ia mulai belajar mengendalikannya.
Sementara itu, pemimpin Dire Wolf melangkah maju beberapa langkah.
Bekas luka tipis di kaki depannya akibat tebasan Rowan masih mengeluarkan sedikit darah.
Monster itu menatap Rowan, lalu Leon.
Tatapannya berhenti cukup lama pada Leon.
"Kenapa dia terus melihatku...?"
gumam Leon.
Belum sempat Rowan menjawab, Lyra tiba-tiba muncul dalam bentuk cahaya biru di samping Leon. Wujudnya hanya bisa dilihat olehnya.
Ekspresi Administrator itu jauh lebih serius daripada biasanya.
"Leon."
"Ada apa?"
"Jangan lakukan gerakan mendadak."
Leon mengangguk pelan.
"Aku tahu."
"Bukan itu."
Lyra menatap pemimpin Dire Wolf.
"Ia sedang mengingat aromamu."
Leon mengernyit.
"Mengingat?"
"Dire Wolf memiliki ingatan penciuman yang sangat tajam."
"Kalau hari ini kau lolos..."
"...ada kemungkinan mereka masih bisa mengenalimu berbulan-bulan kemudian."
Mendengar itu, Leon merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.
Monster yang bisa mengingat mangsanya?
Dunia ini benar-benar tidak memberi kesempatan bagi mereka yang lengah.
Di depan mereka, Rowan perlahan mengangkat pedangnya.
Namun ia tidak mengambil posisi menyerang.
Ia justru berbicara dengan suara tenang.
"Leon."
"Ya?"
"Berapa jumlah lawan?"
Leon segera menghitung lagi.
"Sebelas Dire Wolf."
"Bagus."
"Kalau begitu..."
"...berapa yang harus kita kalahkan agar bisa menang?"
Leon terdiam.
Pertanyaan itu terdengar aneh.
Mengalahkan sebelas serigala jelas mustahil bagi mereka berdua.
Melihat kebingungannya, Rowan tersenyum tipis.
"Itu pertanyaan jebakan."
Leon berkedip.
"Dalam dunia nyata..."
"...kemenangan tidak selalu berarti membunuh semua musuh."
Kalimat itu membuat Leon berpikir.
Ia kembali memperhatikan sekeliling.
Mereka berada di lereng.
Di belakang terdapat pohon-pohon besar.
Di sisi kanan ada sungai kecil yang mereka lewati tadi.
Sedangkan di kiri...
Terdapat jalan sempit menuju desa.
Mata Leon membelalak.
"Kita..."
"...cukup kabur?"
Rowan terkekeh.
"Bukan kabur."
"Mundur dengan tujuan."
"Seorang pemburu bodoh akan mati demi harga dirinya."
"Pemburu yang cerdas akan hidup untuk bertarung lagi."
Ucapan itu menancap kuat di benak Leon.
Di dunia asalnya, banyak film menggambarkan pahlawan yang selalu bertarung sampai akhir.
Namun di dunia ini...
Bertahan hidup adalah kemenangan.
Tiba-tiba, pemimpin Dire Wolf melolong pendek.
Awoo!
Sepuluh Dire Wolf lainnya langsung bergerak.
Namun bukan menyerang.
Mereka menyebar.
Sebagian menuju sisi kanan.
Sebagian ke kiri.
Sisanya tetap berada di depan.
Leon langsung memahami maksud mereka.
"Mereka..."
"...sedang menutup jalan keluar!"
"Benar."
jawab Rowan.
"Dan itu berarti..."
"...pemimpin mereka tidak ingin kehilangan kita."
Rowan memasukkan dua jari ke dalam mulutnya.
Fiiittt!!
Suara siulan nyaring menggema di seluruh hutan.
Beberapa detik kemudian...
Dari kejauhan terdengar bunyi lonceng kecil.
Leon menoleh ke arah desa.
"Suara apa itu?"
"Kode darurat."
"Setiap pemburu di Desa Aster akan mendengarnya."
Leon menatap Rowan dengan harapan.
"Berarti bantuan akan datang?"
"Ya."
"Tapi..."
"...mereka membutuhkan waktu."
Belum selesai Rowan berbicara, seekor Dire Wolf muda tiba-tiba melompat dari samping.
Kecepatannya jauh lebih tinggi daripada Forest Gob.
Leon bahkan nyaris tidak melihat pergerakannya.
Namun kali ini...
Tubuhnya bergerak lebih dulu daripada pikirannya.
Ia memutar tubuh ke kiri.
Cakar Dire Wolf hanya merobek ujung bajunya.
Leon membalas dengan ayunan pedang kayu.
Buk!
Pedang itu menghantam rahang serigala tersebut.
Dire Wolf muda terpental beberapa langkah.
Leon sendiri membeku.
"Aku..."
"...berhasil menghindarinya?"
Rowan tersenyum bangga.
"Bukan keberuntungan."
"Itu hasil latihanmu."
Leon baru menyadari bahwa semua latihan dasar Rowan mulai membentuk refleks tubuhnya.
Meski masih jauh dari sempurna...
Ia tidak lagi menjadi orang biasa.
Namun saat harapan mulai muncul...
Suara gemuruh tiba-tiba terdengar dari arah hutan yang lebih dalam.
Dum...
Dum...
Dum...
Suara langkah itu jauh lebih berat daripada langkah Dire Wolf.
Bahkan seluruh kawanan serigala mendadak menundukkan kepala.
Rowan memucat.
"Mustahil..."
Leon menoleh.
"Apa lagi sekarang?"
Rowan menggenggam pedangnya erat-erat.
Dengan suara pelan, ia mengucapkan nama makhluk yang paling tidak ingin ditemuinya hari itu.
"Alpha Dire Wolf..."