Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia dinodai dan kehilangan harga dirinya. Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.
Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.
Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.
Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Di tengah lantai kamar yang bersih, tubuh Kania tergeletak lemas di atas genangan darah yang masih basah dan menyebar melebar. Bau anyir samar memenuhi ruangan.
Suara teriakan itu segera menggema ke seluruh penjuru rumah. Victor yang baru saja melepaskan jasnya langsung melangkah cepat dengan langkah panjang, tanpa ekspresi terkejut berlebihan namun tatapannya mengeras tajam. Ia tiba tepat di ambang pintu, melihat pemandangan itu, lalu segera memberi perintah tegas tanpa ragu.
"Panggil dokter sekarang juga!"
Tak sampai sepuluh menit, dokter pribadi tiba dan segera memeriksa kondisi Kania di atas tempat tidur. Ruangan itu sunyi senyap, hanya terdengar suara napas teratur sang dokter yang bekerja dengan cermat. Victor berdiri di sudut ruangan, bersandar di dinding dengan kedua tangan disilangkan di dada, wajahnya tetap dingin namun matanya tak lepas mengamati setiap gerakan.
Setelah lebih dari dua puluh menit memeriksa dan membersihkan luka, dokter berdiri sambil melepas sarung tangannya yang berlumuran darah, lalu berdiri menghadap Victor.
"Tuan Victor… hasil pemeriksaan menunjukkan Nona Kania mengalami keguguran. Usia kandungannya baru sekitar tiga mingguan, namun tubuhnya sangat lemah, kurang gizi, dan tekanan batin yang luar biasa berat, itulah penyebabnya dia mengalami keguguran. Kondisinya sangat lemah, pastikan dia mendapatkan nutrisi yang tepat, dan tidak stres."
Victor terdiam sesaat. Tidak ada emosi tergambar di wajahnya, hanya tatapan yang makin tajam dan penuh perhitungan. Ia melangkah mendekat sedikit, menatap tubuh Kania yang terbaring lemas di balik selimut, lalu menoleh kembali pada dokter.
"Jadi dia hamil… dan tidak memberitahu siapa pun."
"Kemungkinan besar dia sendiri tidak tahu tentang kehamilannya," jawab dokter hati-hati. "Tubuhnya sudah sangat tertekan sejak hari pertama tiba, ditambah rasa takut, sedih, dan kurang istirahat yang cukup hingga janin itu tidak mampu bertahan."
Victor mengangguk samar, "Berikan obat penguat dan penambah darah. Atur jadwal makan dan perawatan khusus. Nyawanya adalah tanggung jawabku, dan dia belum membayar hutang nyawanya itu. Jangan sampai dia mati sebelum waktunya."
Setelah dokter dan pelayan keluar meninggalkan ruangan, Victor berjalan perlahan mendekati sisi tempat tidur. Ia berdiri diam memandang wajah pucat Kania yang masih tak sadarkan diri. Di balik tatapan dinginnya, ada satu kesimpulan yang mulai terbentuk jelas di benaknya, bukan hanya masa lalu yang membawa luka bagi wanita ini, tapi juga ada jejak yang belum terungkap.
"Kau menyimpan banyak rahasia, Kania…" gumamnya lirih, hanya untuk dirinya sendiri. "Mari kita lihat apakah luka ini akan membuatmu semakin hancur… atau bangkit dengan api yang lebih membara."
-
-
Kesadaran Kania pulih perlahan, terasa seperti mengapung di tengah kegelapan yang dingin dan berat. Yang pertama ia rasakan adalah rasa nyeri yang menjalar dari perut hingga seluruh tubuh, disertai rasa lemas luar biasa seolah tenaganya telah tersedot habis. Matanya terbuka perlahan, pandangannya kabur sebelum akhirnya fokus pada langit-langit kamar yang terbiasa dilihatnya sebulan ini.
Begitu ia mencoba menggerakkan pinggulnya, rasa perih yang tajam membuatnya mengerang pelan. Sesaat kemudian, ingatan samar melintas. Rasa kram hebat, pusing yang memutar, dan rasa hangat yang membasahi pakaiannya sebelum ia kehilangan kesadaran.
"Sudah sadar."
Suara rendah dan dingin itu terdengar dari samping tempat tidur. Victor duduk di kursi yang ditarik sedikit jauh, bersandar santai dengan kedua tangan disilangkan di dada, tatapannya lurus menusuk tanpa ada rasa iba.
Kania memutar kepalanya perlahan, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Apa… apa yang terjadi padaku? Mengapa terasa sakit sekali?"
"Dokter sudah memeriksa. Kamu mengalami keguguran. Usia kandunganmu masih sangat muda, tapi tubuhmu yang lemah dan batin yang tertekan membuatnya tidak mampu bertahan. Bayinya tidak terselamatkan."
Kalimat itu meledak bagaikan petir di siang bolong. Napas Kania terhenti sejenak, lalu ia menggeleng cepat seolah menolak kenyataan itu.
"Tidak… tidak mungkin… aku tidak tahu… aku tidak merasakannya…" suaranya terputus-putus dan bergetar hebat. Tangannya gemetar menyentuh perutnya yang terasa kosong dan nyeri. "Anak ini... dia memang tak seharusnya ada..."
Tangisannya meledak seketika, menangisi nasibnya yang kejam. Jika malam itu ia tidak keluar untuk membeli kado ulang tahun untuk Luna mungkin hal buruk itu tidak akan menimpanya.
"Menangislah sepuasnya sekarang, setelah itu minum obatnya agar kondisimu cepat pulih." Victor berdiri, melangkah mendekat satu langkah, "Aku tidak suka orang yang lemah. Kamu ada disini untuk tetap hidup. Jadi apakah kamu sudah siap untuk bercerita padaku?"
Tangis Kania perlahan mereda, ia mengangkat wajahnya menatap Victor, "Hidupku ini sudah tidak ada gunanya lagi... aku sudah hancur, lalu... apa yang kamu inginkan dariku sebenarnya?"
"Masih berguna. Untuk balas dendam." Victor mendekat lagi, suaranya pelan tapi menusuk. "Tidakkah kamu ingin membalas mereka yang sudah menghancurkan hidupmu, Kania Adelia Wijaya."
Kania tertegun mendengar namanya disebut lengkap, seolah itu adalah tamparan keras yang membangunkannya dari kepedihan yang melumpuhkan. Air matanya masih terus mengalir, namun isak tangisnya perlahan terhenti, digantikan oleh napas pendek yang terengah-engah. Jari-jarinya yang dingin dan gemetar mencengkeram kuat selimut yang menutupi tubuhnya sampai ke perut.
"Balas… dendam?" bisiknya, suaranya parau dan nyaris tak terdengar, tapi ada getaran baru yang mulai menyala di balik tatapan kosongnya. "Hidupku hancur dalam semalam. Aku... aku diperkosa... dan mereka langsung menghakimiku..."
Air matanya mengalir deras mengingat malam kelam itu, "Mereka sudah mengambil segalanya dariku… kehormatanku, masa depanku, bahkan darah dagingku sendiri yang belum sempat melihat dunia. Apa lagi yang tersisa untuk aku balas?"
Victor melangkah mendekat dengan tenang hingga bayangannya menutupi wajah Kania. Ia meraih dagu Kania, memaksanya menatap lurus ke matanya.
"Tersisa nyawa mereka." jawabnya datar.
"Mereka yang menghancurkan hidupmu, harus mendapatkan balasan setimpal. Tunjukkan jika wanita ternoda pun bisa bangkit dari kegelapan. Buat mereka meminta maaf dan bertekuk lutut padamu."
Kania menatap mata Victor yang tajam dan tak berkedip, rasa sakit yang tadi melumpuhkan perlahan berubah menjadi bara api kecil yang mulai menyala di dadanya. Jari-jarinya yang dingin perlahan mengepal erat, hingga kuku menancap ke telapak tangan tanpa ia rasakan.
"Mereka... Ayahku sendiri... Ibu tiriku... bahkan Haris..." suaranya bergetar, namun kini bukan lagi karena ketakutan, melainkan karena kemarahan yang mulai meluap. "Mereka menganggapku kotor, membuangku seperti sampah. Sedangkan mereka... mereka hidup tenang, berbahagia di atas penderitaanku."
Ia menarik napas panjang, mengumpulkan sisa tenaga yang ada, lalu menatap Victor dengan pandangan yang tak lagi lemah dan putus asa, melainkan penuh tekad yang menyakitkan.
"Baiklah," ucapnya pelan namun tegas, air mata terakhir menetes di pipinya. "Aku mau. Aku akan membuat mereka tahu rasanya kehilangan segalanya, sama seperti yang mereka lakukan padaku. Aku akan membuat mereka menyesal pernah membesarkanku hanya untuk membuangku begitu saja."
Victor melepaskan cengkeramannya di dagu Kania, lalu tersenyum tipis. Senyum yang bukan lagi dingin semata, melainkan senyum melihat benih yang siap tumbuh menjadi badai.
"Pilihan yang tepat," ucapnya rendah. "Mulai detik ini, lupakan bahwa kau pernah memiliki keluarga. Kita akan berjalan bersama. Aku akan memberimu kekuatan, perlindungan, dan segala cara untuk menjatuhkan mereka."
Kania mengangguk, menekan rasa sakit di perutnya seolah itu adalah pengingat abadi akan apa yang harus ia lakukan.
"Baik, mereka bukan lagi keluarga bagiku," janjinya lirih namun pasti. "Sampai mereka berlutut dan mengakui kesalahan, aku takkan berhenti."
Victor berbalik perlahan hendak pergi, namun berhenti sejenak di ambang pintu.
"Istirahatlah, pulihkan tenagamu." ucapnya tanpa menoleh. "Dunia yang dulu kau kenal sudah berakhir, Kania. Sekarang waktunya dunia yang baru, dunia yang kau buat sendiri."
Pintu tertutup pelan, meninggalkan Kania yang kini sendirian di kamar. Paman Remon yang sudah menunggu di dekat pintu kamar segera melangkah mendekat. Wajahnya tampak khawatir namun tetap menjaga sikap hormat.
"Tuan," sapa Paman Remon pelan, "Apakah Nona Kania sudah membaik? Ada hal lain yang perlu saya persiapkan?"
"Tetap awasi dia dengan ketat," perintahnya singkat dan tegas tanpa menoleh. "Pastikan obat dan makanannya selalu teratur, jangan biarkan siapa pun mendekatinya tanpa izinku."
"Baik, Tuan. Saya akan lakukan sesuai perintah Tuan," jawab Paman Remon segera membungkuk.
Victor hanya mengangguk samar, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar pribadinya. Ia butuh waktu sendiri untuk menyusun langkah selanjutnya, dan membiarkan wanita itu mengumpulkan sisa kekuatannya sebelum badai benar-benar dimulai.
-
-
-
Bersambung...
mungkin sakit hati karna bapak Haris masih cinta sama mama Kania yg kandung😏
sabar ya pemirsa, bentar lagi malam pesta dimulai😁
lanjut dong thor🤭🤭