NovelToon NovelToon
Cerpen Misteri Dan Horor

Cerpen Misteri Dan Horor

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

cerita pendek misteri dan horor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15_Kuntilanak hitam part2

Malam Terakhir di Rumah Tua (Bagian 2)

"Apa maksudmu... salah satu dari kami mengenal pembunuhmu?" tanya Raka dengan suara bergetar.

Raka menatap Kuntilanak Hitam yang berdiri beberapa langkah di depannya. Wajahnya yang tadi berusaha berani kini mulai pucat. Tangannya menggenggam kamera erat-erat, meskipun tubuhnya gemetar ketakutan.

Kuntilanak Hitam tidak langsung menjawab. Ia hanya menundukkan kepala. Rambut panjangnya menutupi seluruh wajahnya. Suasana rumah tua itu menjadi semakin dingin.

"Hihihihi... kalian datang ke rumah ini tanpa mengetahui kebenaran yang sebenarnya." bisiknya.

Kuntilanak Hitam mengangkat kepalanya perlahan. Matanya yang hitam pekat menatap mereka bertiga.

Sinta mundur beberapa langkah.

"Jangan mendekat! Kami tidak tahu apa-apa tentang kematianmu!" teriak Sinta.

Sinta berkata sambil menangis ketakutan. Wajahnya pucat, bibirnya bergetar, dan tangannya menggenggam pakaian Dimas karena takut ditinggalkan sendirian.

Kuntilanak Hitam tersenyum tipis.

"Semua orang yang datang ke rumah ini selalu mengatakan hal yang sama..." ucapnya pelan.

Suaranya terdengar seperti berasal dari berbagai arah.

"Lalu... apa yang terjadi pada mereka?" tanya Dimas dengan suara pelan.

Dimas berusaha memberanikan diri bertanya. Namun wajahnya terlihat tegang. Matanya terus memperhatikan sudut ruangan yang gelap.

Kuntilanak Hitam tiba-tiba menghilang.

BRAKKK!

Pintu kamar di lantai atas terbuka keras. Ketiga sahabat itu langsung menoleh.

"Dia... dia hilang?" bisik Raka.

Raka menatap tempat Kuntilanak Hitam tadi berdiri. Wajahnya penuh kebingungan dan ketakutan.

Tiba-tiba terdengar suara dari lantai atas.

"Naiklah..." Suara perempuan itu terdengar lembut, tetapi penuh ancaman.

"Naiklah... dan lihat bagaimana aku mati..." ucapnya lagi.

Sinta langsung menggeleng.

"Tidak! Kita harus pergi sekarang!" teriak Sinta.

Sinta menarik tangan Raka dengan panik. Air matanya jatuh semakin deras. Namun ketika mereka berlari menuju pintu depan...

BRAKKK!

Pintu itu kembali tertutup. Bahkan kunci tua yang berkarat bergerak sendiri.

Klik...Klik...Klik...

Pintu terkunci dari luar. Dimas memukul pintu dengan keras.

"Buka! Buka pintunya!" teriak Dimas.

Dimas menghantam pintu berkali-kali. Wajahnya penuh kepanikan. Napasnya memburu karena rasa takut yang semakin besar.

Tiba-tiba dari belakang mereka terdengar suara bisikan.

"Jangan pergi..." ucap Kuntilanak hitam itu.

Ketiganya perlahan membalikkan badan.

Di dinding ruang tamu, muncul bayangan perempuan berambut panjang. Padahal tidak ada siapa-siapa di sana. Bayangan itu bergerak perlahan mendekati mereka.

Sinta menutup mulutnya.

"Itu... itu bukan bayangan kita..." bisik Sinta.

Sinta berkata dengan suara hampir menangis. Matanya membesar melihat bayangan hitam yang semakin dekat.

Raka mengangkat kamera dan menyorot dinding tersebut. Namun yang terlihat di layar kamera membuat darahnya terasa berhenti.

Ada seorang perempuan berdiri tepat di belakang mereka.

"Jangan bergerak..." bisik Raka.

Raka berkata dengan suara gemetar. Wajahnya berubah pucat saat melihat layar kamera.

Dimas langsung menoleh.

"Ada apa, Raka?" tanya Dimas panik.

Dimas menatap Raka dengan wajah penuh kecemasan.

Raka perlahan mengarahkan kamera ke belakang mereka.

Tidak ada siapa-siapa. Tetapi di layar kamera... Perempuan itu masih berdiri. Bahkan wajahnya semakin dekat.

"Kalian bertiga... sama seperti mereka..." bisik suara dari kamera.

Mereka semua terdiam.

"Apa maksudnya sama seperti mereka?" tanya Raka. Wajahnya penuh rasa takut dan penasaran.

Tiba-tiba kamera Raka mati. Lalu menyala kembali.

Di layar muncul sebuah rekaman lama.

Tahun 1998. Terlihat seorang perempuan muda berjalan masuk ke rumah tua itu sambil menangis.

Di belakangnya ada seorang pria. Pria itu membawa sebuah benda tajam.

Sinta menutup mulutnya.

"Itu... kejadian sebelum dia meninggal..." bisik Sinta.

Sinta berkata lirih. Wajahnya terlihat ngeri melihat rekaman tersebut. Dalam video itu, perempuan muda tersebut berteriak.

"Tolong! Jangan lakukan ini! Aku tidak pernah mengambil apa pun darimu!" kata wanita itu

Suara dalam rekaman terdengar jelas. Lalu pria itu menjawab.

"Diam! Tidak ada yang boleh tahu rahasia keluarga ini!" jawab pria itu dengan marah.

Raka mendekatkan kamera. Wajah pria dalam rekaman mulai terlihat. Dan ketiganya langsung terkejut.

"Itu..." Dimas terdiam.Ia menatap layar dengan mata membesar. Wajahnya penuh ketidakpercayaan.

"Itu siapa, Dimas?" tanya Raka menatap Dimas yang tiba-tiba terlihat sangat ketakutan.

Dimas tidak menjawab. Tangannya mulai gemetar.

"Kamu mengenalnya, kan?" tanya Sinta dengan suara pelan.

Sinta menatap Dimas penuh curiga. Wajahnya masih ketakutan, tetapi kini bercampur kebingungan.

Dimas mundur perlahan.

"Aku... aku tidak tahu..." jawab Dimas terbata-bata.

Dimas berkata sambil menghindari tatapan mereka. Wajahnya terlihat panik dan penuh rasa bersalah.

Tiba-tiba suara Kuntilanak Hitam terdengar dari belakang.

"Jangan bohong..." ucap Kuntilanak itu dengan wajah merah padam menahan amarah.

Ketiga sahabat itu membeku.

Perlahan Kuntilanak Hitam muncul dari balik tangga.

"Kamu tahu siapa dia..." lanjutnya.

Kuntilanak Hitam menatap Dimas.

"Karena darah pembunuhku... mengalir di tubuh keluargamu." lanjutnya.

Dimas langsung terdiam.

"Apa?" Raka dan Sinta berkata bersamaan.

Mereka menatap Dimas dengan wajah terkejut.

Kuntilanak Hitam mendekat.

"Pria dalam video itu... adalah kakekmu." katanya dengan suara lirih

Dimas langsung jatuh terduduk.

"Tidak mungkin..." bisiknya.

Dimas menatap lantai dengan wajah hancur. Air matanya mulai mengalir karena tidak percaya dengan kenyataan yang baru diketahuinya.

Kuntilanak Hitam tersenyum menyeramkan.

"Selama puluhan tahun aku menunggu seseorang dari keluarganya kembali ke rumah ini..." jelasnya

Angin kencang tiba-tiba masuk melalui jendela yang terbuka sendiri. Lampu rumah berkedip. Lalu terdengar suara banyak langkah kaki dari lantai atas.

Tok...Tok...Tok...

Bukan hanya satu orang. Tetapi banyak.

Sinta memandang tangga dengan ketakutan.

"Raka... Dimas... siapa yang ada di atas sana?" tanya Sinta dengan ketakutan.

Suara Sinta bergetar. Wajahnya penuh ketakutan saat melihat bayangan-bayangan hitam mulai muncul di tangga.

Kuntilanak Hitam menoleh ke arah tangga.

"Mereka adalah korban sebelum kalian..." katanya

Tiba-tiba puluhan suara perempuan menangis memenuhi rumah.

"Huuuu... huuuh..."

Dimas menutup telinganya.

"Aku tidak mau mati di sini!" teriak Dimas histeris.

Dimas berteriak sambil menangis. Wajahnya penuh ketakutan dan penyesalan.

Kuntilanak Hitam menatap mereka bertiga.

"Malam ini kalian akan melihat seluruh kebenaran..." ucapnya pelan, namun tegas.

Ia tersenyum.

"Tapi ingat... setelah kalian mengetahui rahasiaku..." Kuntilanak Hitam berhenti berbicara. Matanya berubah semakin hitam. "...tidak semua dari kalian akan keluar hidup-hidup."

Tiba-tiba seluruh pintu kamar terbuka bersamaan.

BRAKKK!

Dan dari dalam kamar terdengar suara seorang perempuan berteriak.

"AKU DIBUNUH DI RUMAH INI!"

Jeritan itu mengguncang seluruh rumah tua. Malam itu baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!