NovelToon NovelToon
Sang Dewa Cangkul Sakti

Sang Dewa Cangkul Sakti

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.

​Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.

​Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Air Penyejuk Jiwa dan Raga

Byur!

Satu ember air sumur dingin mengguyur kepala Yang Chan. Sisa kotoran hitam yang lengket langsung luruh, mengalir bersama air keruh ke tanah berpasir di bawah kakinya.

Sambil menggosok lengannya, ia kembali memanggil kotak hijau di depan matanya.

[Mata Air Kehidupan]

Tanpa suara, setetes air jernih sebesar buah ceri muncul di atas telapak tangannya yang bersih. Air itu berkilau lembut, seolah menyimpan cahaya sendiri di tengah udara halaman belakang yang mulai hangat oleh mentari pagi.

Tanpa ragu, ia mendekatkan tangan dan meminum cairan itu.

Gluk.

Seketika, rasa dingin yang sangat nyaman menjalar dari lidah turun ke tenggorokannya. Sensasi ini berbeda dengan air sumur biasa; dinginnya langsung menembus ulu hati, lalu menyebar ke seluruh jaringan sarafnya.

Tiba-tiba saja, kabut tebal yang selama ini menggelayuti kepalanya terangkat. Ingatan kacau tentang kematian tragis di kehidupan masa lalunya, yang sering kali hadir sebagai mimpi buruk yang menyesakkan dada, kini menguap begitu saja.

Jiwa Yang Chan terasa benar-benar bersih. Trauma masa lalu yang sempat membuatnya sering terjaga di tengah malam kini hilang tak bersisa, digantikan oleh kedamaian yang teramat sangat.

Ia mengembuskan napas lega. "Luar biasa hangat ... tidak, dingin yang hangat," gumamnya, tersenyum sendiri melihat telapak tangannya yang kini tampak lebih segar.

Air misterius itu tidak hanya menyembuhkan goresan batinnya. Lebih dari itu, ia bisa merasakan sisa lelah dari pembersihan otot yang baru saja dilewatinya kini menguap sepenuhnya.

Normalnya, proses Penempaan Tubuh adalah siksaan yang luar biasa bagi para praktisi pemula. Mereka harus menahan rasa panas ekstrem, seolah-olah seluruh organ dalam direbus dalam tungku api untuk mengeluarkan sisa racun duniawi.

Namun, tidak bagi Yang Chan sekarang.

Efek sejuk dari Mata Air Kehidupan yang baru saja ia tenggak terus bekerja secara aktif di dalam perutnya. Cairan misterius itu melapisi setiap dinding organ dalamnya dengan kelembutan yang menenangkan.

Rasa terbakar yang seharusnya menyiksa kini dinetralisasi sepenuhnya, berganti menjadi kesejukan yang mengalir rata di setiap aliran darahnya. Proses kultivasi yang biasanya dilalui dengan jerit kesakitan, kini terasa senyaman berendam di kolam air hangat saat musim dingin.

"Kalau jalannya semudah ini, aku bisa terus berlatih tanpa perlu takut menjadi gila karena menahan sakit," gumamnya pelan.

Rasa penasaran untuk menguji kekuatan barunya mulai menggelitik ujung jarinya. Ia melangkah menuju gudang kayu kecil di sudut halaman belakang rumahnya, lalu mengambil sebuah cangkul tua berkepala besi yang biasa digunakan ayahnya.

Cangkul itu terasa jauh lebih ringan dari ingatan fisiknya yang dulu.

Langkah kakinya kemudian mengarah ke ladang keluarga Yang yang terletak tidak jauh di samping rumah. Lahan itu kering, keras, dan dipenuhi oleh gumpalan tanah liat kelabu yang sulit sekali untuk diolah.

Ia berdiri di tengah ladang, merentangkan kedua kakinya untuk mencari tumpuan yang pas.

Brak!

Cangkul besi itu diayunkannya dengan satu gerakan mantap. Mata besi yang tajam langsung terbenam dalam ke dalam tanah keras yang biasanya membutuhkan tenaga dua orang dewasa hanya untuk menggores permukaannya.

Yang Chan kembali mengangkat cangkulnya.

Satu ayunan. Dua ayunan. Puluhan ayunan berikutnya menyusul dengan ritme yang sangat teratur.

Tidak ada rasa sakit di persendiannya. Tidak ada pula otot punggung yang mendadak kaku atau telapak tangan yang melepuh karena gesekan gagang kayu yang kasar.

Tubuhnya hanya mengeluarkan keringat deras yang mengalir dari pelipis, membasahi kaus tipisnya hingga lepek. Namun, napasnya tetap stabil dan teratur layaknya orang yang hanya melakukan olahraga ringan di pagi hari.

"Ini sangat menyenangkan," ujarnya dengan napas sedikit memburu, menyeka peluh di dahinya menggunakan punggung lengan.

Baginya, inilah esensi latihan yang sesungguhnya. Tanpa perlu meditasi berjam-jam di gua yang dingin, atau bertaruh nyawa melawan binatang buas di tengah hutan terlarang.

Cukup dengan menggarap lahan ini, otot fisiknya terlatih secara alami seiring dengan aliran energi dari sistemnya yang terus bekerja memulihkan tubuh. Jalan kultivasi bertani ini terasa sangat cocok untuk jiwanya yang malas mencari masalah.

Ia menancapkan gagang cangkul ke tanah, lalu menyandarkan tubuhnya dengan santai di sana.

Matanya menatap hamparan tanah liat yang baru saja berhasil digemburkannya dalam waktu singkat. Senyum puas terukir jelas di wajahnya yang kini tampak lebih bersih dan bercahaya.

'Untung saja sistem ini tidak cerewet,' batin Yang Chan penuh rasa syukur.

Tidak ada jendela tugas berwarna hijau yang mendadak muncul dan berkedip merah untuk menyuruhnya membunuh monster. Tidak ada pula ancaman hukuman mengerikan jika ia gagal mencapai ranah tertentu dalam batas waktu yang ditentukan.

Sistem ini murni menjadi alat pendukung pasif yang mengalir seiring dengan keinginannya sendiri.

Tujuan hidupnya sangat sederhana. Ia hanya ingin hidup sehat, berumur panjang, dan memastikan kedua orang tuanya tidak perlu hidup kelaparan atau ditindas oleh klan besar seperti Klan Li yang sombong itu.

Untuk mencapai semua itu, hal pertama yang harus diselesaikannya adalah menyelamatkan ladang keluarga ini dari gagal panen.

Ia meraba dagunya, menatap tanah kering di bawah kakinya dengan pandangan yang kini penuh dengan rencana baru.

"Mata Air Kehidupan ini ... sepertinya bisa melakukan lebih dari sekadar memulihkan tubuhku," gumamnya pelan, senyumnya melebar saat sebuah ide praktis melintas di kepalanya.

1
ಠ⁠ω⁠ಠ
oke, kalau jurusnya pakai bahasa inggris keren juga ya /Sweat/, tapi aku kembalikan ke kalian. Apakah perlu aku revisi agar jadi bahasa indo saja, atau aku pertahankan perubahannya? /Slight/
ಠ⁠ω⁠ಠ: /Scare//Scare//Scare/
total 2 replies
Sulaeman Effendi
bagaimana selanjutnya ?
Sulaeman Effendi
kapan peningkatan kultifasi nya?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Sebenarnya aku lupa perhatiin aspek Kultivasinya /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
seorang pendekar yang bijak 👍
Sulaeman Effendi
tehnik yang tepat 👍😄
Sulaeman Effendi
Asyik tanpa risiko berhasil memuaskan 👍
Sulaeman Effendi
era baru menjelajahi hutan
Sulaeman Effendi
mulai terasa ada perkembangan pertemanan yg menggetarkan
Sulaeman Effendi
iya boy, hidup tenang, menyenangkan dan berhasil gemilang 👍💪😀
Sulaeman Effendi
awal untuk maju dengan sekolah boy
Sulaeman Effendi
sekolah apa kuliah boy
ಠ⁠ω⁠ಠ: Agak beda ini, nggak mirip sekolah, kuliah juga gak mirip /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy ?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Iya, sekolah. Tapi enggak fokus ke sekolahnya, lebih ke hal lain di sekolah/akademi /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy agar pintar dan sakti
Sulaeman Effendi
Tingkatkan terus Boy
M Mugni
ceritanya mantap 💪💪💪
Sulaeman Effendi
terus semangat Boy 💪
Sulaeman Effendi
tak disangka ternyata hebat
ಠ⁠ω⁠ಠ: Udah ada tanda-tandanya /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
waduh bagaimana selanjutnya???
Sulaeman Effendi
bangkitlah petani miskin tunjukkan taring mu
Sulaeman Effendi
mulai seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!