(Mengandung adegan 21+)
Sebuah kisah wanita bernama Asma Aqilatunnisa. Seorang wanita bercadar dengan manik mata biru indah. Membuat siapapun terpesona dengan matanya yang biru seperti lautan. Cantik dan misterius
Hanya sedikit yang tau kenyataan sebenarnya. Asma hanya menyembunyikan noda di balik khimarnya.
Selamat membaca ^_^
Harap apresiasi melalui like, komentar, dan votenya yaa ... Salam cinta dari Zaraa❤
Akun 👉
Ig: @zha_zaraa
Fb: Zaraa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaraa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 16
❤ Happy reading ❤
🌸🌸🌸
Mata Zidan membulat dengan sempurna. Sudah sangat lama ia tak melihat mata cantik istrinya basah oleh air mata. Saat mereka bertengkar kecil pun, Fatimah kadang hanya merajuk dengan mengerucutkan bibirnya.
"Ada apa sayang?" Zidan mengusap pelan air mata di pipi Fatimah. Ia menangkup wajah mungil itu dan menatap mata cantik itu.
"Asma Mas ...." Zidan menautkan alisnya. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Saat aku tanya tentang orang tuanya, ia terlihat kelabakan. Lalu Asma bilang ia sangat bahagia dengan orang tuanya tapi jarinya bergerak Mas."Zidan mengerti. Ternyata kebiasaaan Asma masih sama. Jari kelingkingnya akan bergerak-gerak aneh ketika berbohong.
Ia dan Fatimah menyimpulkan itu saat mereka kecil dulu. Asma pernah menyembunyikan mainan Fatimah dan mengambil ikan di piring Zidan. Dan berbagai macam kejadian tentang kenakalan Asma saat kecil membuat mereka paham dengan Asma. Termasuk ciri kebohongannya.
"Aku cuma merasa kasihan, gimana kalau orang tua asuh Asma lebih mengerikan dari orang tua Mas?" Zidan menatap istrinya dengan lembut. Saat Fatimah tau mengenai kehidupannya, wanita ini juga mengeluarkan air mata.
Ia tau sosok di hadapannya adalah wanita yang sangat peduli dengan sekitar. Itu sebabnya Fatimah seperti ini. Hanya sebagian kecil manusia seperti Fatimah ada di dunia. Ia sangat beruntung mendapatkan hati Fatimah.
Zidan kemudian tiba-tiba merasa curiga. Bagaimana apa yang dipikirkan Fatimah benar? Entah apa yang dialami Asma ketika ia tak ada di sisinya. Zidan memang memiliki kedua orang tua yang baik. Tapi saat bayi kandung mereka lahir. Ia mulai di bedakan. Kasih sayang yang sangat berbeda.
Seperti ia diterbangkan dengan tinggi lalu dihempaskan begitu saja. Sangat sakit tapi Zidan mengerti. Ia tak boleh mengeluh dan tetap bersyukur, orang tua asuhnya mau merawat dan membiayai pendidikannya. Hingga saat kuliah, Zidan menolak karena merasa bisa mencari uang sendiri.
Tapi bagaimana dengan Asma? Zidan menghembuskan nafas kasar dan memeluk istrinya.
"Apapun yang terjadi, kita akan selalu ada di sampingnya. Asma masih adik kita sayang." Fatimah mengangguk di dada suaminya.
***
Adzan maghrib berkumandang dan terdengar indah. Bagi siapapun, terutama bagi seluruh kaum muslimin yang sedang berpuasa.
Seluruh santri dan beberapa Ustad serta Ustadzah menyantap takjil dengan hati yang berucap syukur. Atas segala nikmat dari Yang Maha Kuasa.
Beberapa santriwan terlihat menatap ke arah bagian teras mushola tempat para santriwati berbuka puasa. Mata mereka terus melirik Asma yang nampak tak menyantap apa-apa.
"Ehem!" Dhika berdehem dengan suara yang paling nyaring. Matanya kemudian mengerjap-ngerjap saat rasa malu menghampirinya. Abi nya yang berada di sebelah bahkan menatapnya dengan alis yang bertaut.
"Kenapa Dhika?" Dhika menggelengkan kepala lalu tersenyum.
"Dhika cemburu Bi," ucap Zidan yang berada di sebelah Dimas. Pimpinan pondok pesantren ini. Dimas Dwija Sanjaya. Ayah dari Reno dan Dhika. Tapi seluruh santri dan Ustad serta Ustadzah yang masih muda biasa memanggil dengan sebutan 'Abi'.
"Cemburu?" Zidan mengangguk dengan tersenyum puas. Menghiraukan mata Dhika yang melotot padanya bahkan seperti ingin meloncat dari tempatnya.
"Udah pengen nikah mungkin, tapi malu bilangnya," celetuk Zidan dengan suara pelan yang hanya di dengar Abi dan Dhika. Lelaki paruh baya dengan bulu-bulu halus dan mulai memutih di rahangNya itu menatap Dhika.
"Beneran? Sama siapa?" Dhika menggelengkan kepala dengan semamgat.
"Enggak Bi, kok Abi percaya si sama Zidan?" matanya menatap Zidan dengan tajam. Yang di tatap acuh dan memasukkan kurma ke dalam mulutnya.
"Kalau udah siap, bilang sama Abi. Jangan dipendam. Ingat yaa, Zina itu ada banyak macamnya. Zina mata juga termasuk," tutur Abi dengan lembut. Dhika mengangguk cepat.
"Iya ya Bi, biasanya paling sering zina mata disini," sahut Zidan sembari melirik Dhika.
"Iyaa, Abi juga melihat memang banyak yang saling lirik gitu sehabis sholat." beberapa santri memang begitu. Itu adalah sebuah pedekate dalam pesantren.
Zidan mengangguk sedangkan Dhika bersikap acuh dan berpura-pura tak mendengar.
"Denger tuh Dhika! " celetuk Zidan lagi, Dhika melotot padanya. Kali ini Zidan mengeraskan suaranya sehingga beberapa santri juga menatap ke arah mereka. Abi mengalihkan tatapan lagi pada Dhika.
Saat beliau ingin berucap, suara adzan isya berkumandang. Saat berbincang dan menyantap makanan memang tak terasa. Waktu maghrib dan Isya sangat dekat.
"Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah," gumam Dhika pelan sembari menghembuskan napas lega.
***
Sehabis sholat isya dan tarawih mereka melaksanakan murojaah. Yakni membaca Al-Quran bersama. Sekitar 30 menit setelah itu, waktu di isi dengan ceramah dari Abi. Mengangkat tema tentang zina.
"Secara umum, zina tidak hanya melakukan persetubuhan namun juga segala aktivitas seksual yang dapat merusak kehormatan manusia. Dalam QS. Al-Isra’: 32, Allah SWT berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Artinya: ” Dan janganlah kamu mendekati (zina); sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji Dan suatu jalan yang buruk. "
Beberapa santri nampak terlihat bosan. Bahkan ada yang menunduk untuk menyamarkan diri bahwa ia sedang tidur.
"Ada berbagai macam Zina. Salah satunya Zina Al-Laman. Zina Al-Laman adalah zina yang umumnya dilakukan dengan mengunakan panca indera," ucap Abi sembari tersenyum.
"Nah Zina Al-Laman dibagi menjadi beberapa lagi, yaitu: Zina mata (ain) adalah zina ketika seseorang memandang lawan jenisnya dengan perasaan senang. Zina hati (qalbi) adalah zina ketika memikirkan atau mengkhayalkan lawan jenis dengan perasaan senang dan bahagia."
"Nah dengerin tuh Dhik, jangan mikirin Asma mulu ntar jatuhnya ke zina hati," ucap Zidan sembari menahan tawa. Dhika memasang wajah datar dan berpura tak mendengar.
"Selanjutnya, Zina ucapan (lisan) adalah zina ketika membicarakan lawan jenis yang diikuti dengan perasaan senang. Zina tangan (yadin) adalah zina ketika dengan sengaja memegang bagian tubuh lawan jenis diikuti dengan perasaan senang dan bahagia terhadapnya. Zina luar adalah zina yang diperbuat antar lawan jenis yang bukan muhrim dengan melibatkan alat kelamin."lanjut Abi.
"Dengerin tuh Sal! Jangan pegang tangan ane mulu, ntar jadi Zina tangan!" celetuk salah satu santriwan. Serentak semua santri tergelak. Sedangkan lelaki yang sedang menjadi pusat perhatian, mendengus kesal.
Menyadari bahwa temannya sengaja mempermalukan dirinya. Sedangkan Abi ikut tertawa. Beliau tak pernah mempermasalahkan jika ceramahnya di selingi candaan.
Asma tertawa di balik khimarnya. Sedangkan Ida tertunduk mengantuk. Syifa terus menatap satu lelaki yang menarik perhatiannya. Lelaki dengan mata hitam serta sorot mata tajam.
Bersambung
Tap jempolnya yaa❤
INTINYA, BGITU MNYADARI DOSA2 YG PRNH DILAKUKAN, DN SEGERA TAUBAT NASUHA, DN MMOHON AMPUN, DGN ISTIGHFAR, SHOLAWAT, DZIKIR, BCA AL QUR'AN, DN SNANTIASA ISTIQOMAH, SERTA BRJANJI TDK MLAKUKANNYA LGI, INSHA ALLAH, ALLAH MNGAMPUNI, DN PRBANYAKLH AMAL JARIYAH. DN SERING2 BRBUAT BAIK.. SERTA IHKLAS DGN TAKDIR ALLAH, YG TRCATAT DI LAUHUL MAHFUDZ..
KLAKUAN WARGA NEGARA +62..