Reyhan, Hasby Nugraha, Dera, Nanda dan Baron. Mereka bersahabat sejak kecil, tumbuh bersama, menikah dan berstatus duda bersamaan.
Siapa sangka, di balik keceriaan dan kekonyolan mereka. Tersimpan misteri masa lalu yang rumit.
Siapa menduga, salah satu diantara mereka putra salah satu jutawan. Siapa yang mengira, salah satu diantara mereka putra seorang mafia yang di takuti dan telah membunuh salah satu ibu sahabat kelima duda tersebut.
Akankah persahabatan mereka tetap abadi hingga maut memisahkan? atau misteri masa lalu akan terkuak dan memecah belah persahabatan mereka?
Kunci dari jawaban itu semua terletak pada orang tua masing masing.
Bagaimana kisah selanjutnya yang akan mewarnai perjalanan mereka? asmara, wanita, dan pertengkaran diantara mereka akan menjadi batu sandungan persahabat kelima duda tersebut.
Semua tokoh terinspirasi dari member grup chat. Yuk ikuti kisahnya, jangan lupa vote, like dan komen ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melamar Nur
Pagi sekitar pukul sembilan. Patma sudah berdandan rapi. Ia memakai baju kebaya, rambutnya di sanggul ala-ala ibu kartini. Patma berdiri di depan kaca, ia tersenyum melihat dirinya anggun memakai kebaya tersebut.
"Ternyata gue kagak tua-tua amat kalau pake ini kebaya." Gumamnya sambil memutar badan ke kiri dan ke kanan.
"Ini saatnya gue pergi ke rumah Nur, apapun yang yang terjadi intinya si Nur harus jadi mantu gue." Gumamnya lagi.
Patma berjalan keluar dari kamar, dengan langkah melenggok. Sesekali tersenyum mengingat masa lalunya yang sama sekali tidak di ketahui oleh putranya, Reyhan. Patma bukanlah wanita sembarangan, di masa mudanya dia seorang bodyguard seorang tuan muda yang kaya raya hingga tergila gila pada sosok Patma.
"Bang, anak elu sudah gede." Gumamnya pelan, hampir saja air matanya tumpah. Buru buru Patma mengusapnya menggunakan tisu yang di bawa dari rumah.
Sesampainya di ujung jalan, Patma memanggil ojeg pengkolan.
"Sardi! antarkan gue ke rumah si komeng!" perintahnya.
"Siap Nyak!" sahut Sardi lalu memarkir motornya. Patma naik duduk menyamping, lalu Sardi melajukan motornya menuju rumah Komeng, siapa yang tidak kenal mantan preman yang di takuti sekota Jakarta.
Selang beberapa menit, Mak Patma sampai di depan rumah Nur. Ia memencet bell rumah dan langsung di bukakan pintu oleh komeng.
"Siapa pagi pagi bertamu, kurang kerjaan." Gerutu Komeng.
Kemudian komeng membuka pintu lebar lebar. Patma sahabat lama komeng berdiri dengan anggun di depan pintu sambil tersenyum.
"Eh elu patma, makin cantik aje lu!" sapa Komeng sumringah.
"Ia lah, gue masih cantik, dan belum tua tua amat." Sahut Patma.
Komeng memperhatikan patma lalu bertanya. "Ngapa lu pagi pagi dandan cantik, lu bukan mau ngajak ngedate gue?" kelakar komeng sambil mlintir kumisnya yang tinggal beberapa helai.
"Idih... jangan ke geeran. Kagak di suruh masuk dulu ini?" tanya Patma. "Gue kesini mau ngelamar anak lu buat si Reyhan. Gue demen sama sama itu anak. Makanya gue datang ke sini."
"Gue lupa saking terpesonah ame lu pat, ayo masuk! Komeng mempersilahkan Patma masuk ke dalam rumah. "Kita ngobrol di dalem."
"Nur! ambil aer ada tamu!"
"Iya pak , sebentar " sahut Nur dari dalam kamar. Kemudian Nur keluar dari kamar, bergegas membuatkan teh untuk menjamu Patma.
"Ini minumnya nya mak, silahkan di minum, mak apa kabarnya?"ucap Nur sambil cium tangan mak Patma, kemudian duduk di samping Patma.
"Eh, Nur. Makin cantik aja. Mak baek-baek aja, malahan mak hari ini lagi bersemangat." Sahut Patma.
"Nur, mak mau ngomong dulu sama bapak lu. Nur dengerin dulu aja." Sahut Patma pada Nur. Kemudian Patma menoleh ke arah Komeng, ia menarik napas dan langsung mengutarakan maksud kedatangannya.
"Komeng lu tau kan anak gue si Reyhan. Gue ke sini mau ngelamar Nur buat anak gue. Tapi lu tau sendiri kan si Reyhan statusnya Duda sekarang bukan pejaka lagi dia. Tapi dia begitu juga bukan kesalahan si Reyhan. Dia anaknya baek, ganteng sudah pasti keturunan dari bapaknya." Ucap Patma.
komeng manggut2 sambil ngelus jenggot.
"Gue tau."
"Gue demen sama si Nur, bagi gue Nur gadis baek, penurut, gue percalah kalau sama Nur, rumah tangga anak gue pasti baek baek aja." Timpalnya lagi.
"Gue setuju saja, namanya orang tua. Kalau si nur setuju, gue terima lamaran elu pat." Jawab Komeng tegas.
"Nur." Patma memegang tangan Nur.
"lu mau kan di jodohin sama Reyhan?" tanyanya sambil sedikit mengelus tangan Nur.
" Aduh..kok aku jadi deg degan ya? " ucap Nur dalam hati, " iya Nur mau mak"
"Ah Nur, mak demen kalau lu setuju." Ucapnya sambil memeluk Nur. "Komeng lu gimana, setuju kagak? anak lu mai nih?" tanya nya pada Komeng.
"Lamaran lu, gue terima. Kagak pake lama, biar gue cari hari baek. Lu tinggal siap siap soal biaya semua gue tanggung." Kata Komeng senang.
"Wah serius?" tanya Patma matanya berbinar.
"Lu tau, gue kayak bagaimana. Lu tenang saja, biar gue yang atur." Sahut Komeng.
Patma bernapas lega, entah mengapa hari ini selalu kepikiran bapaknya Reyhan. Setelah Komeng menerima lamaran, mereka bertiga bercengkrama ria, sedikit menceritakan masa lalu Komeng dan Patma pada Nur. Nur yang mendengarnya hanya tersenyum menanggapi mereka berdua, tapi... dalam hati nur saat ini ia sedang berteriak senang karna sudah di jodohkan dengan Reyhan pria yang selama ini ia kagumi.
Tidak lama kemudian, Patma ijin pamit pulang. Namun yang Patma khawatirkan sekarang ia lah reaksi Reyhan saat tahu ia sudah menjodohkannya pada Nur.
"Semoga si Rey setuju juga. Setuju kagak setuju dia harus mau, ini demi kebaikannya juga." Gumam Patma sambil melangkah meninggalkan rumah Nur.
****
Sementara di tempat lain. Rini tengah membujuk sang Ayah untuk melamarkan Baron untuknya.
"Ayah, lamarin B untuk aku yah, yah..." Bujuk Rini
"B? tidak tidak, ayah tidak suka anak berandal itu." Sahut Dion, menatap tajam Rini.
"Jangan mau yah, kak Baron itu playboy" sela bintang, sambil mengunyah makanan.
"Tidak, ayah tetap tidak setuju! ayah sudah dapatkan jodoh yang baik buat kamu." Dion menolak permintaan Rini. "Adikmu saja tahu, kalau Baron itu berandal."
"Iya udah playboy jutek pol pula, kakak ih kok suka sama yang model begitu hiyy," Bintang begidik ngeri, ia cuek saja meski dapat tatapan horor dari Rini.
"Dengarkan adikmu, kamu harus menuruti Apa kata ayah," timpal Dion.
"Ayah ini pertama dan mungkin terakhir kalinya aku meminta pada ayah.. Jadi tolong ayah, kabulkan permintaan ku untuk melamarkan aku B." Rini melipat kedua tangannya menatap penuh harap.
Dion terdiam menatap kedua bola mata putrinya, terlihat rasa cinta yang besar untuk Baron. "Baiklah ayah kabulkan, tapi ingat jika baron tidak bisa ayah andalkan. Kamu harus turuti kemauan ayah."
"Baik ayah." Ucap Rini lalu memeluk senang ayah nya. "Jadi kapan kita ke rumah B?"
"Hari ini juga!" sahut Dion.
Bintang memajukan bibirnya, saat sang ayah menyetujui keinginan Rini. "Huuu, kak Rini terus yang di perhatikan." Ucapnya berjengkit dari tempat duduknya lalu beranjak pergi.
"Bintang!" panggil Dion, namun Bintang tidak menggubrisnya. "Biarkan saja, ayo kita berangkat selagi ayah tidak ada pekerjaan."
Rini mengangguk, lalu mereka berdua berjalan bersama menuju halaman rumah. Menggunakan mobil pribadi, mereka berdua menuju rumah Jarwo.
Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai. Kemudian Dion dan Rini keluar dari dalam mobil, berjalan bersama menuju rumah Jarwo.
Dion mengetuk pintu rumah, tak lama terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah, pintu di buka lebar lebar.
Dion terkejut melihat jarwo keluar dengan rambut acak acakan, dan hanya menggunakan kaos oblong.
"Eh ada calon mantu gue, rooonggg sini lu!" panggil jarwo, menaikkan kain sarungnya.
Dion menggelengkan kepala, melirik ke arah Rini lalu menganggukkan kepala tersenyum sama si jarwo
"Oroooooonggg!! sini lu, punya anak satu budeg nya minta ampun. Oroooongggg!!" teriak jarwo membuat Dion menatap tidak suka
"Rin, kamu serius? mau punya calon mertua kaya begini? bisik Dion.
Rini terdiam sejenak lalu memperbaiki posisi kacamatanya.. "Iya ayah."
Baron datang menghampiri, begitu melihat Rini dan Ayahnya. Baron sudah mengerti maksud kedatangan mereka. Baron sengaja jingkrak jingkrak supaya ayah rini benci sama baron.
"Halo cayangkuu, siniii...!" sapa Baron sambil garuk garuk keteknya dan tertawa cengengesan. Membuat Dion mengurungkan niatnya untuk melamarkan Baron. Melihat calon menantunya seperti itu, membuat Dion menjadi ilfil. Kemudian Dion menarik tangan Rini dan bergegas pergi meninggalkan rumah jarwo.
"Ayah tidak setuju, kamu harus menuruti apa mau ayah! paham?!"
"Hikss, hiksss, ayah.."Rini terisak sambil berjalan mengikuti langkah ayahnya. Rini benar benar tidak menyangka jika ayahnya tidak bisa menerima B menjadi menantunya.
"Calon mantuuuu!!" teriak Jarwo berlari menyusul sambil membenarkan sarung, hingga tersandung kakinya dan jatuh tersungkur.
Dion yang melihat bagaimana Jarwo terjatuh, semakin tidak suka dan sama sekali tidak ingin memiliki calon besan seperti Jarwo.
baru baja udah srek Ama bahasenye
top markotop dah
B...
Msh muda bgt dah men'Duda'??
Ikutan nimbrung ma Mas mas Duda
🙏🤺🏃🥰