Aku mencintaimu, Ale, tapi aku berpacaran dengan Elang yang tak lain keponakanmu. aku tidak pernah sakit hati putus dengan Elang. tapi aku sakit hati atas pernikahanmu (Kiara)
Kiara Putri Sanjaya, 21 tahun. terlibat hubungan salah sasaran. ia menjalani hubungan palsu dengan Elang selama setahun. terbebas dari Elang, berharap bisa dekat dengan Ale yang tak lain adalah Paman Elang. Namun, Kiara harus menelan pil pahit karena Ale akan menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ara Nas Nasya Nuriva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 17
Mata Dira memanas melihat foto yang terpampang di halaman lovagram Evan. Evan mengupload hasil photoshoot dadakan Kiara dan Rio beberapa menit yang lalu dan sialnya Dira membuka halaman lovagram Evan. Geram? tentu saja Dira geram dengan tingkah keduanya.
“S h i t!” umpat Dira.
"Baru kemarin dia berjanji akan menjauhkan lelaki brengsek itu dari Kiara tetapi tidak terbukti. Omongannya benar-benar tidak dapat dipegang,” umpat Dira lagi. Dira kesal, sangat kesal.
Dira menutup laptopnya dan beranjak dari kursi singgasananya. Dira melangkah tergesa-gesa dengan hati yang panas membara.
“Awas aja lu! Gue cincang-cincang nanti!” ucap Dira sambil membuka pintu mobilnya dengan kasar. Dira melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
“Gue nyuruh belanja bukan photoshoot sama si Vaston brengsek itu!” umpat Dira.
Dira sepertinya akan mengultimatum adiknya agar menjauh dari Rio. Kemarin hanya Evan yang ia ultimatum. Sekarang Kiara harus juga ia beri ultimatum agar hal seperti ini tidak terjadi lagi.
Sebenarnya Dira tidak masalah jika Kiara bergabung dengan Evan. Dia bahkan senang adiknya itu bisa mulai meniti karier di New York. Yang membuatnya murka adalah kedekatan Kiara dan Vaston, orang yang sangat dibencinya.
Ciiittttttttttt....
Dira menginjak rem mobilnya dengan ganas. Dia melepaskan sabuk pengaman dan segera keluar dari mobil menuju apartemennya. Dira melangkah dengan tergesa-gesa. Tanpa rasa sabar sedikitpun, Dira mengetik nomor password dan mendorong pintu apartemennya.
Bugggg...
Dira meringis kesakitan ketika sebuah benda padat mendarat sempurna di kepalanya. Kedua matanya menatap tajam pada sosok yang berdiri berkacak pinggang pada anak tangga.
“Kiara.........!!!!”
“Opooo...?” tersangka pelemparan heels menyahut dengan senyum mengejek.
“Lu bisa nggak sih jadi manusia yang normal? Nyambut gue jangan pakai benda berbahaya kayak gini? Lu mau gue mati?,” bentak Dira namun yang dimarahinya tidak takut sedikitpun.
“Itu hukuman buat lu! Lu ngomong apa sama Evan?" mata Kiara mendelik tak kalah sengit dari Dira.
“Gue? Ngomong apaan? Gue nggak ngerti" kilah Dira.
“Jangan pura-pura polos. Lu tuh udah penuh corak. Evan boleh aja takut sama lu, tapi tidak dengan gue"
“Maksud lu apa sih? Gue nggak ngerti"ucap Dira.
Kiara mulai berjalan mendekat ke arahnya. Niat hati ingin memarahi adiknya, tapi yang terjadi malah sebaliknya.
“Lu ngancem apaan sama Evan?" tunjuk Kiara tepat pada wajah Dira. Rahang Kiara mengeras menahan amarah.
“Evan ngomong apa sama lu?" Dira balik bertanya.
Dira bangkit dan melangkah menuju sofa. Ia menghempaskan tubuhnya di sofa. Menetralisir detak jantungnya agar normal kembali.
“Dia lihat gue kayak lihat setan. Dia bilang kalau lu itu boss nya. Karena gue itu adik lu, otomatis gue juga boss nya. Please deh itu tidak menyenangkan!”
“Ooooo... memang faktanya begitu terus gue harus bilang apa? Evan itu pekerja gue. Gue yang mungut dia dan modalin dia. Jadi ....” ucap Dira terputus
“Jadi... nggak pantas juga lu bertindak semena-mena sama mereka" protes Kiara.
“Gue semena-mena bagaimana sih, Kiara?" tanya Dira berkilah.
“Lu bikin mereka takut sama lu"
“Ya wajarlah gue kan boss nya. Kalau mereka nggak takut sama gue, mereka bakalan ngelunjak. Disini NY bukan tanah abang lu!"
“Lu pasti udah ngancem Evan. Jujur sama gue. Lu ngancem apa sama dia?" Kiara tetap kekeuh mengorek informasi dari Dira dan tingkahnya ini tentu saja membuat Dira semakin kesal.
“Nggak ada Kiarang sarang burung!!!” ucap Dira ketus.
Kiara menuruni anak tangga dan mulai melangkah mendekati Dira.
“Lu hari ini ke tempat Evan?” tanya Dira ketika melihat paper bag tergetak begitu saja di sebelahnya. Kiara mengangguk.
“Pasti ngambil dari butik Evan”, gumam Dira.
“Gue pemotretan" kata Kiara.
Dira menepuk jidatnya. Bukankah tadi Dira ingin memarahi Kiara gara-gara fotonya dengan Rio? Gara-gara insiden pelemparan heels, Dira jadi lupa.
“Lu kenapa pemotretan sama si Vaston?” tanya Dira ketus.
“Memangnya kenapa? Ada gitu larangan gue nggak boleh pemotretan sama Rio?" cibir Kiara.
“Mulai detik ini, gue larang lu dekat-dekat sama manusia bernama Rionel Vaston. Kalau perlu lu nggak usah ke tempat Evan lagi biar Evan yang kesini!" titah Dira.
Kiara menghela nafas. Ada-ada saja perintah kakaknya ini.
“Lu ada masalah apa sama Rio? Apa Rio pernah nunggak cicilan ke perusahaan elu?" cerocos Kiara.
“Lu nggak usah tanya kenapa. Kalau lu tetap dekat-dekat sama Rio, jangan salahin gue kalau ada tindakan kejam bermunculan!” ancam Dira.
“Lu ngancem gue?" tanya Kiara mengejek Dira.
“Emang gue takut? Heels gue ada yang lebih tajem lho, bisa buat kepala lu bocor" lanjut Kiara tak mau kalah.
“Pokoknya gue bilang nggak boleh, ya nggak boleh” teriak Dira.
“Gue bilang nggak mau, ya, nggak mau” balas Kiara.
“Dasar keras kepala!!!”
“Lu juga sama!!!” bantah Kiara lagi.
Dira mengacak-ngacak rambutnya dengan kasar. Tenaganya habis jika terus meladeni adiknya. Dira bangkit dari tempat duduknya hendak pergi.
“Lusa, Evan ulang tahun dan gue mau datang" ucap Kiara.
“Terserah!!” jawab Dira ketus.
Dira menyeret langkahnya meninggalkan Kiara menuju kamarnya. Dira membuka pintu kamarnya perlahan namun membanting pintu itu dengan keras.
Kiara menggeleng-gelengkan kepalanya. Kekanak-kanakan, gumam Kiara. Kiara bergegas ke dapur membuatkan teh hangat untuk Dira. Mungkin Dira sedang banyak pikiran sehingga marah-marah kepadanya. Kiara juga merasa bersalah karena langsung marah-marah pada Dira.
Ceklek...
Kiara masuk ke kamar Dira, dilihatnya Dira sedang berbaring dengan wajah yang ditutup bantal. Kiara berjalan perlahan mendekati ranjang Dira.
“Kadir....” panggil Kiara lirih.
Dira tidak menjawab. Kira mengambil bantal yang menutupi wajah Dira.
“Bangun dong, Kadir! Nih gue buatin teh" rayu Kiara.
Dira bangkit dengan malas dan menerima teh yang disodorkan Kiara. Kiara menaiki ranjang Dira dan duduk di sebelahnya. Kiara diam, membiarkan Dira menikmati teh buatannya dengan tenang.
Dira sepertinya sedang kehausan, teh buatan adiknya tandas dengan hitungan detik. Dira sepertinya tidak terganggu dengan keadaan teh yang masih panas.
“Lu ada masalah di kantor?" tanya Kiara membuka obrolan.
Dira tidak menjawab, dia meletakkan cangkir teh kosongnya di atas nakas. Kiara menyandarkan kepalanya di bahu Dira.
“Lu ada masalah sama Rio?" tanya Kiara lagi.
Dira tetap bungkam. Hatinya masih ragu untuk menceritakan kisah masa lalunya pada adik perempuannya itu. Bagaimanapun kisah pahit Dira dengan kekasihnya sudah selesai bertahun-tahun yang lalu. Dira tidak mau mengingat kejadian itu. Meskipun dirinya masih sakit hati setiap melihat Rio, lelaki yang dulu dia pergoki sedang bercinta dengan kekasihnya.
“Kenapa diam?” tanya Kiara.
“Nggak” jawab Dira pendek.
“Nggak usah gengsi kalau mau curhat. Lu ada masalah apa sama Rio? Kenapa bisa semarah itu?” tanya Kiara lagi.
“Yaudah kalau lu nggak mau cerita. Tapi gue bolehkan datang ke ulang tahunnya Evan?” tanya Kiara lagi.
“Lu sendiri kan yang mau gue nggak galau lagi. Jadi ijinin gue, ya, Kadir. Gue mau seneng-seneng" pinta Kiara dengan nada memelas.
Dira menghela nafas. Sebenarnya dia berat mengijinkan adiknya. Karena Dira tahu pasti akan ada Rio yang selalu mendekati adiknya. Namun melihat Kiara yang mulai bangkit dan melupakan Ale, rasanya Dira tidak boleh egois.
“Nanti Mang Ujang yang akan dampingi lu" ucap Dira, tertular adiknya memanggil Mang ujang pada bodyguard nya.
“Yessss!!!” jawaban Dira disambut sorakan dari Kiara. Kiara mengecup pipi Dira dengan cepat dan berlari meninggalkan Dira.
Dira menatap kepergian Kiara dengan nanar. Di satu sisi Dira senang adiknya mulai bisa bangkit dari masa-masa sedihnya, di sisi lain Dira juga sedih karena dia belum bisa lepas dari kisah masa lalunya yang sangat membuatnya terluka.
“Kiara..., cukup gue yang patah hati gara-gara si Vaston. Jangan sampai lu patah hati juga,” gumam Dira.
Hallooo... Maaf author baru sempat menyapa kalian sekarang. Author ucapkan terima kasih kepada kalian yang sudah membaca Pilihan hati Kiara. jangan lupa like, komen dan vote juga ya biar Author tambah semangat menulisnya
terima kasih...
Tidqk patut dicontoh, IDE YG ABSURD, KARAKTER YG HALU.....
ADA YQ PEREMPUAN SEPERTI KIERA nemplok diidenyq thor
ABSURD BANGET
ABSURD BANGET