NovelToon NovelToon
Pria Kedua

Pria Kedua

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Patahhati / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Janda / Tamat
Popularitas:3.8M
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Aira tidak pernah berharap menikah untuk kedua kalinya. Namun dia menyangka, takdir pernikahan pertamanya kandas dengan tragis. Seiring dengan kepedihan hatinya yang masih ada, takdir membawanya bertemu dengan seorang pria.


"Aku menerimamu dengan seluruh kegetiran dan kemarahanmu pada seorang lelaki. Aku akan menikahimu meski hatimu tidak tertuju padaku. Aku bersedia menunggu hatimu terbuka untukku," ujar pria itu.

"Kamu ... sakit jiwa," desis Aira kesal sambil menggeram marah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pedih

"Kakimu terluka." Setelah mengatakan itu Ibrar melihat kaki Aira yang terbungkus sehelai kain seadanya dengan seksama. Aira menjadi risih karena itu. Apalgi saat Pak Ibrar mengambil sepatunya dengan kedua tangannya.

"Apa yang bapak lakukan? Kembalikan sepatu saya."

"Tidak. Masuk kedalam ruangan ini tanpa memakai sepatu," ujar Ibrar sekali lagi memberi perintah. Nada bicaranya lebih serius daripada biasanya. Akhirnya Aira menurut sambil membiarkan pria itu menenteng sepatunya. "Duduk," perintah Ibrar selanjutnya.

"Tapi, Pak ... " Aira ingin membantah.

"Duduk tidak membutuhkan banyak tenaga, Aira." Sindiran halus. Sarkasme versi Ibrar. Aira menghela napas kesal sambil kemudian duduk di kursi. Ibrar meletakkan sepatu Aira di samping sambil membungkuk.

Mendadak pria itu berlutut lagi. Kali ini bahkan berani menyentuh kaki Aira. Bola mata Aira terkejut melihat itu. Meskipun kakinya tidak kotor, ini tidak tepat.

"Lepaskan kaki saya, Pak. Ini sangat tidak sopan. Sudah sejak tadi saya bersikap tidak sopan pada bapak, jadi ..."

"Apa yang kamu lakukan hingga mendapat luka ini Aira?" tanya Ibrar pelan. Namun membuat Aira seketika itu juga bungkam. Deru di dadanya bertalu kencang. Aira mendadak merasakan matanya panas. Dia ingin menangis. Entah kakinya sakit atau karena pertanyaan Ibrar yang menyentuhnya.

Karena tidak mendapat jawaban, Ibrar mendongak. Aira langsung membuang muka. Tidak mungkin dia membiarkan wajahnya yang ingin menangis terlihat oleh orang asing.

"Aku akan mengobatinya. Diam disini dan jangan kemana-mana apalagi dengan memakai sepatu hak tinggimu itu." Ekor mata Ibrar melihat ke arah sepatu di samping Aira. Menuduh benda itu sebagai penyebab luka di kaki Aira semakin parah.

"Tidak perlu, Pak. Saya tidak apa-apa. Sebaiknya bapak tidak perlu mencarikan saya obat."

Ibrar yang hendak keluar mencari obat diam. Menundukkan pandangan sambil melihat Aira. Sementara Aira juga ikut menunduk karena tahu manajer ini sedang melihatnya.

"Aku membuatmu tidak nyaman?" tanya Ibrar membuat Aira terkejut.

"Maaf, karena Anda atasan saya ... Semua ini jadi tidak tepat menurut saya."

"Aku melihat ada seseorang yang terluka di depanku. Langkah yang ingin aku lakukan sudah pasti harus menolongnya. Apa itu salah Aira?" tanya Ibrar seperti mendesak. Aira menipiskan bibir. Kepalanya menunduk lagi. "Abaikan aku atasanmu jika itu membuatmu tidak nyaman." Setelah mengatakan itu Ibrar keluar dari gudang penyimpanan arsip dan pergi entah kemana.

Aira menggigit bibir menahan perih di hati. Di beri perhatian oleh orang lain justru membuatnya iba pada diri sendiri. Dia yang tidak di anggap bahkan di khianati oleh suaminya sendiri, malah mendapat perhatian dari suami orang lain. Meskipun perhatian itu sebatas atasan dan bawahan. Juga sebagai bentuk dari toleransi sesama manusia.

Ibrar yang hendak masuk lagi ke dalam gudang terhenti. Melihat Aira yang mengusap butiran airmata di ujung matanya, Ibrar tidak harus memaksa masuk.

Dia menangis? Lagi? Kenapa?

Setelah beberapa menit dan dirasa Aira sudah baikan, Ibrar masuk. Berwajah biasa saja seakan tidak tahu bahwa ia melihat perempuan ini menangis.

"Aku bawakan obat untukmu." Ibrar menunjukkan obat merah, pembersih luka dan plester.

"Biar saya saja yang melakukannya. Bapak silakan mencari berkas yang di perlukan. Maaf saya tidak bisa membantu." Aira membungkukkan tubuhnya sedikit meminta maaf.

"Aku akan terlihat begitu kejam jika membiarkanmu yang terluka tetap mencarikan berkas untukku. Tidak masalah. Aku akan mencari sendiri." Ibrar tersenyum tipis. Sebenarnya Ibrar ingin membawa perempuan itu kerumah sakit, tapi melihat reaksinya tadi ... Ibrar menciut. Kemungkinan Aira menolak dan marah. Karena luka itu bukan bagian dari kecelakaan kerja. Dia terluka sejak berangkat kerja.

"Ai ... Pak Ibrar bilang kamu terluka. Benarkah?" Yeri datang ke ruangan dengan histeris. Aira hanya mendongakkan kepala dan mengangguk. "Kamu kok dingin amat sih ... Seenggaknya kasih kode kek kalau terluka."

"Memangnya boleh, tunjukkan ke orang lain kalau hatiku yang sedang terluka?"

"Eh? Kenapa jadi arahnya kesitu sih .... " Yeri meringis sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Aira. "Untuk itu cukup tunjukkan ke aku saja. Kalau ke orang lain jangan. Belum tentu mereka paham kesedihanmu. Yang ada malah di syukurin sama mereka." Aira tersenyum. Yeri menarik kursi di depan Aira. "Sekarang bahas luka yang di maksud pak Ibrar. Kamu ini keterlaluan deh. Masa pak Ibrar dulu yang tahu bahwa kamu terluka. Aku yang jadi sahabatmu ini gimana kabarnyaaa ...."

"Ya begitulah ... Kamu yang jadi sobatku kok enggak tahu."

"Ih, kamu." Yeri mencubit lengan Aira gemas. "Katanya kakimu terluka. Coba aku lihat. Parah, ya?" tanya Yeri yang sudah meringis duluan sebelum melihat lukanya. Aira yang hendak menunjukkan lukanya jadi ragu.

"Beneran mau lihat enggak sih? Kok mukanya takut gitu."

"Sori aku terlanjur membayangkan dulu jadi ngeri duluan. Iya. Aku mau lihat. Masa pak Ibrar saja berani lihat luka kamu, akunya enggak berani." Aira bergeser dengan kursi berodanya dan mengangkat kakinya. Menunjukkan telapak kakinya yang sudah di balut plester. Kepala Yeri manggut-manggut. "Kalau lukanya sih enggak seberapa kelihatannya, tapi pak Ibrar mengatakannya seakan luka ini begitu parah."

"Pak Ibrar bisa juga berekspresi lebay, gitu?"

"Enggak mungkinlah ... Dia orangnya lumayan cool. Saat pak Ibrar bicara soal luka kamu, aku menangkap bahwa luka kamu itu sangat parah. Jadi tadi aku ngeri duluan."

Luka ini mungkin kecil, tapi rasa sakit yang aku rasakan begitu hebat. Hingga mampu membuatku menangis. Cerita yang ada di dalam sebentuk luka kecil yang muncul ini, yaitu berita kehamilan Nara membuat luka kecilku terasa sangat menyakitkan.

"Kamu ada masalah lagi?" Yeri menemukan jejak kesedihan di raut wajah Aira barusan. "Jangan di sembunyikan. Bicaralah." Yeri memasang wajah siap menerima curahan hati temannya.

Aira menghela napas terlebih dahulu.

"Nara, selingkuhan Eros datang kerumah mertuaku tadi malam. Bersama keluarganya."

"Apa?! Selingkuhan Eros kerumah mertuamu tadi malam?" Yeri jelas tidak bisa mengontrol ekspresinya. Meskipun tidak begitu keras saat mengatakannya, Yeri jelas tidak bisa bersikap cool saat mendengar cerita Aira. "A-apakah dia ... " Mendadak Yeri terbata.

Terlintas dalam pikirannya barusan. Sesuatu yang menyakitkan. Aira menatap Yeri yang syok karena pemikirannya sendiri dengan tenang. Yeri beranjak berdiri seraya menyisir rambutnya sendiri dengan jari. Gadis itu gelisah.

"Jangan bilang, perempuan itu datang karena ingin meminta pertanggung jawaban Eros. Jangan bilang karena perempuan itu tengah ... hamil." Kata terakhir terasa sulit untuk dikatakan. Aira terdiam sambil tetap melihat ke arah Yeri yang berdiri. "Jangan bilang kalau tebakanku benar." Yeri semakin gelisah saat Aira tidak menjawab.

"Dugaanmu benar seratus persen, Yer."

"Ya ampun Airaaaa ...." Yeri langsung menarik tubuh Aira dan memeluknya erat. Tak terasa air mata Yeri mengalir. Dia menangis. Aira merasakan butiran air matanya juga muncul di ujung mata. Tidak banyak. Hanya beberapa. Tangannya bahkan sempat menepuk punggung temannya. Merasa perlu menenangkan Yeri yang merasa ikut sakit hati.

Setelah puas memeluk Aira dan menangis, Yeri kembali duduk.

"Jika begini, apa tidak sebaiknya kamu bercerai Ai. Bukan mencari kehidupan yang lebih baik, tapi untuk menenangkan hatimu juga. Jika seperti itu kamu akan terus saja tidak tenang. Bisa di pastikan Eros sudah tidak punya cinta untukmu."

"Aku tahu."

Bukan hanya soal kehamilan Nara yang jadi masalahnya tapi ini soal jabang bayi yang ada di rahimnya. Dia dan Nara sama-sama hamil.

"Kapan aku akan menjadi istrimu, Er?" tanya Nara sambil bersandar di bahu Eros.

"Tunggulah Nara."

"Orangtuaku akan marah jika kamu tidak segera menikahiku, Er. Apalagi dengan kehamilan ini." Nara mengelus lengan Eros lembut.

"Aku juga punya banyak hal yang perlu di urus Na. Orangtuaku. Keluargaku. Aira." Eros mengatakannya dengan tetap melihat lurus ke depan. Ke arah jalanan yang ramai.

"Apakah kamu masih berpikir tentang Aira?" Mata Nara melihat ke atas. Ke arah wajah Eros. Dia ingin tahu bagaimana mimik wajah calon ayah dari bayinya saat menjawab.

"Tentu saja Na. Hubungan kita yang terlarang ini ..." Telunjuk Nara mendarat di atas bibir Eros dengan cepat. Menggeleng. Kepalanya tidak lagi bersandar pada bahu Eros.

"Ssst ... hubungan kita ini penuh dengan cinta Er. Jangan berkata seperti itu. Anak kita akan mendengarnya." Nara membawa tangan Eros untuk menyentuh perutnya.

1
ione
/Smile//Smile/
Inah Ilham
sudah baca 30 episode baru nyadar klo ini karya lady_ Ve, pantes mc nya wanita muda yg tangguh
Lienda nasution
alah....ceritanya bertele tele thor
Tri Lestari Endah
Dari awal sampai disini ceritanya buat greget
banyak pelajaran yang di dapat

berharap ada bonchap sampai aira melahirkan
masih terbawa kesel sm nara dan eros
rasa sakit dan trauma aira belum sebanding sakitnya nara dan penyesalan eros
Latifah Latifah: setujuuu
total 1 replies
Ririnyulianti Yulianti
Luar biasa
Bang Juky
umur 16 si aira dah kerja ya
Anik kartin
banyak pesan moral yg disampaikan pada tiap tokohnya..semoga kita bisa belajar dr tiap kejadian dan mengambil hikmahnya...semangat kak untuk karya selanjutnya..
Anik kartin
bukan cinta....tapi DOSA
Yomita Hervina
agak aneh ibrar jg ngomong wanitaku saat di dpn yuta n wira jg jk ga salah.kl sdh sprti itu kesannya dia mmg pny affair dgn prmpuan tsb,kecuali kl itu dia lakukan di dpn org asing/bukan kenalan.
Sri Widjiastuti
tegas mu telat eros
Sri Widjiastuti
oalah nduk2 sdh tau rasanya jd pencuri. sekarang parno kecurian
Sri Widjiastuti
adakah sosok ibrar beneran, hari gini😇😇
Tiadayanglain
Betul tu nara
Aira masih sangat ingin dekat eros
Buktinya dia masih g bisa move on
Tiadayanglain
Kok aneh perempuan ni udah di sakitin tapi kok susah move on
Kesan nya kayak perempuan bodoh
Tiadayanglain
Aneh kakak kok hri tu ibrar ngaku wanitaku
Tiadayanglain
Nah pelihara anak haram MU eros
Anak dalam nikah meninggal
Jadi aira ga da iktan lagi
seru_seruan
aku ngulang baca entah keberapa kalinya.
kalo Aira, kakaknya Ibrar dijodohin sama Yuta gimana y...?
Nurazmi Azmi
Kok nggak di cerita in Aira itu masih hamil apa keguguran ya, YG jelas dong Thor jangan bikin bingung
Adelia ZahrotusShifa
terus semangat berkarya thoooor
Sriza Juniarti
lanjut kk🥰💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!