NovelToon NovelToon
Aku Wanita Terhormat

Aku Wanita Terhormat

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:329k
Nilai: 5
Nama Author: Marina Monalisa

Pernikahan yang berdasarkan untuk menghindari kesalahpahaman, hingga membuatku terpaksa harus menerima pernikahan yang sama sekali tidak kuinginkan.

Pernikahan yang ku fikir akan menyelamatkan ku dari fitnah ternyata justru membuatku hidup dalam kesengsaraan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16. Kepulangan Meisa.

Setelah usai dengan urusan di rumah sakit kini mereka semua masuk ke mobil dan segera bergegas mobil pun melaju ke kediaman Bu Rosa.

selama di perjalanan Naina terus memeluk tubuh Aditya tanpa mau melepaskan sedikit pun.

"Mei, terima kasih ya sudah bekerja dengan baik dan berkat idemu juga Aditya bisa lekas sembuh. Kini kontrak kerjamu sudah terpenuhi dan sisanya terserah padamu kau mau masih bekerja lagi atau kau ingin bekerja di tempat lain saya tidak akan mengikat mu lagi.

Meisa mendengar perkataan Bu Rosa hatinya benar-benar berbunga-bunga ini adalah hari yang sangat dinantikan olehnya. senyuman lebar terlukis indah di wajah wanita cantik itu.

"Terimakasih, Bu Rosa. Saya sangat berterima kasih." ucap Meisa terus mengucapnya.

Bu Rosa dan Aditya ikut tersenyum melihat reaksi Meisa yang terlalu berlebihan.

"Mas Aldi, aku bisa bersamamu lagi akhirnya." gumam Meisa merasa sangat merindukan suaminya itu.

Perjalanan singkat itu kini telah sampai di kediaman Bu Rosa.

Meisa dan supir pribadi Bu Rosa segera membawa barang-barang yang ada di mobil ke dalam rumah.

Bu Rosa, Naina, dan Aditya kini melangkah masuk ke kamar Aditya.

Di sana mereka memastikan jika pria itu berisitirahat dengan tenang. "Akhirnya setelah sekian lama Ibu bisa melihat kamar ini terisi lagi, Aditya." ucapnya seraya menghela nafas pelan.

"Iya, Bu. Terimakasih telah merawat ku dan Naina selama itu juga."

"Naina kemari sama Oma biarkan Daddy istirahat sayang."

Dengan tatapan ragu pandangan menyelidik bocah kecil itu pelan-pelan mendekat pada Bu Rosa.

Bu Rosa langsung merengkuh tubuh cucunya ia sudah sangat merindukan selama ini Bu Rosa tidak berani mendekat pada cucunya karena Naina selalu berontak dan histeris.

"Oma sangat merindukanmu sayang," tutur Bu Rosa.

Naina hanya diam tanpa berucap apa pun pandangannya tetap fokus pada Aditya yang perlahan hilang tertutup dengan pintu kamar.

Kini Bu Rosa dan Naina duduk di ruang keluarga dan saat itu juga Meisa menghampiri keduanya.

Bu Rosa menatap hangat pada Meisa. "Permisi, Bu Rosa. Saya apakah boleh pulang sekarang?" tanyanya dengan ragu.

Bu Rosa tersenyum lebar, kini beban di pikirannya rasanya sudah terbuang begitu jauh dengan hadirnya Aditya kembali di rumahnya.

"Tentu saja, Meisa. Kau sangat merindukan keluarga mu yah?" tanya Bu Rosa.

Belum sempat Meisa menjawab Naina yang sejak tadi hanya diam segera memeluk tubuh Meisa.

"Tante Mei jangan pergi, Naina tidak ada yang temani nanti." ucapnya merengek.

Bu Rosa terkejut melihat tingkah Naina pada Meisa.

"Sayang, Tante Mei kan sedang hamil kasihan dedek bayinya kalo tidak bertemu dengan Papahnya kan?" bujuk Meisa.

"Naina mau Tante Mei di sini terus." tangis bocah itu kini membuat hati Meisa ikut merasakan kesedihan itu juga.

"Naina sayang, jangan seperti itu. Daddy kan sudah sembuh nanti kalau Daddy sudah boleh jalan-jalan kita jenguk Tante Mei di rumahnya. Naina bisa bermain lagi kan." ucap Bu Rosa lembut.

"Iya, nanti Naina boleh datangin Tante Mei kok kalau Daddy sudah sembuh sayang." ucap Meisa lagi.

Naina pun luluh mendengar bujukan dari Bu Rosa dan Meisa.

Akhirnya Meisa memberesi barang-barangnya untuk dibawa pulang.

Di kamarnya Naina ikut duduk menemani Meisa untuk melipat baju baju dan di masukkan ke dalam tas.

"Tante Mei janji mau temani Naina lagi kapan-kapan kalau Naina datang yah." Suara bocah itu tiba-tiba terdengar lagi.

Meisa yang tadinya sibuk melipat baju kini tersenyum lalu mendekati Naina dan memeluknya sangat lembut tangannya mengusap pelan rambut panjang Naina.

"Iya sayang, nanti Naina bisa sering-sering main sama Tante Mei, apalagi Tante Mei pas hamil besar pasti tidak bekerja jadi Naina bisa puas bermain sama Tante Mei. Jangan bersedih lagi yah, Sayang." ucapnya.

Naina tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Kini usai sudah barang-barang Meisa sudah lengkap dan di bantu Naina untuk membawa ke depan halaman rumah.

Supir Bu Rosa sudah siap mengantarkan Meisa pulang.

Meisa yang hendak masuk ke dalam mobil kembali memeluk Naina.

Meisa yang hendak masuk ke dalam mobil kini membalikkan tubuhnya lagi dan memeluk tubuh Naina sangat erat. usai memeluk tubuh bocah itu Meisa beranjak ke Bu Rosa dan mencium punggung tangannya.

"Saya pamit, Bu Rosa. Terimakasih atas semuanya." tutur Meisa.

Entah mengapa perasaannya sangat berat meninggalkan rumah itu. Mobil sudah melaju ke rumah Aldi di mana ada Bu Nirmala tinggal bersamanya.

Sepanjang perjalanan Meisa hanya tersenyum sungguh tidak sabar memulai kehidupannya dengan keluarga kecilnya.

"Mas Aldi, aku pulang sekarang." isi pesan yang Meisa kirim pada sang suami.

Aldi yang saat itu sedang bekerja sangat merasa tidak sabar untuk segera pulang. Sepanjang jam bekerja hari itu ia terus tersenyum bahagia berbeda dengan suasana hati Bimo. Ia terus memikirkan rumah tangganya yang terus saja ada masalah meski pun berusaha menghindarinya.

Hari sudah sore matahari sudah begitu cerah menyambut malam yang akan segera tiba, matahari yang tadinya berwarna kuning kini berubah menjadi kemerahan.

Aldi sudah begitu semangat keluar dari kantornya dan menuju ruang parkir mobilnya segera ia melajukan mobilnya menuju rumah yang di sana sudah ada istri tercintanya menunggu kepulangannya.

Bimo yang keluar dari kantor tampak lesu, melihat sosok Diana yang sudah menunggu kepulangannya di tempat parkir mobil. Layaknya anak TK yang di tunggu ibunya pulang.

Ia semakin merasa kepalanya ingin pecah melihat posesif Diana yang terlalu berlebihan. Ingin sekali rasanya ia mendapat kepercayaan dari istrinya, tapi sudah berapa lama pernikahan mereka masih juga Bimo belum mendapatkan hal itu.

Diana seakan terus berpikir yang tidak baik pada Bimo.

Langka lemas itu kini tertuju pada Diana, "Pah sudah pulang? ayo." ajak Diana yang segera masuk ke mobil.

Bimo mendapatkan sapaan dari beberapa pekerja di bank itu.

"Selamat sore, Pak Bimo." suara beberapa pekerja laki-laki maupun wanita.

"Sore." jawab Bimo dan segera masuk ke mobil.

Matanya sudah menangkap tatapan tajam dari Diana hingga beberapa pekerja yang menyadari tatapan itu bergidik ngeri.

Mereka tahu bagaimana Diana kalau sudah marah, ia tidak akan pandang tempat.

"Mah, Papah mohon jangan bersikap seperti itu. Tolong ramah sedikit dengan orang." ucap Bimo.

"Oh Papah mau Mamah senyum-senyum sementara mereka di belakang Mamah menggoda Papah, begitu?" hardik Diana langsung terdengar meninggi.

Bimo sudah berbicara selembut mungkin namun nyatanya lagi-lagi masalah kembali muncul. Ia hanya bisa menghela nafas kasar. Tanpa mau memperpanjang masalah akhirnya ia melajukan mobilnya pulang ke rumah. Suasana kembali hening seperti biasanya.

Rasa lelah Bimo sudah menguasai dirinya bekerja seharian, namun Diana masih tidak mau juga memahami kelelahan suaminya itu, justru ia mengerang dengan tuduhan-tuduhan yang menghantui pikirannya.

***

"Mei, aku pulang." teriak Aldi yang sangat senang masuk ke rumahnya. Hidungnya bisa menangkap aroma masakan yang sangat lezat.

Meisa sudah tersenyum lebar menyambut kepulangan suaminya dengan celemek yang menempel di tubuhnya.

Aldi langsung memeluk tubuh Meisa melepaskan kerinduannya.

"Bu." sapa Aldi melepaskan pelukannya dari Meisa dan mencium punggung tangan Bu Nirmala.

"Mas Aldi mandi yah, biar Meisa siapkan airnya setelah itu kita makan." tutur Meisa lembut.

Bu Nirmala senang melihat kehidupan anaknya sangat bahagia saat ini. Meisa dan Aldi masuk ke kamar.

"Mei, aku merindukan mu." ucap Aldi kembali memeluk tubuh Meisa yang tengah mengatur suhu air di kamar mandi itu.

Keduanya akhir melepaskan kerinduannya di kamar mandi setelah itu mereka mandi bersama.

1
kalea rizuky
kn bukan anak. aldi ngapain tanggung jawab
kalea rizuky
karma di byar kontan akirnya si pelacur mati
kalea rizuky
kapok karma pelakor wanita gatel itu perebut suami orang
kalea rizuky
g jijik apa ya Mei ma aldi tukang celup
kalea rizuky
bukannya uda di talak ya males kalo mau. balikan aldi bekasss jalang
kalea rizuky
mencintai Mei tp enak enak. ma jalang munafik
Erni Nofiyanti
rumit jga tuh hubungan,Rere mulai ada rasa Ama dion,sedangkan kail suka Ama dion.pusing jadinya
siti rohimnah
hemmm mengapa harus berjanji dan kembali dengan Aldi yang kasar hanya karena selaput darah, cowok sok suci 😡
Jue
Jaga-jaga Aldi esok Aldiva benci padamu dan berimbas pada Meisha , Menjadi seorang bapak yang tidak Aldi , Dan Aldi tu bukannya cemburu tapi tiga suku , Lebih baik pasang gerigi besi kurung saja terus si Meisha buat selamanya
Jue
Wah tambah zuriat ni lagi Aldinya subur sungguh , Hai senangnya dalam hati bila beristeri dua fikir Aldi
tata 💕
kata'a tokoh disini pada ancur deh ya aldi & ortu'a, rere & ortu'a, meusya yg g tegas, diana & bimo. yg bener cm ibu nirmala, bu risa dan aditya
tata 💕
ni mah keluarga hancur nama'a
tata 💕
ish..... 😡
tata 💕
thor ko aku jd males y 😕
tata 💕
dah lah Na tinggalin tuh aldi, laki2 egois, g jujur dan g berprinsip, mau'a enak sendiri
tata 💕
kenapa y novel ni kumpulan orang2 bodoh y, maaf y thor
tata 💕
dah lah mending pisah aja nana, tinggalin aldi, lelaki egois 😐
tata 💕
ko menyebalkan y
tata 💕
masih abu2 nih thor
lanjut baca lagi lah
semangat thor 💪
Marlina Lina
kena azab nya tu tooorrr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!