NovelToon NovelToon
Gema Di Langit Verona

Gema Di Langit Verona

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Duniahiburan / Mafia / Cintapertama
Popularitas:112
Nilai: 5
Nama Author: SHEENA My

Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
​Namun, Verona tidak pernah melupakan.
​Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
​Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zirah Sutra dan Bubuk Mesiu

​Suasana di dalam vila Marco berubah drastis dalam waktu dua belas jam. Tidak ada lagi isolasi yang sunyi; kini ruangan itu dipenuhi dengan aroma oli senjata, suara klik dari pengisian amunisi, dan cahaya biru dari layar monitor yang memetakan denah Balai Kota Verona.

​Elena berdiri di depan sebuah cermin besar di kamar tamu. Di atas tempat tidur, Marco telah menyiapkan sebuah gaun baru. Bukan gaun merah yang mencolok atau biru yang mistis, melainkan gaun sutra hitam legam yang memeluk tubuh dengan sempurna. Gaun itu memiliki belahan tinggi di paha kiri, sengaja dirancang bukan hanya untuk keanggunan, tetapi untuk menyembunyikan sebuah sarung senjata berbahan kulit lembut yang melingkar di sana.

​Jemari Elena gemetar saat ia menyentuh pistol kecil jenis Beretta yang kini bersarang di pahanya. Selama sepuluh tahun, senjata terkuatnya hanyalah harga diri dan ingatan. Namun malam ini, logam dingin itu terasa seperti bagian dari jiwanya.

​"Kau tidak perlu melakukan ini, Elena. Kau bisa tetap di sini dan membiarkan orang-orangku yang menyelesaikannya," suara bariton itu muncul dari ambang pintu.

​Matteo berdiri di sana, bersandar pada kusen pintu kayu. Ia sudah mengenakan kemeja putih bersih yang disetrika kaku, menyembunyikan balutan perban tebal yang masih melilit perutnya. Meski wajahnya masih pucat, tatapannya sudah kembali setajam elang.

​Elena menoleh, menatap Matteo melalui pantulan cermin. "Pietro Moretti adalah darah dagingku, Matteo. Dia menghancurkan keluargaku dengan tangannya sendiri. Jika ada yang harus menarik pelatuk itu, orang itu adalah aku."

​Matteo berjalan mendekat, langkahnya sedikit kaku namun tetap berwibawa. Ia berdiri tepat di belakang Elena, menatap pantulan wanita itu. Tangan pria itu perlahan naik, merapikan helai rambut Elena yang jatuh di bahu, sebuah gerakan yang sangat kontras dengan kekejaman rencana yang sedang mereka susun.

​"Pietro tidak akan sendirian," Matteo memperingatkan dengan nada rendah. "Dia akan dikelilingi oleh tentara bayaran dan pejabat yang sudah ia beli. Balai kota akan menjadi sarang ular malam ini."

​"Maka kita akan menjadi racunnya," sahut Elena tegas.

​Matteo membalikkan tubuh Elena agar mereka saling berhadapan. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kalung perak dengan liontin kecil berbentuk kunci kuno—satu-satunya barang milik ayah Elena yang berhasil diselamatkan Matteo dari reruntuhan kantor ayahnya bertahun-tahun lalu.

​"Ini milikmu," Matteo memakaikan kalung itu ke leher Elena. Sentuhan jari-jarinya yang hangat di kulit leher Elena memberikan sensasi terbakar yang familiar. "Kunci ini bukan untuk membuka pintu, Elena. Ini adalah simbol bahwa kau adalah satu-satunya pemilik sah dari segala rahasia di Verona."

​Elena menyentuh liontin itu, matanya berkaca-kaca namun ia menolak untuk menangis. "Kenapa kau menyimpannya selama ini?"

​"Karena aku tahu suatu hari nanti, Moretti terakhir akan datang kembali untuk menagih hutangnya," bisik Matteo. Wajahnya mendekat, hingga dahi mereka saling bersentuhan. "Malam ini, kita bukan hanya menghancurkan musuh. Kita akan mengambil kembali kota kita."

​Di lantai bawah, Luca memberikan aba-aba. Tiga mobil SUV hitam telah dipanaskan mesinnya. Luca sendiri tampak sibuk memeriksa rompi anti-peluru di balik setelan jasnya. Marco berdiri di dekat pintu masuk, memegang sebuah tablet yang menampilkan arus lalu lintas di sekitar Verona.

​"Waktunya bergerak," Marco mengumumkan. "Perayaan San Zeno sudah dimulai. Masyarakat sudah memenuhi alun-alun. Ini adalah waktu terbaik untuk masuk tanpa terdeteksi."

​Elena mengambil buku Gema Verona dan menyembunyikannya di dalam tas kecil yang telah dimodifikasi. Ia menatap Matteo, dan tanpa kata-kata, mereka membuat kesepakatan bisu. Hidup atau mati, mereka akan menyelesaikan ini bersama.

​Saat mereka melangkah keluar menuju van, angin malam Verona yang dingin menyambut mereka. Di kejauhan, kembang api mulai meledak di langit, mewarnai awan dengan warna-warni yang meriah. Bagi ribuan orang di luar sana, ini adalah perayaan suci. Namun bagi Elena dan Matteo, setiap ledakan di langit adalah hitungan mundur menuju penghakiman terakhir.

​Mobil mulai melaju, meninggalkan ketenangan Danau Garda menuju kegelapan Verona yang penuh intrik. Elena menggenggam tangan Matteo di dalam mobil yang gelap, merasakan senjata di pahanya dan kunci di lehernya. Ia sudah siap. Moretti terakhir tidak akan lagi bersembunyi.

​Roda SUV hitam itu menggilas aspal jalanan menuju pusat kota Verona dengan suara dengungan yang rendah. Di dalam kabin yang kedap suara, ketegangan terasa begitu padat hingga oksigen seolah menipis. Elena duduk di samping Matteo, menatap keluar jendela pada barisan pohon zaitun yang berubah menjadi bayangan kabur akibat kecepatan mobil. Di pangkuannya, tas kecil berisi buku Gema Verona terasa seperti bongkahan timah yang panas.

​Matteo sesekali meringis pelan saat mobil melewati jalanan yang tidak rata. Luka di perutnya pasti berdenyut hebat, namun pria itu menolak untuk menunjukkan kelemahan. Ia justru sibuk memeriksa magasin senjatanya, memastikan setiap peluru siap untuk dimuntahkan.

​"Luca," suara Matteo memecah keheningan, "pastikan tim pembersihan sudah di posisi setelah signal dariku. Aku tidak ingin ada satu pun saksi mata dari pihak Pietro yang tersisa di aula bawah."

​"Sudah diatur, Tuan. Kita memiliki tiga menit celah keamanan saat pergantian penjaga di gerbang timur," jawab Luca dari kursi depan tanpa menoleh.

​Elena menyentuh liontin kunci di lehernya, merasakan logam dingin itu seolah menyerap panas tubuhnya. Ia teringat kembali pada ruang monitor di vila Marco tadi. Wajah Paman Pietro di layar tampak begitu asing; pria itu terlihat lebih tua, dengan gurat keserakahan yang kini tercetak jelas di sudut matanya. Bagaimana mungkin seseorang yang pernah membacakannya dongeng sebelum tidur bisa menjadi arsitek di balik tumpukan mayat keluarganya?

​"Kau memikirkan apa?" Matteo bertanya, matanya yang tajam kini tertuju pada Elena.

​"Tentang bagaimana kekuasaan bisa mengubah manusia menjadi monster," sahut Elena lirih. "Pietro dulu adalah orang yang paling dipercayai ayahku. Jika darah sendiri bisa berkhianat, lantas apa yang tersisa untuk dipercayai di dunia ini?"

​Matteo meraih tangan Elena, menggenggamnya dengan jemari yang kasar namun memberikan rasa aman yang tak terbantahkan. "Percayalah pada dendammu, Elena. Karena dendam tidak akan pernah mengkhianatimu. Ia akan terus membakarmu sampai tujuannya tercapai."

​Mobil mulai memasuki wilayah Piazza Bra. Cahaya dari ribuan lampion festival San Zeno mewarnai jalanan dengan rona emas dan merah yang meriah. Kerumunan orang dengan topeng-topeng karnaval memenuhi trotoar, tertawa dan menari, sama sekali tidak menyadari bahwa di dalam mobil hitam yang melintas di samping mereka, dua orang sedang menuju medan perang yang akan mengubah sejarah kota mereka.

​SUV itu berbelok ke sebuah gang sempit di samping Balai Kota—sebuah bangunan megah bergaya Neoklasik yang malam ini dijaga ketat oleh pria-pria bersetelan gelap dengan alat komunikasi di telinga mereka.

​"Kita sampai," ucap Luca pelan.

​Matteo membantu Elena keluar dari mobil. Saat Elena berdiri di bawah bayang-bayang pilar raksasa Balai Kota, ia merasakan embusan angin malam yang membawa aroma melati—aroma yang sama dengan parfum ibunya. Ia menarik napas panjang, menguatkan mentalnya. Gaun sutra hitamnya berkibar pelan, menyembunyikan senjata di pahanya dengan sempurna.

​Mereka berjalan menuju pintu samping, tempat para pelayan dan staf katering masuk. Berkat koneksi Marco, mereka memiliki tanda pengenal palsu yang sangat meyakinkan. Matteo berjalan dengan sedikit angkuh, menutupi rasa sakitnya dengan karisma seorang bangsawan yang sedang bosan, sementara Elena berjalan di sampingnya dengan dagu terangkat tinggi.

​Di dalam gedung, kebisingan musik orkestra mulai terdengar dari arah aula utama. Suara biola yang mendayu-dayu menciptakan kontras yang mengerikan dengan misi berdarah mereka.

​"Target berada di balkon utama, sedang bersulang dengan walikota," bisik Luca setelah memeriksa perangkat di pergelangan tangannya.

​Matteo berhenti di depan pintu ganda besar yang menuju aula dansa. Ia menoleh ke arah Elena, memperbaiki posisi kerah gaun wanita itu dengan gerakan yang sangat intim. "Begitu kita masuk ke sana, tidak ada jalan kembali. Kau siap menjadi Moretti yang akan mereka ingat selamanya?"

​Elena menatap pintu itu, lalu kembali ke mata Matteo. Di sana, ia melihat bayangan dirinya sendiri—seorang wanita yang telah kehilangan segalanya, namun kini siap untuk merebut kembali takdirnya.

​"Buka pintunya, Matteo," ucap Elena dengan nada suara yang tidak lagi mengandung keraguan.

​Saat pintu terbuka, cahaya dari lampu gantung kristal raksasa menyilaukan mata mereka. Ribuan tamu berpakaian mewah menoleh, terpana oleh kehadiran pasangan misterius berpakaian hitam yang baru saja memasuki ruangan. Dan di kejauhan, di atas balkon yang menghadap ke lantai dansa, seorang pria dengan rambut perak dan segelas sampanye di tangannya berhenti bicara.

​Paman Pietro telah melihatnya.

​Gema di langit Verona malam ini bukan lagi tentang pesta, melainkan tentang guntur yang akan segera meledak di tengah aula yang suci ini.

1
May Tales
waw
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!