Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.
Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.
Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 PERJALANAN MENUJU RUMAH OPA OMA
Ammar berdiri di depan pintu kamar Queen, mengenakan kemeja polos berwarna gelap dengan lengan digulung santai. Wajahnya terlihat lebih tenang dari beberapa hari terakhir, meski sorot matanya menyimpan kegugupan yang tak bisa ia sembunyikan.
“Kita berangkat sekarang,” ucapnya lembut.
Queen langsung melonjak dari duduknya. “Yeaaay! Kak Sari, kita jadi ke rumah Oma dan Opa, kan?”
Sari tersenyum sambil meraih tas kecil milik Queen. “Iya, nona. Tapi jangan terlalu lompat-lompat, nanti capek.”
Queen hanya tertawa, lalu berlari kecil menghampiri Ammar dan menggenggam tangannya.
Ammar menunduk, menatap putrinya dengan perasaan yang sulit ia jelaskan. Ada bahagia, ada haru, dan ada rasa bersalah yang menumpuk bertahun-tahun. Tangannya mengeratkan genggaman kecil itu, seolah takut kehilangan.
“Makasih sudah mau ikut, Queen,” ucapnya pelan.
Queen mendongak.
“Queen senang, Pah.”
Ammar tersenyum.
Mereka berjalan keluar menuju mobil. Sari sempat tertegun ketika melihat mobil yang terparkir. “Supirnya tidak ikut, Tuan?” tanya Sari ragu.
Ammar membuka pintu mobil. “Tidak. Aku ingin kita lebih santai hari ini.”
Sari mengangguk, meski hatinya sedikit berdebar.
Duduk satu mobil dengan Ammar setelah malam yang tak seharusnya terjadi membuatnya merasa canggung. Namun ia tetap tersenyum profesional, membantu Queen masuk ke kursi belakang.
Ammar menyalakan mesin mobil. Perlahan, kendaraan itu melaju meninggalkan halaman rumah.
Di dalam mobil, suasana awalnya sunyi. Hanya suara mesin dan hembusan AC yang terdengar. Hingga Queen memecah keheningan.
“Kak Sari,” panggilnya ceria.
“Iya, nona?”
“Nanti di rumah Oma, Queen boleh makan permen banyak nggak?”
Sari terkekeh kecil. “Kalau kebanyakan, nanti giginya sakit.”
Queen manyun sebentar, lalu tertawa lagi. “Queen mau Oma peluk Queen.”
Ammar yang menyetir melirik lewat kaca spion. Dadanya terasa sesak. “Oma pasti senang sekali,” ucap Ammar, suaranya berusaha terdengar ringan.
“Pah, Oma galak nggak?” tanya Queen polos.
Ammar terdiam sejenak.
Sari ikut menahan napas. Ia bisa merasakan perubahan suasana hanya dari jeda itu.
“Oma…” Ammar menghela napas. “Oma itu orangnya tegas, tapi baik.”
Queen mengangguk seolah mengerti. “Kalau Opa?”
“Opa…” Ammar tersenyum kecil. “Opa suka diam, tapi sebenarnya perhatian.”
Queen tersenyum lebar. “Berarti Oma sama Opa baik, ya!”
“Iya,” jawab Ammar cepat. Terlalu cepat, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri.
Sari memperhatikan dari kursi belakang. Ia melihat bagaimana Ammar berusaha tampak tenang, padahal tangannya yang memegang setir sedikit menegang.
Dia gugup, batin Sari.
Sebesar apa pun dia di luar sana… di depan orang tuanya, dia tetap anak yang takut ditolak.
Perjalanan terus berlanjut. Queen tak henti-hentinya bercerita tentang mainan yang ingin ia tunjukkan, tentang sekolah, tentang makanan kesukaannya. Sari sesekali menimpali dengan lembut, membuat Queen semakin bersemangat.
Ammar hanya tersenyum, sesekali tertawa kecil. Sudah lama ia tak melihat Queen sebahagia ini.
Terima kasih, batinnya lirih, tanpa suara. Untukmu, Sari.
Lampu merah membuat mobil berhenti. Ammar menoleh ke belakang. “Queen,” panggilnya.
“Iya, Pah?”
“Nanti… kalau Oma atau Opa kelihatan diam, Queen jangan takut, ya.”
Queen mengangguk serius. “Queen berani. Ada Papah sama Kak Sari.”
Kalimat itu seperti menampar sekaligus menguatkan Ammar. Ia kembali menghadap ke depan.
“Iya. Ada Papah.”
Sari menunduk, hatinya terasa hangat sekaligus nyeri. Ia sadar, kehadirannya perlahan menjadi bagian dari dunia kecil Queen. Tapi sampai kapan?
Mobil kembali melaju. Jalanan mulai berubah, semakin sepi dan rindang. Pepohonan besar berjajar di sisi jalan, membuat suasana terasa berbeda lebih tenang, lebih berat.
Queen mendadak diam, menatap keluar jendela. “Kak Sari,” panggilnya pelan.
“Iya, nona?”
“Kenapa Papah kelihatan sedih?”
Pertanyaan itu membuat Sari terdiam. Ia melirik Ammar dari kaca spion. Wajah pria itu terlihat tegang, matanya fokus ke jalan.
Sari tersenyum lembut pada Queen. “Papah hanya sedang mikir, sayang.”
Queen mengangguk, lalu menggenggam tangan Sari.
“Queen doain Papah, ya.”
Sari menelan ludah. “Iya.”
Ammar mendengar itu. Rahangnya mengeras, matanya memanas. Ia menekan rem perlahan saat mobil memasuki gerbang besar dengan tulisan nama keluarga yang elegan.
Rumah Oma dan Opa.
Ammar memarkir mobil. Mesin dimatikan. Sunyi.
Ia tidak langsung turun. “Queen,” ucapnya pelan.
Queen menoleh. “Iya, Pah?”
“Kalau nanti Papah salah ngomong atau kelihatan bingung… Queen tetap di dekat Papah, ya.”
Queen tersenyum cerah. “Queen di sini.”
Sari menatap pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca.
Ammar membuka pintu mobil. Udara sore menyambut mereka. Ia berdiri sejenak, menatap rumah besar di depannya rumah yang sudah lama tak ia injak.
Sari turun sambil menggenggam tangan Queen.
“Siap, nona?”
Queen mengangguk mantap.
Ammar melangkah mendekat. Ia menatap Sari sesaat.
“Terima kasih sudah ikut,” ucapnya tulus.
Sari menunduk. “Saya akan menemani Queen.”
Dan di halaman rumah itu di bawah langit yang mulai condong ke senja Ammar menarik napas panjang.
Hari ini, ia tidak datang sebagai pria hebat.
Ia datang sebagai anak yang ingin dimaafkan.
Sebagai ayah yang ingin anaknya diterima.
Dan di sisinya, ada dua orang yang tanpa ia sadari… menjadi kekuatannya.
gak adil ya Mar...
semangat Mar...
jika sudah memiliki suami sebisa mungkin diam di rumah. ngurus suami, anak dan juga rumah. jangan banyak gaya ingin kerja di luar dan mengabaikan kewajiban seorang istri.
kalo semuanya harmonis maka semuanya akan berakhir bahagia terutama restu orang tua. 😍😍
Mudah-mudahan happy ending ya cerita nya thour.. semangat berkaya💪💪💪😍😍😍