NovelToon NovelToon
Dinikahi Duda Perjaka

Dinikahi Duda Perjaka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / CEO / Cinta setelah menikah / Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Duda
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Amalia

Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Iri

Tidak hanya Lia, Reza dan Yola pun terkejut.

“Ya ampun …” celetuk Yola disertai kekehan.

Sedangkan Budi, Reynan dan Zara bingung.

“Dunia ini sempit sekali,” lanjut Yola.

“Mbak … apa kabar?” Lia langsung menghampiri Yola, lalu keduanya saling berjabat tangan.

“Alhamdulillah … baik. Kamu gimana Li? Udah lama kita gak ketemu ya?”

“Iya, Mbak. Alhamdulillah … aku juga baik,” jawab Lia.

“Dia gak di sapa?” tanya Yola seraya melirik pada suaminya, Reza.

Lia menyapa hanya sekedarnya saja.

Jujur, canggung. Begitulah yang mereka rasakan sekarang.

“Hawanya kok gak enak,” gumam Reynan, seraya mengusap pundaknya.

“Iya,” sahut Zara. Ternyata, Zara mendengar gumaman Reynan.

“Kalian saling kenal?” tanya Budi pada Lia.

“Iya … Mbak Yola ini Kakak kelas Ibu saat sekolah di semarang,” jawab Lia.

“Oh … Begitu …” ucap Budi.

Lia menganggukan kepalanya, sedangkan dengan Yola tersenyum.

“Lagi bahas apa ini?” tanya Lia.

“Ini, Mas Reza mau ngasih hadiah ke menantu.”

Lia mengerutkan dahinya. “Hadiah?” Ulangnya lagi.

“Iya … gak nyangka kita bertemu lahi ya, Li. Dan lebih gak nyangkanya lagi, kita bertemu udah jadi besan,” kata Yola.

Lia terkekeh kecil. “Iya, ya, Mbak.”

“Kalo kamu dulu jadi sama Mas Reza, kita gak bakalan bisa besanan ya?” Celetuk Yola.

Lia tersenyum canggung. Begitu juga dengan Reza.

“Ma …” tegur Reza.

“Eh, hehehe … maaf ya, Pak. Bukan maksud apa-apa, saya hanya terbawa suasana saja,” kata Yola pada Budi.

“Oh ya … gak apa-apa. Berarti Bu Yola ini Kakak kelas istri saya dan Pak Reza ini mantan istri saya begitu?” tanya Budi.

“Ya kurang lebihnya seperti itu,” jawab Yola disertai senyuman.

Namun Reza dan Lia tampak canggung, keduanya tidak suka dengan pembahasan ini.

“Oh … iya .. gak apa-apa. Lagian masa lalu juga,” kata Budi. “Lia dan Pak Reza tidak berjodoh, malah anak-anaknya yang berjodoh,” lanjut Budi.

“Hahaha … nah itu dia makanya. Pak,” sahut Yola.

“Iya. Untuk sekarang, kita fokusnya ke mereka, siapa tau sebentar lagi kita gendong cucu,” ujar Budi.

Reynan langsung terbatuk, sedangkan dengan Zara, ia membulatkan matanya.

“Hahaha … iya benar. Pak,” balas Reza.

Terdengar mobil terparkir di depan, mereka pun terdiam.

“Silahkan Pak Reza, Mbak Yola di makan jamuannya,” kata Lia.

“Iya, makasih, Li. Nantilah gampang. Yang datang siapa?” tanya Yola.

“Oh … Itu … Keluarga Mas Budi,” kata Lia. saat melihat Hanung dan keluarganya keluar dari mobil.

“Oh lagi ada tamu nih?” tanya Frida.

“Iya Mbak, ini kedua orang tuanya Reynan,” kata Lia.

“Oh … orang tua menantu kamu yang pengangguran itu ya?”

“Mbak!” tegur Lia.

Frida tersenyum sinis.

“Pengangguran juga gak apa-apa. Tapi asal Tante tau, ya. Aku baru aja di kasih hadiah sama mertua,” kata Zara.

Pasalnya ia sudah muak dan kesal pada istri dari Om-nya itu, yang selalu memandang rendah pada keluarganya.

“Hadiah?” tanyanya dengan remeh. “Paling hadiahnya satu baju beli dari pasar,” lanjutnya.

Lea terkekeh kecil dengan tangan yang melingkar di tangan Danish. Ya, pengantin baru itu ikut ke rumah Budi.

“Salah Tante,” ucap Zara. “Tante mau tau gak, apa hadiahnya?”

“Memangnya apa?” tanya Frida. Meski begitu, ia pun penasaran dengan hadiah apa yang dikasih oleh mertua dari ponaknnya itu.

“Mini Cooper 3 Door. Gimana Tante?” tanya Zara dengan mata yang ia kedipkan satu.

“Hahahaha … berkhayal jangan terlalu tinggi, Za.” Frida tertawa dengan puas. Seolah jika itu adalah bualan semata.

Tidak hanya Frida, Lea pun ikut tertawa. Namun Danish dan Hanung hanya diam.

“Lah, kok berkhayal. Serius, Tante … tapi aku minta mentahnya aja,” kata Zara lagi.

“Ya itu kamu berkhayal.”

“Serius, Tan. Iya gak pah?” Lanjutnya pada Reza.

Reza pun menganggukan kepalanya.

“Kalo begitu, coba buktikan. Jangan cuma omong doang,” kata Frida.

“Ya … gak sekarang juga, Tan. ‘Kan mau tahlilan,” ujar Zara.

“Hahaha … bilang aja, kalo itu cuma khayalan saja.”

Reza berdehem. “Berapa nomor rekeningnya?” tanya Reza pada Zara.

“Pah?”

“Iya, nomor rekening kamu berapa? Biar Papa transfer sekarang uangnya,” ucap Reza.

Seketika Frida dan Lea terdiam.

“Em- tapi saya cuma punya rekening yang biasa, Pah. Gak bisa—”

“Ya sudah begini saja, Papa transfer tiga ratus juta dulu. Sisanya Papa transfer ke nomor rekening Reynan, gimana?” tanya Reza.

Zara menggigit pipi dalamnya. Ia ingin tertawa melihat raut wajah Frida dan Lea.

“Em- boleh deh, Pah.”

“Berapa nomor rekeningnya?” tanya Reza lagi seraya merogoh ponselnya dari saku celana.

Lekas Zara mengetikkan di ponsel, setelah itu ia berikan pada Reza.

“Nah udah. Ini sisanya Papa kirim ke nomor rekening Reynan ya?”

“Iya, Pah. Terima kasih,” ucap Zara seraya tersenyum puas pada Frida dan Lea. Tidak lupa, ia juga memperlihatkan notifikasi uang masuk ke rekeningnya pada Tante dan Kakak sepupunya itu.

“Gimana, Tan? Kalo gini, masih dikata berkhayal gak?” tanyanya.

Frida berdecak keras, dengan mata yang mengerling.

“B-bagaimana bisa?” ucap Lea lirih.

Tidak lama, Haris dan Sarah datang. Keduanya datang terakhir meski dari rumah Hanung pergi bersamaan. Mereka singgah lebih dulu untuk mengisi bahan bakar.

“Siapa Bud?” tanya Haris.

“Ini Mas, orang tua Reynan.”

“Oh … iya. Salam kenal. Saya Om-nya Zara,” kata Haris, seraya mengulurkan tangannya. Diikuti Sarah dari belakang.

Kedua anak Haris tidak ikut, mereka langsung pulang mengingat keduanya masih ada di bangku kuliah.

Suara adzan isya berkumandang, lekas para lelaki pun pergi ke masjid untuk beribadah. Sedangkan para perempuan, shalat di rumah.

Sepuluh menit kemudian, orang-orang datang untuk tahlilan.

Lia pun segera menghidangkan makanan ringan di sana. Dibantu oleh Zara dan Yola.

Tahlilan di mulai, dari sana Zara sungguh tidak nyaman. Bukan apa, sedari tadi Danish terus menatap ke arahnya.

Sampai akhirnya tahlilan selesai, Danish masih menatapnya.

“Bud, Mas izin pulang ya. Mas gak bisa ikut tahlilan lagi, Mas udah lama gak masuk kantor. Gak enak juga,” kata Haris.

“Apa gak sebaiknya satu malam lagi, Mas? Sampai malam ketiga?” tanya Budi.

“Gak bisa, Budi. Kamu tau sendiri, Mas udah sering libur bulan ini. Dari mulai nikahan Zara, terus ke Lea di sambung dengan Ibu meninggal dan tahlilan,” ucapnya.

Helaan napas keluar dari mulut Budi. “Ya sudah kalo begitu. Hati-hati,” ujarnya.

“Nanti malam ketujuh, kalo gak ada halangan Mas datang,” kata Haris.

“Iya, semoga saja gak ada halangan,” balas Budi.

“Mas juga izin pulang, Bud. Badan Mas rasanya cepek sekali, Mas butuh istirahat,” kata Hanung.

Budi pun menganggukan kepalanya. Ia mengerti dengan keadaan Kakak tertuanya itu.

***

Keluarga Hanung pun pergi. Saat ini, Danish-lah yang menyetir.

Namun … saat melewati rumah Reynan, Frida dan Lea melihat ada mobil mewah terparkir di sana.

“Bu … Ibu liat?” tanya Lea.

“Ya, Ibu liat,” jawabnya dengan ketus.

“Apa itu mobil suaminya?” tanya Lea lagi.

“Mungkin,” jawab Frida.

“Katanya pengangguran. Tapi … dia punya mobil mewah, terus tadi dia juga di transfer sama mertuanya dengan nominal besar,” kata Lea.

“Sayang … aku juga mau.” Lea bicara pada Danish.

Danish menoleh pada Lea “Mau apa?” tanyanya.

“Mau mobil Mini Cooper 3 Door,” kata Lea dengan senyum manisnya.

Seketika Danish nge-rem mendadak. Hingga Hanung yang sedang tidur pun, terbangun.

“Ada apa?” tanya Hanung.

“Nggak, Yah. Maaf,” kata Danish.

Hanung tidak mempersalahkan, ia pun kembali melanjutkan tidurnya. Karena ia benar-benar sungguh lelah.

“Iya, ya sayang. Beliin, ya?” kata Lea lagi, dengan rengekan manja.

“Yang lain saja, ya. Aku belum mampu untuk beli itu,” ucap Danish lirih.

“Ih, gimana sih? Suaminya si Zara itu ‘kan pengangguran, tapi bisa ngasih hadiah.” Lea bicara dengan sedikit merajuk.

“Yang ngasih hadiah itu ‘kan orang tuanya, bukan suaminya.”

“Tapi … itu di rumahnya ada mobil mewah terparkir,” kata Lea. “Aku cuma minta Mini Cooper Door, bukan BMW XM yang terparkir di rumahnya si Zara,” lanjutnya.

Danish tidak menjawab. Namun helaan napas yang keluar dari mulutnya cukup berat.

Belum ada satu hari menikah dengan Lea, tapi rasanya—

Sudahlah, itu pilihanmu!

“Ingat, aku ini lagi hamil anakmu loh sayang. Kalo dia ngiler gimana?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!