NovelToon NovelToon
THE VAMPIR BRIDE

THE VAMPIR BRIDE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Misteri / Vampir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: crowell

hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍


Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?

Itulah yang terjadi sama Ema.

Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.

Tapi ternyata, Ema salah besar.

Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.

Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.

Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 32

Keesokan paginya...

Emma sudah bangun sejak pagi. Bukannya bermalas-malasan di kamar seperti biasanya, kali ini ia justru turun ke dapur untuk membantu para pelayan menyiapkan sarapan.

Namun, ada satu masalah besar.

Sejak tadi, Emma hanya berdiri diam di tengah dapur karena setiap kali hendak membantu, selalu saja ada yang melarangnya.

"Nyonya, biar saya saja yang memotong sayurannya," ujar salah seorang pelayan ketika melihat Emma mengambil pisau.

"Lho, kenapa? Aku juga bisa memotong sayuran, kok," protes Emma sambil mengerutkan kening.

"Pisau itu tajam, Nyonya. Biar saya saja."

Emma mendengus, lalu meletakkan pisau tersebut. Ia kemudian beralih mengambil sebuah mangkuk berisi telur.

"Kalau begitu, aku pecahkan telur saja."

"Jangan, Nyonya! Biar saya yang mengerjakannya," sahut pelayan lainnya dengan cepat.

Emma terdiam.

Ia kemudian mengambil spatula yang terletak di dekat kompor.

"Nah, kalau ini pasti boleh, kan? Aku cuma mau mengaduk—"

"Jangan yang itu juga, Nyonya. Minyaknya panas," potong Sonia yang berdiri tepat di sampingnya.

Emma perlahan menoleh ke arah pelayan pribadinya itu dengan tatapan tidak percaya.

"Sonia, kau ini pelayan pribadiku atau penjaga penjara, sih?"

Sonia langsung menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan senyumnya.

"Maaf, Nyonya. Saya hanya tidak ingin Nyonya terluka."

"Terus, aku harus melakukan apa? Berdiri saja seperti patung?" gerutu Emma sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Sonia tersenyum canggung. "Kalau boleh jujur, itu pilihan yang paling aman, Nyonya."

"SONIA!"

"Maaf, Nyonya!"

Para pelayan yang mendengar percakapan mereka buru-buru menundukkan kepala. Beberapa bahkan harus menggigit bibir agar tidak tertawa melihat wajah Emma yang sudah memerah karena kesal.

Emma mengembuskan napas kasar. Ia benar-benar tidak habis pikir. Niatnya datang ke dapur adalah untuk membantu, tetapi sejak tadi tidak ada satu pun pekerjaan yang diizinkan untuk dilakukannya.

Memotong sayur tidak boleh.

Memecahkan telur tidak boleh.

Mengaduk masakan juga tidak boleh.

Bahkan ketika ia hendak mengambil sendok untuk mencicipi sup, Sonia langsung mengambilnya lebih dahulu.

Emma menatap mereka satu per satu dengan wajah merajuk.

"Aku ingin masak sekali saja! Aku pandai dalam hal beginian!" serunya dengan penuh percaya diri.

Seketika, seluruh dapur mendadak hening.

Sonia perlahan menoleh ke arah Emma. Begitu pula para pelayan lainnya yang kini saling bertukar pandang.

Pandai memasak?

Mereka tidak berani mengatakannya, tetapi semuanya tahu bahwa kemampuan memasak Nyonya Emma masih jauh dari kata ahli.

Wanita itu hanya bisa memasak air panas dan menggoreng telur. Itu pun telur goreng buatannya pernah terlalu asin sampai salah seorang pelayan harus buru-buru mengambilkan air minum setelah mencicipinya.

Namun, tentu saja tidak ada seorang pun yang berani mengungkit kejadian tersebut di hadapan Emma.

"Kenapa kalian diam saja? Kalian tidak percaya kepadaku?" tanya Emma sambil menyipitkan mata.

"T-tentu saja percaya, Nyonya," jawab Sonia gugup.

"Kalau begitu, biarkan aku memasak!"

Sonia menelan ludah. Ia melirik kompor, lalu kembali menatap Emma.

"Tapi, Nyonya..."

"Tidak ada tapi-tapian!"

Emma segera menggulung lengan bajunya, lalu melangkah dengan penuh semangat menuju meja dapur. Ia mengambil beberapa butir telur dan meletakkannya di atas meja dengan ekspresi serius, seolah-olah hendak mengikuti kompetisi memasak tingkat dunia.

"Hari ini, aku akan menunjukkan kemampuan memasakku kepada kalian semua!" katanya bangga.

Sonia memijat pelipisnya pelan.

Dalam hati, ia hanya bisa berdoa agar dapur mansion itu tetap utuh sampai pagi berakhir.

Sebab, jika sampai sesuatu terjadi pada masakan Nyonya Emma, ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya kepada Tuan Damian nanti.

Sementara itu, Emma sudah sibuk mempersiapkan bahan-bahannya, sama sekali tidak menyadari bahwa seluruh pelayan di dapur sedang mengawasinya dengan perasaan waswas.

Bagi Emma, pagi itu adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya bukan wanita manja yang tidak bisa melakukan apa-apa.

Namun, bagi para pelayan, pagi itu justru terasa seperti awal dari sebuah bencana kecil.

"EMMA!!"

"WANITA CEREWET!!"

Teriakan Damian terdengar hingga ke dapur.

Emma yang baru saja hendak menyentuh pisau untuk memotong bahan masakan langsung menghentikan gerakannya. Ia menoleh ke arah pintu dapur dengan wajah kesal.

"Ada apa?! Aku di dapur!" teriaknya tak kalah keras.

Tak lama kemudian, Damian muncul di ambang pintu dengan wajah datar. Kemeja hitamnya sudah rapi, tetapi dasinya masih menggantung longgar di leher.

Tatapannya langsung tertuju pada Emma yang berdiri di dekat meja dapur, dikelilingi para pelayan yang terlihat tegang.

Damian mengembuskan napas panjang.

"Kalian bukankah sudah kubilang jangan biarkan Emma menyentuh apa pun di dapur?" tegurnya dengan suara dingin.

Para pelayan langsung menundukkan kepala.

"Tuan, kami sudah berusaha melarang Nyonya, tetapi—" jawab salah seorang pelayan gugup.

"Tetapi apa?" potong Damian tajam. "Tugasnya hanya memberikan perintah kepada kalian. Kenapa kalian malah membiarkannya mengambil pisau?"

"Tuan, saya bahkan belum sempat menyentuh pisaunya!" protes Emma sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Damian menoleh ke arahnya.

"Diam, wanita cerewet."

Emma langsung melotot. "Enak saja menyuruhku diam! Aku cuma mau membantu mereka memasak!"

"Kalau kau ingin membantu, duduk manis dan jangan menyentuh apa pun."

"Memangnya aku anak kecil?!"

"Bukan. Anak kecil biasanya lebih mudah diberi tahu."

Para pelayan buru-buru menundukkan kepala lebih dalam. Mereka mati-matian menahan tawa mendengar jawaban Damian.

Emma benar-benar ingin melemparkan telur ke wajah suaminya saat itu juga.

"Kau—!"

"Kalau sampai sesuatu terjadi padanya, siapa yang akan bertanggung jawab?" Damian kembali menatap para pelayan. "Kalau kalian tidak bisa mengikuti perintahku, kalian semua bisa kupecat!"

"Tidak, Tuan! Maafkan kami!" jawab para pelayan serempak.

Emma mengerutkan kening. Ia tidak menyangka Damian akan memarahi mereka hanya karena dirinya ingin memasak.

"Hei, jangan salahkan mereka!" serunya sambil melangkah mendekati Damian. "Aku sendiri yang ingin memasak. Mereka justru terus melarangku!"

Damian menatap istrinya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Dan kau masih tidak mengerti kenapa mereka melarangmu?"

Emma mengangkat dagunya dengan percaya diri. "Karena mereka meremehkan kemampuan memasakku!"

Damian terdiam selama beberapa detik.

Lalu ia memejamkan mata, mengusap pangkal hidungnya, dan mengembuskan napas panjang.

"Ya Tuhan, berikan aku kesabaran menghadapi wanita ini."

"AKU DENGAR!" teriak Emma.

"Bagus. Berarti pendengaranmu masih berfungsi."

"Damian!"

Damian mengabaikan omelan istrinya. Sebenarnya, ia datang ke dapur untuk mencari Emma karena membutuhkan bantuan wanita itu untuk mengikat dasinya. Sejak tadi ia mencoba memasangnya sendiri, tetapi hasilnya tidak sesuai keinginannya.

Namun, setelah menemukan Emma hampir menyentuh pisau, urusan dasi itu seketika terlupakan.

Damian akhirnya mengulurkan tangan, meraih pergelangan tangan Emma dengan lembut, lalu membawanya menjauh dari meja dapur.

"Ayo, ikut aku."

Emma mengernyit. "Ke mana?"

"Kamar."

"Untuk apa? Aku sedang sibuk!"

Damian berhenti dan menatapnya datar.

"Sibuk membuat seluruh penghuni mansion khawatir?"

Emma membuka mulut, hendak membantah, tetapi Damian lebih dahulu menarik napas panjang.

"Aku hanya ingin kau membantuku memasang dasi. Setelah itu, kau boleh kembali melakukan apa pun yang tidak membahayakan dirimu sendiri."

Emma terdiam.

Dasi?

Jadi, pria itu berteriak-teriak mencarinya hanya untuk meminta bantuan memasang dasi? Emma menatap dasi yang masih menggantung di leher Damian, lalu menyeringai kecil.

"Oh, jadi vampir galak kita ternyata tidak bisa memasang dasi sendiri?"

Damian menyipitkan mata.

"Emma, jangan mulai."

Namun, Emma justru terkekeh puas Untuk pertama kalinya pagi itu, ia merasa memiliki sesuatu untuk mengalahkan suaminya.

Damian menarik tangan Emma dan membawanya menuju kamar mereka. Sepanjang perjalanan, Emma masih mengomel karena merasa dirinya diperlakukan seperti anak kecil.

Sesampainya di kamar, Damian berdiri di depan cermin, lalu menunjuk dasi yang menggantung di lehernya.

"Ikatkan," perintahnya singkat.

Emma mendengus, tetapi tetap mendekat. Ia mulai merapikan dasi Damian dengan wajah cemberut.

Namun, ketika hendak membetulkan kerah kemeja suaminya, mata Emma tanpa sengaja menangkap layar ponsel Damian yang menyala di atas nakas.

Sebuah pesan baru masuk.

Nama pengirimnya membuat tangan Emma seketika berhenti bergerak.

Natalia.

Wajah Emma langsung berubah masam. Ia melirik layar ponsel itu sekali lagi, kemudian menatap Damian dengan tatapan penuh kecurigaan.

"Kenapa tidak menyuruh mantanmu saja yang memasangkan dasi untukmu?" sindir Emma ketus.

Damian yang sedang memperhatikan pantulan mereka di cermin langsung menoleh.

"Apa?"

"Itu, mantanmu mengirim pesan." Emma menunjuk ponsel Damian dengan dagunya. "Kenapa tidak sekalian kau suruh dia datang ke sini? Biar dia yang memasangkan dasimu. Kalian, kan, sudah saling mengenal selama lima tahun. Pasti dia lebih tahu selera berpakaianmu."

Damian terdiam.

Sementara itu, Emma kembali mengoceh tanpa memberi suaminya kesempatan untuk menjawab.

"Atau jangan-jangan, dia juga yang biasanya memasangkan dasimu dulu? Kalau begitu, aku tidak perlu repot-repot. Hubungi saja dia!"

"Emma."

"Apa? Aku salah bicara?" Emma mendongak, menatap Damian dengan mata membulat. "Aku cuma memberikan saran, tahu! Daripada aku yang memasangkan dasimu, lebih baik orang yang sudah berpengalaman saja!"

Damian mengembuskan napas pelan.

Wanita di hadapannya itu benar-benar tidak bisa diam. Sejak tadi mulutnya terus mengoceh, sementara jemarinya masih sibuk membenarkan simpul dasi Damian.

Anehnya, meskipun Emma sedang cemberut dan jelas-jelas menunjukkan kecemburuannya, Damian justru merasa gemas.

Pipi Emma yang menggembung, alisnya yang bertaut, serta bibirnya yang terus bergerak membuat wanita itu terlihat begitu lucu di matanya.

Namun, melihat Emma terus menyebut nama Natalia dengan nada kesal, Damian juga mulai kehilangan kesabarannya.

"Sudah selesai belum?" tanyanya datar.

"Belum! Gara-gara kau, aku jadi lupa cara memasang dasi!"

Damian mengangkat sebelah alisnya.

"Tadi kau bilang kau pandai."

"Itu memasak, bukan memasang dasi!" balas Emma cepat, lalu kembali merapikan simpul dasi suaminya.

Damian akhirnya terkekeh pelan.

"Dasar wanita cerewet."

"Aku dengar!"

"Aku memang sengaja mengatakannya agar kau dengar."

Emma langsung mendongak dengan wajah kesal.

"Damian, kau—"

Cup!

Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Emma, menghentikan ocehannya seketika Mata Emma membulat. Kedua tangannya masih memegang dasi Damian, sementara wajahnya perlahan memerah karena terkejut.

Damian menarik wajahnya sedikit, lalu menatap Emma yang mendadak kehilangan kata-kata.

Akhirnya, diam juga wanita itu.

Damian tersenyum tipis sebelum mengusap kepala Emma dengan lembut.

"Sudah, istriku. Kau satu-satunya istriku," ucapnya dengan suara rendah. "Memang benar, pernikahan kita awalnya hanya di atas kertas. Tapi kau sudah menjalani ritual darah bersamaku. Ikatan itu bukan sesuatu yang bisa kuanggap sepele."

Emma masih terdiam, menatap Damian dengan pipi yang semakin merah.

Damian kemudian menunduk sedikit agar tatapan mereka sejajar.

"Dan sampai kapan pun, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, wahai wanita cerewet."

Jantung Emma berdegup begitu kencang.

Kalimat itu terus terngiang di telinganya, membuat seluruh kecemburuan yang sejak tadi memenuhi pikirannya mendadak bercampur dengan perasaan hangat yang sulit dijelaskan.

Namun, Emma tetaplah Emma.

Ia buru-buru memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan senyum kecil di bibirnya.

"Siapa juga yang mau kau lepaskan?" gumamnya pelan.

Damian menyeringai tipis. "Oh, jadi kau ingin tetap bersamaku?"

"Woi! Jangan memutarbalikkan perkataanku!"

Damian terkekeh, lalu meraih tangan Emma yang masih memegang dasinya.

"Terima kasih sudah memasangkan dasiku."

Emma mendengus. "Iya, iya. Sekarang sana pergi kerja!"

Damian mengangguk, tetapi sebelum melangkah pergi, ia sempat mengecup puncak kepala istrinya.

"Jangan cemberut lagi. Aku pulang lebih awal nanti."

Setelah Damian keluar dari kamar, Emma masih berdiri mematung di tempatnya Perlahan, ia menyentuh bibirnya sendiri, lalu membenamkan wajah ke kedua telapak tangannya.

"Astaga, Emma! Kenapa jantungmu berisik sekali, sih?" gumamnya malu-malu.

Namun, ketika matanya kembali melirik ponsel Damian di atas nakas, senyumnya perlahan menghilang.

Pesan dari Natalia itu masih belum dibuka.

Emma mengerucutkan bibir.

"Pokoknya, kalau perempuan itu berani macam-macam lagi, lihat saja nanti!"

Meski begitu, kali ini Emma tidak lagi merasa sesesak sebelumnya.

Sebab, untuk pertama kalinya, Damian telah mengatakan sesuatu yang diam-diam ingin didengarnya sejak lama ia tidak berniat melepaskan Emma begitu saja.

1
@Bella45
lanjut thor sayang jangan lupa istirahat 😍
chelsea~♡
suka dan naksir banget sama carita nya jelas banget 😘🤗
Fiar
puas banget baca nya up nya bir atu bab tapi banyak suka

eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭
miooo😻
cerita KK ngak pernah mengecewakan yah Mangat KK makasih udah mau buat cerita lagi 🥰🥰💪
KEISHA 72_
suka banget sama karya nya kakak semangat KK ❤️❤️💪🤭
Alethea
wahhh cerita nya Karen 💪❤️
Marsya 🌼
ngakak bet hahahaha 🤣
Chloe
Diamian lupa kah sama perjanjiannya sama ayah nya ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!