Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.
Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.
Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.
Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Beberapa waktu kemudian, proses perceraian Jingga dan Rangga akhirnya selesai setelah seluruh tahapan persidangan dilalui. Jingga keluar dari ruang sidang bersama kuasa hukumnya, menggenggam salinan putusan dengan perasaan lega sekaligus getir. Pernikahan yang pernah ia pertahankan dengan sepenuh hati kini benar-benar berakhir.
“Selamat memulai hidup baru, Jingga,” ujar kuasa hukumnya.
Jingga mengangguk. “Terima kasih. Saya hanya ingin hidup tenang setelah ini.”
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Begitu mereka menuruni tangga pengadilan, beberapa wartawan bergegas menghampiri. Kamera menyala, mikrofon terarah kepadanya, dan pertanyaan datang bertubi-tubi.
“Nona Jingga, benarkah Tuan Rangga berselingkuh dengan mantan kakak iparnya yaitu Nona Dira?”
“Apakah perselingkuhan itu menjadi penyebab perceraian kalian?”
Jingga tertegun. Ia tidak pernah menghubungi media atau memberikan pernyataan tentang rumah tangganya. “Maaf, saya tidak bisa memberikan komentar.“
Wanita yang kini resmi menyandang status janda itu segera berjalan menuju mobil bersama kuasa hukumnya. Namun, beberapa meter di belakangnya, Rangga baru keluar dari gedung pengadilan dan langsung dikerumuni wartawan.
“Tuan Rangga, bagaimana tanggapan Anda mengenai kabar perselingkuhan Anda dengan Nona Dira?”
“Apakah benar Anda mengkhianati Nonq Jingga selama pernikahan?”
Wajah Rangga berubah muram. “Saya tidak akan menanggapi kabar yang belum jelas kebenarannya!”
Ia menerobos kerumunan, lalu masuk ke mobilnya dengan amarah yang semakin membara. Berita tersebut menyebar luas dalam hitungan jam. Bukan hanya kehidupan pribadinya yang menjadi perbincangan, nama keluarga Cendana dan perusahaan mereka ikut terseret.
Sejumlah investor mulai mempertanyakan reputasi keluarga itu. Harga saham perusahaan mengalami tekanan, membuat jajaran direksi meminta penjelasan.
Di balik semua itu, Dira duduk di kamarnya sambil membaca berita melalui ponsel. Ia menggunakan nama samaran ketika menghubungi sebuah media, menyampaikan kisah perselingkuhan tersebut seolah-olah dirinya hanya seseorang yang mengetahui rahasia keluarga Cendana.
Tidak ada foto wajahnya, dan tak ada identitas yang bisa ditelusuri secara langsung.
Ketika membaca komentar warganet yang mengecam Rangga, Dira tersenyum puas. Ia bahkan sengaja mengirim pesan kepada seorang kenalan, mengaku khawatir karena Jingga mungkin akan menyalahkannya. Padahal, ia tahu betul bahwa dialah yang menyalakan api itu.
...*****...
Sore harinya, seluruh keluarga besar Cendana berkumpul di kediaman utama. Ayah Rangga baru pulang dari perjalanan dinas luar negeri setelah menerima laporan mengenai goyahnya saham perusahaan. Para paman, bibi, dan sepupu Rangga yang bekerja di berbagai bagian perusahaan turut hadir.
Ayah Rangga, bernama Arman meletakkan beberapa lembar laporan di atas meja.
“Siapa yang membiarkan masalah pribadi berubah menjadi skandal sebesar ini?”
Tidak seorang pun segera menjawab.
Seorang paman menghela napas keras. “Investor meminta penjelasan. Nama keluarga kita dipermalukan hanya karena perceraian Rangga! Sekarang, perusahaan ikut terseret dalam masalah rumah tangga yang seharusnya bisa diselesaikan secara pribadi.”
Arman meletakkan laporan di atas meja. “Aku tidak peduli bagaimana pernikahan Rangga berakhir. Yang ingin kutahu, siapa yang menyebarkan berita ini dan mengapa dampaknya begitu besar?”
“Jingga pasti berada di balik semua ini,” sahut Rangga cepat. “Dia menyimpan dendam kepadaku. Setelah perceraian, dia ingin menghancurkan reputasiku.”
“Kalau begitu, apa alasan dia menggugat cerai?” tanya salah seorang pamannya. “Jangan bilang hanya karena pertengkaran biasa. Kalian sudah menikah bertahun-tahun.”
Rangga terdiam sejenak. “Rumah tangga kami memang memiliki masalah. Namun, itu bukan alasan bagi siapa pun untuk menyebarkan urusan pribadi kami ke media.”
“Jangan mengalihkan pembicaraan!” tegur Arman. “Kami tidak sedang membahas perasaanmu. Kami membahas nama baik keluarga dan perusahaan.”
Seorang sepupu yang bekerja di bagian hukum perusahaan kemudian mengeluarkan ponselnya.
“Ada sesuatu yang perlu kalian lihat. Aku menerima kiriman beberapa foto dan tangkapan layar percakapan. Pengirimnya tidak menyebutkan identitas, tetapi isinya berkaitan dengan hubungan Rangga dan Dira.”
Rangga langsung menegang.
“Percakapan apa?”
Sepupunya tidak menjawab. Ia meletakkan ponsel di tengah meja, lalu memperlihatkan beberapa tangkapan layar yang menunjukkan komunikasi mesra antara Rangga dan Dira.
Ruangan yang semula dipenuhi keluhan mendadak sunyi.
Seorang bibi menutup mulutnya, sementara pamannya mengambil ponsel itu untuk memastikan apa yang dilihatnya bukan kesalahpahaman.
“Ini benar-benar percakapan kalian?” tanyanya sambil menatap Rangga.
Rangga segera berdiri. “Aku tidak tahu siapa yang mengirimkan semua itu. Bisa saja seseorang sengaja memalsukannya untuk menjatuhkanku!”
“Kalau begitu, ceritakan!” desak pamannya. “Apa hubunganmu dengan Dira sebenarnya?”
Rangga mengepalkan tangan. Ia menyadari bahwa menyangkal semuanya hanya akan membuatnya terlihat semakin mencurigakan. Namun, ia juga tidak ingin mengakui perselingkuhannya begitu saja di hadapan keluarga besar.
“Aku dan Dira memang dekat. Dia sahabatku sejak lama, dan setelah Bang Tara meninggal, kami sering saling menguatkan. Kedekatan itu kemudian disalahartikan oleh orang-orang yang ingin menghancurkan nama baik kami.”
“Disalahartikan?” Seorang sepupu mengangkat alis. “Kamu menganggap percakapan mesra kalian sebagai kesalahpahaman?”
“Jangan memutarbalikkan perkataanku!”
“Lalu, bagaimana kami harus memahaminya?” sahut pamannya. “Dira adalah mantan istri mendiang kakakmu. Jingga masih menjadi istrimu ketika ini terjadi. Apa kamu sadar betapa memalukannya keadaan ini?”
Rangga terdiam.
Arman menatap putranya dengan sorot mata tajam. “Jawab satu pertanyaan saja. Apakah kamu menjalin hubungan dengan Dira ketika masih menikah dengan Jingga?”
“Aku tidak pernah berniat membuat semuanya menjadi seperti ini.” Rangga mengusap wajahnya kasar.
Jawaban itu justru membuat beberapa anggota keluarga saling pandang.
“Jadi, benar?” tanya bibinya dengan nada tidak percaya.
“Aku dan Dira saling menyayangi!” Rangga akhirnya membentak. “Aku tahu hubungan ini salah, tetapi semuanya terjadi ketika hidupku sedang berantakan. Aku kehilangan Bang Tara, kehilangan anakku, dan rumah tanggaku dengan Jingga juga tidak lagi berjalan baik. Dira satu-satunya orang yang memahami keadaanku!”
“Lalu, apakah kamu pernah memikirkan keadaan Jingga?“ ucap salah satu sepupunya. “Dia juga kehilangan anaknya sendiri, dan berduka. Mengapa hanya penderitaanmu yang kamu jadikan alasan?”
Rangga mengatupkan rahang. “Aku tidak meminta kalian memahami perasaanku. Aku hanya tidak ingin semua orang menghakimiku seolah aku satu-satunya orang yang bersalah!”
“Kalau kamu tidak ingin dihakimi, seharusnya kamu berpikir sebelum melakukan semua ini. Kamu sudah menikah. Apa pun masalahmu dengan Jingga, perselingkuhan bukan jalan keluarnya.”
Seorang bibi menyilangkan tangan di dada.
“Bagaimanapun, Jingga juga bukan orang yang sepenuhnya tidak bersalah. Kalau dia memang memiliki bukti perselingkuhan ini, mengapa baru sekarang semuanya menjadi masalah besar? Bisa saja dia sengaja menunggu sampai perceraian selesai untuk mempermalukan keluarga kita.”
Meski begitu, akhirnya tidak ada lagi yang benar-benar membicarakan penderitaan Jingga. Mereka lebih sibuk memikirkan nama baik keluarga, reputasi perusahaan, dan kemungkinan dampak skandal itu terhadap hubungan bisnis mereka.
“Benar,” sahut pamannya. “Kalau dia ingin bercerai, seharusnya dia menyelesaikannya dengan baik. Tidak perlu membuat nama keluarga Cendana menjadi bahan pembicaraan orang luar.”
“Jangan lupa, kita belum tahu siapa yang menyebarkan berita itu,” sela sepupu Rangga, dia adalah Leo. Sepupu Rangga yang sebenarnya sejak lama telah mengagumi Jingga. “Tidak ada bukti yang menunjukkan Jingga menghubungi media.”
“Namun, dia punya alasan untuk membalas dendam,” balas sang bibi. “Rangga memang salah karena berselingkuh, tetapi itu tidak berarti Jingga boleh melakukan apa saja untuk menjatuhkannya.”
Perdebatan itu membuat Rangga sedikit lega. Setidaknya, sebagian besar keluarganya masih bersedia mempertanyakan tindakan Jingga, meskipun mereka sudah mengetahui perselingkuhannya.
Hanya Bu Farah yang sejak tadi duduk dengan wajah muram. “Kenapa kalian terus membicarakan Jingga seolah-olah dialah sumber semua masalah ini?”
Semua orang menoleh.
“Fakta bahwa Jingga memiliki bukti perselingkuhan tidak berarti dia yang menyebarkannya. Dan sekalipun dia yang melakukannya, pernahkah kalian bertanya mengapa dia sampai merasa harus melindungi dirinya dengan bukti-bukti itu?” Ujar Bu Farah dengan nada dingin, jelas sekali dia membela Jingga.
Seorang bibinya menghela napas tidak sabar.
“Farah, kami mengerti kamu menyayanginya. Namun, dia sudah bukan bagian dari keluarga ini. Jangan sampai kamu terus membelanya dan melupakan kepentingan keluarga sendiri.”
Bu Farah menatap perempuan itu dengan kecewa. “Aku tidak sedang membela Jingga tanpa alasan. Aku hanya meminta kalian bersikap adil. Rangga memang anakku, tetapi itu tidak membuat semua perbuatannya menjadi benar.”
“Tidak ada yang mengatakan Rangga benar,” sahut pamannya. “Kami hanya tidak ingin masalah ini semakin merugikan keluarga.”
“Kalau begitu, berhentilah menjadikan Jingga sasaran kemarahan kalian. Dia sudah bercerai dan berhak menjalani hidupnya sendiri!”
Rangga mendengus. “Ma, kenapa sekarang Mama selalu membelanya? Apa Mama tidak peduli kalau nama baikku hancur?”
Bu Farah menatap putranya lekat-lekat. “Mama peduli kepadamu. Justru karena itulah Mama ingin kamu berhenti menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kamu perbuat sendiri.”
Rangga terdiam, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak menerima teguran tersebut.
Arman kemudian mengangkat tangan, menghentikan perdebatan. “Cukup! Kita tidak akan menyelesaikan apa pun dengan saling menyalahkan. Untuk saat ini, kita harus mencari tahu siapa yang membocorkan bukti tersebut dan memastikan masalah perusahaan tidak semakin memburuk.”
Ia menatap Rangga dengan serius.
“Namun, satu hal yang harus kamu pahami. Apa pun alasanmu, hubunganmu dengan Dira telah menimbulkan masalah besar. Mulai sekarang, jangan mengambil keputusan gegabah yang bisa memperburuk keadaan.”
Rangga mengatupkan rahang. Ia merasa keluarganya lebih memikirkan reputasi mereka daripada perasaannya. “Baik, Pa. Kalau Jingga yang melakukan ini, aku akan membuatnya bertanggung jawab!”
“Jangan berani mengganggunya hanya berdasarkan prasangka!” Ujar Bu Farah pada putranya.
Rangga menatap ibunya dengan tidak percaya, lalu meninggalkan ruangan. Baginya, pembelaan Bu Farah terhadap Jingga terasa seperti pengkhianatan baru.
lanjut Thor👍
thor ngomong" masa ga ketauan si yg nyebarin berita ga bertanggung jawab itu, biar keluarganya Rangga tau seberapa manipulatif nya mantan menantunya yg sblah itu