sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.
sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.
sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.
sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar Jadi Ibu Lagi
Tapi ingatannya masih tertinggal 11 hari di belakang.
Di ingatannya, ia masih perempuan hamil 9 bulan yang tinggal di gubuk bocor Kolorai, yang suaminya Johan kerja bangunan di Waingapu, yang besok mau melahirkan.
Di kenyataannya, ia sudah melahirkan 14 hari lalu, anaknya sudah bisa berdiri, suaminya lumpuh, dan ia baru bangun dari koma karena donor sumsum tulang.
Dokter bilang tidak boleh dipaksa ingat. Harus pelan-pelan.
Johan yang lumpuh punya ide. Ide gila yang hanya bisa dilakukan oleh orang lumpuh yang mencintai istrinya.
Setiap pagi, jam 6 pagi, Johan yang masih di kursi roda, meminta perawat mendorongnya ke taman kecil di belakang RS Sanglah. Taman dengan rumput hijau, mirip padang sabana Kolorai.
Di taman itu, Johan meminta Mama Leni membawa Bintang.
Bintang sekarang umur 14 hari, tapi perkembangannya seperti bayi 3 bulan karena keajaiban transplantasi. Kakinya yang dulu bengkok, sekarang lurus sempurna, gips sudah lepas total. Bintang sudah bisa merangkak cepat, dan sudah bisa berdiri berpegangan. Dokter Bali bilang ini keajaiban.
Setiap pagi, Johan, Sari, Mama Leni, Bintang, dan Kevin (keponakan yang sudah sembuh dan akan operasi jantung minggu depan) duduk di taman itu.
Johan tidak bilang "Sari, ini anakmu". Johan tidak paksa.
Johan hanya bercerita.
Hari pertama, Johan cerita, "Sari, dulu di Kolorai, ada seorang perempuan hamil yang sangat berani. Dia melahirkan sendirian saat badai, tanpa dukun, tanpa suami. Dia gunting tali pusar anaknya pakai pisau dapur."
Sari mendengarkan, mengernyit, "Siapa perempuan itu? Hebat sekali."
Johan tersenyum, menatap Bintang yang merangkak di rumput, "Namanya Sari. Sama seperti namamu."
Hari kedua, Johan cerita lagi, "Perempuan itu gendong anaknya 5 km di padang sabana yang panas, kakinya berdarah, untuk bawa anaknya ke Puskesmas karena demam. Anaknya kakinya bengkok, dibilang kutukan satu desa."
Sari mulai menangis pelan, tanpa tahu kenapa, "Kasihan... anaknya pasti sedih... ibunya pasti sayang sekali sama anaknya..."
Hari ketiga, Johan cerita lagi, sambil memegang tangan Sari yang masih lemah, "Perempuan itu donor darah 750 cc untuk suaminya yang hampir mati. Padahal suaminya baru saja mau jual tanah peninggalan bapak perempuan itu."
Sari menangis lebih keras, "Suaminya jahat! Kenapa perempuan itu masih mau donor?"
Johan menatap Sari dalam-dalam, dengan mata yang penuh air mata penyesalan.
"Karena perempuan itu cinta tanpa syarat, Sari. Dia tidak hitung-hitungan. Suaminya jahat, tapi dia tetap selamatkan. Anaknya cacat, tapi dia tetap sayang."
Hari keempat, kelima, keenam, Johan terus bercerita. Tentang terminal bus, tentang pencuri sertifikat, tentang donor sumsum, tentang koma.
Setiap cerita, Sari menangis, tapi ingatannya tidak kembali. Ia hanya merasa cerita itu... familiar. Seperti mimpi.
Sampai hari ketujuh di taman itu.
Pagi itu, Bintang yang sedang merangkak di rumput, tiba-tiba berdiri sendiri, tanpa pegangan. Berdiri dengan dua kaki lurusnya yang dulu bengkok.
Lalu Bintang melangkah. Satu langkah... dua langkah... tiga langkah... menuju Sari.
Bintang berjalan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, bayi 14 hari itu berjalan, bukan merangkak.
Semua perawat di taman RS Sanglah bertepuk tangan. Mama Leni menangis. Johan yang lumpuh menangis.
Bintang berjalan menuju Sari, dan memeluk kaki Sari yang duduk di kursi roda taman.
Sari yang melihat bayi kecil itu memeluk kakinya, tiba-tiba kepalanya sakit hebat.
*"ARGHHH!"* Sari memegang kepalanya.
Ingatan 11 hari yang hilang, kembali semua dalam satu detik, seperti film yang diputar cepat.
Badai... gubuk bocor... melahirkan sendirian... gunting pisau dapur... gendong 5 km... Puskesmas... demam... ambulans... polisi... donor darah... terminal bus... kejar Lina... sertifikat... operasi Bintang... operasi Johan... donor sumsum... koma...
Sari berteriak, "BINTANG! ANAKKU!"
Sari langsung memeluk Bintang yang memeluk kakinya itu, erat-erat, mencium kaki Bintang yang sudah lurus sempurna itu.
"Bintang! Bintangku! Kaki Bintang sudah sembuh! Bintang sudah bisa jalan! Ibu ingat! Ibu ingat semua, Nak! Maafkan Ibu lupa kamu, Nak!"
Bintang yang dipeluk ibunya, tertawa. Tawa pertama Bintang sejak lahir. Tawa bahagia.
Johan yang lumpuh di kursi roda sebelah, melihat istri dan anaknya berpelukan, menangis meraung-raung. Ia mencoba berdiri dari kursi rodanya, jatuh lagi, tapi kali ini Sari dan Bintang yang membantu dia berdiri.
Tiga orang itu berpelukan di taman RS Sanglah Bali, di bawah pohon kamboja, dengan Mama Leni dan Kevin yang juga sudah sehat di samping mereka.
Cinta tanpa syarat akhirnya menang.
EPILOG: Satu Tahun Kemudian - Bintang Berlari di Padang Sabana
Satu tahun kemudian, Kolorai, Sumba Timur.
Gubuk bocor Sari sudah tidak ada.
Di atas tanah 2 hektar peninggalan bapak Sari, kini berdiri sebuah rumah panggung sederhana yang kokoh, dari kayu jati Sumba, dengan atap seng baru. Dibangun dari uang sisa donasi yayasan dan dari hasil jual garam Mama Leni yang kini laku karena viral.
Di depan rumah, ada tulisan kayu: *RUMAH BINTANG - Tempat Cinta Tanpa Syarat Tinggal*
Johan tidak lumpuh lagi. Setelah 6 bulan fisioterapi di Kupang, kakinya bisa jalan lagi, meskipun masih pakai tongkat. Ia tidak kerja bangunan lagi. Ia buka bengkel motor kecil di depan rumah, bengkel jujur, tidak tipu-tipu. Setiap ada orang mau jual tanah untuk alasan tidak jelas, Johan selalu bilang, "Jangan, Pak. Tanah itu warisan anak."
Lina sudah keluar penjara 6 bulan lalu. Ia tidak tinggal di Kolorai lagi. Ia tinggal di Waingapu, kerja di toko baju. Kevin, anaknya, sudah operasi jantung di Jakarta dan sembuh total. Thalassemia-nya juga sembuh karena donor Johan. Setiap bulan, Lina datang ke Rumah Bintang, bawa kue, minta maaf ke Sari, dan bermain dengan Kevin dan Bintang yang sekarang jadi seperti kakak beradik sepupu.
Dan Bintang?
Bintang sekarang umur 1 tahun 14 hari.
Kakinya yang dulu bengkok, yang dibilang kutukan satu desa, yang harus di-gips 6 kali, kini lurus sempurna.
Siang itu, di padang sabana Kolorai yang luas, yang dulu menjadi saksi Sari melahirkan sendirian dan berlari 5 km, Bintang berlari.
Berlari kecil dengan kaki kecilnya yang kuat, mengejar kupu-kupu kuning, tertawa keras.
"Bintang! Jangan jauh-jauh!" teriak Sari dari depan rumah, yang kini hamil lagi, hamil 3 bulan, anak kedua dengan Johan, yang direncanakan dengan cinta.
Sari menatap Bintang yang berlari di padang sabana, dengan perut hamil dan Johan yang memeluknya dari belakang dengan tongkatnya.
Air mata Sari mengalir, tapi bukan air mata sedih lagi. Air mata bahagia.
Dulu, satu desa bilang Bintang kutukan, cacat, tidak akan bisa jalan.
Hari ini, Bintang berlari paling kencang di padang sabana Kolorai.
Karena cinta tanpa syarat seorang ibu, tidak pernah mengenal kata cacat, tidak pernah mengenal kata kutukan, dan tidak pernah mengenal kata menyerah.