Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab3 Nasib Derita Istri pekerja kuli bangunan
Matahari belum sepenuhnya terbit, tetapi aroma tanah basah sisa hujan semalam masih terasa dingin menembus dinding papan rumah kontrakan sempit itu.
Di sudut dapur yang hanya beralaskan semen kasar, Nisa sedang menyalakan kompor minyak tanah yang batuk-batuk mengeluarkan asap hitam. Di atasnya, panci kecil berisi nasi sisa semalam sedang ia hangatkan kembali.
Langkah kaki tertahan terdengar dari arah kamar. Burhan berjalan keluar sambil membenahi kaos lusuhnya yang sudah memudar. Di bahunya, terikat selembar kain sarung tua untuk menahan dinginnya angin pagi.
"Nis, kopi masih ada?" tanya Burhan pelan, suaranya parau karena kurang tidur.
Nisa menoleh, mencoba menyunggingkan senyum hangat meski matanya sembab. "Ada, Mas. Ini sudah Nisa tuangkan ke gelas. Tapi maaf ya, gula pasirnya cuma tersisa separuh sendok."
Burhan duduk di bangku kayu yang agak goyang, lalu meraih gelas seng berisi kopi hitam itu. Ia menyesapnya perlahan sebelum menatap istrinya lekat-lekat.
"Kamu ndak makan, Nis? Nasi goreng sisa kemarin itu cukup kan buat kamu?" tanya Burhan cemas.
"Nisa sudah kenyang, Mas. Nasi itu buat bekal Mas Burhan kerja saja di proyek nanti. Mas kan kerja berat, butuh tenaga ekstra," jawab Nisa lembut sambil membungkus nasi hangat tersebut dengan daun pisang.
Burhan menghela napas panjang. Hatinya teriris melihat pengorbanan istrinya. Sebagai kuli bangunan harian, penghasilannya tidak pernah pasti.
Jika cuaca buruk atau material bangunan terlambat datang, ia sering pulang dengan tangan hampa. Padahal cinta di antara mereka begitu tulus dan mendalam, namun kemiskinan dan tekanan hidup tak hentinya menghantam rumah tangga mereka.
"Mas minta maaf ya, Nis," bisik Burhan, menundukkan kepalanya. "Sudah tiga tahun kita nikah, tapi Mas belum bisa bikin kamu hidup layak. Jangankan perhiasan atau baju bagus, buat makan sehari-hari saja kamu harus prihatin begini."
Nisa mendekati suaminya, merangkul bahu kekar yang sering memar akibat mengangkut semen dan batu bata itu.
"Mas jangan bicara begitu," bisik Nisa penuh kesungguhan. "Nisa enggak pernah menyesal menikah sama Mas Burhan. Mas itu pria jujur dan pekerja keras. Buat Nisa, cinta dan kesetiaan Mas itu sudah lebih dari cukup."
"Tapi rasanya sakit, Nis. Apalagi kemarin Mas dengar Ibu Kontrakan ngomel-ngomel lagi sama kamu soal uang sewa yang nunggak dua bulan," ujar Burhan dengan raut wajah penuh rasa bersalah.
Nisa tersenyum tipis, mencoba menghibur suaminya. "Nggak apa-apa, Mas. Ibu Kontrakan cuma lagi kesal saja. Nisa sudah janji minggu ini kalau gaji Mas turun, kita langsung cicil."
Tiba-tiba, suara ketukan pintu depan terdengar kasar dan bertubi-tubi.
TAK! TAK! TAK!
"Nisa! Burhan! Keluar kamu!" teriak sebuah suara wanita setengah baya dari luar.
Nisa dan Burhan saling pandang. Wajah Nisa seketika memucat. Burhan segera berdiri dan berjalan membuka pintu depan. Di ambang pintu, berdiri Bu Tejo, pemilik kontrakan, dengan tangan berkacak pinggang dan wajah menyeringai kesal.
"Ada apa, Bu Tejo? Pagi-pagi kok sudah teriak-teriak?" tanya Burhan bersikap sehalus mungkin.
"Enggak usah pura-pura amnesia kamu, Burhan!" semprot Bu Tejo galak. "Ini sudah tanggal sepuluh! Uang sewa bulan lalu belum dibayar, sekarang sudah nambah bulan baru lagi! Mau tinggal gratis di sini?!"
Nisa menyusul ke depan dan menyatukan kedua telapak tangannya di dada. "Mohon maaf sekali, Bu Tejo. Tolong beri kami waktu beberapa hari lagi. Mas Burhan hari ini mulai garap proyek baru di perumahan sebelah, nanti kalau sudah dapat kasbon pasti langsung kami bayar."
"Halah! Janji-janji terus dari kemarin!" bentak Bu Tejo tak peduli. "Ingat ya, kalau sampai hari Sabtu besok uangnya belum lunas, barang-barang kalian saya lempar ke jalan! Saya enggak mau tahu kamu kuli bangunan atau apa, tempat ini bukan panti sosial!"
Setelah melampiaskan kemarahannya, Bu Tejo berbalik dan pergi begitu saja. Nisa mengelus dadanya yang sesak, sementara Burhan mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Sabar ya, Mas," bisik Nisa sambil memegang lengan Burhan.
"Mas janji, Nis. Hari ini Mas bakal minta kasbon sama mandor. Mas ndak akan biarkan kamu dihina-hina terus seperti ini," tegas Burhan, matanya berkaca-kaca menahan amarah dan malu.
"Mas enggak usah paksakan kalau mandornya enggak izinkan," cegah Nisa lembut. "Nanti sore Nisa mau coba cari kerjaan sampingan. Mending Nisa bantu cuci baju tetangga atau bantu-bantu di warung makan, yang penting halal."
Burhan menatap Nisa dengan rasa haru yang luar biasa. Ia merengkuh tubuh istrinya dalam pelukan erat. "Kamu istri yang luar biasa, Nis. Maafkan ketidakmampuan Mas."
"Kita hadapi cobaan ini sama-sama ya, Mas," balas Nisa lirih di dada suaminya. "Selagi cinta dan iman kita masih ada, rintangan sebesar apa pun ndak bakal bisa menghancurkan kita."
Matahari mulai meninggi di ufuk timur. Burhan berpamitan, melangkah keluar rumah membawa bekal sederhana dan tekad bulat demi menghidupi istri tercintanya. Nasib sebagai kuli bangunan mungkin penuh derita, namun dalam gubuk sempit itu, cinta tulus antara Burhan dan Nisa tetap menyala terang.