Hampir tiga tahun menikah, Laras dan Robby belum juga memiliki anak. Hingga suatu hari, terjadi kesalahpahaman. Robby dan Soraya, ibu Laras mengira jika Laras mengalami masalah kesuburan.
Robby memanfaatkan kekurangan Laras untuk berpura-pura menjadi suami setia yang mau menerima Laras apa adanya. Ia bahkan mengajak Laras untuk mengadopsi anak.
Hal itu membuat Robby mendapat nilai plus dari Soraya. Ia bahkan menjanjikan jabatan tinggi untuk Robby di perusahaan.
Tentu, Robby sangat senang. Ia lalu mengajak keluarga dan selingkuhannya untuk bekerjasama merebut harta dan perusahaan milik keluarga Laras.
Tapi sayangnya, Laras mengetahui semuanya. Dan kali ini, Laras tidak akan menjadi korban. Justru, Laras yang akan memastikan keluarga parasit itu kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panti Asuhan Palsu
Di dalam mobil, Laras menyimpan ponselnya ke dalam tas, kemudian mengalihkan pandangan ke luar jendela.
Ia terdiam dengan pikiran yang langsung tertuju pada Bara.
Sejak mengetahui bahwa anak itu adalah putra kandung Robby dan Maya, Laras memang berusaha menjaga jarak. Ia bahkan hampir tidak pernah lagi meluangkan waktu untuk bermain atau sekadar menemaninya.
Namun, semakin ia pikirkan, semakin ia merasa bersalah.
Bara tidak tahu apa-apa. Anak itu masih terlalu kecil untuk memahami persoalan orang dewasa. Tidak seharusnya ia ikut menjadi korban dari perbuatan kedua orang tuanya.
Terlebih, selama ini Laras sudah menganggap Bara sebagai anaknya sendiri. Ia yang mengadopsi dan merawatnya, memberikan kasih sayang serta kehidupan yang layak.
Laras menghembuskan napas pelan.
Tiba-tiba, ia menegakkan tubuh seolah baru menyadari sesuatu.
Bara memang anak kandung Robby dan Maya. Namun, ia memiliki dokumen resmi yang menyatakan bahwa ia adalah orang tua angkat Bara.
Bukankah itu bisa menjadi salah satu dasar untuk memperjuangkan hak asuh Bara dalam proses perceraian nanti?
"Benar juga," gumamnya. Namun, sesaat kemudian, kening Laras kembali berkerut.
"Tapi ...."
Sebuah kemungkinan tiba-tiba terlintas di benaknya.
Jika Robby memang sudah merencanakan semuanya sejak awal, bagaimana dengan panti asuhan tempat ia mengadopsi Bara?
Apakah tempat itu benar-benar sebuah panti asuhan? Apa selama ini Bara memang tinggal di sana?
Laras menyipitkan mata. Ia tidak ingin hanya mengandalkan dugaan. Ada sesuatu yang harus ia pastikan sendiri.
"Antar aku ke panti asuhan di Jalan Anggrek."
"Ya, Nyonya?" Pak Lukman melirik Laras melalui kaca spion.
"Panti Asuhan Kasih," jawab Laras singkat.
Pak Lukman tampak berpikir sejenak sebelum kembali memusatkan perhatian pada jalan.
"Maaf, Nyonya. Setahu saya tidak ada panti asuhan di sana."
"Apa?"
"Kalau Nyonya tidak percaya, saya akan mengantar Nyonya ke sana."
Tanpa menunggu jawaban, Pak Lukman memutar setir dan mengambil jalur lain menuju Jalan Anggrek. Meski pria itu belum pernah berkepentingan kesana secara langsung, tapi ia cukup hafal tempat di daerah sana.
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil mereka sampai di lokasi.
Mobil itu berhenti tepat di depan sebuah rumah yang dulu menjadi tempat Laras mengadopsi Bara.
Pak Lukman segera turun dan membukakan pintu untuk majikannya.
"Silakan, Nyonya."
Laras turun dengan gerakan perlahan. Ia berdiri di depan pagar rumah dan mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Ada sesuatu yang berbeda.
Rumah itu tampak begitu sepi. Tidak terlihat seorang pun di halaman ataupun di balik jendela. Bahkan, tidak ada aktivitas yang menunjukkan jika tempat tersebut berpenghuni.
Halaman depannya juga terlihat tidak terawat. Dedaunan kering berserakan di beberapa sudut, sementara sebagian tanaman di dekat pagar tampak layu.
"Ini .... Kenapa rumah ini sepi sekali?" gumam Laras.
Ia melangkah sedikit mendekat, mencoba mengamati bagian dalam rumah dari balik pagar.
Tidak ada suara anak-anak, tidak ada pengasuh, bahkan tidak terlihat tanda-tanda kehidupan di dalamnya.
Pemandangan itu semakin memperkuat kecurigaannya.
"Tolong cari tahu tentang penghuni rumah ini," perintah Laras.
"Baik, Nyonya."
Pak Lukman segera mencari informasi dengan menghampiri beberapa rumah warga yang berada tidak jauh dari lokasi tersebut.
Sementara itu, Laras masih berdiri di depan rumah. Pikirannya kembali mengingat hari ketika ia dan Robby datang untuk mengadopsi Bara.
Saat itu, semuanya terlihat begitu meyakinkan. Ada pengurus yang menyambut mereka, dokumen yang harus ditandatangani, serta proses administrasi yang seolah berjalan sebagaimana mestinya.
Namun, sekarang tempat itu justru seperti rumah kosong yang sudah lama ditinggalkan.
Tidak lama kemudian, Pak Lukman kembali menghampirinya.
"Nyonya, saya sudah bertanya kepada orang-orang yang tinggal di dekat sini."
Laras segera menoleh. "Bagaimana?"
"Katanya, rumah ini sudah lama tidak berpenghuni."
"Apa?"
"Benar, Nyonya. Tapi, menurut salah satu warga, beberapa bulan yang lalu ada orang yang menyewa rumah ini."
"Beberapa bulan yang lalu?" ulang Laras pelan.
Tatapannya kembali tertuju pada bangunan di hadapannya.
Beberapa bulan yang lalu ... Apa mungkin saat ia datang untuk mengadopsi Bara?
Tiba-tiba, sorot mata Laras berubah tajam. "Begitu rupanya."
Kini, dugaannya semakin kuat. Panti asuhan itu mungkin memang hanya tempat sementara yang disewa untuk meyakinkannya agar mau mengadopsi Bara.
Jika benar demikian, berarti Robby dan Maya sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat matang.
Laras mengepalkan tangannya. Ia merasa semakin muak membayangkan bagaimana ia sudah dipermainkan selama ini.
Tapi, perhatiannya kemudian teralihkan oleh suara dering ponsel dari dalam tas.
Ia segera mengambil perangkat tersebut, dan langsung mengangkat panggilan setelah melihat nama yang tertera di layar.
"Halo, Bi?"
"Nyonya, mereka sudah pergi."
Mendengar laporan itu, Laras menaikkan sudut bibirnya.
"Terima kasih, Bi Asih."
Setelah mematikan sambungan telepon, ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Kita pulang sekarang."
"Baik, Nyonya."
Pak Lukman segera membukakan pintu mobil untuk Laras. Setelah memastikan majikannya duduk dengan nyaman, pria itu mengitari mobil dan masuk di kursi pengemudi.
Beberapa saat kemudian, mobil tersebut meninggalkan rumah kosong tersebut.
Laras menyandarkan punggungnya sambil menatap ke luar jendela. Ada banyak hal yang harus ia selidiki, terutama mengenai asal-usul Bara dan keterlibatan panti asuhan tersebut dalam rencana Robby.
Dan, ia berencana tidak akan melepaskan mereka semua.
😒😒
itulah klo othor tdk tidur, pasti akan terbongkar wlo blm semua terbukti