NovelToon NovelToon
Cari Aku Di Rasa Sesalmu

Cari Aku Di Rasa Sesalmu

Status: tamat
Genre:CEO / Balas Dendam / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zikri Cahyandi

Tiga tahun Alyssa Kirana Sastro duduk di meja makan keluarga Narendra, dan tiga tahun pula ia dituduh jadi penyebab lumpuhnya Nadine. Suaminya, Devan, tak pernah mau mendengarnya.

Malam ini Alyssa meletakkan surat gugatan cerai dan cincin nikahnya di meja kerja Devan, lalu pergi tanpa membawa apa pun. Dua jam kemudian, mobilnya ditemukan hancur di dasar jurang. Jasadnya tidak ada.

Devan masih ingin percaya itu hanya drama. Namun di rumahnya tertinggal selembar catatan.

Ke mana Alyssa pergi, dan apa yang akan Devan lakukan saat sadar apa yang sudah ia buang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zikri Cahyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan di Pameran

Map kulit berisi surat-surat Kakek Broto tersimpan di balik jas hitam Devan, menempel di dada seperti beban yang ikut berdetak. Buku catatan biru Alyssa ada di sampingnya. Sejak semalam ia tidak melepas keduanya.

Pagi Jakarta kelabu. Awan menggantung rendah di atas kawasan Senayan ketika Devan turun dari mobil dan mengancingkan jasnya di pelataran Galeri Seni Nusantara.

Pameran seni kontemporer Asia Tenggara hari ini menjadi tempat berkumpulnya para pemegang saham, investor asing, dan pengusaha kelas atas. Devan tidak datang untuk melihat lukisan. Pukul tujuh tadi, A-K Capital mengirim undangan tertutup: perwakilan resmi mereka bersedia bertemu di ruang VIP galeri untuk membahas restrukturisasi obligasi Narendra Group.

Satu-satunya hal yang ia pikirkan sepanjang jalan adalah apakah orang yang datang adalah Alyssa.

"Tuan Devan." Hendri sudah menunggu di dekat pintu VIP bersama dua pengawal. "Pihak A-K Capital minta pertemuan empat mata di Ruang Konsultasi Tiga. Mereka menolak pengacara atau perwakilan direksi lain."

"Pastikan koridornya steril."

"Baik, Tuan. Tapi..." Hendri melirik ke arah pintu masuk. "Nyonya Siska dan Nona Nadine baru tiba di pelataran. Sepertinya mereka mengikuti Anda dari rumah."

Rahang Devan mengeras. Dua hari setelah pernikahannya dengan Nadine ia batalkan di depan kamera, ibunya masih mencari cara menekannya lewat publik.

"Tahan mereka di aula umum. Jangan biarkan siapa pun masuk ke koridor VIP."

Ia berbalik menuju pintu jati berukir yang memisahkan aula pameran dari area reservasi khusus.

***

Di aula utama, kamera para wartawan menyorot karpet merah. Nadine menggerakkan kursi rodanya pelan, didampingi Siska yang mengenakan gaun sutra biru tua. Riasan Nadine sengaja dibuat pudar, bahunya merosot, cukup untuk mengundang simpati siapa pun yang melihat.

"Nyonya Siska! Bagaimana tanggapan Anda soal pembekuan aset keluarga Vanya?" seru seorang wartawan.

Siska berhenti dan memasang wajah duka yang anggun. Tangannya merangkul bahu Nadine.

"Keluarga kami sedang melewati masa sulit. Devan di bawah tekanan bisnis yang berat sejak Alyssa hilang. Kami hanya ingin menemaninya, supaya ia tidak mengambil keputusan yang merusak masa depannya sendiri."

Nadine mengangkat wajah, matanya berkaca-kaca. "Saya cuma mau bicara sebentar dengan Devan. Saya tahu dia di dalam bersama para investor. Saya tidak menuntut apa pun..."

Dua petugas keamanan berdiri melintang di depan pintu koridor VIP.

"Maaf, Nyonya. Area ini disewa penuh dan hanya untuk tamu berizin," kata kepala keamanan galeri dengan sopan tapi tegas.

"Kamu tahu siapa saya? Saya Siska Narendra! Anak saya pimpinan Narendra Group, dan dia ada di dalam!"

"Ini perintah langsung dari penyelenggara dan perwakilan A-K Capital, Nyonya."

Nadine mulai terisak dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Kamera terus menyala. Beberapa kolektor asing berhenti memandangi lukisan dan memandangi mereka.

***

Ruang VIP Tiga kedap suara. Karpet krem tebal meredam langkah, dan satu set sofa kulit cokelat mengelilingi meja kaca yang bersih.

Di salah satu sofa, seorang pria muda berjas abu-abu gelap duduk sambil menyesap teh. Devan tidak mengenalnya.

Ia berhenti di ambang pintu. Laki-laki itu berdiri, meletakkan cangkirnya di tatakan porselen, dan mengulurkan tangan.

"Selamat pagi, Tuan Devan. Aris Setiawan, kuasa hukum A-K Capital."

Devan tidak langsung menjabatnya. Ia mengamati wajah itu sekilas, lalu menyadari sesuatu yang membuat jantungnya berdegup lebih keras. Surat Kakek menyebut satu pihak yang menebus utang mereka tanpa mengambil perusahaan. Orang yang berdiri di depannya pasti kaki tangan pihak itu.

"Pemegang kuasa penuh atas perundingan restrukturisasi di Asia Tenggara," lanjut Aris. Ia menarik tangannya tanpa tersinggung.

Devan duduk di seberangnya. "Siapa pemilik sebenarnya A-K Capital?"

"Itu sudah tertulis di—"

"Jangan bersandiwara denganku. Aku sudah membaca audit forensik itu. Aku sudah membaca surat-surat Kakek." Suaranya rendah dan datar. "Pihak yang menebus utang kami waktu itu, yang mensyaratkan keselamatan seorang gadis bernama Alyssa. Itu klienmu."

Sudut bibir Aris terangkat tipis. "Kalau Anda sudah membaca sejauh itu, Tuan Devan, Anda tahu bahwa pemilik A-K Capital bukan orang yang bisa Anda tekan dengan jabatan."

"Itu Alyssa, kan?" Dadanya bergemuruh. "Dia yang merancang semua ini sejak awal."

Aris menatapnya tanpa berkedip. "Klien saya memberi instruksi sangat spesifik untuk pertemuan hari ini. A-K Capital tidak datang untuk berdamai, dan tidak datang untuk memberi keringanan."

"Lalu apa mau kalian?"

Aris mengeluarkan map tipis berlogo A-K Capital dari tas kerjanya dan menggesernya ke seberang meja.

"Pemberitahuan resmi eksekusi klausul konversi. Bulan depan, saat opsi obligasi seratus lima puluh juta dolar jatuh tempo, A-K Capital menuntut pelunasan tunai penuh beserta bunganya. Kalau Narendra Group gagal menyediakan likuiditas pada hari itu..."

Ia berhenti sebentar, menatap mata Devan.

"...obligasi akan langsung dikonversi menjadi tiga puluh empat persen saham Narendra Group. Kursi komisaris Nyonya Siska akan digantikan."

Devan menatap kertas itu. Syaratnya sangat tepat. Mereka tidak mengincar uang, melainkan memotong seluruh akses kekuasaan ibunya dari struktur perusahaan.

"Klienmu membenci ibuku."

"Klien saya tidak bertindak karena benci." Suara Aris dingin. "Beliau hanya mengambil kembali haknya, sambil membersihkan parasit yang bertahun-tahun menggerogoti perusahaan yang Anda banggakan."

Devan menarik napas panjang. Ia tidak marah dan tidak mengancam. Ia justru mencondongkan tubuh, dan suaranya turun hampir menjadi bisikan.

"Katakan pada Alyssa, aku tidak akan melawan klausul ini. Aku tidak akan menghalangi akuisisinya. Tapi aku minta satu hal."

Aris mengernyit. "Apa itu?"

"Izinkan aku bertemu dengannya. Sekali saja." Suaranya retak, nada yang tidak pernah ia pakai kepada siapa pun. "Biarkan aku menatap matanya dan mengucapkan maaf yang seharusnya sudah kuucapkan tiga tahun lalu."

Aris menatapnya lama. Di mata Devan, ia melihat sesuatu yang sudah runtuh dan tidak berusaha disembunyikan lagi.

"Permintaan Anda akan saya sampaikan," katanya formal. "Tapi jangan berharap terlalu tinggi. Ada luka yang tidak dibuat untuk disembuhkan oleh kata maaf."

***

Aris merapikan jasnya dan berjalan ke pintu. Tepat saat ia menariknya, suara dari koridor menerobos masuk.

Siska berhasil lolos dari barisan pengawal ketika para wartawan saling berdesakan di belakangnya. Nadine menyusul, kursi rodanya melaju terburu-buru melintasi karpet koridor. Pintu menutup di belakang mereka, meninggalkan kamera di luar.

"Devan!" Siska melangkah lebar ke meja. "Siapa orang ini? Apa yang dia minta dari perusahaan kita?"

Devan berdiri perlahan. Tatapannya pada ibunya sudah berubah. Tidak ada lagi anak yang menunduk di sana.

"Keluar dari ruangan ini, Bu."

Siska tersentak, tapi mencoba bertahan. "Ibu ini ibumu! Orang-orang A-K Capital ini mau merampok perusahaan kita! Jangan biarkan pengacara ini membodohimu!"

Aris menghentikan langkahnya di dekat pintu dan berbalik. Senyumnya tipis dan dingin.

"Nyonya Siska Narendra. Perusahaan Anda tidak sedang dirampok pihak luar. Perusahaan ini sedang membayar kembali delapan puluh miliar rupiah yang Anda alihkan ke kasino di Makau lima tahun lalu."

Warna wajah Siska lenyap sekaligus. Bibirnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.

"K—kamu... apa yang kamu—"

Di sampingnya, Nadine memegang erat pinggiran kursi rodanya. Matanya bergerak cepat dari Aris ke Devan.

"Cukup, Aris," potong Devan datar, tanpa melepas pandangan dari ibunya. "Biarkan Ibu mendengar rinciannya di pengadilan."

Aris mengangguk pada Devan, lalu keluar melewati para pengawal tanpa menoleh pada Siska yang berdiri seperti patung.

***

Satu jam kemudian, galeri mulai sepi. Siska dan Nadine sudah dipulangkan dengan mobil terpisah atas perintah Devan. Para wartawan digiring keluar dari aula pameran.

Devan masuk ke ruang kendali keamanan. Kepala keamanan segera berdiri.

"Putar ulang CCTV koridor VIP utara selama dua jam terakhir," kata Devan. "Aku mau lihat siapa saja yang lewat sebelum dan sesudah pertemuanku."

Rekaman diputar dari beberapa sudut. Devan berdiri di belakang kursi petugas, menyisir tiap sosok yang melintas.

Pada menit ke-sembilan puluh, tepat ketika keributan Siska mulai terdengar di depan pintu Ruang VIP Tiga, seorang wanita keluar dari toilet di ujung koridor dan berdiri tidak jauh dari pintu itu. Ia mengenakan mantel panjang hitam dan topi bertepi lebar yang menutupi sebagian wajahnya. Rambut hitam bergelombangnya terurai di punggung. Ia berdiri diam, seperti mendengarkan.

Ketika lampu koridor menimpa tubuhnya, tangan kirinya terangkat untuk membetulkan topi.

Kamera menangkap pergelangannya dari jarak dekat.

Gelang perak tipis berukir motif daun.

Devan membeku. Tangan kanannya spontan menyentuh saku jas, tempat saputangan itu terlipat dengan gelang di dalamnya. Ia mengeluarkannya, membuka lipatannya. Gelang itu ada di sana, masih sedingin tadi pagi.

Berarti yang di layar itu gelang kedua. Kembar. Siapa pun yang membuatnya, ia tidak sendirian.

"Hentikan! Perbesar tangannya!"

Petugas menekan tombol. Piksel yang tadi buram menjadi jelas: ukiran daun yang sama, lekukan yang sama. Tidak ada keraguan.

"Di mana wanita ini sekarang?" Devan memutar tubuh dan mencengkeram bahu kepala keamanan. "Ke mana dia pergi setelah itu?"

"Ke koridor servis utara, Tuan, lima belas menit lalu! Menuju pintu belakang!"

Devan sudah berlari sebelum kalimat itu selesai.

***

Langkahnya menghantam marmer, lalu semen. Ia mendorong pintu darurat dengan bahu hingga dentuman besi memantul di dinding. Koridor servis di baliknya remang dan dingin, lima puluh meter lurus menuju pintu belakang.

"Alyssa!"

Suaranya memantul kembali kepadanya, tanpa jawaban.

Ia berlari sambil menyapu setiap celah pintu darurat, setiap tikungan, setiap bayangan. Sepatunya berdecit di atas lantai semen yang basah.

Di pertigaan lorong menuju pintu keluar, ia berhenti mendadak.

Sehelai selendang sutra hitam tergeletak di lantai, seperti tidak sengaja dijatuhkan.

Devan berlutut. Tangannya gemetar saat meraihnya, dan kain itu terasa dingin dan halus di jemarinya. Ia mendekatkannya ke wajah.

Lavender tipis. Aroma pelembab sederhana yang selama tiga tahun selalu tercium samar setiap ia melewati kamar Alyssa dan tidak pernah ia perhatikan.

Aroma yang tidak mungkin salah.

"Kamu di sini..." bisiknya. Suaranya serak, dan matanya memanas. "Kamu benar-benar di sini, Alyssa."

Ia membuka lipatan selendang itu pelan-pelan. Di dalamnya terselip selembar kertas kecil. Tulisan tangan yang rapi dan tegas, yang kini sudah ia kenal baik dari halaman terakhir buku catatan biru.

Amplop di kotak jati bukan untukmu. Jangan dibuka. Simpan sampai aku memintanya.

Devan membeku di atas lantai yang dingin.

Tidak ada seorang pun yang tahu ia membuka brankas itu semalam. Tidak seorang pun, kecuali dirinya sendiri, dan siapa pun yang mengirim email anonim itu.

Dari balik pintu keluar yang menganga, deru mesin mobil meninggalkan pelataran dan perlahan menghilang di antara gerimis.

.....

.....

Bersambung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!