"Saya tidak sedang berusaha menghukum kamu, dan saya juga tidak peduli kamu ini OB, kuli, atau apa pun. Saya butuh seorang suami dalam waktu cepat, dan kamu butuh uang untuk biaya rumah sakit ibumu. Sederhana, kan?"
"Tapi pernikahan bukan transaksi main-main seperti ini, Bu!" sergah Mirza, untuk pertama kalinya memberanikan diri menatap mata sang CEO dengan nada protes yang agak meninggi.
Alana terpaksa menikah kontrak dengan seorang Cleaning Service di perusahaanya agar bisa terlepas dari perjodohan orang tuanya. namun ketika hubungan kontrak itu berubah menjadi perasaan cinta, mampukan mereka mengganti komitmen dan bersatu atas nama cinta? atau berakhir sebagai ikatan kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hamil
***
"Mana Mama?"
Alana mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut restoran mewah berkonsep fine dining tersebut, namun sosok Dwi maupun meja yang dipesan sama sekali tidak terlihat. Dengan kening berkerut tegang, Alana merogoh ponsel dari tasnya dan langsung menghubungi sang mama.
"Mama di mana, Ma? Alana sudah sampai di restoran," ujar Alana tanpa basa-basi begitu sambungan terhubung.
"Makan malamnya batal," jawab Dwi dari seberang telepon dengan suara datar tanpa rasa bersalah.
"Calon suami pilihan Mama harus terbang mendadak ke Eropa malam ini karena ada urusan bisnis keluarga yang sangat mendesak."
Alana mengepalkan tangannya, menahan kekesalan.
"Lalu?"
"Mama dan Papa sudah di rumah sekarang. Kamu langsung pulang saja sekalian kita makan malam bersama di rumah," perintah Dwi sebelum mematikan sambungan secara sepihak.
Alana menurunkan ponselnya, mengembuskan napas kasar. Dia menoleh ke arah Mirza yang berdiri tegap di sampingnya.
"Rencana berubah. Makan malamnya dipindah ke rumah saya. Kamu setir ke alamat saya sekarang."
Beberapa saat kemudian, mobil mewah itu berhenti tepat di depan sebuah gerbang besi tinggi menjulang. Ketika gerbang otomatis itu perlahan terbuka lebar, memperlihatkan pekarangan luas dengan lampu-lampu taman yang anggun serta sebuah bangunan megah bergaya klasik modern di dalamnya, langkah
Mirza mendadak terhenti. Pria itu melongo, matanya membelalak tak percaya menatap bangunan yang lebih mirip istana daripada tempat tinggal biasa.
"Kenapa diam saja? Ayo masuk," tegur Alana yang sudah melangkah lebih dulu.
Mirza membasahi bibirnya yang mendadak kering, menatap Alana dengan raut ngeri.
"A-Alana ... kamu kok enggak bilang kalau rumahmu semewah ini? Kalau tahu begini dari awal, harusnya aku bisa minta bayaran yang jauh lebih mahal dari sekadar biaya pengobatan ibuku."
Alana seketika berbalik. Matanya melotot tajam menatap Mirza, matanya menyipit penuh kekesalan.
"Mulai ngelunjak, ya?!"
Tanpa memberi kesempatan pada Mirza untuk mengelak atau kabur karena takut, Alana langsung meraih dan menarik kuat lengan jas Mirza, menyeret pria itu melangkah masuk melewati pintu utama rumah mewahnya.
***
Suasana meja makan mendadak hening mencekat, hanya terdengar denting halus alat makan.
Liam meletakkan sendoknya pelan, matanya yang tajam menatap Mirza dari atas ke bawah.
"Alana... jadi ini laki-laki yang kamu sebut sebagai calon suamimu?" tanya Liam dengan suara berat dan berwibawa.
"Siapa nama kamu, Nak? Dan apa pekerjaanmu?"
Mirza menegakkan punggungnya. Meski dadanya bergemuruh hebat, dia menatap lurus mata calon mertuanya.
"Nama saya Mirza Jasir, Pak. Saya bekerja sebagai cleaning service di Mahendra Group."
"Apa?!" Dwi hampir tersedak air minumnya. Mulutnya menganga lebar, menatap Mirza dengan raut tidak percaya.
"Kamu bilang apa? Cleaning service? OB di perusahaan Alana?!"
Dwi mengulang pertanyaan itu sampai dua kali untuk memastikan pendengarannya tidak bermasalah. Wajah wanita itu seketika memerah menahan panas dan amarah.
"Alana! Kamu sudah gila?!" pekik Dwi sambil mengebrak meja pelan.
"Kamu memilih calon suami seorang OB?!"
Alana tersenyum tipis, menatap mamanya tanpa kedip sedikit pun.
"Alana memang gila, Ma. Gila karena baru menemukan Mirza sekarang. Tidak ada laki-laki lain yang lebih pantas menjadi suami Alana selain Mirza."
"Cukup, Alana!" suara Liam menggelegar, memotong ucapan putrinya dengan nada murka. Pria itu berdiri dari kursinya, menunjuk Alana dengan telunjuk bergetar.
"Batalkan rencana konyolmu ini sekarang juga! Papa tidak akan pernah sudi menanggung malu karena punya menantu seorang OB di kantor istri Papa sendiri! Mau ditaruh di mana muka keluarga kita?!"
Melihat kemarahan orang tuanya meluap, Mirza tidak lagi tinggal diam. Dia berdeham pelan lalu bersuara dengan nada yang teratur namun tegas.
"Maaf, Pak Liam, Bu Dwi ... apa ada yang salah dengan pekerjaan saya sebagai cleaning service?" tanya Mirza tenang.
"Pekerjaan saya halal. Saya mencari rezeki dengan keringat saya sendiri tanpa merugikan atau mencuri dari siapa pun."
"Tidak ada yang salah sama pekerjaan kamu!" sela Dwi dengan suara melengking penuh penekanan. Matanya menatap Mirza tajam, seolah pria itu adalah noda yang mengotori meja makan mewahnya.
"Alana yang salah! Salah besar pilih calon suami!"
Dwi kemudian beralih menatap Mirza lagi dengan dagu terangkat.
"Sekarang saya tanya, kamu itu tamatan apa? Sarjana dari kampus mana kamu, sampai berani-beraninya menginjakkan kaki di rumah ini?"
Mirza menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti tercekik.
"Saya ... saya cuma tamatan SMP, Bu."
"SMP?!" Dwi menepuk dadanya sendiri, napasnya memburu seketika.
"Ya Tuhan, Alana! Kamu mimpi apa semalam sampai memilih calon suami yang cuma lulusan SMP?! Mau ditaruh di mana muka Mama kalau teman-teman arisan Mama tahu menantu Mama cuma seorang OB lulusan SMP?!"
Dwi menunjuk wajah Mirza dengan telunjuknya yang gemetar karena emosi.
"Sampai kapan pun, Mama tidak akan pernah mau punya menantu seorang OB! Tidak akan pernah!"
Setiap kata yang keluar dari mulut Dwi meluncur seperti belati yang merobek harga diri Mirza. Penghinaan itu begitu terang-terangan dan melukai hatinya yang paling dalam. Ada dorongan kuat dalam dada Mirza untuk bangkit dari kursi, berbalik, dan melangkah keluar dari rumah bak istana itu.
Namun, bayangan wajah ibunya yang terbaring lemah di ruang perawatan rumah sakit mendadak melintas di benaknya. Tagihan medis yang menumpuk, biaya cuci darah, dan harapan kesembuhan sang ibu tergantung sepenuhnya pada kesepakatan gila malam ini. Mirza mengepalkan kedua tangannya di bawah meja, menahan lonjakan amarah dan rasa malu yang membakar dada.
Dengan mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, Mirza menatap lurus ke mata Dwi dan Liam.
"Memang benar, Bu ... saya cuma tamatan SMP," kata Mirza dengan suara yang bergetar namun diusahakan tetap terdengar tegar.
"Tapi saya tulus mencintai Alana. Saya berjanji akan melakukan apa saja untuk membahagiakan Alana seumur hidup saya."
Brak!
Liam mengebrak meja makan hingga gelas-gelas kaca di atasnya berdenting keras.
"Membahagiakan Alana?" ulang Liam dengan nada dingin.
"Kamu mau membahagiakan anak saya pakai apa, Mirza? Pakai gaji kamu sebagai OB yang jumlahnya seratus kali lipat di bawah pendapatan Alana? Buat beli satu tas Alana saja gaji kamu setahun belum tentu cukup! Jangan mimpi di siang bolong!"
"Cukup, Mirza. Kamu keluar dari rumah saya sekarang!" perintah Dwi keras, tak mau lagi mendengarkan satu kata pun dari mulut pria itu. Dia lalu berbalik menatap Alana dengan mata menyalang.
"Dan kamu, Alana! Mulai detik ini, berhenti berhubungan dengan laki-laki ini! Calon suami pilihan Mama jauh lebih baik dari segala sisi dibandingkan OB ini! Jangan buat Mama dan Papa kena serangan jantung cuma gara-gara kamu salah memilih calon suami!"
Suasana di ruang makan itu menjadi sangat panas dan tegang. Liam berdiri menatap Alana dengan napas memburu, sementara Dwi bersedekap dengan wajah penuh kemurkaan.
Mirza hanya bisa menunduk pasrah, siap jika rencana ini runtuh dan dia diusir detik itu juga.
Namun, Alana tetap duduk dengan tenang. Dia menyandar santai di kursinya, mengamati kedua orang tuanya dengan raut wajah yang sama sekali tidak gentar. Senyum tipis yang penuh dengan provokasi perlahan terukir di bibirnya.
"Alana enggak bisa putus sama Mirza, Ma," ucap Alana pelan, namun suaranya memotong ketegangan ruangan seperti pisau tajam.
"Kenapa tidak bisa?!" bentak Dwi.
Alana mengelus perutnya yang masih rata dengan gestur yang sangat tenang, lalu menatap Dwi dan Liam bergantian.
"Karena Alana sedang hamil," sahut Alana mantap, menatap lurus mata mamanya.
"Alana sedang mengandung anak Mirza."
Kata-kata yang keluar dari mulut Alana seketika membekukan seluruh ruangan.
Dwi terperanjat sampai mundur satu langkah, tangannya gemetar menunjuk perut Alana. Liam yang tadinya berdiri tegak mendadak memegangi dadanya sendiri, wajahnya yang penuh amarah berubah pucat pasi.
Di sebelah Alana, Mirza hampir saja tersedak napasnya sendiri. Matanya membelalak sempurna menatap Alana dari samping.
"Hamil?!" batinnya berteriak histeris.
Tidak ada di dalam draft perjanjian atau obrolan mereka sebelumnya soal skenario gila ini! Namun, melihat lirikan maut yang dilemparkan Alana sekilas, Mirza tahu dia tidak boleh membocorkan sandiwara ini jika tidak ingin segalanya hancur saat ini juga.
"K-kamu ... ngomong apa, Alana?!" suara Dwi melengking, bergetar hebat antara syok berat dan murka yang tak tertahankan.
"Jangan mengarang cerita murahan seperti ini cuma buat menakut-nakuti Mama!"
"Alana enggak mengarang cerita, Ma," potong Alana dingin. Dia meraih jemari Mirza di atas meja dan menggenggamnya erat.
"Usia kandunganku baru beberapa minggu. Jadi kalau Mama dan Papa menolak pernikahan kami dan tetap maksa Alana nikah sama laki-laki pilihan Mama, Alana pastikan berita kelakuan anak Mahendra Group yang hamil di luar nikah sama OB kantornya sendiri bakal jadi konsumsi publik besok pagi."
"Alana!" bentak Liam dengan suara baritonnya yang pecah. Pria itu menopang tubuhnya di tepi meja, menatap anak perempuannya tak percaya.
"Kamu benar-benar sudah melampaui batas! Kamu mau menghancurkan nama baik keluarga yang sudah Papa bangun puluhan tahun cuma demi laki-laki ini?!"
"Alana cuma mau menentukan jalan hidup Alana sendiri," jawab Alana tenang, tanpa mengendurkan genggaman tangannya pada Mirza.
"Mama dan Papa tinggal pilih. Izinkan Alana menikah dengan Mirza secara baik-baik, atau biarkan Alana pergi dari rumah ini, lepas jabatan CEO, dan melahirkan anak ini tanpa restu kalian?"
Dwi terduduk lemas di kursinya, memegangi kepalanya yang mendadak berputar hebat. Menikahkan putri tunggalnya dengan seorang cleaning service adalah sebuah mimpi buruk.
Tapi membiarkan prasangka scandal hamil di luar nikah mencoreng nama besar Mahendra Group di depan para relasi bisnis dan media jauh lebih mengerikan dari kematian bagi Dwi.
Ruang makan mewah itu tenggelam dalam keheningan yang amat mencekat.
"Kurang ajar ...." gumam Dwi lirik dengan tatapan benci yang tertuju lurus pada Mirza.
"Laki-laki ini benar-benar ular ...."
Mirza menelan ludahnya berat, tetap berusaha memasang wajah tegar meski peluh dingin mulai membasahi punggung jas mewahnya.
Liam memejamkan mata rapat-rapat, menghela napas panjang dan berat yang sarat akan kekalahan. Ketika pria paruh baya itu kembali membuka matanya, hanya ada tatapan dingin dan penuh kepasrahan yang tersisa.
"Bagus, Alana. Kamu berhasil memojokkan orang tuamu sendiri," ucap Liam dengan suara berat dan datar.
"Pernikahan kalian bakal tetap dilaksanakan. Tapi tidak ada pesta megah. Tidak ada pesta mewah. Kalian menikah diam-diam minggu depan, dan setelah itu, bawa laki-laki ini keluar dari rumah Papa!"