Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Matahari pagi baru saja terbit menyinari halaman belakang kediaman Keluarga Darma.
Suara burung gereja terdengar bersahutan di dahan pohon mangga.
Cuit cuit.
Raka berjalan terburu-buru melintasi taman menuju paviliun tamu.
Dia membawa sebuah tablet di tangannya untuk membahas jadwal penjagaan hari ini.
Namun langkah pemuda itu mendadak terhenti saat jaraknya tinggal lima meter dari teras paviliun.
Mata Raka membelalak sangat lebar seolah hampir melompat keluar dari tempatnya.
"Apa-apaan ini."
Raka bergumam dengan suara bergetar menatap pemandangan gila di depannya.
Lima orang pria berpakaian serba hitam tergeletak bertumpuk di lantai kayu teras.
Tubuh mereka diikat menjadi satu menggunakan kabel rol panjang dan seprai kasur yang dirobek-robek.
Ceklek.
Pintu paviliun terbuka dan Astiana melangkah keluar sambil menguap pelan.
Gadis itu sudah mandi dan mengenakan pakaian kasual kemeja flanel kotak-kotak kesukaannya.
"Selamat pagi, Tuan Muda Raka, kau datang sangat pagi hari ini."
Astiana menyapa dengan nada yang sangat santai tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Astiana, dari mana datangnya kelima mayat ini."
Raka menunjuk tumpukan tubuh berpakaian hitam itu dengan jari yang gemetar.
"Mereka bukan mayat, Tuan Muda, mereka cuma sedang tidur lelap."
Astiana berjalan mendekat dan menendang pelan kaki salah satu pria tersebut.
Bugh.
"Aduh."
Pria itu merintih kesakitan dalam tidurnya namun matanya tetap terpejam rapat.
"Mereka menyusup masuk lewat jendela kamarku jam dua dini hari tadi."
Astiana menjelaskan kronologi kejadian dengan wajah datar andalannya.
"Penjaga keamanan di depan rumahmu sepertinya harus segera diganti dengan yang lebih kompeten."
Raka menelan ludahnya mendengar sindiran halus dari Astiana tersebut.
"Mereka pasti pembunuh elit yang dikirim oleh bibimu dari Mansion Bukit Hijau."
Raka mengepalkan tangannya merasa sangat marah karena rumahnya berhasil ditembus dengan mudah.
"Benar sekali, dan aku sudah menitipkan pesan manis untuk Nyonya Besar kalian pada pemimpin mereka."
Astiana tersenyum tipis mengingat wajah ketakutan sang pemimpin pembunuh semalam.
"Bawa mereka ke ruang bawah tanah dan gabungkan saja dengan Dokter Handoko."
Raka segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon kepala keamanannya.
"Bawa sepuluh orang ke teras paviliun sekarang juga, ada sampah yang harus dibersihkan."
Sepuluh menit kemudian, kelima pembunuh itu sudah diseret pergi oleh para pengawal Raka.
Kakek Darma yang mendengar keributan itu langsung datang menyusul ke paviliun.
"Astaga, kakek benar-benar minta maaf atas kelalaian penjagaan rumah ini, Nak Astiana."
Pak Darma memegang bahu Astiana dengan wajah yang sangat penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa, Kek, Kakek tidak perlu menyalahkan diri sendiri."
Astiana menuntun Pak Darma untuk duduk di kursi rotan teras paviliun.
"Pembunuh yang dikirim oleh Keluarga Adibrata memang bukan kelas teri yang bisa dihentikan oleh satpam biasa."
"Tapi kita tidak bisa terus-terusan bertahan seperti ini."
Raka ikut duduk di kursi sebelah kakeknya dengan raut wajah frustrasi.
"Kalau mereka gagal semalam, mereka pasti akan mengirim lebih banyak orang malam ini."
"Tuan Muda Raka benar, bertahan pasif hanya akan menghabiskan energi kita."
Astiana menyilangkan kakinya dan menatap kakek serta cucu itu bergantian.
"Kita harus memotong aliran darah dari organisasi mereka agar mereka sibuk mengurus diri sendiri."
"Aliran darah apa maksudmu, Nak."
Pak Darma mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan kiasan tersebut.
"Uang, Kakek Darma."
Astiana menjawab singkat dan sangat tegas.
"Uang adalah aliran darah yang menghidupkan semua pembunuh bayaran dan bisnis kotor Nyonya Miranda."
Astiana menoleh ke arah Raka yang langsung mengerti arah pembicaraan ini.
"Kemarin Tuan Leo bilang PT Bintang Zamrud punya kasino ilegal di pelabuhan kan."
"Benar, kasino itu berkedok sebagai kapal pesiar mewah yang bersandar di dermaga pribadi."
Raka membuka tabletnya dan menunjukkan sebuah foto kapal pesiar putih yang sangat besar.
"Namanya Kapal Pesiar Mutiara Laut, tempat para petinggi dan konglomerat menghamburkan uang haram mereka."
"Berapa banyak perputaran uang di dalam kapal itu setiap malamnya."
Astiana bertanya sambil menatap foto kapal pesiar tersebut dengan mata menyipit.
"Menurut laporan informanku, perputaran uang tunai di sana bisa mencapai puluhan miliar rupiah per malam."
Raka memberikan angka yang sangat fantastis dan tidak masuk akal bagi orang awam.
"Kalau begitu malam ini kita akan pergi ke pelabuhan lagi."
Astiana berdiri dari kursinya dengan tekad yang sudah sangat bulat.
"Aku akan membuat kasino itu bangkrut total dan menguras semua uang tunai mereka."
"Bagaimana caranya kau menguras uang puluhan miliar dalam satu malam."
Pak Darma bertanya dengan nada heran karena hal itu terdengar sangat mustahil.
"Apa kau berencana merampok brankas utama kapal itu dengan senjata api."
"Tidak, Kakek, merampok itu perbuatan kriminal yang sangat kasar."
Astiana tersenyum penuh rahasia yang membuat Raka dan Pak Darma merinding.
"Aku akan masuk ke sana sebagai tamu VIP dan bermain judi secara legal sampai kasino itu menangis darah."
"Berjudi."
Raka berteriak kaget mendengar rencana yang tidak terduga tersebut.
"Kau ini gadis dari lereng gunung, apakah kau tahu cara bermain kartu poker atau rolet kasino."
"Aku tidak perlu tahu aturan mainnya, Tuan Muda Raka."
Astiana menunjuk telinganya sendiri dengan jari telunjuk.
"Aku hanya perlu mendengarkan isi kepala bandar judinya untuk tahu kartu apa yang akan keluar."
Raka langsung menepuk jidatnya sendiri menyadari betapa curangnya kemampuan Astiana.
Plak.
Bermain judi melawan orang yang bisa membaca pikiran adalah sebuah bunuh diri bagi pihak kasino.
"Gadis ini benar-benar tahu cara menggunakan kemampuannya untuk menghancurkan mental musuh."
Suara hati Raka dipenuhi oleh rasa takjub yang luar biasa.
"Baiklah, aku akan menyiapkan modal awal sebesar lima miliar rupiah tunai untukmu malam ini."
Pak Darma tertawa terbahak-bahak merasa sangat bersemangat dengan rencana gila tersebut.
"Gunakan uang kakek untuk menghancurkan perusahaan sialan itu dari dalam."
"Terima kasih banyak, Kakek, uang itu akan saya kembalikan berkali-kali lipat besok pagi."
Malam harinya, angin laut berhembus cukup kencang membawa aroma garam yang khas.
Wushhh.
Mobil sedan mewah Raka memasuki kawasan dermaga pribadi yang dijaga sangat ketat.
Mereka harus melewati tiga pos pemeriksaan sebelum akhirnya tiba di depan kapal pesiar Mutiara Laut.
Kapal itu terlihat sangat megah dengan lampu-lampu gemerlap yang menyilaukan mata.
Raka memarkirkan mobilnya di area VIP dan turun membukakan pintu untuk Astiana.
Ceklek.
Malam ini Astiana kembali mengenakan setelan jas hitam yang rapi namun dipadukan dengan kemeja putih di dalamnya.
Penampilannya sangat berkelas dan memancarkan aura seorang eksekutif muda yang misterius.
Di tangan kanannya, Astiana menenteng sebuah koper besi tebal berisi uang tunai lima miliar dari Pak Darma.
"Ingat, Astiana, para penjaga di dalam kapal ini jauh lebih brutal dari penjaga di club malam."
Raka berbisik pelan saat mereka berjalan beriringan menaiki tangga masuk kapal pesiar.
"Mereka dilengkapi senjata api dan tidak segan membunuh tamu yang ketahuan berbuat curang."
"Mereka tidak akan bisa membuktikan kecuranganku karena alat utamaku ada di dalam kepalaku."
Astiana menjawab santai tanpa mengurangi kecepatan langkahnya.
Setibanya di pintu utama kasino, dua penjaga berjas putih menghadang langkah mereka.
"Selamat malam, Tuan, Nona, tolong tunjukkan kartu keanggotaan VIP Anda."
Penjaga itu menyapa dengan sopan sambil menyodorkan sebuah alat pemindai kartu.
Raka mengeluarkan kartu VIP emas milik kakeknya dan menempelkannya ke alat tersebut.
Tiit.
"Selamat datang, Tuan Muda Raka dari Keluarga Darma."
Penjaga itu langsung membungkuk hormat hingga sembilan puluh derajat.
"Dan siapa Nona cantik yang bersama Anda ini, apakah dia membawa barang berbahaya di dalam kopernya."
Penjaga itu melirik curiga ke arah koper besi yang ditenteng Astiana.
"Dia adalah penasihat investasiku, dan koper itu hanya berisi modal recehan untuk bermain malam ini."
Raka menjawab dengan gaya sombong khas anak orang kaya yang sangat menyebalkan.
Astiana langsung meletakkan koper itu di atas meja pemeriksaan dan membukanya dengan kasar.
Klak.
Tumpukan uang seratus ribuan yang masih disegel bank langsung terlihat memenuhi isi koper tersebut.
Mata kedua penjaga itu membelalak lebar melihat uang tunai sebanyak itu dibawa dengan santai.
"Silakan masuk, Tuan dan Nona, selamat menikmati malam yang indah di Mutiara Laut."
Penjaga itu segera membukakan pintu kaca otomatis yang sangat besar.
Syuuut.
Suasana di dalam kasino itu sangat bising oleh suara dentingan mesin slot dan teriakan para penjudi.
Trang trang trang.
Lantai kasino dilapisi karpet beludru merah dan lampu gantung kristal menghiasi langit-langitnya.
Ribuan suara hati langsung menyerbu masuk ke telinga Astiana secara bersamaan.
"Sial, aku kalah lagi ratusan juta malam ini."
"Kalau aku tidak menang putaran ini, istriku pasti akan meminta cerai besok pagi."
Pikiran-pikiran putus asa dan serakah bercampur aduk menjadi polusi suara yang memuakkan di kepala Astiana.
Astiana memejamkan matanya sejenak untuk memblokir pikiran para tamu biasa.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣