Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.
Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.
Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.
Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.
Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.
Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Hanya Beberapa Langkah
Mobil Arvid berhenti tepat di depan restoran Aurelle.
Restoran bintang lima itu tampak ramai meskipun hari masih menjelang siang. Beberapa pelayan hilir-mudik di balik pintu kaca, sementara tamu yang baru datang disambut dengan ramah.
Arvid turun lebih dahulu. Namun, baru beberapa langkah dari pintu utama, langkahnya mendadak terhenti. Entah mengapa, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Arvid mengerutkan kening. Tangannya refleks menekan dada.
"Ada apa ini?"
“Bos?” Juki yang baru menutup pintu mobil menatapnya. “Kenapa?”
Arvid menarik napas perlahan. “Nggak apa-apa.”
Ia menurunkan tangan dan kembali melangkah.
Juki masih memerhatikannya beberapa detik. Ada sesuatu yang terasa aneh dari sikap bosnya sejak beberapa hari terakhir, tetapi ia memilih tidak bertanya lebih jauh. Ia pun segera menyusul.
Begitu memasuki restoran, suara seorang pekerja terdengar dari arah kiri.
“Zinnia, sebelah sini!”
Arvid spontan menoleh.
Seorang cleaning service perempuan yang mengenakan seragam kerja sedang berjalan menjauh darinya. Rambutnya diikat sederhana. Ia membawa kain lap dan botol pembersih kaca di tangannya.
Arvid hanya melihat punggung perempuan itu. Entah kenapa, pandangannya tertahan. Ada sesuatu yang terasa familiar. Ia mengernyit.
Namun, sebelum sempat memikirkan apa pun, Juki sudah memanggilnya.
“Bos, meja kita di sebelah sini.”
Arvid mengalihkan pandangan. “Ya.”
Ia mengikuti Juki menuju meja yang telah dipesan.
Beberapa menit kemudian, klien mereka datang.
“Pak Arvid?”
Arvid langsung berdiri dan menyambutnya. “Selamat siang, Pak Herry.”
Mereka berjabat tangan.
“Maaf membuat Anda menunggu," ucap Pak Herry.
“Nggak masalah," balas Arvid. "Kami juga baru sampai.”
Pak Herry duduk di hadapan mereka. Setelah pelayan memberikan menu, mereka mulai memilih makanan.
Arvid memesan hidangan yang biasa. Juki juga memesan makanan yang cukup umum.
Berbeda dengan Pak Herry.
“Untuk saya...” Pria paruh baya itu menunjuk salah satu menu. “Nasi putih, telur setengah matang, acar, dan saus buahnya dipisah. Dagingnya jangan pakai bumbu yang terlalu kuat.”
Pelayan itu mencatat. “Baik, Pak.”
Juki melirik Arvid. Arvid hanya mengangkat alis. Ia pun tidak berkomentar.
Setelah pelayan pergi, Pak Herry justru tertawa kecil. “Kalian pasti merasa aneh dengan pesanan saya.”
“Nggak, Pak,” jawab Arvid.
“Nggak apa-apa. Saya sudah terbiasa.” Pak Herry bersandar. “Dulu saya juga gak nyangka bisa makan seperti itu.”
Juki akhirnya tertarik. “Memangnya kenapa, Pak?”
Pak Herry tersenyum. “Waktu istri saya hamil anak pertama, yang mengalami mual parah malah saya.”
Arvid yang sedang mengambil gelas mendadak berhenti.
“Awalnya saya kira masuk angin. Ternyata bukan.” Pak Herry terkekeh. “Istri saya makan normal kayak biasa. Saya yang susah makan, mencium bau tertentu langsung mual, bahkan beberapa kali muntah.”
Juki tertawa kecil. “Bapak kena sindrom kehamilan simpatik?”
Pak Herry mengangguk. “Betul.”
Gerakan tangan Arvid terhenti sesaat. Sindrom kehamilan simpatik. Entah mengapa istilah itu terasa menancap di kepalanya.
Pak Herry melanjutkan, “Yang paling aneh, saya masih bisa makan makanan yang tersisa dari piring istri saya.”
Juki mengerutkan kening. “Kalo makanan yang sama, tapi bukan sisa dari piring istri Bapak?”
“Belum tentu bisa masuk," jawab Pak Herry.
Juki tertawa. “Serius, Pak?”
“Serius.” Pak Herry ikut tertawa. “Aneh, 'kan?”
Arvid diam.
“Salah satu makanan yang saya pesan tadi termasuk makanan yang waktu itu gak ditolak perut saya. Lama-lama malah jadi makanan favorit saya sampai sekarang.”
Juki mengangguk-angguk. “Berarti kata ibu saya benar, ya. Katanya kehamilan simpatik bisa jadi karena suami terlalu mikirin istrinya, terlalu mencintai, atau terlalu mengkhawatirkan istrinya.”
Pak Herry tersenyum. “Mungkin saja. Waktu itu saya memang sangat khawatir sama istri saya.”
Arvid menunduk. Tangan yang tadi memegang gelas perlahan mengencang. Terlalu memikirkan. Terlalu mengkhawatirkan.
Pikirannya langsung kembali pada perempuan di pantai malam itu. Wajahnya yang ketakutan. Tubuhnya yang gemetar. Dan tatapan yang tidak akan pernah bisa ia lupakan.
Arvid menelan ludah."Gimana kalau..."
Pikiran itu datang lagi. Bagaimana kalau perempuan itu hamil?
Jantungnya kembali berdegup lebih cepat. Kali ini bukan seperti sebelumnya. Bukan sekadar rasa tidak nyaman. Ada ketakutan yang jauh lebih besar.
Arvid menatap meja tanpa benar-benar melihat makanan di hadapannya.
Kalau benar perempuan itu hamil...
Bagaimana dia akan melewati semuanya sendirian?
Tanpa suami. Tanpa seseorang yang mendampinginya.
Dan bagaimana masyarakat akan memandangnya?
Pertanyaan itu membuat dada Arvid terasa semakin sesak.
Ia tahu, apa pun alasan yang terjadi malam itu, perempuan itu tetap akan menanggung akibatnya. Sementara dirinya bahkan tidak tahu di mana harus mencarinya.
“Pak Arvid?”
Suara Pak Herry membuat Arvid tersentak.
Ia mengangkat wajah. “Ya?”
“Anda tidak apa-apa?” tanya Pak Herry.
Arvid diam sepersekian detik sebelum mengangguk. "Nggak apa-apa."
Namun, untuk pertama kalinya, Arvid berharap satu hal yang tidak bisa ia pastikan.
Semoga perempuan itu tidak hamil. Dan kalau ternyata ia hamil...
Arvid tidak tahu apakah dirinya siap menghadapi kenyataan bahwa ada seorang anak yang mungkin telah tercipta dari malam yang paling ingin ia tebus kesalahannya.
Makan siang dan pembicaraan mengenai bisnis akhirnya selesai.
Arvid berdiri lebih dahulu setelah berjabat tangan dengan Pak Herry. “Kami permisi dulu, Pak.”
“Iya. Saya menyusul sebentar. Ada telepon yang harus saya angkat.”
Arvid mengangguk. “Baik.”
Ia bersama Juki meninggalkan meja.
Di lobby, suasana restoran masih cukup ramai. Para tamu keluar-masuk, sementara beberapa pekerja berlalu-lalang membawa perlengkapan mereka.
Arvid berjalan menuju pintu utama. Beberapa meter di depannya, seorang cleaning service perempuan berjalan dari arah berlawanan.
Zinnia.
...🔸🔸🔸...
...“Terkadang, jawaban yang paling lama kita cari ternyata hanya beberapa langkah dari tempat kita berdiri. Namun, kedekatan tidak selalu berarti kita telah mampu mengenalinya.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
semoga Arvid bida menyelidiki dan mengetahui kebenarannya dan mengakuinya di depan ibunya...
Keburu kehamilanmu membesar