Xiao Chen bukan jenius kultivasi. Di Klan Xiao, dia adalah "Sampah Abadi" - ranah kultivasinya stuck di Pemurnian Qi level 3 selama 1000 tahun. Karena itu, dia dibuang untuk menjaga Jurang Iblis, tempat paling hina di klan. Tidak ada yang tahu, Jurang Iblis itu adalah segel dunia, dan selama 1000 tahun Xiao Chen bertarung sendirian setiap malam melawan gelombang iblis yang tak berujung. Para iblis tidak takut pada Tetua Klan, mereka hanya takut pada satu nama: Xiao Chen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Klan Xiao Memohon Ampun & Pedang Kayu Patah Bersinar
---
Pagi hari ke-30. Tepat sebulan Kedai Teh buka.
Kedai Teh yang biasanya buka jam 7, hari ini belum buka sampai jam 9. Pintunya tertutup rapat. Di depan pintu ada tulisan tangan Ling'er yang masih berantakan:
_TUTUP. BOS TEH LAGI MENGOBATI LUKA. MURID 1 LAGI ISTIRAHAT. MURID 2 JAGA. JANGAN BERISIK._
Warga Kota Batu Hitam yang sudah mengantri sejak jam 6, tidak ada yang protes. Mereka duduk dengan tenang di alun-alun, menunggu. Bahkan Tetua Api Merah yang biasanya tidak sabaran, duduk bersila mencoba memanaskan air tanpa qi, sebagai latihan kesabaran.
Di dalam kedai, Ling'er memang masih tidur di atas meja teh, mahkota uap di atas kepalanya sudah mengecil, tapi masih ada, berkedip-kedip seperti lampu kunang-kunang. Napasnya teratur. Fase pertama Tubuh Yin Iblis Murni sudah lewat.
Su Qing'er duduk di sebelahnya, tidak tidur semalaman, mengganti kompres di kening Ling'er dengan handuk basah. Wajahnya lelah, tapi matanya tidak mau pejam.
Xiao Chen duduk di kursi bambunya di sudut, telapak tangannya yang kemarin dia sayat untuk Teh Darah Yin sudah sembuh total, tidak ada bekas. Tapi wajahnya sedikit lebih pucat dari biasanya. Memberikan darah jurang 1000 tahun bukan tanpa harga.
Mo Sha menjaga di dalam kedai hari ini, bukan di luar, karena Bos Teh menyuruhnya menjaga dua muridnya.
Saat itulah, dari luar terdengar suara langkah kaki yang sangat pelan, sangat hati-hati, seperti takut membangunkan orang tidur.
Bukan langkah kultivator sombong. Langkah orang yang menyeret sesuatu yang berat.
Mo Sha mengintip dari celah pintu, lalu berbisik, "Bos Teh, Klan Xiao datang lagi."
Xiao Chen tidak membuka mata. "Berapa orang?"
"Satu. Tua. Buntung."
Xiao Tianlong.
30 hari lalu, dia datang dengan 20 orang dan tandu mewah, sombong. 10 hari lalu dia datang dengan 7 Tetua, menangis dan berlutut. Hari ini dia datang sendirian, tanpa tandu, tanpa pengawal, berjalan kaki dari gunung ke Kota Batu Hitam. Tangannya yang buntung memegang sesuatu yang dibungkus kain putih, diseret di tanah karena berat.
Xiao Chen membuka matanya. "Buka pintu setengah."
Mo Sha membuka pintu kedai setengah saja, cukup untuk satu orang mengintip.
Xiao Tianlong berdiri di depan pintu, jubah Tetua Agung Klan Xiao yang dulu mewah, kini kotor penuh debu perjalanan. Rambutnya yang dulu disisir rapi, kini berantakan. Wajahnya yang dulu angkuh, kini hanya ada lelah dan malu yang sangat dalam.
Saat pintu dibuka, dia tidak langsung masuk. Dia berlutut dulu di luar, di tanah berdebu.
"Tuan... Tuan Xiao Chen..." suaranya serak, bukan suara Nascent Soul, tapi suara kakek tua biasa.
Xiao Chen tidak menyuruhnya berdiri. "Ada apa?"
Xiao Tianlong dengan tangan satu-satunya yang tersisa, membuka bungkusan kain putih yang dia seret. Isinya membuat Nenek Air Tenang yang mengintip dari tenda sebelah langsung menahan napas.
Di dalamnya ada: Pedang patah yang dulu diinjak Xiao Feng - pedang kayu hitam milik Xiao Chen yang patah menjadi dua saat dia dihukum 1000 tahun lalu. Ada cincin pertunangan giok yang dulu diinjak Xiao Feng. Ada jubah compang-camping kecil milik Xiao Chen saat umur 15 tahun yang masih disimpan di gudang Klan Xiao sebagai bukti "sampah". Dan ada... ada sebuah tablet kayu kecil bertuliskan nama: _Xiao Chen, Anak Buangan, Penjaga Jurang 1000 Tahun - Dihapus dari silsilah._
Xiao Tianlong meletakkan semua itu di depan pintu, dengan kepala menunduk sampai menyentuh tanah.
"Kami... Klan Xiao... datang untuk mengembalikan barang-barang milik Tuan. Dan... dan untuk memohon agar nama Tuan ditulis kembali di silsilah. Bukan sebagai anak buangan, tapi sebagai... sebagai Leluhur Penjaga."
Xiao Chen menatap barang-barang itu. Barang-barang yang selama 1000 tahun dia anggap sudah hilang.
Pedang kayu patah itu, dia buat sendiri dari kayu Segel Jurang saat umur 14 tahun, sebelum dihukum. Pedang itu tidak tajam, tapi dia pakai untuk berlatih mengayun 10.000 kali sehari. Cincin giok itu, bukan cincin mahal, tapi cincin yang diberikan ibunya yang sudah meninggal saat dia umur 5 tahun, katanya untuk calon istrinya nanti. Jubah kecil itu, jubah terakhir yang dijahit ibunya.
Xiao Chen berdiri, berjalan ke pintu. Su Qing'er dan Ling'er yang sudah bangun karena mendengar suara, mengintip dari dalam.
Xiao Chen tidak mengambil barang-barang itu. Dia mengambil tablet kayu yang menghapus namanya dari silsilah.
Dia menatap tulisan itu lama.
"1000 tahun aku menjaga jurang, kalian hapus namaku dari silsilah karena malu punya anak sampah," kata Xiao Chen pelan, tidak marah, hanya menceritakan fakta. "10 hari lalu, saat aku pulang, kalian patahkan pedangku, injak cincinku, sobek jubahku, dan usir aku. Sekarang kalian bawa kembali semuanya, dan minta aku kembali jadi leluhur."
Xiao Tianlong menangis, kepalanya masih di tanah. "Kami tahu kami tidak pantas... kami tahu kami sampah... tapi Klan Xiao... Klan Xiao sudah hancur, Tuan. Sejak segel hancur dan sejak Tuan pergi, 3 desa di bawah gunung kami sudah kosong dimakan iblis. Murid-murid kami lari ke Klan lain. Kami... kami hanya punya 12 orang tersisa di gunung. Kami tidak punya penjaga lagi. Kami mohon... bukan mohon Tuan kembali menjaga jurang... tapi mohon Tuan izinkan kami... menjadi tukang sapu di Klan Kedai Teh. Biar kami tebus dosa."
Kata-kata itu membuat Su Batian yang baru datang dari rumah barunya terbelalak. Klan Xiao, yang dulu adalah Klan nomor 1 di wilayah timur, kini memohon menjadi tukang sapu.
Xiao Chen masih memegang tablet kayu itu. Lalu, dia melakukan sesuatu yang tidak diduga siapa pun.
Dia melempar tablet kayu itu ke dalam tungku teh yang masih menyala kecil untuk memanaskan air.
Tablet kayu itu terbakar.
"Aku tidak perlu silsilah," kata Xiao Chen. "Silsilah itu untuk orang mati. Aku masih hidup. Aku penjual teh."
Dia lalu mengambil pedang kayu patahnya yang sudah 1000 tahun patah, dua potongan kayu hitam yang sudah lapuk.
Saat tangannya menyentuh pedang itu, sesuatu terjadi.
Pedang kayu yang patah, yang selama 1000 tahun tidak pernah bersinar, yang bahkan Mo Sha mengira hanya kayu bakar, tiba-tiba... bergetar.
_WUUUNG..._
Bukan qi. Tapi resonansi. Kayu segel jurang itu, yang direndam darah Xiao Chen selama 1000 tahun, masih ingat tuannya.
Dua potongan patah itu menyatu kembali, bukan dengan lem, tapi dengan darah keemasan hitam yang keluar dari telapak tangan Xiao Chen yang tadi menyentuh tablet. Darah itu mengalir, menyambung kayu patah itu.
Pedang kayu itu kembali utuh. Tidak lagi patah. Dan dari kayu hitamnya yang jelek, keluar cahaya keemasan hitam yang lembut, tidak menyilaukan, tapi membuat semua Tetua Nascent Soul yang melihat dari jauh langsung berlutut karena tekanan.
Nenek Air Tenang berbisik dengan gemetar, "Pedang... Pedang Leluhur... Pedang yang di kitab kuno Klan Xiao dikatakan hilang 1000 tahun lalu... Pedang Penjaga Jurang..."
Xiao Chen memegang pedang kayu yang sudah utuh itu, mengayunkannya sekali, pelan, seperti dulu saat dia umur 14 tahun berlatih 10.000 ayunan.
Ayunan itu tidak menimbulkan angin pedang, tidak membelah gunung. Ayunan itu hanya menimbulkan suara _swish_ pelan dan membuat daun teh di meja sebelah bergoyang.
Tapi Mo Sha yang melihat ayunan itu, langsung bersujud di dalam kedai, kepalanya membentur lantai.
"Jurus itu... Jurus Tebasan Pertama... Jurus yang dulu Bos Teh pakai untuk membelah 10 iblis Tingkat Nascent Soul sekaligus..."
Xiao Chen selesai mengayun, menatap pedang kayunya. Pedang kayu jelek, tidak tajam, tapi ini pedangnya.
Dia menatap Xiao Tianlong yang masih berlutut.
"Pedang ini aku ambil kembali. Karena ini memang punyaku. Cincin dan jubah itu, kau bawa pulang. Bakar saja. Aku tidak perlu. Aku sudah punya celemek baru dari Ling'er."
Dia berbalik, mau masuk ke dalam kedai, tapi berhenti.
"Dan Klan Xiao, kalau mau jadi tukang sapu Klan Kedai Teh, boleh. Tapi peraturannya sama: Jangan berisik, bayar teh tepat waktu, dan sapu yang bersih. Kota ini sudah kotor karena iblis, jangan tambah kotor karena air mata penyesalan."
Xiao Tianlong yang mendengar itu, mengangkat kepalanya, wajahnya penuh air mata tapi tersenyum seperti mendapat ampunan dewa.
"Siap! Siap, Tuan Bos Teh! Mulai hari ini Klan Xiao jadi tim kebersihan Kota Batu Hitam! Gratis!"
Xiao Chen masuk ke dalam kedai, membawa pedang kayu utuhnya, dan meletakkannya di samping tungku teh, bukan sebagai senjata, tapi sebagai pengaduk teh yang baru, karena pengaduk kayu yang lama sudah patah dipakai Ling'er.
Di luar, Xiao Tianlong berdiri dengan susah payah, memeluk cincin dan jubah kecil itu, dan berjalan kembali ke gunung dengan langkah gontai, tapi punggungnya tidak lagi bungkuk karena malu, tapi tegak karena diberi tugas.
Hari itu, Kedai Teh buka lagi jam 10 pagi, terlambat 3 jam, tapi tidak ada yang protes. Malah warga bersorak saat melihat Bos Teh keluar lagi, dengan pedang kayu jelek yang kini bersinar keemasan hitam di pinggangnya, seperti tukang teh yang membawa golok sayur.
Ling'er yang sudah sembuh total, dengan mahkota uap di kepalanya, menyambut pelanggan pertama hari itu dengan senyum lebar.
"Teh jahe 1 koin! Hari ini ada teh baru! Teh Pedang Kayu! Rasanya sama, tapi diaduk pakai pedang!"
Dan warga tertawa, memesan, dan Kota Batu Hitam kembali ramai, dengan tambahan satu tim kebersihan baru berjubah putih Klan Xiao yang menyapu jalan dengan sangat serius, takut berisik.