NovelToon NovelToon
Jenderal, Menikahi Putri Duke Itu Bukan Hadiah Perang!

Jenderal, Menikahi Putri Duke Itu Bukan Hadiah Perang!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Komedi / Romansa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: jingrd24

"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.

Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!

Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: H-1 Pernikahan

Waktu berjalan tanpa memiliki rasa simpati sedikit pun pada kesehatan mental Kate. Rasanya baru kemarin ia dipaksa mengangguk di depan Raja karena korset yang mencekik, baru kemarin ia gagal meracuni Salvatore dengan air laut buatan di cangkir teh, dan baru kemarin pula ia secara sukarela mendaftarkan diri menjadi pustakawan pribadi sang Jenderal akibat taktik "enkripsi fisik" yang gagal total.

Dan sekarang? Besok adalah hari pernikahan itu. Hari H. Hari di mana ia resmi melepas nama belakang Raventhal untuk bersanding dengan nama Ardan yang kaku bagai tembok benteng.

"Tidak. Aku tidak akan menyerah sampai pendeta mengetuk palu perkawinan—atau apa pun yang mereka ketuk di altar nanti!" gerutu Kate sembari mondar-mandir di dalam kamarnya.

H-1 pernikahan adalah waktu di mana kedua calon mempelai biasanya melakukan kunjungan sosial terakhir di taman paviliun luar kediaman sementara, untuk menerima restu formal dari beberapa keluarga angkat dan anak-anak dari para prajurit divisi utama Salvatore. Ini adalah acara publik skala kecil, tempat di mana citra seorang calon istri Jenderal Agung dipertaruhkan.

Dan di sinilah Kate melihat peluang emas terakhirnya: Operasi Penghancuran Citra Visual.

"Rhea! Hari ini aku tidak mau memakai gaun sutra. Aku tidak mau disanggul. Aku tidak mau memakai bedak porselen mahal itu!" seru Kate dengan mata berapi-api.

Rhea yang sedang merapikan kotak perhiasan hanya menoleh dengan satu alis terangkat. "Lalu Anda ingin keluar ke paviliun dengan bertelanjang kaki dan memakai karung gandum, Nona? Tuan Duke mungkin akan langsung mencoret nama Anda dari silsilah keluarga sebelum Jenderal Sal sempat membatalkan pernikahan."

"Tentu saja tidak seekstrem itu, Rhea. Aku masih punya selera mode, tapi hari ini gaya busanaku adalah... gaya eksperimental yang mengerikan!" Kate terkekeh jahat. "Buka lemari penyimpanan gaun parade musim panas lima tahun lalu. Yang warnanya kuning menyala dengan aksen rumbai-rumbai oranye di bagian lengan!"

Rhea tertegun sejenak. "Nona, gaun itu adalah kesalahan terbesar dalam sejarah penjahit kediaman kita. Anda sendiri yang bilang warnanya mirip burung kepodang yang tersengat listrik."

"Tepat sekali! Dan hari ini, burung kepodang tersengat listrik itu akan menyambut para tamu Jenderal Salvatore Ardan!" Kate menjentikkan jarinya penuh semangat. "Lalu, jangan sanggul rambutku secara elegan. Ikat acak-acakan di atas kepala seperti sarang burung yang dihantam badai. Dan riasan wajahku... beri aku perona pipi merah yang paling tebal. Aku ingin terlihat seperti badut sirkus yang sedang demam tinggi!"

Rhea memandang nonanya selama beberapa detik, menimbang-nimbang apakah ia harus memanggil tabib istana untuk memeriksa isi kepala Kate. Namun, melihat binar keputusasaan yang bercampur ambisi di mata sang Putri, Rhea akhirnya menghela napas pasrah.

"Baiklah, Nona. Sesuai perintah Anda. Mari kita lihat apakah selera estetika Jenderal Sal bisa runtuh hari ini," ujar Rhea datar, mulai mengambil peralatan rias yang paling tidak cocok dengan warna kulit Kate.

Dua jam kemudian, perwujudan dari "kiamat mode" itu akhirnya selesai. Kate berdiri di depan cermin besar dengan rasa bangga yang luar biasa. Gaun kuning-oranye itu benar-benar menonjolkan dirinya dalam artian yang salah. Lengan rumbainya bergoyang-goyang heboh setiap kali ia bergerak. Pipinya dihiasi dua lingkaran merah pekat yang sangat mencolok, dan rambutnya diikat tinggi-tinggi dengan beberapa helai yang mencuat tidak beraturan ke segala arah.

Secara keseluruhan, penampilan Kate hari ini sangat nyentrik, aneh, dan jauh dari definisi seorang Putri Duke yang anggun. Ia terlihat... sangat ajaib.

"Sempurna!" Kate tersenyum lebar, membuat lingkaran merah di pipinya semakin terangkat.

"Ayo, Rhea. Mari kita temui calon suamiku dan biarkan dia merasakan pukulan mental melihat wanita yang akan mendampinginya di altar besok pagi!"

Kate melangkah keluar kamar dengan penuh percaya diri. Rumbai-rumbainya berkibar, menciptakan suara kresek-kresek yang berisik di sepanjang koridor. Ketika mereka sampai di paviliun luar, suasana sudah cukup ramai. Ada sekitar belasan anak-anak dari para prajurit perang yang sedang duduk di atas tikar rumput, ditemani oleh beberapa pengasuh mereka.

Salvatore sendiri berdiri di dekat pilar, mengenakan pakaian formal kasual berwarna abu-abu gelap yang—sialnya—membuatnya terlihat semakin gagah dan teratur.

Begitu Kate memasuki area paviliun, suara rumbai gaunnya langsung menarik perhatian semua orang. Keheningan mendadak melanda. Beberapa pengasuh anak-anak tampak ternganga, sementara anak-anak kecil itu langsung berhenti bermain gasing dan menatap Kate dengan mata membelalak lebar.

Kate memasang wajah angkuh, melangkah mendekati Salvatore dengan gaya berjalan yang sengaja dibuat kaku dan aneh. Ia berhenti tepat di depan Salvatore, berkacak pinggang, membuat rumbai oranyenya bergoyang heboh di depan dada pria itu.

"Selamat siang, Jenderal Ardan," sapa Kate dengan nada suara yang sengaja dibuat melengking dan tidak ramah. "Bagaimana penampilan calon istrimu hari ini? Apakah kau merasa terhormat bisa bersanding dengan wanita... sepertiku besok pagi?"

Kate menahan tawa di dalam hatinya. Ia sudah bersiap melihat Salvatore mundur selangkah karena syok. Ia sudah membayangkan wajah kaku pria itu akan berubah menjadi pucat, atau minimal memalingkan muka karena malu melihat riasan pipinya yang seperti tomat matang.

Salvatore terdiam. Mata elangnya menyapu penampilan Kate dari ujung ikatan rambut sarang burungnya, turun ke lingkaran merah di pipi, lalu ke gaun kuning menyala, hingga ke rumbai-rumbai oranye di lengannya. Pria itu menatapnya tanpa berkedip selama setengah menit penuh.

Perlahan, ekspresi kaku di wajah Salvatore melunak. Sudut bibirnya yang biasanya terkunci rapat kini terangkat, membentuk sebuah senyuman yang—anehnya—terlihat sangat hangat dan dipenuhi rasa kagum yang tulus.

Salvatore melangkah maju, meraih tangan Kate dengan lembut, lalu menundukkan kepalanya untuk memberikan kecupan formal di punggung tangan gadis itu.

"Anda benar-benar wanita yang luar biasa, Putri Katherine. Hati Anda jauh lebih indah daripada yang bisa kubayangkan," ucap Salvatore dengan suara baritonnya yang berat, terdengar begitu emosional.

Kate membeku. Lingkaran merah di pipinya mendadak terasa panas karena rona alami yang bermunculan akibat rasa bingung yang luar biasa. "Hah? Apa? Kau bilang apa tadi?"

Salvatore tegak kembali, menatap Kate dengan pandangan penuh rasa terima kasih. "Aku tahu acara hari ini melibatkan anak-anak dari para prajuritku yang gugur di medan perang. Mereka sering kali merasa takut dan canggung jika harus datang ke kediaman bangsawan yang kaku seperti ini. Mereka terbiasa melihat orang-orang berpakaian hitam atau abu-abu militer yang membosankan."

Salvatore menoleh ke arah anak-anak yang kini mulai berbisik-bisik gembira melihat gaun Kate. "Tetapi Anda... Anda sengaja mengenakan pakaian dengan warna secerah matahari, memakai riasan yang menyenangkan seperti pemain teater anak-anak, dan menata rambut dengan gaya yang santai agar mereka tidak merasa terintimidasi. Anda sengaja menurunkan martabat kemewahan Anda demi membuat anak-anak yatim ini tersenyum dan merasa nyaman di sini."

Kate ternganga lebar. Mulutnya membentuk huruf O yang sempurna. Pemain teater anak-anak? Menurunkan martabat demi membuat mereka nyaman? Pria batu ini mengira aku sedang melakukan aksi amal sirkus kemanusiaan?

"T-tunggu! Jenderal! Ini bukan—"

Sebelum Kate sempat menyelesaikan kalimat sanggahannya, seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar enam tahun tiba-tiba berlari mendekati mereka. Anak itu menarik ujung gaun kuning Kate dengan berani.

"Kakak Putri! Kakak Putri sangat cantik seperti burung ajaib di buku cerita!" seru anak itu dengan mata berbinar-binar. "Mau main gasing bersamaku? Gaun Kakak punya banyak tali yang seru untuk ditarik!"

Salvatore terkekeh kecil—sebuah suara yang sangat langka dan terdengar begitu merdu di telinga siapa pun yang mendengarnya. Pria itu menepuk bahu Kate pelan. "Pergilah, Putri. Mereka sudah menunggumu. Terima kasih telah menjadi sosok yang begitu baik hati hari ini. Pernikahan besok akan menjadi hari paling membanggakan dalam hidupku karena memiliki istri berjiwa mulia sepertimu."

Kate merasa jiwanya baru saja terbang keluar dari raganya. Ia menatap Salvatore dengan tatapan horor yang luar biasa, lalu melirik ke arah anak kecil yang masih memegangi rumbai gaunnya dengan wajah polos penuh harap.

Di belakang mereka, Rhea yang sejak tadi berdiri tegak seperti tiang paviliun menyempatkan diri melangkah mendekat, lalu berbisik dengan nada datar andalannya yang selalu berhasil menghancurkan sisa-sisa kewarasan Kate.

"Nona, selamat atas keberhasilan Operasi Badut Sirkus Anda. Alih-alih membuat Jenderal Sal ilfeel dan membatalkan pernikahan, Anda baru saja dinobatkan sebagai 'Malaikat Pelindung Anak-Anak Prajurit' secara tidak resmi. Besok pagi, seluruh divisi militer kemungkinan besar akan bersorak paling keras di altar karena mengira panglima mereka menikahi seorang wanita suci berhati emas."

Kate memejamkan mata rapat-rapat, memegangi kepalanya yang mendadak pusing tujuh keliling. Warna merah di pipinya kini bukan lagi karena perona wajah buatan Rhea, melainkan karena rasa malu dan frustasi yang sudah meluap sampai ke ubun-ubun.

"Rhea..." desis Kate dari balik giginya yang bergemeletuk.

"Ya, Nona?"

"Kenapa... kenapa pria ini selalu punya cara untuk mengubah kegilaanku menjadi sebuah prestasi nasional?"

Rhea hanya mengangkat bahu acuh. "Mungkin karena Jenderal Sal adalah seorang pakar strategi perang, Nona. Beliau tahu cara membalikkan keadaan musuh menjadi keuntungan taktis bagi dirinya sendiri. Nah, sekarang silakan bermain gasing dengan anak-anak itu, sebelum rumbai-rumbai gaun Anda benar-benar dijadikan tali pelontar oleh mereka."

Kate hanya bisa menggeram pasrah saat anak kecil tadi mulai menarik tangannya menuju ke tengah rumput. Dari kejauhan, ia bisa melihat Salvatore Ardan masih berdiri di tempatnya, menatapnya dengan sepasang mata elang yang kini memancarkan binar kehangatan mutlak—sebuah tatapan yang membuat Kate sadar bahwa H-1 pernikahannya telah ditutup dengan kekalahan mutlak. Besok, suka atau tidak, ia akan menjadi milik sang Jenderal Tembok yang sialnya selalu berhasil memenangkan pertempuran melawan egonya.

1
Iluvmacha
ga sabar Kate notice Sonia🤭
jinggaarundari: waduh bener lagi, tungguin bab selanjutnya kaa😍😍
total 1 replies
otter_orange
btw, semangat kaka authorr💪💪 lanjut terus
jinggaarundari: 😍😍makasi banyak kaa, makin semangat disemangati kakakk
total 1 replies
otter_orange
Menunggu reaksi Kate kalau suaminya deket sama wanita lain🤣
jinggaarundari: sipp, tunggu update bab nya kaa😍😍
total 1 replies
otter_orange
apaan sii, dia yg nunggu dia jg yg gengsi😭😭
jinggaarundari: emang kadang kidding🫣
total 1 replies
otter_orange
Akhirnya yg ditunggu-tunggu Kate kena karma kan, dibilang suaminya perfect gitu😭
La Vanya
waduhh, siapa tuh Sonia🤔
jinggaarundari: siapa ya🤔🤔, tunggu bab selanjutnya besok kaa😍😍
total 1 replies
La Vanya
katanya pemandangan merusak, tp kok ditungguin🤭
jinggaarundari: kalo ga gengsi bukan Kate namany🤭
total 1 replies
La Vanya
RHEA APRESIASI SETINGGI-TINGGINYA BUAT KMU WKWKWK😭😭😭
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭
jinggaarundari: hahaha, bener banget ka, emang orang kaya Kate butuh dayang kaya Rhea 😭😭
total 1 replies
Mommy Inci
plis Thor lngsung kebagian menyerah and falling in love ke jendral biar ga monoton...
jinggaarundari: siap kaa, pas banget besok bab 23 memang udh masuk Kate Denial suka suaminya, makasi kaa supportnya 😍😍
total 1 replies
lynn.flow
udah mampir nihh, ternyata seru juga, ga expect kalau si putri seberani itu😭😭
Vy
Seru ceritanya thorr😍
jangan lupa mampir juga ya Thor di ceritaku🤗
jinggaarundari
baik kaa, cuma agak tsundere aja🫣
Putry Chan
nih prmepuan keras lumayan sulit sih di bikin Lulu semoga nanti bisa ya
Putry Chan
hmmm tapi jasa juga ke kejuaraan lumayan besar
Putry Chan
owh jadi nih putri trlalu tinggi derajatnya dan sulit di atur
Putry Chan
owh hadiahnya trlalu besar nya mknya sulit dia kan seorang putri
Putry Chan
beh 100 tahun coy
Putry Chan
apakah dia orang baik
La Vanya
kaa lanjuttt💪💪
otter_orange
SERU BANGET ANJIRRR!! 😭😭 Kakinya Kate ga bisa diem banget pas nyusun rencana kabur tapi malah bikin makin nempel aama suaminya wkwkw! Salvatore ganteng banget tapi lempengnya minta ampun 😭 Pokoknya wajib baca guyss, ceritanya seger, komedinya banyak, cocok buat dibac selepas kerja atau sekolah yang penat. Lanjut part 22 thorr fast update!!!💙💙💙
jinggaarundari: waa, senang kalau kakak sukaa. makasi suportnya kaa😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!