NovelToon NovelToon
SISTEM TUAN TANAH DERMAWAN

SISTEM TUAN TANAH DERMAWAN

Status: tamat
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA


Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.

Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.

Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Tok tok tok!

"Siapa malam-malam begini ketuk pintu?" gerutu Rahman.

Ia berjalan gontai membuka pintu kayunya yang berderit.

Kriet.

Di luar berdiri Rina, janda beranak satu yang menyewa kamar nomor empat.

Wajah wanita itu terlihat panik dan matanya memerah.

"Ada apa, Rina?" tanya Rahman ketus.

"Pak Rahman, saya mau minta tolong," ucap Rina sambil menunduk dalam.

"Kalau urusan menunggak uang sewa, jawabannya tidak."

"Anak saya demam tinggi dari sore tadi, Pak."

Rina mulai terisak pelan di depan pintu rumahnya.

"Lalu apa hubungannya denganku?" balas Rahman dingin.

"Saya butuh pinjaman uang untuk bawa Dimas ke klinik, Pak."

"Kamu pikir aku ini bank tempat beramal?"

Rahman mendengus kesal melihat tangisan penyewanya itu.

"Tolonglah, Pak, saya janji akan bayar lunas bulan depan sekalian uang sewanya."

"Bulan lalu kamu juga bilang begitu, tapi buktinya tetap meleset dua hari."

"Hanya lima puluh ribu saja, Pak, untuk beli obat penurun panas."

Rina memohon dengan suara bergetar.

"Tidak ada."

Brak!

Rahman langsung menutup pintunya tanpa perasaan.

Ia memutar kuncinya dua kali agar wanita itu tidak mengetuk lagi.

Ia kembali ke mejanya untuk menghitung uang sewa yang baru saja ia kumpulkan hari ini.

Srek srek srek.

Suara lembaran uang yang dihitung terdengar memuaskan di telinganya.

"Wanita itu benar-benar tidak tahu diri," gumam Rahman pada dirinya sendiri.

"Sudah kuberi harga sewa paling murah, masih saja mau meminjam uang padaku."

Padahal harga sewa kontrakannya adalah yang paling mahal di daerah itu.

Fasilitasnya pun sangat buruk, catnya mengelupas, dan banyak atap yang bocor.

Namun Rahman tidak pernah peduli karena ia hanya memikirkan keuntungan pribadinya.

"Sembilan ratus ribu, pas."

Ia memasukkan uang itu ke dalam brankas besi tuanya di bawah meja.

Klak.

Suara kunci brankas diputar membuat hatinya terasa sangat tenang.

Namun tiba-tiba, dadanya terasa sangat sesak dan panas.

"Uhuk! Uhuk!"

Rahman terbatuk keras sampai harus berpegangan pada pinggiran kursi.

Rasa sakit yang luar biasa menusuk jantungnya seperti ditusuk ribuan jarum.

"Ahhh..."

Bruk!

Tubuh tua itu ambruk ke lantai semen yang dingin dan kotor.

Ia mencoba bernapas, tapi rasanya tidak ada udara yang masuk ke paru-parunya.

Tangannya yang gemetar meraba-raba saku celananya untuk mencari ponsel.

Ia berhasil mengeluarkan ponsel lamanya dengan susah payah.

Dengan pandangan yang mulai kabur, ia menekan nomor keponakannya yang kaya raya.

Tuuuut... Tuuuut...

Panggilan tersambung, tapi tidak ada yang langsung mengangkat.

"Ayo angkat, tolong pamanmu ini..." batin Rahman putus asa.

Klik.

"Halo? Paman Rahman? Jangan telepon lagi, aku tidak mau meminjamkan uang padamu."

Tut tut tut.

Panggilan dimatikan secara sepihak sebelum Rahman sempat meminta tolong.

Air mata menetes dari sudut mata keriput lelaki tua itu.

Di saat ia sekarat, tidak ada satu pun keluarga yang mau mengangkat teleponnya karena muak dengan sifat pelitnya.

Napasnya semakin pendek dan pandangannya mulai menggelap.

"Apakah aku akan mati di lantai kotor ini?"

"Tanpa ada satu pun orang yang peduli?"

Kesadarannya perlahan memudar seiring dengan rasa sakit yang memuncak.

Ting!

Sebuah suara aneh berdenging kencang di dalam kepalanya.

Suara itu terdengar sangat jernih dan mekanis.

[Sistem Penambah Umur telah aktif.]

Mata Rahman yang setengah tertutup melihat layar biru transparan melayang tepat di depannya.

"Apa ini?" batinnya bingung.

"Apakah ini halusinasi orang yang mau mati?"

[Memindai kondisi fisik pengguna.]

[Kondisi: Kritis. Gagal jantung terdeteksi.]

[Sisa umur pengguna: 7 hari.]

"Tujuh hari?"

Rahman terkejut membaca tulisan di layar biru itu.

Ajaibnya, rasa sakit di dadanya perlahan menghilang.

Napasnya kembali normal, meski tubuhnya masih terasa sangat lemas dan kaku.

Ia berusaha duduk dan menyandarkan punggungnya ke dinding ruangan.

"Hei, benda biru apa kamu ini?" tanya Rahman dengan suara serak.

"Kamu bilang sisa umurku tinggal tujuh hari?"

[Benar. Pengguna akan meninggal dalam waktu tujuh hari jika tidak melakukan intervensi.]

"Intervensi apa?"

"Berapa aku harus bayar jasamu ini?"

Tentu saja pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Rahman adalah tentang uang.

[Sistem tidak membutuhkan uang pengguna sama sekali.]

[Sistem hadir untuk memberi kesempatan kedua bagi hidup pengguna.]

[Syaratnya hanya satu, selesaikan misi yang diberikan sistem setiap harinya.]

"Misi apa?"

"Kalau kamu menyuruhku menyumbangkan uangku ke panti asuhan, aku lebih baik mati saja!" teriak Rahman kesal.

[Misi Utama: Bahagiakan para penyewa.]

[Hadiah: Penambahan umur.]

[Kegagalan: Pengurangan umur.]

Rahman melongo membaca deretan kalimat bercahaya di layar itu.

"Membahagiakan penyewa?"

"Mereka itu parasit yang selalu mengeluh dan minta diskon padaku!"

Rahman mulai marah-marah sendiri di ruangannya yang sepi.

[Waktu terus berjalan. Sisa umur: 6 Hari 23 Jam 55 Menit.]

"Tunggu, jangan dikurangi seenaknya begitu!"

Rahman panik melihat angka di layar itu bergerak turun di depan matanya.

[Pilihan murni ada di tangan pengguna.]

[Sistem mendeteksi seorang penyewa sedang menangis sejauh sepuluh meter dari lokasi pengguna.]

[Misi Sampingan: Bantu Rina mengobati anaknya.]

[Hadiah: Tambahan umur 3 hari.]

[Kegagalan: Pengurangan umur 1 hari.]

"Satu hari?"

"Kalau aku gagal, umurku besok tinggal lima hari?"

Rahman menelan ludah dengan susah payah membayangkan kematiannya.

Ia teringat Rina yang tadi menangis meminjam uang lima puluh ribu.

Bagi Rahman, uang itu bisa digunakan untuk biaya makannya selama dua hari.

"Tapi kalau aku tidak memberikannya, aku benar-benar akan kehilangan satu hari nyawaku."

Ia menghitung untung rugi di dalam kepalanya yang sudah terbiasa dengan perhitungan bisnis.

"Baiklah, aku akan membantunya!"

"Tapi ini murni karena aku mau hidup, bukan karena aku kasihan padanya."

Rahman mencoba membela harga dirinya sendiri.

[Silakan laksanakan misi secepatnya, Pengguna.]

Rahman berdiri perlahan sambil berpegangan pada pinggiran meja.

Ia membuka kembali brankasnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

Diambilnya selembar uang lima puluh ribu yang tampak lecek dan kusam.

"Selamat tinggal, temanku," gumamnya sedih pada selembar uang tersebut.

Ia berjalan keluar kamar dan mengetuk pintu nomor empat.

Tok tok tok!

Tidak ada jawaban, hanya terdengar suara isak tangis tertahan dari dalam kamar.

"Rina! Buka pintunya sekarang!" teriak Rahman.

Ceklek.

Pintu terbuka perlahan, menampilkan wajah Rina yang sembab karena terus menangis.

"Ada apa lagi, Pak Rahman?"

"Apakah saya beserta anak saya harus pindah malam ini juga?" tanyanya ketakutan.

"Siapa yang menyuruhmu pindah dari sini?"

Rahman menyodorkan uang lecek itu ke depan wajah Rina.

Rina menatap uang itu dengan mata terbelalak bingung.

"Ini... uang apa, Pak?"

"Uang pinjaman yang kamu minta tadi, bodoh."

"Cepat bawa anakmu ke klinik sebelum demamnya tambah parah."

Rina masih berdiri mematung, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Selama dua tahun menyewa di sini, baru kali ini bapak kosnya sudi mengeluarkan uang.

"Tunggu apa lagi?"

"Kamu mau anakmu kenapa-kenapa di dalam sana?" bentak Rahman menutupi rasa gengsinya.

"Terima kasih banyak, Pak Rahman!"

Rina menangis sejadi-jadinya dan langsung mengambil uang itu dari tangan bapak kosnya.

"Saya janji pasti akan mengembalikannya bulan depan!"

"Ya, ya, awas kalau sampai kamu lupa membayarnya," jawab Rahman sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.

Ting!

Layar biru kembali muncul melayang di depan wajah Rahman.

[Misi Sampingan Selesai.]

[Penyewa Rina merasa sangat bersyukur dan tertolong oleh tindakan pengguna.]

[Hadiah: Tambahan umur 3 hari telah didistribusikan.]

[Total sisa umur saat ini: 9 Hari 23 Jam 50 Menit.]

Rahman melihat angka itu bertambah dan menghela napas lega.

Ia merasakan dadanya menjadi jauh lebih ringan dari sebelumnya.

Bukan hanya karena rasa sakit fisiknya yang sudah benar-benar hilang.

Tapi entah kenapa, melihat Rina berlari menggendong anaknya ke klinik membawa senyum harapan...

Ada perasaan hangat yang sangat aneh mengalir di dalam dadanya.

"Perasaan aneh apa ini?"

"Membakar uang dengan sia-sia ternyata rasanya tidak seburuk yang aku bayangkan."

Rahman tersenyum tipis, senyum tulus pertama yang ia buat dalam puluhan tahun terakhir.

Namun sedetik kemudian ia segera sadar.

"Tunggu dulu."

"Kalau aku terus-terusan memberi uang begini, aku bisa jatuh miskin sebelum mati!"

"Sistem sialan, kamu sengaja ingin membuatku bangkrut ya?" teriak Rahman ke udara kosong.

[Sistem hanya mengarahkan pengguna pada kebahagiaan dan umur yang panjang.]

[Silakan bersiap untuk menerima misi selanjutnya besok pagi.]

"Sialan kau!"

Rahman masuk kembali ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras.

Brak!

Malam itu adalah awal dari perubahan besar dalam hidup seorang tuan tanah yang paling pelit.

Ternyata, petualangan sesungguhnya baru saja dimulai di usianya yang keenam puluh delapan.

1
REY ASMODEUS
sistemnya pelit kasih hadiahnya bisa gini thor : 1 . peremajaan kulit
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.

ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...
REY ASMODEUS
lanjutkan........ pilih nomor 2..... 🤣🤣🤣
Nissa Safira: SIAP KAK! Nomor 2 emang paling memuaskan 🤣🤣
Lanjut ya kak, besok Budi bangun lihat gepokan duit di bantal + surat "jangan mabuk lagi atau sewa naik 3x lipat" pasti nangis kejer peluk kaki Rahman.
Makasih kak udah pilih nomor 2! malam ini saya lanjutin lagi misi renovasi kamar mandi gratisnya 🤣🤣😁🙏
total 1 replies
REY ASMODEUS
saya akan lawan,,, hidup rahman💪💪💪💪💪
REY ASMODEUS
siap tuan takur 🤣🤣
Nissa Safira: Siap! Bagus. Karena kamu siap, uang sewa komen naik 100rb ya. Bayar pake love & bintang 5. Jangan lupa setoran! 🤣🤣
total 1 replies
REY ASMODEUS
rasain loe tuan takarrrr🤣🤣🤣🤣
Nissa Safira: Rasain emang kak 😂 50rb aja pelitnya minta ampun, giliran sisa umur 7 hari baru panik. Tungguin kak bakal nangis tuh si rahman 🤣🙏
total 1 replies
Diana Lely
semangat thor
Nissa Safira: Semangat juga buat kakak! 🔥🔥
Makasih banyak kak udah mampir di kos pelitnya Pak Rahman🥰
Doain Rahman biar gak jantungan lagi pas disuruh sedekah🤣🤣
total 1 replies
xebeck D ron
Yoo novel baru
Nissa Safira: Hallo kak 🤣🔥 Iya kak novel baru😂
Selamat datang di kos-kosan dan kontrakan paling pelit se-Indonesia
Kenalin kak, ini Rahman 68 tahun bapak kos paling perhitungan, surga neraka baginya cuma soal uang sewa🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!