Pernikahan Sora dan Rian terancam hampa akibat dinginnya sikap sang suami. Di tengah kesepian yang menghimpit, hadir Aris, sahabat masa kecil Rian yang perhatian dan selalu ada. Sentuhan lembut dan kehangatan Aris perlahan mengikis benteng pertahanan Sora. Sebuah kisah tentang godaan terlarang, dilema kesetiaan, dan gairah yang membakar di balik pintu tertutup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LIMA TAHUN LALU
"Aris... sudah tidak tertolong?"
Suara Sora bergetar hebat. Gagang telepon di genggamannya terasa dingin dan berat. Dunia di sekitarnya seolah mendadak hening, meninggalkan dengung panjang yang menyiksa pendengarannya.
Petugas kepolisian di ujung telepon mengembuskan napas berat sebelum menjawab.
"Benar, Saudari Sora. Kerusuhan pecah di blok keamanan maksimum siang ini. Tersangka Aris terlibat perkelahian hebat dengan beberapa narapidana lain. Pihak rumah sakit menyatakan beliau meninggal dunia pukul empat sore tadi."
Sora menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Air mata yang mendadak menumpuk di pelupuk matanya perlahan menetes membasahi pipi. Ada perasaan yang sangat asing merayap di dadanya—campuran antara rasa lega yang amat sangat karena teror pria itu telah usai, dan rasa duka yang aneh atas kehancuran sosok yang dulu pernah menjadi sahabat terdekat suaminya.
"Apakah... apakah ada pesan terakhir atau barang-barang yang ditinggalkan?" tanyanya dengan suara serak.
"Ada sebuah kotak kayu kecil yang ditinggalkan di dalam selnya sebelum insiden pecah, dengan nama Anda tertera di atasnya. Anda bisa datang ke markas kepolisian esok pagi untuk mengurus administrasi dan mengambil barang tersebut."
"Baik, Pak. Terima kasih kabarnya."
Sora mematikan sambungan telepon. Ia bersandar pada meja kaca galeri, membiarkan tubuhnya meluncur pelan hingga terduduk di atas lantai marmer. Keheningan galeri terasa makin pekat. Aris—pria yang menjadi dalang di balik kehancuran keluarganya, pria yang mengurungnya dalam obsesi gila—kini telah tiada.
Malam harinya, hujan gerimis mengguyur kota. Suasana galeri seni yang sepi makin terasa mencekam. Sora duduk di meja kerjanya, menatap keluar jendela kaca besar yang memantulkan bayangan lampu-lampu jalanan yang basah.
Suara ketukan pelan di pintu kaca membuat Sora tersentak.
Ia mendongak dan melihat Danu berdiri di balik pintu kaca, terbalut jaket hitam yang agak basah oleh air hujan. Pria itu menatap Sora dengan raut wajah yang sangat cemas dan penuh penyesalan.
Sora menghela napas panjang, melangkah pelan membukakan kunci pintu kaca.
"Sora..." panggil Danu dengan suara baritonnya yang serak. "Aku tahu kamu masih marah dan kecewa padaku, tapi... aku mendengar kabar dari kepolisian tentang Aris. Aku cuma mau memastikan kamu baik-baik saja."
Sora menatap mata Danu. Kejujuran dan rasa khawatir yang terpancar di sana tidak bisa dipungkiri. Meski rasa sakit atas kebohongan latar belakang Danu masih tersisa, Sora tahu bahwa di detik-detik teror Aris, Danu adalah satu-satunya orang yang berdiri melindunginya.
"Aku baik-baik saja, Danu," ucap Sora pelan. "Masuklah dulu, di luar dingin."
Danu melangkah masuk dengan ragu, membiarkan pintu kaca tertutup di belakangnya. "Soal Aris... apakah itu benar?"
Sora mengangguk pelan. "Iya. Polisi mengonfirmasi dia meninggal dalam kerusuhan sel isolasi."
Danu mengembuskan napas panjang, sebuah helaan napas lega yang begitu berat. "Akhirnya... akhirnya teror itu benar-benar berakhir untukmu, Sora."
"Tapi rasanya masih belum nyata, Danu," cicit Sora, matanya kembali berkaca-kaca. "Semua penderitaan ini... permainan gila Aris dan Rian... rasanya meninggalkan lubang yang sangat besar di hidupku."
Danu mengikis jarak di antara mereka. Tangan tegapnya terulur ragu, lalu dengan perlahan dan lembut merangkul bahu Sora. Kali ini, Sora tidak menolak. Ia menyandarkan dahinya di dada tegap Danu, membiarkan tangisannya yang tertahan sejak sore meledak bebas.
"Aku minta maaf, Sora..." bisik Danu di balik rambut harum Sora, jemarinya mengusap punggung wanita itu dengan lembut. "Aku minta maaf karena pernah berniat memanfaatkanmu. Demi Tuhan, aku menyesal. Izinkan aku menebus semua itu dengan menjagamu selamanya."
Di dalam kehangatan pelukan Danu, Sora merasakan sedikit rasa damai yang sudah bertahun-tahun tidak ia rasakan.
Keesokan harinya, pukul sepuluh pagi.
Sora tiba di kantor kepolisian. Proses administrasi berjalan lancar, dan seorang penyidik menyerahkan sebuah kotak kayu berukiran rumit—kotak yang sama yang dulu pernah Sora lihat di atas rak buku ruang kerja penthouse milik Aris.
"Ini barang pribadi yang ditinggalkan narapidana Aris sebelum insiden, Mbak Sora," terang petugas. "Kami sudah memeriksa isinya, tidak ada benda berbahaya. Hanya beberapa dokumen dan kaset lama."
Sora menerima kotak kayu itu dengan tangan yang dingin. Ia membawa kotak tersebut ke dalam mobilnya yang terparkir di halaman kantor polisi.
Dengan jantung yang berdegup kencang, Sora membuka tutup kotak kayu berukir itu.
Di dalamnya tergeletak sebuah kunci kecil, sebuah kaset pita rekaman audio, dan selembar surat tertulis tangan di atas kertas tebal.
Sora meraih surat itu dan membacanya perlahan. Tulisan tangan Aris yang tegas terpampang jelas:
Sora, jika kamu membaca surat ini, berarti aku sudah tidak ada lagi di duniamu. Kamu mungkin berpikir bahwa kepergianku adalah akhir dari segalanya. Tapi ingatlah satu hal, sayangku... permainan ini jauh lebih besar dari sekadar aku dan Rian.
Putar kaset rekaman di dalam kotak ini. Dengarkan baik-baik suara pria yang membakar gudang bisnismu lima tahun lalu... pria yang selama ini berpura-pura menjadi pahlawan di sisimu.
Sora membelalakkan matanya. Dadanya mendadak terasa dihantam batu besar.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Sora menyalakan pemutar kaset yang ada di dasbor mobilnya, lalu memasukkan pita kaset dari dalam kotak tersebut.
Klik.
Suara kresek-kresek khas pita kaset lama menggema di dalam mobil, disusul oleh rekaman percakapan dua orang pria yang terjadi lima tahun lalu.
Suara pertama adalah suara Aris: "Kamu yakin rencana pembakaran gudang ini tidak akan meninggalkan jejak, Danu?"
Suara kedua—suara bariton yang sangat dikenalinya, suara pria yang semalam memeluknya dan berjanji menjaganya—terdengar menjawab dengan dingin:
"Tenang saja, Aris. Setelah gudang itu terbakar dan keluarga Sora hancur, ayahku akan mengambil alih saham logistik mereka. Rian yang akan melunasi utangnya, dan Sora akan jatuh ke tangan kita."
Sora menahan napasnya, seluruh darah di tubuhnya serasa membeku seketika. Ponsel di genggamannya tiba-tiba bergetar nyaring.
Nama Danu tertera di layar.
Dengan gemetar dan deru napas yang terengah-engah, Sora menekan tombol terima dan mendekatkan ponsel ke telinganya.
"Sora... kamu di mana? Boleh aku datang ke galerimu sekarang?" suara Danu di ujung telepon terdengar begitu lembut dan penuh perhatian.
Sora mengepalkan tangannya rapat-rapat, air mata dingin menetes membasahi pipinya saat mendengar kebohongan manis pria itu.
"Danu..." bisik Sora dengan suara yang bergetar hebat. "Siapa sebenarnya... yang membakar gudang bisnis ayahku lima tahun lalu?"