Dikhianati oleh pria yang sangat ia cintai demi sebuah tahta, membuat Ningmas Danastri Kartawidjaja benar-benar terluka.
Dibawah aturan keluarga, Raden Dwipa Soeradiningrat, tak bisa berbuat apa-apa demi tahta sebagai pewaris dari Trah Soeradiningrat. Ia bahkan harus kehilangan Ningmas Danastri yang sangat ia cintai.
Namun, takdir justru membawa Ningmas Danastri ke arah yang tak disangka-sangka. Karena keterpurukannya, ia justru tanpa sadar menghabiskan malam dengan pria yang memiliki hubungan dekat dengan mantan kekasihnya.
Selain itu, satu persatu rahasia dua Trah (Trah Soeradiningrat dan Trah Kartawidjaja) yang tak pernah akur pun terbuka. Hal yang menyebabkan dua generasi terakhir selalu bersitegang itu, ternyata karena ada masa lalu yang masih belum selesai.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Ningmas Danastri Kartawidjaja?
Akankah ia jatuh cinta pada orang yang tepat?
Apakah rahasia masa lalu dari dua keluarga yang masih belum tuntas?
Simak terus keseruan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Belajar Bangkit
"Maafkan aku, Astri. Tolong jangan pergi dari sisiku." Pinta Raden Dwipa yang menghalangi jalan Astri.
Namun, dengan tegas Astri menggelengkan kepalanya. Ia tak ingin mempertaruhkan citra keluarganya. Ia tak ingin nama Kartawidjaja tercoreng karena ulahnya.
"Fokuslah pada pernikahanmu, Mas. Tolong jangan cari aku lagi. Kerjasama kita, akan aku serahkan pada Gendis -Asisten Astri. Dia yang akan mengurus pelepasan kerjasama." Putus Astri dengan mantap, meskipun hatinya hancur berkeping-keping.
Trah Kartawidjaja mendidiknya untuk menjadi wanita yang kuat dan tegas. Tak ada perbedaan cara mendidik untuk keturunan laki-laki maupun perempuan. Mereka semua sama dan setara. Mereka sama-sama berhak untuk ikut andil mengurus usaha keluarga.
Mereka pun dibebaskan untuk membangun usaha mereka sendiri. Namun, mereka tetap memiliki tanggung jawab untuk membantu mengelola usaha keluarga yang sudah lama dirintis.
Wanita yang ada di Trah Kartawidjaja, selalu dilibatkan pada setiap permasalahan dan pengambilan keputusan. Suara mereka selalu didengar. Saran mereka pun selalu diterima dan dipertimbangkan dengan baik.
Berbeda dengan Trah Soeradiningrat, dimana disana wanita tak pernah dihitung pendapatnya. Wanita di keluarga itu, selalu berada di belakang laki-laki. Mereka tak memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan.
Mereka, terbelenggu pada aturan yang mengatas namakan adat budaya, dimana wanita hanya perlu menjadi rumah untuk kembali. Mereka hanya perlu menjadi orang yang mendukung di belakang, bukan sebagai partner untuk bekerjasama dan berbagi beban.
Bisnis dan politik bukanlah ranah dari para wanita. Bukan hanya untuk keturunan langsung, para wanita yang masuk di keluarga Soeradiningrat itu hanya akan berakhir di balik pintu rumah dengan segudang peraturan yang mengikat dan harus dipatuhi.
Fokus mereka bukan pada kemajuan dan berbagai perkembangan lainnya. Fokus mereka adalah untuk mencetak pewaris dan mendidik anak-anak agar tunduk pada aturan keluarga.
Wanita Trah Soeradiningrat yang terkenal anggun dan bersahaja, tentu menyimpan banyak luka dan kelelahan mental. Mereka mati-matian berusaha menjaga keluarga agar selalu terlihat harmonis, tanpa orang mengetahui fakta yang sebenarnya.
Sementara itu, para pria enggan ikut campur dengan urusan rumah. Fokus mereka adalah untuk mengembangkan bisnis dan usaha, menjalin relasi luas dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya harta untuk keturunan mereka kelak.
"Ningmas Danastri! Mengapa kamu keras kepala seperti ini?" Tanya Raden Dwipa yang membuat Astri kian emosi.
"Ini bukan keras kepala, Mas! Ini adalah bentuk perjuangan untuk menyelamatkan diriku dari pria pengecut sepertimu. Pria yang tak bisa memperjuangkan apa yang diinginkan. Pria yang selalu tunduk dengan aturan yang menekan tanpa berani mengoreksi aturan yang salah." Jawab Astri. Kata-katanya terdengar sangat tajam. Namun, itulah fakta yang ada.
Raden Dwipa kerap kali stress dengan tuntutan dari Raden Subroto Soeradiningrat yang terkesan tinggi dan muluk. Ia mau putranya itu melampaui keberhasilannya tanpa tau kemampuan dari putranya.
Tanpa Astri, Raden Dwipa itu bukanlah apa-apa. Ia yang selalu menjadi tameng saat pria itu mengalami masalah pada proyeknya. Astri adalah orang yang selalu menyelesaikan permasalahan hingga membuat citra Raden Dwipa begitu sempurna di depan keluarga dan khalayak umum.
Raden Dwipa begitu dielu-elukan karena banyak keberhasilan yang ia capai, tanpa tau jika ada Sosok Astri yang berpeluh hingga berdarah-darah di baliknya.
"Cukup sudah hubungan kita sampai disini. Akan ku kubur semua perasaanku ditempat ini." Kata Astri.
Raden Dwipa masih terus memohon. Ia membujuk agar Astri tak meninggalkannya. Ia masih berusaha meluluhkan Astri dengan segala upaya yang ia bisa.
Namun, Astri bukanlah gadis seperti itu. Ia adalah gadis yang tegas, ia akan melawan jika ia merasa hal itu tak benar. Bagaimanapun bujuk rayu dari Raden Dwipa sore itu, sama sekali tak bisa meleburkan apa yang sudah ia putuskan.
...****************...
Satu minggu yang berat, dijalani oleh Astri. Namun, ia tetap berusaha untuk menjalankan aktifitas seperti biasa, meskipun wajahnya menunjukkan jika ia sedang tidak baik-baik saja.
"Yang sabar ya, Mbak. Mbak Astri berhak mendapatkan pria yang lebih baik dari pada Raden Dwipa." Ujar Gendis. Satu-satunya orang yang mengetahui hubungan asmaranya dengan pewaris Trah Soeradiningrat itu.
Sebagai Asisten, Gendis tentu mengetahui bagaimana sepak terjang Bos yang juga merupakan Kakak sepupunya itu saat menutupi masalah yang ditimbulkan oleh Raden Dwipa.
"Pria tidak punya rasa syukur itu, pasti akan menyesal, Mbak. Mbak Astri tidak perlu khawatir, karma akan selalu membayanginya." Kata Gendis sambil mengusap-usap punggung Astri untuk menenangkan.
"Apa yang aku putuskan sudah benar kan, Ndis?" Tanya Astri.
"Benar, Mbak. Apa yang Mbak Astri lakukan sudah sangat benar. Mbak Astri memang harus melepaskan pengecut yang tak bisa memperjuangkan orang yang ia cintai. Bukan hanya orang yang dicintai, Mbak Astri juga adalah orang yang selama ini selalu menjadi tameng dan penyangga Raden Dwipa. Tanpa Mbak Astri, gak mungkin Raden Dwipa menjadi seperti sekarang ini." Kata Gendis yang terus menyemangati saudara sepupunya.
"Percayalah, Mbak. Akan ada pelangi setelah badai. Mbak Astri adalah wanita yang kuat. Pasti Mbak Astri bisa melewati semua ini. Pasti akan ada pria yang akan mencintai Mbak Astri dengan tulus dan juga akan memperjuangkan Mbak Astri." Imbuh Gendis sambil mengusap jejak air mata di pipi Astri. Hatinya pun turut merasakan sakit saat melihat Astri terpuruk seperti ini.
"Aku akan bereskan penyelesaian kerjasama Perusahaan dengan Perusahaan Raden Dwipa secepatnya. Supaya tak ada alasan untuk Raden Dwipa datang dan mengganggu Mbak Astri lagi." Kata Gendis dengan tekadnya yang bulat.
Tentu saja ini merupakan salah satu bentuk pelajaran untuk Raden Dwipa dan salah satu caranya untuk membalaskan rasa sakit Astri.
"Terima kasih ya, Ndis." Ucap Astri sambil tersenyum tipis.
"Ndis, tolong atur perjalananku ke Jepang. Ada Pameran Seni saat pernikahan Raden Dwipa berlangsung. Aku tidak ingin Ibu dan Bapak memaksaku untuk datang ke pernikahan Raden Dwipa jika aku ada disini." Pinta Astri.
"Baik, Mbak. Aku akan atur perjalanan untuk Mbak Astri. Lagi pula, Mbak Astri pasti butuh suasana yang tenang untuk memulihkan diri." Kata Gendis yang memang sangat pengertian.
"Aku titip Perusahaan saat aku pergi ya, Ndis." Pinta Astri yang memang sangat mempercayai sepupunya itu.
"Iya, Mbak. Mbak Astri tenang saja. Aku akan selalu laporkan perkembangan Perusahaan setiap harinya seperti biasa." Jawab Gendis.
"Maaf, karena merepotkanmu." Kata Astri.
"Jangan seperti itu, Mbak. Mbak Astri sama sekali tidak merepotkan. Yang terpenting, hati Mbak Astri harus segera pulih." Pesan Gendis yang dijawab anggukan oleh Astri.
Astri kemudian memeluk erat Asisten yang juga menjadi saksi perjalanan hidupnya lima tahun terakhir ini. Mulai dari kisah cinta hingga membangun Perusahaan design interior sesuai dengan cita-citanya.
"Mbak Astri harus bahagia, ya. Barang kali Mbak Astri akan menemukan jodoh disana." Goda Gendis yang berusaha mencairkan suasana. Astri pun akhirnya terkekeh karena Gendis yang menggodanya.
🤔🤔
othor kie...🤣😄