"Aku yang menciptakan penderitaanmu... maka aku juga yang akan jadi takdir bahagiamu."
Lili tidak pernah menyangka akan bertransmigrasi ke dalam novel buatannya sendiri—menjadi Lilian, seorang pelayan biasa. Mengerikannya, ia datang saat Damian, sang tokoh utama pria, berada di titik terendah.
Dibuang keluarga, posisinya dijarah, dan tunangannya direbut anak angkat yang licik.
Tahu betul penderitaan ciptaannya, Lilian pasang badan. Berbekal 'pengetahuan masa depan', ia membongkar kejahatan anak angkat itu dan menuntun Damian merebut kembali segalanya.
Namun, saat dendam terbalaskan dan Lilian berniat pergi, Damian justru menguncinya erat.
"Kamu yang mengajarkanku cara bangkit, Lilian. Jangan harap bisa pergi setelah merebut hatiku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.21 —Amarah yang Terpendam
Setelah seluruh rangkaian acara resmi selesai dan para tamu undangan mulai meninggalkan aula gedung VEI, Alexander Sterling melangkah mendekati meja tempat Damian, Lilian, dan Felix berdiri.
Pria muda berwibawa itu mengulurkan tangan, menyambut tangan Damian dengan genggaman mantap. Senyum hangat—yang jarang diperlihatkan Alexander di depan publik—terukir di wajahnya. Tatapannya tertuju pada Damian, yang mengingatkannya pada masa-masa perjuangannya sendiri ketika masih duduk di bangku kuliah.
“Selamat, Tuan Damian. Anda hebat. Bodoh sekali Tuan Arthur membuang Anda demi seseorang yang tidak sebanding dengan Anda,” ujar Alexander tulus.
Damian sedikit terkejut mendengar ucapan spontan dari petinggi VEI tersebut. Tentu saja Alexander mengetahui persoalan itu. Arthur telah mengumumkan secara resmi kepada media bahwa Damian bukan lagi bagian dari keluarga Laurent. Berita tersebut pun menyebar dengan cepat di kalangan pebisnis papan atas.
“Terima kasih, Tuan Alexander. Anda juga hebat. Saya sangat mengagumi Anda,” balas Damian ramah, menyembunyikan keterkejutannya.
Di sisi lain, Lilian benar-benar terpesona oleh penampilan tokoh ciptaannya sendiri. Dari jarak sedekat ini, karisma Alexander Sterling sungguh tidak main-main.
'Gila, ganteng banget ciptaan gue!' batin Lilian kagum.
“Baiklah, kalau begitu saya permisi. Saya akan mengundang Anda berkunjung ke mansion Sterling,” pamit Alexander sambil tersenyum tipis.
“Baik, terima kasih, Tuan,” balas Damian sopan.
Alexander kemudian berlalu setelah menyapa Felix.
Tepat ketika Alexander menjauh, suara mekanis yang sangat familier mendadak terdengar nyaring di dalam kepala Lilian.
[Ting! Selamat, Host! Anda mendapatkan bonus luar biasa karena berhasil menyelesaikan Misi Pertama: ‘Membantu Damian Memenangkan Tender dan Mempermalukan Gavin’ dengan hasil sempurna!]
[Bonus Hadiah Ditambahkan:]
Hadiah Tunai: Rp10.000.000,00, telah ditransfer langsung ke rekening Host.
Poin Sistem: +500 poin.
Item Khusus: Aura Pelindung Keberuntungan (pasif untuk Damian).
Lilian tersentak. Matanya membelalak gembira saat mendengar rentetan notifikasi di benaknya. Ponsel di saku gaunnya mendadak bergetar. Ketika mengintip layar ponselnya diam-diam, sebuah notifikasi perbankan masuk muncul.
[Kredit Masuk: Rp10.000.000,00]
'GILA! Benar-benar masuk sepuluh juta ke rekening gue?! Sistem, kamu memang paling pengertian!' sorak Lilian dalam hati. Rasanya ia ingin melompat-lompat di tempat jika saja dirinya tidak sedang mengenakan gaun.
[Tentu, Host. Selamat bersenang-senang.]
Setelah menyampaikan pesan itu, hologram sistem pun menghilang.
“Lilian? Kenapa kamu melamun?” tanya Damian lembut, menyadarkan Lilian dari percakapannya dengan sistem.
Lilian segera menggeleng sambil tersenyum lebar.
“Tidak apa-apa! Aku hanya senang sekali!” jawabnya bersemangat.
Damian menatap Lilian dan Felix secara bergantian, lalu tersenyum hangat.
“Karena semua acara sudah selesai dan proyek pertama kita berhasil dengan baik, bagaimana kalau kita makan siang? Aku yang akan mentraktir kalian.”
“Wah, benar-benar serius, nih? Bersiaplah melihat dompetmu jebol, Dam! Aku akan memesan menu paling mahal!” seru Lilian penuh semangat.
“Aku ikut! Siap menghabiskan uang Direktur Aetheria Tech!” timpal Felix sambil tertawa renyah.
Damian terkekeh melihat tingkah kedua orang di hadapannya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa beban di pundaknya terangkat, setidaknya untuk hari itu.
*
*
Sementara Damian, Lilian, dan Felix menikmati makan siang mewah di sebuah restoran berbintang, suasana di mansion keluarga Laurent justru berbanding terbalik. Rumah megah itu terasa mencekam, dingin, dan dipenuhi ketegangan.
Pintu utama mansion terbuka dengan kasar. Gavin melangkah masuk dengan wajah pucat dan bahu merosot. Sementara itu, Clara beserta teman-temannya memilih langsung berpamitan karena takut terkena imbas kemarahan Arthur.
Baru saja Gavin melewati ruang tamu, sebuah cangkir keramik melayang dan pecah berkeping-keping tepat di dekat kakinya.
PRANG!
Gavin tersentak kaget. Jantungnya seakan hendak melompat keluar dari dada.
“ANAK TIDAK BERGUNA!”
Suara Arthur yang menggelegar menggema ke seluruh ruangan. Pria paruh baya itu berdiri di tangga dengan mata memerah karena amarah.
“D-Daddy...” cicit Gavin dengan tubuh gemetar. Ia bahkan tidak berani mengangkat wajahnya.
Arthur menuruni tangga dengan langkah lebar. Setiap langkahnya seolah membawa hawa mengancam.
“Kamu tahu betapa besar rasa malu yang kamu berikan kepada keluarga Laurent hari ini?! Seluruh media dan pengusaha papan atas menyaksikan perusahaanku dipermalukan oleh anak buangan seperti Damian!”
“D-Daddy, ini semua salah Damian! Dia yang—”
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Gavin hingga pria itu tersungkur ke lantai.
“Masih berani mencari alasan?!” bentak Arthur murka. Ia menunjuk wajah Gavin dengan jari gemetar. “Aku sudah membaca laporan proyekmu dari Victor! Rancangan itu masih mentah dan dipenuhi kesalahan! Bagaimana bisa kamu menyerahkan proyek seburuk itu kepada VEI?!”
Gavin menyeka sudut bibirnya yang berdarah. Dadanya naik turun, menahan kepanikan yang luar biasa.
Namun, ada satu hal yang sama sekali tidak diketahui Arthur. Seluruh kejayaan dan pencapaian besar Laurent Group selama bertahun-tahun sebenarnya berasal dari kecerdasan Damian.
Selama Damian masih tinggal di rumah itu, Gavin diam-diam mencuri ide, proposal, dan rancangan penelitian milik Damian dari kamar atau laptopnya. Setelah itu, ia mengaku sebagai pencipta semua karya tersebut di hadapan Arthur. Itulah alasan Gavin selalu dipuji sebagai anak jenius.
Namun, setelah Damian diusir dari keluarga Laurent dan seluruh aksesnya diputus, Gavin tidak lagi memiliki ide untuk dicuri. Ketika dipaksa menyusun rancangan sendiri dari awal demi proyek VEI, kemampuan aslinya akhirnya terlihat jelas.
Hasilnya benar-benar mengecewakan.
“Dengar, Gavin,” gertak Arthur dengan nada dingin yang menusuk tulang. “Jika kamu tidak mampu menjatuhkan Aetheria Tech milik Damian dalam waktu dekat, aku tidak akan segan-segan mencabut seluruh fasilitas dan jabatanmu di Laurent Group!”
Arthur berbalik dan pergi begitu saja, meninggalkan Gavin yang masih tergeletak di atas karpet.
Gavin mengepalkan kedua tangannya. Matanya menyala penuh dendam dan iri hati.
“Damian... kamu sudah merebut semua yang seharusnya menjadi milikku! Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang!” geramnya.
Di tempat lain, suasana sebuah restoran mewah di kawasan elite tidak kalah menegangkan.
Eleanor, ibu kandung Damian, sedang berkumpul bersama lingkaran teman sosialitanya. Ia hanya mampu terdiam dengan wajah kaku ketika layar televisi restoran menayangkan kembali acara pengumuman VEI.
Sosok Damian terlihat begitu bersinar dan berkarisma dalam balutan jas hitam yang elegan.
“Jeng El, bagaimana bisa kamu membuang anak kandungmu sendiri? Padahal dia begitu hebat. Kamu malah mempertahankan anak angkat seperti Gavin yang hanya mempermalukan keluarga,” sindir seorang wanita bertubuh gemuk dengan perhiasan mencolok di jemarinya.
“Iya, benar! Kalau diperhatikan, wajah Damian mirip sekali dengan suamimu ketika masih muda, lho, Jeng. Karismanya juga luar biasa. Gagah sekali!” sahut wanita di sebelahnya sambil menopang dagu, tidak melepaskan pandangan dari layar televisi.
“Aduh, benar sekali! Dia juga jenius. Seandainya putriku belum dijodohkan atau masih sekolah, pasti sudah kuusahakan agar dia bisa dekat dengan Damian sejak dulu!” timpal wanita lainnya, disambut tawa riuh para sosialita di meja itu.
Eleanor tidak mampu menjawab. Bibirnya bergetar menahan malu, sementara ia hanya bisa memaksakan senyum tipis yang tampak canggung.
Pujian demi pujian untuk Damian terasa seperti silet yang menggores harga dirinya. Terlebih lagi, teman-temannya mulai membandingkan Damian dengan suaminya dan mengungkit keputusan keluarga Laurent yang telah membuang putra kandung mereka sendiri.
Namun, di balik wajah yang berusaha tetap tenang, amarah dan rasa sakit membakar hati Eleanor.
“Dia... dialah yang menyebabkan putriku koma sampai sekarang, Jeng,” ujar Eleanor tiba-tiba. Suaranya bergetar, tetapi terdengar dingin.
Tangannya meremas tas mewah di pangkuannya hingga permukaan kulitnya berkerut.
Eleanor menatap layar televisi dengan kebencian mendalam.
“Jadi, kalian tidak akan pernah tahu bagaimana tabiat asli anak itu sebenarnya!”
Para sosialita di sekelilingnya langsung terdiam. Mereka saling berpandangan dengan mata membelalak, terkejut mendengar tuduhan Eleanor yang disampaikan dengan begitu dingin.
Suasana meja yang semula dipenuhi tawa pun berubah menjadi keheningan canggung, disusul bisik-bisik penuh tanda tanya.
Sementara itu, Eleanor tetap menatap layar televisi dengan rahang mengeras.
Di matanya, Damian bukanlah putra yang baru saja membuktikan kemampuannya kepada dunia.
Ia adalah anak yang, menurut keyakinannya sendiri, telah menghancurkan kehidupan putrinya.
Bersambung ...
buat apa bertahan demi laki² yang tidak mau menikahi'mu
balik wwooii... balikk...
wow....
kejutan....
ada apa ini Li...
Emak Bapak'mu gak nyariin Kamu Li
tarik nafas lewat mulut...
buang lwt bawah...
bbrrooootttt🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
tapi Kamu jadi kaya raya Li
mengganggu aja
dia kau Gagav
kita double date sm mereka
🤣🤣