Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25: Keluarga almarhumah
Sore hari pukul empat tepat, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam memasuki pelataran rumah. Suara derum halus mesin mobil itu menyerap keheningan rumah.
Kenzo dan Lea yang sejak tadi menunggu di ruang tamu langsung berhamburan keluar rumah tanpa memedulikan ayahnya. Mereka berlari menuruni undakan teras untuk menyambut kedatangan mobil tersebut.
Pintu mobil terbuka. Dari pintu belakang sebelah kiri, turun seorang wanita paruh baya berusia sekitar enam puluh tahun dengan penampilan yang sangat anggun dan elegan.
Ia mengenakan kebaya modern berwarna biru navy dengan selendang sutra yang tersampir rapi, rambut sanggulnya tersusun sempurna, dan matanya memancarkan ketegasan yang berwibawa. Dialah Nenek Farida.
Dari pintu pengemudi, turun seorang pria sepuh dengan kacamata berbingkai emas yang memancarkan aura seorang purnawirawan pejabat, yaitu Kakek Subroto.
Sementara dari pintu samping, muncul seorang wanita muda berusia tiga puluhan dengan pakaian modis dan riasan tebal, dialah Tante Sintia, adik kandung dari almarhumah Ratna.
"Neneeeekk!" jerit Lea histeris, dan langsung melempar tubuhnya ke dalam pelukan Nenek Farida.
Nenek Farida merengkuh cucu perempuannya itu dengan erat, mengusap punggung Lea seraya menatap cemas ke arah rumah. "Lea... Cucu Nenek sayang... Kamu gak apa-apa, Nak?"
Kenzo ikut mendekat, lalu mencium tangan Kakek Subroto dan Nenek Farida dengan penuh takzim. "Kakek... Nenek... Tante Sintia..."
Sintia, adik almarhumah Ratna yang memiliki raut wajah sangat mirip dengan mendiang kakaknya, menatap Kenzo dan Lea dengan pandangan iba sekaligus panas. "Mana adik kalian, Moana?! Kenapa sampai bisa celaka begitu?!"
"Moana di kamar atas, Tante... Masih lemes," bisik Lea dengan raut muka yang dibuat sedih dan memelas.
Yoga melangkah keluar dari teras rumah, diikuti oleh Ayu yang berjalan dengan sangat sopan di belakang suaminya. Wajah Yoga tampak agak tegang namun berusaha menampilkan rasa hormat yang tinggi pada mantan mertuanya itu.
"Papi... Mami... Sintia... Selamat datang. Kenapa tidak mengabari Yoga dulu dari Bandung, jadi Yoga bisa menyambut di tol," sapa Yoga seraya menyalami dan mencium tangan Kakek Subroto dan Nenek Farida.
Kakek Subroto hanya mengangguk dingin tanpa banyak bicara, sementara Nenek Farida menatap Yoga dengan pandangan mata yang sangat tajam dan dipenuhi kekecewaan yang tak tertutupi.
"Gimana Mami mau mengabari, Yoga?" suara Nenek Farida terdengar dingin dan berwibawa. "Kalau Lea tidak telepon Mami sambil menangis-nangis, Mami tidak akan pernah tahu kalau cucu bungsu Mami, darah daging almarhumah Ratna, sampai harus menerima lima jahitan di kepalanya!"
Yoga menghela napas pendek. "Mami, ini musibah dan—"
"Musibah atau kelalaian?!" sela Sintia menajam, lalu melangkah maju dengan mata yang melotot. "Mbak Ratna dulu membesarkan tiga anak ini dengan mandi keringat dan penuh kasih sayang, Mas! Tidak pernah sekalipun anak-anak lecet! Kenapa baru sebentar Mbak Ratna pergi dan kamu nikah lagi, anak-anak jadi tidak terurus begini?!"
Pandangan mata Sintia dan Nenek Farida kini beralih sepenuhnya dan tertuju lurus pada sosok Ayu yang berdiri menunduk di belakang Yoga.
Ayu mengenakan gamis simpel berwarna abu-abu dengan jilbab bergo senada. Tanpa riasan tebal, wajah polosnya tampak pucat dan lelah.
Menyadari dirinya menjadi pusat perhatian seluruh keluarga besar almarhumah, Ayu maju satu langkah, sembari menundukkan badannya dengan sangat sopan dan mengulurkan tangannya untuk menyalami Nenek Farida.
"Selamat sore, Bapak, Ibu, Mbak Sintia... Saya Ayu..." bisik Ayu sangat lembut dan santun.
Namun, Nenek Farida sama sekali tidak menyambut uluran tangan Ayu. Wanita tua itu membiarkan tangan Ayu mengambang di udara, seraya menatap Ayu dari atas ke bawah dengan tatapan menilai yang amat dingin dan meremehkan.
"Oh... Jadi ini wanita yang kamu nikahi, Yoga?" sindir Nenek Farida tanpa tedeng aling-aling, suaranya sarat akan nada rendah yang menghina. "Masih sangat muda. Seumuran anak kuliahan. Pantas saja tidak becus mengurus anak dan rumah tangga."
Tangan Ayu yang mengambang di udara perlahan gemetar. Ia menarik kembali tangannya, dan meremas jemarinya sendiri di balik lipatan kain gamis. Rasa perih dan terhina menghantam dadanya, namun ia tetap berusaha mempertahankan senyum sopannya.
Yoga yang melihat perlakuan itu langsung memasang badan, dan merangkul bahu Ayu dengan protektif. "Mami, tolong jaga bicaramu. Ayu ini istri sah Yoga sekarang. Dan soal Moana, itu murni kecelakaan di tempat wisata, bukan kesalahan Ayu."
Sintia bersedekap dada sambil tertawa sinis. "Luar biasa ya, Mas Yoga. Baru beberapa tahun Mbak Ratna meninggal, Mas Yoga udah pintar pasang badan buat wanita asing ini di depan ibu kandung Mbak Ratna!"
"Sintia! Cukup!" tegur Kakek Subroto dengan suara berat dan berwibawa, hingga memotong perdebatan di halaman. "Kita datang ke sini untuk melihat kondisi Moana, bukan untuk adu mulut di teras rumah. Bawa kita masuk!"
Kenzo dan Lea saling bertukar kerlingan puas. Pertunjukan yang mereka rancang berjalan jauh lebih sempurna dari yang mereka bayangkan.
Kedatangan keluarga ibunya menjadi bukti dan benteng kokoh bagi mereka untuk menegaskan bahwa Ayu tidak akan pernah diakui di dalam rumah tersebut.
Bersambung...