NovelToon NovelToon
DETEKTIF INDRA KE 6

DETEKTIF INDRA KE 6

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Misteri / TKP
Popularitas:928
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Bagi publik dan media, Reno Devano adalah pendiri agensi Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) sekaligus detektif swasta paling jenius yang selalu bisa membongkar kasus pembunuhan paling mustahil. Namun, di balik deduksinya yang tajam, Reno menyimpan satu rahasia besar: ia memiliki indra ke-6. Melalui sentuhan pada barang bukti di tempat kejadian perkara, ia mampu melihat kilas balik detik-detik sebelum korban meregang nyawa.

Ketika sebuah kasus pembunuhan pengusaha besar ditutup oleh polisi dengan dugaan pelaku tunggal, Reno yang menyentuh kancing kemeja korban di TKP mendapati penglihatan mengerikan korban sebenarnya dieksekusi secara terencana oleh dua orang pelaku.

Karena paham bahwa "penglihatan gaib" tidak akan pernah diterima di meja hijau, Reno harus menyembunyikan kemampuannya dari tim forensik dan tim hukumnya sendiri yang terbiasa berpikir logis. Reno bertarung dengan waktu: menggunakan penglihatannya untuk 'memandu' dokter forensik dan ahli siber menemukan bukti fis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: BAYANG-BAYANG DI ATAS DRAF TERAKHIR

BAB 14: BAYANG-BAYANG DI ATAS DRAF TERAKHIR

Suasana di dalam ruang rapat utama VPCI terasa begitu tenang, berbeda jauh dengan keriuhan dan kabut membeku yang menyelimuti lantai bawah tanah beberapa jam lalu. Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui dinding kaca transparan, membiaskan pendar hangat di atas meja kayu mahogany.

Di tengah meja, buku catatan bersampul kulit hitam milik almarhum Paman Aris tergeletak bersisian dengan sampel racun sintesis yang telah disegel rapat di dalam wadah akrilik transparan.

Widya Kusuma merapikan tumpukan berkas hukum di hadapannya, lalu menekan tombol penutup pada laptopnya.

"Tim penyidik khusus Mabes Polri baru saja mengonfirmasi bahwa seluruh bukti yang kita amankan dari ruang arsip bawah tanah sudah memenuhi syarat mutlak. dr. Vivian Kusuma resmi ditahan atas dakwaan pembunuhan berencana terhadap Aris Devano, sabotase medis dua belas tahun lalu, serta upaya pembunuhan massal menggunakan senyawa racun saraf terlarang."

Dion yang duduk di sebelah Widya menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi, mengembuskan napas lega yang sangat panjang.

"Gue akhirnya bisa bernapas lega. Seluruh sistem siber VPCI udah gue bersihkan dari program penyusup ciptaan Vivian. Nggak ada lagi back door, nggak ada lagi rahasia yang tersimpan di server tua."

Bara yang berdiri dekat jendela mengangguk pelan, menyilangkan tangannya di dada.

"Satu hal yang pasti, nama almarhumah dr. Eleanor Maheswari dan orang tua Reno resmi dibersihkan dari semua tuduhan keterlibatan Proyek Hitam dua belas tahun lalu. Publik dan media massa sekarang tahu bahwa mereka adalah pihak yang berusaha menghentikan racun itu diproduksi."

Namun, di tengah atmosfer lega yang menyelimuti timnya, Reno Devano hanya berdiri membisu di tepi jendela. Bahu kirinya yang terbalut perban medis tebal di balik kemeja hitamnya masih terasa agak kaku. Matanya menatap lurus ke arah lanskap kota Jakarta yang mulai sibuk oleh lalu lintas pagi.

Di sampingnya, dr. Sara Maheswari berdiri dengan jas laboratoriumnya yang bersih. Sang dokter forensik menatap profil samping wajah Reno, menangkap bayangan keraguan yang masih tersisa di balik mata tajam sang detektif.

"Kasusnya sudah selesai, Reno," bisik dr. Sara pelan, cukup hanya untuk didengar oleh mereka berdua.

"Semua orang yang bertanggung jawab dari Frans sang Eksekutor, Bramantyo, hingga dr. Vivian sudah berada di balik jeruji besi. Kenapa raut wajahmu masih setegang ini?"

Reno tidak langsung menjawab. Ia menarik tangan kanannya dari saku celana, memandangi jemari bertelanjangnya yang selama ini menjadi jembatan antara dirinya dan trauma masa lalu para korban.

"Rantai kejahatan dua belas tahun lalu memang sudah terputus, Sara," kata Reno dengan suara rendah dan dalam.

"Tapi rasa sakit yang ditinggalkan oleh setiap sentuhan kilas balik itu... gema kematian para korban itu tidak pernah benar-benar pergi dari kepalaku."

dr. Sara menatap telapak tangan Reno. Ia melangkah satu tindak lebih dekat, lalu tanpa ragu sedikit pun, sang dokter forensik mengulurkan tangannya dan merapatkan jemarinya di atas telapak tangan Reno.

Sebuah sentuhan hangat dari manusia yang masih hidup, hangat dan murni berbeda jauh dengan sensasi dingin dan membeku yang biasa diserap Reno dari benda-benda mati di meja otopsi.

Reno tertegun, menoleh menatap dr. Sara.

"Penglihatanmu mungkin membawa ingatan tentang bagaimana mereka mati, Reno," ujar dr. Sara dengan tatapan mata yang begitu jernih dan penuh keyakinan.

"Tapi caramu menggunakan kemampuan itu bersama tim ini adalah alasan mengapa orang-orang yang tersisa bisa melanjutkan hidup. Kamu tidak lagi sendirian memikul beban gema kematian itu. Ada saya, Widya, Dion, dan Bara. Kita adalah VPCI."

Reno menatap jemari dr. Sara yang saling bertaut dengan jemarinya, mengukir senyum tipis—sebuah senyuman yang sangat tulus dan hangat, sesuatu yang sangat jarang terlihat sejak pertama kali agensi ini didirikan.

"Terima kasih, Sara," bisik Reno pelan.

Dua jam kemudian, hening kembali menguasai kantor VPCI. Dion dan Bara sudah pamit untuk beristirahat di ruang pemulihan, sementara Widya sibuk mengurus sisa administrasi pelaporan di kejaksaan.

Reno melangkah masuk ke dalam ruang kerja pribadinya yang sepi. Pria itu berjalan mendekati meja kerjanya, menarik kursi kayu, lalu duduk di sana. Di atas meja kerja yang bersih, tergeletak sebuah draf manuskrip berkas kasus tebal bertuliskan judul utama: Penglihatan di Meja Otopsi.

Reno membuka halaman pertama draf tersebut. Halaman demi halaman menampilkan catatan rinci perjalanan investigasi mereka mulai dari kasus pembunuhan Hartawan di meja otopsi, penyingkapan konspirasi dua bayangan eksekutor, rentetan teror pesan cat merah di tepi Danau Bina Jaya, pertarungan maut di reruntuhan Pabrik Sentosa, hingga pengungkapan musuh dalam selimut di ruang arsip bawah tanah dua.

Jemari Reno meraba pinggiran kertas draf tersebut. Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun dari kecelakaan dua belas tahun lalu, ia tidak merasakan sensasi dingin atau pusing yang menyiksa saat menyentuh kertas-kertas tersebut. Yang tersisa hanyalah rasa lega dan kedamaian yang membaja.

Ia mengambil sebuah pulpen hitam bernuansa klasik dari dalam laci. Dengan tangan yang kokoh dan tanpa ragu, Reno menggoreskan kalimat penutup di halaman terakhir draf manuskrip tersebut:

"Kebenaran tidak pernah terkubur di bawah dinginnya meja otopsi. Selama masih ada orang-orang yang berani menatap kegelapan demi membawa secercah cahaya hukum, keadilan akan selalu menemukan jalannya sendiri baik melalui pendaran ilmu pengetahuan, maupun melalui penglihatan dari luka masa lalu."

Reno menutup draf manuskrip tebal itu dengan rapat, menyandarkan tubuhnya ke kursi kerja, dan membiarkan sinar matahari pagi yang hangat menerpa wajahnya.

Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar di pintu kaca ruang kerjanya.

Klek.

dr. Sara melangkah masuk sambil membawa dua cangkir kopi hangat yang aroma harumnya langsung memenuhi ruangan. Ia meletakkan salah satu cangkir di atas meja kerja Reno, tepat di samping draf manuskrip yang baru saja diselesaikan.

"Kopi hitam tanpa gula, persis seperti yang kamu suka," ujar dr. Sara tersenyum.

"Terima kasih, Dokter," jawab Reno seraya meraih cangkir kopi tersebut.

dr. Sara melirik draf manuskrip yang sudah terikat rapi di meja. "Sudah selesai?"

"Sudah," sahut Reno pelan, menatap draf itu dengan pandangan puas. "Bab terakhir kasus pendirian VPCI resmi kita tutup hari ini."

dr. Sara menyandarkan tubuhnya di tepi meja kerja Reno, menghirup uap kopinya perlahan. "Lalu, apa rencana detektif utama VPCI setelah ini? Liburan panjang?"

Reno terkekeh pelan, menggelengkan kepalanya. Ia berdiri di samping dr. Sara, memandangi pintu depan kantor VPCI yang baru saja memancarkan lampu hijau tanda bahwa sistem operasional penerimaan kasus baru telah kembali aktif secara penuh.

"Dunia di luar sana masih penuh dengan teka-teki yang belum terpecahkan, Sara," kata Reno penuh keyakinan.

"Dan selama masih ada korban pembunuhan yang membutuhkan suara untuk memperjuangkan kebenarannya, meja otopsi VPCI akan selalu terbuka."

dr. Sara menoleh, mengangkat cangkir kopinya ke udara, menatap mitranya dengan binar mata yang penuh rasa percaya. "Untuk keadilan, dan untuk setiap kebenaran yang terungkap."

Reno menyentuhkan cangkir kopinya ke cangkir dr. Sara dengan denting halus yang nyaring. "Untuk kebenaran."

Di bawah pendar matahari pagi yang kian terang benderang menyinari Jakarta, perjalanan Reno Devano dan dr. Sara Maheswari bersama tim VPCI telah melewati badai terbesarnya.

Sebuah babak baru yang lebih cerah kini telah membentang di hadapan mereka siap menghadapi setiap misteri, teka-teki, dan kasus pembunuhan berikutnya dengan perpaduan sempurna antara kepresisian sains medis dan ketajaman indra ke-6 sang detektif.

1
Sativa Kyu
👍👍👍
Windi Triana
Ceritanya bagus, aku pikir karena judulnya ada tulisan 'indera keenam' pasti ada makhluk astral nya, tapi ternyata tidak ada. Gak tahu nanti bab selanjutnya, apakah ada atau tidak, belum sampai kesana bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!