"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."
Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.
"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."
Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.
Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Surat dari Masa Lalu
"Jangan sentuh itu."
Dyah Ayu menangkap pergelangan tangan Hayam Vira tepat sebelum jemarinya mencapai batang anak panah. Kulit di bawah genggamannya panas. Terlalu panas, bahkan untuk lelaki yang baru menghabiskan tiga kendi tuak siwalan.
"Ujungnya basah," ucapnya. "Gusti baru saja menyedot racun yang sama dari bahu Gusti sendiri tujuh hari lalu. Gusti mau mencobanya lagi lewat tangan yang terluka?"
Raja itu menatap telapak tangannya. Bekas cetakan rantai emas masih merah keunguan di sana. Di salah satu sambungan, kulitnya terkelupas.
Ia menarik tangannya. Lalu berbalik ke arah jendela, Kyai Naga Sasra masih terhunus.
"Siapa pun dia, ia masih di luar sana."
"Dan Gusti sendiri yang mengusir keenam penjaga ke gerbang Keputren." Dyah Ayu menahan lengannya. "Gusti mabuk, bahu Gusti berdarah, dan di luar sana gelap seperti dasar sumur. Itu yang ia inginkan. Itu sebabnya ia menembak sekarang."
Hayam Vira tidak menjawab. Tetapi ia tidak melangkah.
***
Darah segar merembes dari balutan di bahu kirinya.
Dyah Ayu melihatnya ketika Raja itu berbalik. Noda merah gelap menyebar di kain putih, lebar, lebih lebar dari kemarin. Ciuman di dinding dan cengkeraman di keris tadi telah membuka kembali jahitan tabib.
Ia menuntun Raja itu ke ranjang. Hayam Vira melawan, sekali. Lalu kakinya goyah, dan ia jatuh terduduk di tepi kasur dengan napas yang mendadak berat.
"Kepalaku," gumamnya, menekan pelipis dengan pangkal telapak tangan.
"Tuak siwalan dan sisa racun Seta tidak berteman baik, Gusti."
Ia membuka balutan itu. Luka di bawahnya bengkak, tepinya merah meradang, dan bau yang naik darinya membuat Dyah Ayu mengernyit. Bukan bau busuk. Belum. Tetapi bau yang menjanjikan busuk dalam tiga atau empat hari lagi jika tidak ditangani.
Ia membersihkannya dengan air dari kendi bunga. Menekan gumpalan kain bersih ke atasnya. Membalutnya kembali, lebih ketat.
Ketika ia selesai, Hayam Vira sudah berbaring miring. Matanya setengah terpejam. Keris berluk tiga belas tergeletak di sampingnya di atas kasur, telanjang, bilahnya memantulkan pelita yang sekecil biji jagung.
"Suratnya," gumamnya.
"Besok pagi. Dengan sarung tangan kulit dan tabib di samping Gusti."
Tangan Raja itu meraih pinggangnya. Menariknya turun ke kasur, ke samping tubuhnya yang panas. Lengannya mengunci, berat seperti batang kayu.
"Jangan pergi," ucapnya, nyaris tak terdengar.
Lalu napasnya memanjang. Dalam. Teratur.
Ia tertidur.
***
Dyah Ayu tidak bergerak untuk waktu yang lama.
Ia berbaring di dalam lingkaran lengan Raja, punggungnya menempel di dada yang naik-turun perlahan. Setiap embusan napas Hayam Vira menyentuh tengkuknya. Hangat. Berbau tuak yang mulai basi.
Di tiang kayu sejengkal dari kepalanya, anak panah itu tidak lagi bergetar.
Ia menghitung napas Raja itu. Dua puluh. Lima puluh. Seratus. Sampai jeda di antara setiap tarikan menjadi panjang dan tidak berubah, dan otot di lengan yang mengunci pinggangnya mulai mengendur.
Lalu ia mulai bergeser.
Sejari demi sejari. Ia mengangkat lengan berat itu dengan kedua tangan, perlahan, menahan napasnya sendiri. Kulit Raja itu lembap oleh keringat demam. Ketika lengan itu terangkat sepenuhnya, Hayam Vira bergumam sesuatu yang tidak jelas dan menggeser kepalanya di bantal.
Dyah Ayu membeku.
Napas itu kembali teratur.
Ia menurunkan lengan itu ke atas kasur, ke tempat yang baru saja ia tinggalkan, dan menyelinap keluar dari ranjang.
***
Lantai papan jati masih licin oleh minyak cendana. Telapak kakinya menempel dan terlepas dengan bunyi kecil di setiap langkah.
Ia memungut selendang perak dari genangan minyak. Kain itu berat dan berbau kayu wangi, lambang matahari emas di ujungnya sudah berubah gelap. Ia melilitkannya tiga lapis di tangan kanannya.
Lalu ia berdiri di depan tiang ranjang.
Anak panah itu tertanam sedalam satu ruas jari di dalam kayu jati. Ujung hitamnya mengilap. Bau pahit getah itu samar-samar tercium, bercampur dengan wangi cendana.
Ia menggenggam batangnya dengan tangan yang terbalut sutra. Tangannya bergetar sedikit. Ia memaksanya diam.
Satu tarikan. Kayu jati tidak mau melepaskannya.
Ia menggoyangnya ke kiri dan kanan, sangat perlahan, merasakan duri-duri balik itu mengoyak serat kayu di dalam tiang. Bunyinya seperti ranting yang diremas. Di ranjang, Hayam Vira bergerak lagi.
Dyah Ayu menunggu. Lalu menarik sekali lagi, sekuat tenaga.
Anak panah itu terlepas. Bersamanya, ikut tercabut serpihan kayu jati yang masih tersangkut di duri-durinya.
Ia membungkus ujung beracun itu dengan selendang, rapat-rapat. Lalu ia melepaskan simpul tali ijuk di pangkal batang. Gulungan lontar kecil itu jatuh ke telapak tangannya. Ringan. Hampir tidak ada beratnya.
***
Ia membawanya ke pelita di atas meja.
Ia menambahkan sedikit minyak dari kendi kecil. Lidah api itu tumbuh, dari sebesar biji jagung menjadi sebesar ibu jari, dan cahaya kuningnya menyebar ke dinding kapur, ke pecahan guci di lantai, ke punggung Raja yang tertidur.
Gulungan lontar itu disegel dengan setetes lilin cokelat. Cap di atasnya kecil dan kasar, dibuat dari cincin. Kepala kerbau bertanduk melengkung.
Lambang keluarga Ki Patih Rangga Wesi. Ia pernah melihatnya ratusan kali, tercetak di atas setiap surat yang dikirim dari Kepatihan ke balai ayahnya.
Ia mematahkan segel itu dengan kuku ibu jarinya. Lilin itu retak dan jatuh ke meja dalam dua keping.
Lontar itu terbuka. Seratnya sedikit bergelombang di bawah jemarinya, seperti pernah basah lalu kering kembali. Tulisan di atasnya ditulis dengan tinta jelaga, rapi dan miring ke kanan. Ia mengenali setiap lengkungannya. Tangan yang sama yang dulu menulis namanya di pasir tepi Kali Gending.
Di sudut kiri atas, tergambar sehelai daun kecil. Daun jambu.
***
Ayu,
Maafkan caraku. Mata panah ini kukembalikan padamu karena aku ingin ia melihatnya. Ingin ia tahu betapa mudahnya racun itu mencapai bantalmu, bahkan saat ia tidur di sampingmu. Tembok keraton ini tidak bisa melindungimu. Dan ia juga tidak.
Racun ini dibeli oleh orang-orang Rakryan Wiradipa dari pemburu gajah di Blambangan. Aku menyimpannya karena aku tahu Raja akan menggunakannya untuk membersihkan Keputren, lalu menuduh orang-orang Watugaluh sebagai alat mereka. Begitulah cara mereka bermain.
Dyah Ayu membalik lontar itu.
Di sisi sebaliknya, ada gambar. Garis-garis jelaga yang tipis dan teliti. Sebuah denah.
Ia mengenali bentuknya. Paviliun Srigading. Halaman belakang. Rumpun alang-alang. Dan sebuah lingkaran kecil di tengahnya.
Sumur.
Dari lingkaran itu, sebuah garis putus-putus menurun, berbelok ke barat, melewati bawah gudang pusaka tua, melewati bawah tembok luar Keputren. Garis itu terus berlanjut, berkelok mengikuti sesuatu yang digambar seperti aliran air, sampai berakhir di sebuah tanda silang di tepi sungai.
Kali Gending.
Sumur di belakang paviliunmu bukan sumur. Dinding batunya kering setinggi dua orang di bawah bibirnya. Di bawahnya ada saluran air lama dari zaman Prabu pertama, yang terhubung dengan saluran di bawah Taman Larangan. Aku sendiri yang memaku tutupnya dua bulan lalu, agar tidak ada yang menemukannya sebelum aku membutuhkannya.
Selir terakhir yang dibuang ke Srigading tidak tenggelam, Ayu. Ia mencoba lari lewat jalan ini, dan seseorang menunggunya di bawah.
Aku sudah memastikan tidak ada lagi yang menunggu di sana.
Jemarinya mencengkeram tepi lontar. Serat-seratnya berderak.
Malam Festival Purnama Kadasa, saat seluruh keraton berkumpul di alun-alun untuk melihat arak-arakan, buka tutup sumur itu. Talinya sudah kuganti. Turunlah. Aku akan menunggumu di ujung saluran dengan dua kuda.
Arya akan bersamaku. Orang-orangku sudah berada di Balai Wiyata sejak minggu lalu. Kau tidak perlu memilih antara adikmu dan kebebasanmu.
Sisa prajurit ayahmu sudah berkumpul di lereng Raung. Ada tanah di sana, di sebelah timur, yang tidak pernah dijangkau panji Kagendra. Kita bisa membangun Watugaluh kembali. Rumah dengan jendela menghadap gunung, seperti yang kau minta.
Satu baris terakhir, ditulis lebih kecil dari yang lain, seperti ditambahkan setelah tinta hampir habis.
Purnama Kadasa adalah malam terakhir aku bisa menjamin keselamatanmu di dalam tembok ini. Setelah malam itu, aku tidak bisa menjanjikan apa pun. Untukmu. Atau untuknya.
***
Dyah Ayu membaca surat itu sekali lagi. Lalu sekali lagi.
Tulisan miring ke kanan itu tidak berubah. Daun jambu kecil di sudut kiri atas tidak berubah. Kalimat terakhir itu tidak berubah.
Untukmu. Atau untuknya.
Ia mengangkat matanya dari lontar. Ke ranjang.
Hayam Vira tidur telentang sekarang. Wajahnya menghadap ke langit-langit, tersinari cahaya pelita yang kini cukup terang untuk memperlihatkan segalanya. Rambutnya yang hitam tergerai di bantal, beberapa helai menempel di dahi yang basah oleh keringat. Bahunya yang terbalut naik-turun perlahan.
Rahang yang biasanya terkunci kini sedikit terbuka. Garis-garis keras di antara alisnya, yang muncul setiap kali ia memberi perintah, menghilang. Bulu matanya ternyata panjang. Ia tidak pernah memperhatikannya sebelumnya, karena mata di baliknya selalu terlalu tajam untuk ditatap lama.
Di tidurnya, ia terlihat lebih muda. Mungkin seperti seorang anak lelaki berusia delapan tahun yang menggenggam rantai emas ibunya di halaman Keputren, menyaksikan seorang abdi tua dipukul dengan gada sampai punggungnya patah.
Lelaki yang membakar Watugaluh.
Lelaki yang melompat dari kuda di depan panah beracun.
Dyah Ayu menunduk ke lontar di tangannya. Ke gambar sumur. Ke garis putus-putus yang berakhir di tepi Kali Gending, di tempat yang sama di mana seorang pemuda pernah menulis namanya di pasir dan berjanji akan membangunkannya rumah menghadap gunung.
Rumah itu terbakar. Pemuda itu tenggelam. Lalu kembali, dengan nama orang mati dan mata panah beracun di sabuknya.
Ia memegang lontar itu di atas lidah api pelita. Sejari di atasnya. Panasnya menyentuh serat-serat lontar, dan ujungnya mulai melengkung sedikit, menghitam di tepinya.
Ia tidak menurunkannya. Ia juga tidak menariknya kembali.
Di ranjang, Hayam Vira bergerak dalam tidurnya. Tangannya yang tidak terluka bergeser di atas kasur, meraba-raba ke samping. Ke tempat yang tadi diisi tubuh Dyah Ayu.
Jemari itu hanya menemukan seprai yang mulai dingin.
Lalu menggenggamnya. Erat. Sampai kain sutra itu kusut di dalam kepalannya, dan buku-buku jarinya memutih di bawah cahaya pelita.
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..