💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍
Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.
Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.
Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.
Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Keheningan yang menyambut SUV hitam Alana di lantai B2 sama sekali tidak terasa wajar. Bukan hening yang tenang, melainkan kesunyian pekat yang membuat bulu kuduk berdiri. Udara dingin khas basemen berpadu dengan dengung pelan mesin mobil, namun insting tempur Alana mendadak berteriak memperingatkan.
Kakinya menekan pedal rem perlahan, memindai deretan mobil yang terparkir.
Terlalu sepi. Bahkan untuk ukuran Sabtu siang.
Di kursi belakang, Kael mengetuk layar tabletnya dengan ritme cepat. Kening di balik kacamata bulat itu berkerut tajam.
"Bunda," bisiknya, suaranya tenang namun sarat akan ketegangan.
"Kamera CCTV di zona B2 looping. Layarnya mengulang rekaman tiga menit yang lalu. Ada yang memotong akses sistem gedung."
"Kai, pasang sabuk pengamanmu sekarang!" perintah Alana mutlak.
Tangan kanannya dengan sigap merogoh kompartemen rahasia di bawah jok kemudi, menarik dua pucuk Glock-19 yang sudah terisi penuh.
Tepat saat terdengar bunyi klik dari sabuk pengaman Kai, decit ban yang memekakkan telinga meledak dari dua arah berlawanan. Dua van hitam tanpa pelat nomor melesat brutal dari balik pilar beton, mengurung SUV Alana dari depan dan belakang.
Pintu van digeser kasar, belasan pria berjaket tebal yang langsung mengangkat moncong senapan laras panjang.
Tidak ada negosiasi. Tidak ada basa-basi.
"Tunduk!" teriak Alana.
Ia membanting setir ke kanan dan menginjak pedal gas dalam-dalam. SUV itu meraung, menabrak moncong salah satu van dengan hantaman keras yang membuat tubuh mereka terpental ke depan dan alarm mobil di sekeliling menjerit bersahutan.
Hantaman itu memberikan Alana sudut perlindungan dari hujan peluru yang mulai merobek badan kendaraannya. Kaca antipeluru SUV itu retak seribu di berbagai sisi, menahan laju timah panas kaliber besar yang nyaris menembus masuk.
"Kael, matikan total sakelar utama blok ini! Kai, granat suar!" seru Alana sambil menendang pintu kemudinya hingga terbuka.
Kael mengetikkan baris perintah terakhirnya di tablet tanpa gemetar.
"Tiga... dua... satu!"
Seluruh lampu di ruang parkir B2 padam total. Kegelapan pekat menelan area tersebut, disusul oleh desis nyaring dari granat suar mini yang dilemparkan Kai melalui celah jendela.
Cahaya putih menyilaukan meledak di tengah barisan penyerang, membutakan pandangan mereka secara instan..
Alana meluncur keluar dari mobil, berguling merendah menghindari tembakan membabi buta.
Dor!
Dor!
Dor!
Tiga tembakan presisi bersarang di dada dan leher tiga pria bersenjata terdepan.
Alana bergerak lincah dari pilar ke pilar, memanfaatkan setiap sudut gelap untuk membalas tembakan.
Namun, jumlah musuh terlalu banyak. Delapan orang yang tersisa mulai menyesuaikan diri dengan situasi. Mereka memusatkan tembakan penekan ke arah pilar tempat Alana berlindung. Pecahan beton dan debu berterbangan, menggores pelipis serta merobek lengan kemeja sutranya.
"Bunda, mereka memutar dari sayap kiri!" suara Kael terdengar melalui earpiece di telinga Alana.
Alana menggertakkan gigi. Ruang geraknya terkunci. Jika ia tidak memecah formasi mereka sekarang, musuh akan menyadari bahwa si kembar masih berada di dalam mobil yang ringsek. Ia baru saja mengeluarkan magazin kosong dan bersiap melakukan manuver nekat, ketika suara gemuruh logam beradu merobek udara.
Pintu besi lift kargo VIP yang berjarak sepuluh meter dari posisi musuh ditendang hingga jebol dari luar.
Elvano melangkah keluar dari kegelapan lorong lift. Pria itu tidak berteriak atau memberi ancaman. Dengan senapan serbu taktis di tangannya, diikuti Jace dan selusin pasukan elit Adhitama yang mengenakan night-vision goggles, Elvano langsung menarik pelatuk.
Tat-tat-tat-tat!
Keganasan yang dipertontonkan sang bos mafia membuat napas Alana tertahan. Elvano tidak menembak secara acak. Tembakannya sangat terukur, menembus titik vital para penyerang dengan akurasi mematikan.
Dalam waktu kurang dari dua puluh detik, sisa pasukan musuh rata dengan tanah, terkapar tak bernyawa di atas aspal basemen.
Keheningan yang memekakkan telinga kembali turun, hanya menyisakan bau anyir darah dan pekatnya asap mesiu.
"Kael, nyalakan lampunya," suara bariton Elvano menggelegar memecah kesunyian.
Lampu neon basemen berkedip hidup. Di tengah kepulan asap tipis, Elvano menurunkan senapannya.
Jas hitam pria itu sedikit berantakan, rahangnya terkatup rapat hingga urat lehernya menonjol. Mata elangnya berkilat liar menyapu kekacauan di sekeliling, langsung mengabaikan mayat-mayat itu saat tatapannya menemukan sosok Alana.
Wanita itu berdiri tegak dari balik pilar beton yang hancur. Kemejanya sobek, pelipisnya meneteskan darah segar, namun kacamata tipisnya masih bertengger angkuh, dan kedua senjata di tangannya tidak turun seinci pun.
Rasa lega yang luar biasa besar menghantam dada Elvano, seketika disusul oleh murka yang mendidih saat matanya menangkap noda darah di wajah wanita itu. Ia melempar senapannya ke arah Jace tanpa menoleh, lalu melangkah lebar memangkas jarak.
"Belanjaanmu aman, Nona Hacker?" desis Elvano. Suaranya serak, mencoba menutupi kepanikannya dengan sarkasme yang menusuk.
Ia berhenti tepat di hadapan Alana, ujung sepatu kulitnya nyaris bersentuhan dengan sepatu wanita itu.
Alana mendengus pelan, menatap lurus menantang kilat kemarahan di mata Elvano.
"Aku selalu memastikan sereal keponakanku tidak hancur. Sayangnya, pertunjukan pahlawanmu sedikit terlambat."
"Kau meretas rekeningku, mempermalukan agenku, lalu dengan ceroboh menyisakan celah IP hingga tikus-tikus ini bisa melacakmu kemari." Elvano memiringkan kepala, menatap luka gores di pelipis Alana.
"Kau jenius, Alana. Tapi arogansimu pagi ini baru saja membakar tempat persembunyianmu sendiri."
Sebelum Alana sempat membalas, pintu belakang SUV yang ringsek terbuka paksa. Kael dan Kai melompat turun sambil membersihkan serpihan kaca dari piyama mereka. Ekspresi kedua balita itu masih setenang air kolam, sebuah pemandangan yang menyayat hati mengingat mereka baru saja berada di tengah zona perang.
"Paman El," sapa Kai santai, memutar belati polimernya dengan jari-jari mungil.
"Tembakan tadi lumayan rapi. Jauh lebih mending daripada orang-orang suruhanmu yang pura-pura beli roti di swalayan."
Jace yang berdiri mengamankan area di belakang Elvano tampak berdeham pelan, memalingkan wajahnya yang mendadak terasa panas.
Elvano menunduk, sudut bibirnya berkedut menahan senyum kebanggaan melihat ketangguhan darah daging sahabatnya itu. lalu kembali menatap Alana. Kali ini, aura dominasinya menyebar, tidak memberikan ruang sekecil apa pun untuk negosiasi.
"Kemas barang-barang penting kalian dalam sepuluh menit. Jace yang akan membersihkan mayat-mayat ini," putus Elvano mutlak.
Alana menyipitkan matanya tajam.
"Aku bisa mencari unit baru malam ini juga. Jangan pikir kau bisa—"
"Apartemen ini sudah ditandai. Setiap kali kau menyalakan peladenmu, mereka akan tahu. Tempat ini sudah tidak aman untuk si kembar."
Elvano memotong cepat. Ia memajukan wajahnya hingga embusan napasnya menerpa wajah Alana.
"Mulai detik ini, kau dan si kembar pindah ke Mansion Adhitama. Ini bukan permintaan, Alana. Ini perintah perlindungan."
Alana menggertakkan gigi. Pria itu benar. Egonya memang meronta, namun keselamatan Kael dan Kai adalah prioritas mutlak. Menyembunyikan si kembar sendirian setelah identitas penthouse ini terbongkar sama saja dengan mengantar nyawa.
"Baik," desis Alana akhirnya, suaranya sedingin es.
"Tapi ingat satu hal, Tuan Adhitama. Jika aku tinggal di sangkarmu, bersiaplah melihat seluruh sistem keamanan mansionmu kuretas habis-habisan setiap pagi sebelum kau sempat menghabiskan kopimu."
Seringai mematikan kembali mengukir wajah tampan Elvano. Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat, membalas tatapan membunuh itu dengan sorot mata predator yang membuat jantung Alana berdesir tanpa aba-aba.
"Aku menantikannya, Sayang. Mari kita lihat, siapa yang akan menguasai siapa di wilayahku."
Bersambung...