Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.
Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.
Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33. Janji Di Bawah Pohon Pinus
Tempat tinggal yang diberikan kepada Wang Laoyin berada di sisi timur Kuil Qingyun, tidak jauh dari taman tanaman obat. Bangunannya kecil, terbuat dari kayu dan batu, dengan satu ruangan utama, sebuah ranjang sederhana, meja rendah, dan lemari kecil untuk menyimpan pakaian.
Jendela kayunya menghadap ke lembah.
Dari sana, ia dapat melihat kabut yang perlahan bergerak di antara pohon pinus, serta aliran sungai yang berkilau ketika matahari menembus awan.
Tidak ada tirai sutra atau tempat tidur berlapis bulu angsa dan pelayan yang berdiri menunggu perintah.
Hanya sebuah ruangan sederhana yang cukup untuk menampung satu orang dan kenangan yang dibawanya.
Seorang biksuni muda mengantarkan pakaian kelabu serta semangkuk sup hangat.
“Guru Jingyuan meminta agar Nona beristirahat hari ini,” katanya, Wang Laoyin tak berusaha membantah saat di panggil nona karena baginya identitasnya di sini sudah tak penting lagi. Dia merasa tak punya kewajiban untuk menegaskan statusnya. Di sini ia bukan siapa- siapa dan perduli apa dia dengan cara orang memanggilnya.
“Besok, Nona mungkin akan mulai mengikuti kegiatan kuil.” Lanjutnya sambil menyodorkan kain baju di tangannya. Wang Laoyin menerima pakaian tersebut.
“Terima kasih. Siapa namamu?” Tanya Wang Laoyin
“Yunhe.”
“Berapa lama kau tinggal di sini?”
“Sejak kecil, Nona. Orang tua hamba menyerahkan hamba ke kuil ketika hamba berusia tujuh tahun.”
Wang Laoyin memandang wajah biksuni muda itu.
“Apakah kau bahagia di sini?”
Yunhe tampak terkejut mendengar pertanyaan tersebut.
Ia berpikir sejenak sebelum menjawab.
“Ada hari-hari ketika hamba merindukan dunia luar. Namun, di sini hamba belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari memiliki segala sesuatu yang diinginkan.”
Ia tersenyum kecil.
“Terkadang, kebahagiaan datang ketika kita berhenti membiarkan sesuatu yang tidak dapat kita kendalikan menguasai seluruh pikiran kita.” Jawaban itu begitu dalam dan penuh makna.
Wang Laoyin tidak segera bersuara, kata-kata itu sederhana, tetapi menyentuh bagian hatinya yang paling lelah.
Setelah Yunhe pergi, Wang Laoyin berganti pakaian. Ia melipat jubah kelabu dengan hati-hati, kemudian menyimpan sisir kayu miliknya di dalam lemari kecil.
Ia duduk di tepi ranjang dan memandang kedua tangannya.
Tangan itu pernah memegang segel kerajaan.
Kini, tangan yang sama harus belajar menyapu halaman, mencuci mangkuk, menyiapkan sayuran, dan melakukan pekerjaan sederhana yang tidak pernah menjadi kewajibannya dahulu.
Ia tidak tahu apakah ia akan mampu menjalani kehidupan baru itu.
Ia tidak tahu apakah tubuhnya akan terbiasa dengan udara gunung yang dingin, makanan sederhana, dan hari-hari yang dimulai sebelum matahari terbit.
Namun, ia tidak ingin menghabiskan sisa hidupnya hanya dengan meratapi apa yang telah hilang.
...***...
Malam mulai turun, langit yang terang di atas perbukitan itu terasa sangat dekat bahkan bukan setengah yang bersinar di atasnya terasa seperti begitu dekat untuk di raih.
Wang Laoyin keluar dari kamar dan berjalan menuju halaman belakang kuil. Di sana berdiri sebuah pohon pinus tua yang batangnya begitu besar hingga tiga orang dewasa mungkin diperlukan untuk melingkarinya dengan kedua tangan. Akar-akarnya mencengkeram tanah berbatu. Cabang-cabangnya membentang luas, sementara jarum-jarum daunnya berdesir diterpa angin.
Wang Laoyin berdiri di bawah pohon itu, Ia memandang langit yang mulai dipenuhi bintang. Langit seindah itu tapi hatinya semuram kabut. Kesedihan yang tak terkatakan, kerinduan yang melelahkan dan kekecewaan yang tak terkatakan semua menyaru dalam rasa sakit yang tak bisa di terjemahkan olehnya dalam bentuk kalimat apapun.
Di tempat ini, tidak ada yang mengenalnya sebagai Permaisuri. Tidak ada yang menuntutnya tersenyum ketika hatinya terluka. Tidak ada yang memaksanya menerima tuduhan hanya demi menyelamatkan kehormatan orang lain.
Untuk pertama kalinya, ia dapat mengakui kepada dirinya sendiri bahwa ia telah kehilangan banyak hal.
Ia kehilangan kedudukan.
Ia kehilangan kebebasan.
Ia kehilangan rumah.
Dan yang paling menyakitkan, ia kehilangan kepercayaan kepada lelaki yang pernah ia cintai.
Air mata mengalir di pipinya tapi kali ini ia tidak berusaha menghentikannya. Dia hanya seorang diri dan tak ada yang melihatnya, kerapuhannya mencuat kepermukaan dalam kesakitan lalu jadi air mata sederas hujan
Ia membiarkan air mata itu jatuh, membasahi wajahnya dan mengering diterpa angin gunung.
Setiap kenangan, setiap kejadian di biarkannya berlompatan di kepalanya mengosongkan sesak yang menyumpal dadanya selama satu purnama ini. Peristiwa demi peristiwa yang begitu cepat terjadi merampas hidupnya dan membuangnya ke tempat terpencil ini.
Setelah beberapa saat puas menangisi takdirnya, ia mengangkat kepala.
“Dengarlah, Langit,” bisiknya. “Aku tidak tahu mengapa semua ini harus terjadi kepadaku. Aku tidak tahu siapa yang merencanakan kehancuranku, dan aku tidak tahu apakah suatu hari nanti aku akan kembali ke tempat yang pernah kusebut rumah.”
Ia menarik napas panjang.
“Tetapi aku bersumpah, aku tidak akan membiarkan kebohongan menjadi akhir dari hidupku.”
Angin menggoyangkan cabang pinus.
Wang Laoyin mengepalkan tangan.
“Aku akan bertahan. Aku akan mengingat semuanya. Dan jika suatu hari kebenaran datang mengetuk pintu dunia, aku akan memastikan bahwa aku masih hidup untuk membukakannya.”
Ia memandang lembah yang diselimuti kabut.
“Mahkotaku telah dirampas. Namaku telah dicemarkan. Tetapi selama aku masih bernapas, aku belum kalah.”
Jauh di dalam kuil, lonceng malam berdentang.
Suaranya melintasi halaman, menyentuh atap-atap tua, lalu menghilang di antara pegunungan.
Wang Laoyin berdiri di bawah pohon pinus dengan jubah kelabu yang bergerak diterpa angin. Ia tidak lagi mengenakan mahkota, tetapi di dalam dirinya mulai tumbuh sesuatu yang tidak pernah dapat diberikan oleh gelar kerajaan.
Keteguhan untuk bertahan tanpa perlindungan kekuasaan.
Keberanian untuk mencari kebenaran tanpa jaminan kemenangan.
Dan kesabaran untuk menunggu saat ketika orang-orang yang merampas kehidupannya akhirnya harus menghadapi akibat dari perbuatan mereka sendiri.
Ia belum mengetahui bahwa pengasingan di Kuil Qingyun akan mengubah seluruh hidupnya. Ia belum mengetahui bahwa tubuhnya sedang menyimpan sebuah rahasia yang kelak akan menjadi alasan untuk tetap hidup, bahkan ketika dunia seolah-olah telah menutup semua pintu baginya.
Namun, malam itu, di bawah pohon pinus yang telah berdiri jauh sebelum ia dilahirkan, Wang Laoyin membuat satu janji yang tidak dapat dicabut oleh titah kerajaan mana pun.
Ia akan bertahan hidup.
Dan jika suatu hari ia harus kembali ke Istana Weishan, ia tidak akan kembali sebagai perempuan yang memohon agar dipercaya. Ia akan kembali membawa kebenaran yang tidak lagi dapat dibungkam.
Di kejauhan, kabut menutupi jalan menuju ibu kota.
Sementara di dalam Kuil Qingyun, seorang perempuan yang pernah mengenakan mahkota mulai menapaki jalan panjang menuju takdirnya yang baru.
Tanpa perhiasan.
Tanpa kedudukan.
Tanpa seorang pun yang mengucapkan selamat tinggal.
Hanya harapan kecil yang hidup dalam dirinya yang pasrah.
(Bersambung ya teman2, jangan lupa dukung novel ini biar cepat tamat🤣)