NovelToon NovelToon
Menukar Takdir Untuk Bellona

Menukar Takdir Untuk Bellona

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:459
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.

Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.

Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Ribut

Keesokan harinya, niat Bellona untuk tidur seharian mendadak menguap begitu saja. Matahari baru menyeruak tipis di balik jendela saat gadis itu sudah berdiri di depan cermin kamar, menyisir rambutnya dan merapikan seragam sekolah. Meski tubuhnya masih agak lemas, rasa enggan untuk berdiam diri di rumah jauh lebih besar.

Begitu keluar dari kamar, aroma nasi goreng mentega yang sedikit gosong menyambut penciumannya. Devan sedang berdiri di depan kompor dapur tua, masih mengenakan kaus oblong hitamnya yang agak melar.

"Lah? Kok lo udah rapi aja?" Devan menoleh kaget sambil memegang sodet. "Katanya mau tidur seharian?"

Bellona menyambar tas sekolahnya yang tergeletak di sofa, lalu menyampirkannya ke bahu. "Kagak jadi," sahut Bellona dingin. "Kalau gue tidur-tiduran doang di rumah, ntar gue makin mirip sama lo."

Devan menghentikan ayunan sodetnya di udara. Dahinya berkerut kaku. "Mirip gimana maksud lo?"

"Ya mirip pengangguran," cetus Bellona tanpa beban, melangkah santai menuju meja makan.

Devan mendadak tersinggung. Pria itu menunjuk dadanya sendiri dengan sodet, matanya membelalak tak terima. "Enak aja lo kalau ngomong! Gue kagak nganggur ya! Gue ini sibuk, Bellona! Latihan band, ngatur jadwal panggung, bikin lagu... itu namanya profesi artistik!"

Bellona tidak membalas argumen panjang lebar itu. Gadis itu hanya memutar bola matanya malas, memperlihatkan ekspresi jenuh yang sangat jelas, lalu melangkah ke dapur untuk mengambil segelas air putih.

Devan menghembuskan napas gusar melihat respons meremehkan dari Bellona. Namun, alih-alih meledak marah seperti biasanya, pria itu hanya meracik nasi goreng di atas piring kaleng lalu menyodorkannya ke hadapan Bellona.

"Nih, makan dulu sebelum berangkat," omel Devan pelan, berusaha mengabaikan ejekan tadi. "Awas aja kalau pingsan lagi di sekolah. Gue kagak mau ditelpon guru lo."

Bellona menatap piring nasi goreng itu sejenak, lalu menarik kursi dan duduk tanpa banyak protes.

Devan meletakkan piring nasi goreng kedua untuk dirinya sendiri di meja, lalu berbalik menyambar ember plastik hitam dari sudut dapur.

"Gue mau ke depan dulu, mau nyuci motor," ujar Devan santai sambil melangkah menuju pintu.

Bellona yang sedang mengunyah nasi gorengnya menaikkan sebelah alis, melirik Devan dengan tatapan penuh selidik. "Rajin amat lo?"

Devan menghentikan langkahnya di ambang pintu, berbalik lalu menunjuk dirinya sendiri dengan raut wajah sok bangga. "Gue emang rajin dari dulu! Dasar lo-nya aja yang terus-terusan negative thinking sama gue."

Bellona hanya berdecih pelan, menyuarakan rasa malasnya untuk berdebat, lalu kembali melanjutkan suapan nasi gorengnya tanpa membalas lagi.

Devan terkekeh tipis melihat respons itu. Ia membawa embernya ke keran luar, memutar kran sampai air memenuhi ember, lalu menyiapkan kain lap kumal dan sampo motor. Pria itu menyiram ban depan motornya dengan gayung, mulai mengelap bodinya yang penuh debu dengan santai sambil bersiul-siul kecil.

Tak lama kemudian, rombongan ibu-ibu kompleks yang baru selesai dari tukang sayur melintas di depan gang. Ada Bu Tejo, Bu Ning, dan Mpok Minah yang langsung menghentikan langkah begitu melihat Devan berdiri bertelanjang dada tipis dengan kaus oblongnya yang agak melar.

"Aduh, jagoan kompleks kita rajin banget jam segini udah megang selang!" seru Mpok Minah heboh, mengibaskan kain lap tangannya ke udara. "Keringatnya itu lho, Van... bikin makin bening aja dipandang!"

Bu Tejo ikut menimpali sambil terkekeh gemas. "Iya nih, Devan! Janda-janda kompleks bisa pada gagal fokus kalau kamu nyuci motor gaya begini!"

Devan yang pada dasarnya memang tengil langsung menyeringai lebar. Pria itu mengusap jidatnya dengan lengan baju, melempar senyum manis andalannya. "Ah, Bu Tejo sama Mpok Minah bisa aja. Keringat saya mah gak seberapa, masih kalah bening sama senyuman Mpok Minah pagi ini. Bikin adem gang rumah."

"Aduuhhh! Meleleh Mpok, Van!" jerit Mpok Minah sambil memegangi dadanya dramatis, disambut tawa cekikikan Bu Ning dan Bu Tejo yang mukanya mendadak memerah.

Di saat ibu-ibu itu makin heboh, Bang Udin—satpam kompleks yang sedang keliling naik sepeda ontel—menghentikan kayuhannya tepat di depan rumah Devan.

"Gausah tebar pesona napa, Van!" omel Bang Udin sambil mendengus kesal. "Pagi-pagi gini udah heboh aja depan rumah lo! Bikin rusak pemandangan jalan!"

Devan terkekeh pelan sambil mengelap tangki motornya. "Yee... kalau iri bilang aja, Bang! Kasihan sepeda lu kagak ada yang memuji!"

"Dih! Siapa yang iri?!" semprot Bang Udin kagak terima.

Bu Tejo langsung pasang badan membela Devan, menunjuk Bang Udin dengan kantong plastik sayurannya. "Ih, Udin! Sirik aja kamu jadi orang! Devan tuh ramah, kagak kayak kamu yang mukanya ditekuk terus tiap keliling!"

"Iya tuh!" sahut Mpok Minah keras. "Mukamu itu lho, Din, udah kayak dompet tanggal tua! Jangan ganggu Devan lagi usaha!"

Bang Udin melotot, suaranya makin meninggi tak mau kalah. "Lah! Kok malah saya yang disemprot?! Ibu-ibu ini bukannya masak di rumah malah ngerumpiin bujangan kagak jelas! Ingat umur, Bu!"

"Sembarangan kamu kalau ngomong ya, Udin!" amuk Bu Ning ikut-ikutan.

Suara adu mulut antara Bang Udin dan rombongan ibu-ibu mendadak pecah di depan teras. Suara jeritan Mpok Minah, omelan Bu Tejo, dan celotehan Bang Udin saling bersahutan begitu nyaring, bikin suasana pagi di gang tua itu mendadak bising luar biasa. Devan yang tadinya berniat gombal malah mulai melotot panik, kewalahan melerai mereka karena suaranya kalah keras.

"Woy, udah Bu, Bang! Waduh, jangan ribut di depan rumah gue napa—"

BRAK!

Pintu depan rumah mendadak didorong kasar dari dalam.

Bellona muncul di ambang pintu dengan seragam sekolah yang sudah rapi dan tas ransel tercengkeram di bahunya. Wajah gadis itu memerah padam, matanya menyalang penuh amarah akibat rasa pening di kepalanya yang mendadak kumat gara-gara kebisingan luar biasa itu.

"BISA DIAM KAGAK SIH?!" bentak Bellona melengking dan menggelegar, menunjuk ke arah kerumunan di depan pagar. "PAGI-PAGI UDAH PADA BISING KAYAK PASAR BURUNG! GUE MAU BERANGKAT SEKOLAH, BUKAN MAU DENGERIN OCEHAN KALIAN!"

Seketika itu juga, arena adu mulut di depan pagar mendadak hening total. Bang Udin membeku di atas sepedanya, sementara Bu Tejo, Bu Ning, dan Mpok Minah mengatupkan mulut rapat-rapat dengan mata membelalak kaget menatap anak gadis berwajah judes itu.

Bu Ning yang sempat syok mendadak mengelus dadanya pelan. Dengan polosnya, ia berbisik ke Bu Tejo tapi suaranya masih kedengaran jelas.

"Aduh... adik kamu galak amat ya, Van? Beda banget sama kamu yang kalem dan ramah."

Bellona yang baru aja mau melangkah keluar teras langsung menghentikan kakinya. Matanya makin menyalang tajam, menatap Bu Ning seolah mau menelan wanita itu bulat-bulat.

"APA LO BILANG?!" sewot Bellona melengking, suaranya makin nyolot. "KAGAK USAH SOK TAU YA!"

Melihat raut muka Bellona yang sudah seperti mau mengajak perang suku, Bu Ning, Bu Tejo, dan Mpok Minah langsung gelagapan kaget.

"A-ampun, Neng! Cuma bercanda!" jerit Mpok Minah panik sambil merapatkan kantong sayurannya.

Ketiga ibu-ibu itu tanpa komando langsung berbalik arah dan ngacir terbirit-birit menyusuri gang sambil setengah berlari. Bang Udin yang melihat situasi mendadak bahaya juga buru-buru menggenjot sepeda ontelnya kencang-kencang, menghilang di belokan jalan sebelum kena amuk Bellona.

Devan yang memegang kain lap cuma bisa berdiri melongo menatap kerumunan yang bubar dalam hitungan detik. Pria itu menyapu jidatnya, lalu menoleh kaku ke arah Bellona yang masih napas terengah-engah menahan kesal di ambang pintu.

"Waduh, Bocah..." desis Devan pelan sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Galak amat lo. Ibu-ibu kompleks sampai pada ngacir ketakutan gitu."

Bellona melemparkan tatapan mautnya ke Devan, membuat pria slengean itu refleks mengatupkan mulutnya rapat-rapat.

"Gara-gara lo berisik dari tadi!" cetus Bellona ketus sambil berjalan melewati Devan begitu saja menuju pagar. "Gue berangkat sekolah!"

1
falea sezi
buat ini anak agak punya adab donk😒 sebel liat anak g tau aturan banyak kok anak broken home yg tau adab g kayak beloman ini sombong
falea sezi
buat belunasadar donk anak haram kok ngelunjak 😒
falea sezi
anak haram gk tau diri🤣🤣 mending usir aja emak loe aja gk mau lu ikut dia masih ada yg mau nampung loe aja alhamdulillah😒 sebel liat anak g tau Adab
falea sezi
q dpet anak g sopan uda guaa usir🤣
falea sezi
q kirim hadiah 🤭 up banyak ya moga makin bagus buat bocah nya jelas stts nya anak devan apa bukan
BUNGA LYONA: siap kak, makasih udah baca😇🌸
total 1 replies
falea sezi
moga ajaa bneran anak devan ya😓 kasian uda di buang emak nya tp lona jangan sok ya
falea sezi
ini numpang 😒 gk ada baik baiknya kayaknya belom. tentu lo anak devan🤣🤣 bisa aja emak lo🤣jalang gk tau anak siapa😒
falea sezi
ini bapak bneran kan🤣
Lisa Kusmiran07
semangat kak
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Lisa Kusmiran07
semangat thorr,ceritanya seru lain dari yg lain
Lisa Kusmiran07
menunggu lanjutannya,
BUNGA LYONA: siapp🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!