Sejak lahir, Emira Prawira hanyalah boneka hidup—dirancang untuk patuh, dibentuk untuk menyenangkan pria yang telah dijodohkan dengannya. Ia menelan setiap penghinaan, tersenyum di depan kamera, dan berpura-pura bahagia sebagai tunangan Marko Gunawan, sang pewaris dingin yang tak pernah sedetik pun memandangnya dengan lembut.
Tapi semua berubah saat seorang pria kembali ke dalam hidupnya.
Daniel Mahendra—konglomerat muda yang dijuluki "sang kaisar", pria paling berkuasa sekaligus paling diidamkan di negeri ini. Di mata dunia ia dingin dan tak tersentuh. Namun di hadapan Emira, ia rela menurunkan seluruh takhtanya. Posesif, memuja, dan tak kenal batas: "Cukup minta, dan akan kuberikan segalanya."
Ketika keluarga yang seharusnya melindunginya justru mengkhianatinya, Emira harus memilih—terus menjadi korban, atau bangkit menjadi wanita yang ditakuti dan dicintai. Di balik senyum lembutnya tersimpan dendam yang membara, rahasia keluarga yang berdarah, dan sebuah dunia kekuasaan yang jauh lebih gelap dari yang pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naysol C., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
— Emira —
Pagi ini aku bangun dengan mata mengantuk setelah membantu Marko merapikan dokumen semalaman. Tapi tetap saja aku tak bisa melupakan apa yang kulihat dini hari tadi. Setelah Bagus dan David membaringkannya, aku menghampirinya untuk melepas dasinya — dan di kemejanya kutemukan dua bekas gincu perempuan dengan warna berbeda. Melihatnya, aku hanya bisa tersenyum getir sambil menahan napas, membiarkan air mataku mengalir tanpa henti.
Aku tak mengerti mengapa ia begitu membenciku, sampai-sampai enggan menyentuhku sekali pun. Aku tahu orang tua kami memaksa kami menikah, tapi setidaknya ia bisa memperlakukanku dengan hormat, atau sedikit lebih ramah.
Aku tak minta ia mencintaiku atau bersumpah setia selamanya. Aku hanya ingin hubungan kami membaik, meski...
Tidak. Kalau dipikir-pikir... seandainya aku jadi dia, mungkin aku pun akan merasakan hal yang sama. Tingkah dan caraku bersikap adalah hasil didikan orang tuaku. Hanya dengan mengingatnya saja aku merasa mual dan sesak. Sepertinya aku tak akan pernah bisa bahagia.
Satu-satunya secercah harapanku adalah Marko. Tapi setiap hari aku merasa cahaya itu kian meredup — bahkan aku mulai merasa "diriku" yang sesungguhnya perlahan memudar seiring waktu, berubah menjadi seseorang yang bahkan aku sendiri tak mengenalinya.
Saat aku tenggelam dalam pikiran, pisau di tanganku tak sengaja mengiris salah satu jariku. Buru-buru kubersihkan lukanya, lalu bersiap berangkat ke kantor.
Setibanya di kantor, saat berjalan menuju lift, semua orang berbisik-bisik dengan wajah gembira. Rupanya mereka membicarakan kedatangan CEO Daniel Mahendra, salah satu pengusaha paling berpengaruh yang dipuja banyak orang — sebab setiap proyek yang ia tangani selalu sukses besar di pasar mancanegara. Media menjulukinya pria paling diidamkan, dan di dunia bisnis ia disebut sang kaisar.
Tiba-tiba pintu lift terbuka, dan sahabatku muncul dengan penuh semangat, matanya berbinar. Ia menarik lenganku keluar sambil berkata,
"Emira, akhirnya kau datang juga! Cepat bilang, jam berapa CEO Daniel tiba?"
Aku tertawa. "Ha ha... dia baru datang satu jam lagi. Setidaknya, coba sedikit tahan kehebohanmu itu."
"Mana mungkin!" Regina memekik girang. "Kau tahu sendiri dia itu pria idaman berjalan... Ahh, aku tak sabar bertemu dengannya!"
"Ayolah, tak seheboh itu, kok. Kau ini berlebihan."
Mendengar tanggapanku, Regina ternganga, lalu bereaksi dengan gaya dramatis. "Aku tak percaya, aku sungguh tak percaya... sahabatku ini benar-benar buta. Kau belum pernah lihat dia, ya? Dia pria terpanas dan terseksi, melampaui semua lelaki di planet ini!"
Selama setengah jam berikutnya aku terus mendengarkan Regina memuja-muji CEO Daniel, sementara pikiranku hanya dipenuhi Marko: apakah ia melihat catatan yang kutinggalkan di meja, apakah ia sudah makan, apakah ia sudah minum obat pereda mabuknya. Aku tak bisa berhenti mengkhawatirkannya.
Saat mendengar suara Marko, aku buru-buru mengangkat wajah dengan gembira. Tapi senyum itu langsung membeku ketika kulihat seorang perempuan bergelayut manja di lengannya.
Dan itu bukan tanpa alasan, sebab perempuan itu adalah cinta pertama Marko — Selena. Hubungan mereka dulu cukup istimewa; mereka berpacaran sekitar tiga setengah tahun. Saat berjalan di lorong menuju ruangan, Selena menyadari kehadiranku. Ia hanya menatapku seolah menganalisisku, lalu berlalu begitu saja bersama Marko.
Regina menyadari perubahan ekspresiku. Untuk mengalihkan perhatianku, ia mengarang alasan, "Emira, bisa tolong aku sebentar?"
Aku langsung menyahut, "Tentu, ada apa?"
Regina merapatkan kedua tangannya dan berkata pelan, "Bisa... belikan aku beberapa pembalut? Aku lupa membawanya. Sekalian belikan obat pereda nyeri haid, ya."
Aku meraih dompet dan membuka ritsleting tasku. "Jangan khawatir, aku punya pil dan beberapa pemba—"
"Tidak bisa!" potong Regina sambil merebut tasku. "Lagi banjir deras nih di bawah. Kalau bukan pembalut kesukaanku yang nyaman, aku tak akan bisa berganti — dan mana mungkin aku muncul di depan CEO Daniel yang seganteng itu. Ayolah, tolong, ya, ya?"
Aku menghela napas pasrah. "Haah! Ya sudah, baiklah."
"Makasih, kau memang baik hati!" seru Regina riang. "Tenang saja, aku yang akan menutupimu kalau ada apa-apa di kantor."
Saat aku keluar kantor menuju apotek di seberang jalan, pikiranku sibuk menerka-nerka alasan Selena bisa bersama Marko.
Salah satu alasan mereka putus dulu adalah karena Selena hendak melanjutkan studi ke luar negeri, dan Marko tak mengetahuinya sampai hari keberangkatannya. Tentu saja itu memicu pertengkaran hebat yang mengakhiri hubungan mereka. Seandainya Selena tak pergi, mungkin ia sudah menikah dengan Marko — sebab kedua keluarga sudah menganggap pernikahan mereka sebagai hal yang pasti.
Saat itu aku... hanyalah pilihan kedua, seandainya terjadi sesuatu. Belakangan, setelah Selena pergi, barulah aku tahu bahwa semua kedekatan yang mereka atur antara aku dan Marko hanyalah agar keluarganya mempertimbangkanku sebagai calon pengantin.
Namun, kini akulah tunangan resminya.
Kurasa, seandainya mereka tetap bersama, persahabatanku dengan Marko tak akan pernah rusak, dan sikapnya padaku pasti akan berbeda dari sekarang. Aku lebih rela menyimpan cinta yang tak terbalas daripada dibenci olehnya. Pertunangan inilah yang menghancurkan persahabatan dan kasih sayang tulus yang dulu kami miliki.
Ketika aku hampir keluar dari apotek setelah membeli titipan Regina, aku menabrak seorang pria di ambang pintu.
Dahiku terasa sangat nyeri, seakan membentur tembok atau nyaris terbelah dua. Sambil mendongak, aku berteriak marah,
"KAU PUNYA MATA, TIDAK? LIHAT-LIHAT KALAU JALAN!"
Setelah membentak, aku langsung tersadar dan buru-buru meminta maaf. Itu pertama kalinya aku menunjukkan sikap seperti itu. Aku tak pernah sekali pun membentak siapa pun, sebab orang tuaku mendidikku untuk selalu tunduk dalam situasi apa pun.