Alarice Jovelyn Dav Dewantara, atau Jove, adalah putri pertama keluarga Dewantara yang hidupnya nyaris sempurna. Namun, kesempurnaan itu runtuh dua hari sebelum pernikahannya ketika ia memergoki calon suaminya sedang bercinta dengan wanita lain di rumah yang telah mereka persiapkan untuk kehidupan setelah menikah.
Tanpa ragu, Jove membatalkan pernikahannya dan memilih menutup hati. Selama dua tahun, ia menenggelamkan diri dalam pekerjaan hingga membuat kedua orang tuanya khawatir.
Alaska Dewantara akhirnya memutuskan menjodohkan Jove dengan Nicholas Alvarendra, putra sahabat bisnisnya.
Nicholas adalah pria dingin yang juga memiliki luka yang sama. Ia pernah dikhianati tunangannya yang justru hamil dari sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Nicholas tidak lagi percaya pada cinta.
Dua hati yang sama-sama terluka akhirnya dipertemukan dalam sebuah perjodohan.
Mereka menikah tanpa cinta dan membuat kesepakatan untuk tidak saling berharap.
“Pernikahan kita hanya sebatas kertas, jangan berharap lebih.”
“Tenang saja, aku juga tidak ada niat menjalankan rumah tangga ini denganmu.”
Tapi, bagaimana jika dua orang yang sama-sama tidak percaya cinta justru perlahan menemukan kembali arti cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Persiapan Pernikahan
Beberapa hari setelah makan malam bersama kedua keluarga, pembicaraan mengenai pernikahan Jove dan Nic mulai memasuki tahap yang lebih serius.
Kedua keluarga mulai mempersiapkan berbagai keperluan yang dibutuhkan. Namun sebelum menentukan semuanya, Arman dan Marry ingin memastikan satu hal terlebih dahulu.
Mereka ingin tahu seperti apa pernikahan yang diinginkan Jove.
Siang itu, kedua keluarga kembali berkumpul. Tidak ada suasana yang terlalu formal. Mereka duduk santai di ruang keluarga Dewantara sambil membicarakan berbagai persiapan.
Marry yang sejak tadi memegang sebuah buku catatan akhirnya mulai berbicara. Ia menoleh kepada Jove.
“Jove, Mama ingin tanya sesuatu.”
Jove yang sedang duduk di samping Jihan mengangkat wajah.
“Iya, Ma?”
“Kamu ingin pernikahan seperti apa?”
Jove terdiam sebentar.
Marry tersenyum.
“Barangkali kamu punya dream wedding sendiri. Kalau ada yang kamu inginkan, bilang saja. Keluarga kami akan berusaha mewujudkannya.”
Arman langsung mengangguk. “Betul. Ini pernikahan kalian. Jadi jangan sampai semuanya hanya mengikuti keinginan orang tua.”
Jove menatap keduanya.
Ia tahu, Arman dan Marry benar-benar tulus.
Mereka tidak sedang berusaha menunjukkan kemampuan keluarga Alvarendra. Mereka hanya ingin memberikan yang terbaik untuk putra mereka dan calon menantu mereka.
Namun pertanyaan mengenai dream wedding justru membuat Jove terdiam cukup lama.
Dulu, sebelum semua yang terjadi dua tahun lalu, mungkin ia pernah memiliki bayangan mengenai pernikahannya.
Gaun putih.
Dekorasi indah.
Gedung besar.
Keluarga dan orang-orang terdekat berkumpul.
Sebuah hari yang akan dikenang seumur hidup.
Tetapi semua bayangan itu sudah tidak ada lagi.
Yang tersisa hanya ingatan tentang dua hari sebelum pernikahannya.
Tentang rumah yang seharusnya menjadi rumah mereka setelah menikah.
Dan tentang laki-laki yang seharusnya berdiri di sampingnya, tetapi justru ia temukan bersama wanita lain.
Jove menarik napas pelan.
“Aku tidak punya dream wedding, Ma.”
Marry sedikit terkejut. “Benarkah?”
Jove mengangguk. “Aku hanya ingin pernikahan yang privat.”
Ruangan itu mendadak lebih tenang.
“Cukup keluarga besar saja,” lanjut Jove. “Mungkin beberapa orang terdekat dan beberapa petinggi perusahaan. Tidak perlu terlalu banyak tamu.”
Alaska dan Jihan saling berpandangan.
Mereka mengerti. Tidak perlu dijelaskan alasan di balik pilihan Jove.
Mungkin luka itu memang belum sepenuhnya hilang.
Jihan menatap putrinya dengan lembut, kemudian menggenggam tangan Jove.
Tidak ada paksaan.
Tidak ada pertanyaan.
Hanya pengertian.
Sementara itu, Nic yang sejak tadi diam terlihat sedikit terkejut.
Ia tidak menyangka Jove akan memilih pernikahan sesederhana itu.
Jove adalah Nona muda keluarga Dewantara. Ia bisa mendapatkan pesta pernikahan sebesar apa pun yang diinginkannya.
Namun wanita itu justru tidak menginginkan pesta besar.
Tidak rumit.
Tidak berlebihan.
Nic tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya kembali menyandarkan tubuhnya dengan santai.
“Apa Nic dan keluarga Pak Arman menyetujuinya?” tanya Alaska.
Arman tersenyum.
“Kami menghargai dan akan mengikuti segala keputusan pihak wanita.”
Marry pun mengangguk. “Kami tidak keberatan sama sekali.”
Arman menatap Jove. “Kami akan mengikuti keinginan pihak mempelai. Mereka yang akan menikah, sudah sewajarnya kenyamanan mereka juga diutamakan.”
Jove tersenyum kecil. “Terima kasih, Pa, Ma.”
“Jangan sungkan. Justru kami senang kalau kamu nyaman.” Ujar Marry.
Pembicaraan kemudian berlanjut ke hal lain.
Salah satunya mengenai tempat tinggal Jove dan Nic setelah menikah.
“Kalau begitu, setelah menikah kalian akan tinggal di mana?” tanya Marry.
“Kalian tinggal di rumah kami saja,” kata Arman.
Marry langsung mengangguk. “Betul. Mama akan merenovasi interiornya nanti agar kamu nyaman, Jove.”
Nic yang sejak tadi hanya mendengarkan akhirnya berdeham pelan.
“Ekhem.”
Semua mata langsung tertuju kepadanya.
“Maaf, biar aku yang menjawabnya.” Nic kemudian melihat ke arah Jove sekilas. “Kami sudah memutuskan untuk hidup mandiri.”
Arman mengernyitkan dahi.
“Mandiri?”
Nic mengangguk. “Untuk sementara kami akan tinggal di apartemenku.”
Marry langsung terlihat kurang setuju. “Kenapa di apartemen? Rumah Mama dan Papa juga rumahmu.”
“Aku tahu, Ma.”
“Kamu itu anak Mama satu-satunya, Nic. Setelah menikah bukannya tinggal bersama kami, malah memilih tinggal di apartemen.”
Nic tidak langsung menjawab. Ia tahu, bagi orang tuanya, keputusan tersebut tentu sulit diterima.
Namun ia dan Jove memang sudah membicarakannya.
Mereka membutuhkan ruang masing-masing.
Mereka tidak ingin terlalu banyak campur tangan keluarga dalam kehidupan setelah menikah.
Sebelum Nic menjelaskan lebih jauh, Alaska lebih dulu angkat bicara.
“Daddy mengerti.”
Nic menoleh kepadanya.
Alaska kemudian melihat Arman dan Marry.
“Sepertinya mereka berdua memang harus mandiri. Mengingat perkenalan mereka juga masih sangat singkat, tidak ada salahnya mereka tinggal sendiri agar bisa saling mengenal dan menyesuaikan diri satu sama lain.”
Jove menatap ayahnya. Ada rasa lega yang tidak ia tunjukkan.
Alaska tidak mengetahui kesepakatan mereka.
Namun tanpa disadari, perkataannya justru mendukung keputusan yang sudah mereka buat.
Arman akhirnya mengangguk. “Baiklah.”
Marry menghela napas kecil sebelum tersenyum. “Kalau memang itu yang kalian inginkan, Mama dan Papa tidak akan memaksa. Tapi sesekali kalian harus menginap di rumah kami.”
Nic tersenyum tipis. “Iya, Ma.”
“Jangan cuma bilang iya.”
“Aku serius.”
“Oke.”
Suasana kembali mencair.
Pembicaraan mengenai tempat tinggal pun selesai.
Pernikahan mereka akan dibuat privat.
Tidak akan ada pesta besar dengan ribuan tamu.
Hanya keluarga besar, beberapa orang terdekat, serta beberapa petinggi perusahaan yang akan hadir.
Dan setelah menikah, Jove dan Nic akan tinggal mandiri di apartemen Nic.
Semuanya terdengar sederhana.
Namun bagi kedua keluarga, keputusan itu justru terasa semakin nyata.
Anak-anak mereka benar-benar akan menikah.
Tidak lama kemudian, Nic berdiri.
“Kami keluar sebentar.” kata Nic dengan sopan.
Jove menoleh. Ia tau jika akan ada yang dibicarakan oleh Nic.
Nic mendekat ke arah Jove dan Jove pun berdiri mengikuti. Sementara kedua orang tua mereka membiarkannya karena berpikir mereka masih membutuhkan waktu untuk terus saling mengenal.
“Kita belum membicarakan apartemen.” Bisik Nic sambil berjalan keluar rumah.
Jove terdiam sejenak. Ia baru menyadari bahwa setelah pembicaraan tadi, mereka memang belum membicarakan detail mengenai tempat tinggal.
“Baiklah.”
Mereka terus berjalan menuju mobil Nic.
Jove sempat menatap mobil Nic sebelum akhirnya masuk ke dalam.
Nic membawa Jove ke sebuah coffee shop yang cukup tenang. Tempat itu tidak terlalu ramai, sehingga mereka bisa berbicara tanpa khawatir bertemu banyak orang yang mengenal mereka.
Mereka memilih meja di sudut ruangan.
Setelah memesan minuman, keduanya duduk berhadapan.
Tidak ada percakapan selama beberapa saat.
Jove sibuk melihat ponselnya, sementara Nic sesekali melihat ke arah luar jendela.
Sampai akhirnya Jove mengangkat wajah.
“Apartemenmu di mana?”
Nic menatapnya.
“Aku belum membelinya.”
Jove sedikit mengernyit.
“Belum?”
Nic menggeleng.
“Tapi akan segera aku urus.”
Jove terlihat sedikit terkejut.
Ia pikir apartemen yang dimaksud Nic sudah tersedia.
Bagaimanapun, sebelumnya Nic mengatakan mereka akan tinggal di apartemennya setelah menikah.
“Tapi kamu bilang kita akan tinggal di apartemenmu.”
“Memang.”
“Lalu?”
“Apartemennya belum ada.”
Jove menatap Nic beberapa detik.
“Kamu belum membelinya, tapi sudah memutuskan kita akan tinggal di sana?”
Nic mengangkat bahu.
“Karena memang aku harus membeli apartemen dulu.”
Jove menghela napas kecil.
“Logikamu sederhana sekali.”
“Memang.” Nic kemudian melanjutkan.“Rencananya aku akan membeli di dekat kantor Dewantara, agar kamu tidak terlalu jauh jika bekerja.”
Jove kembali menatapnya. “Kantorku?”
Nic mengangguk. “Iya.”
“Kenapa dekat kantor Dewantara?”
“Karena setelah menikah kamu tetap bekerja di sana.”
Jove diam.
Jawaban Nic terdengar begitu sederhana.
Tidak ada nada perhatian atau perhatian khusus di dalamnya. Seolah-olah ia hanya sedang menghitung jarak dan waktu perjalanan.
“Kalau terlalu jauh dari kantormu, nanti malah merepotkan,” lanjut Nic.
Jove mengangguk pelan.
“Masuk akal.”
“Aku akan cari beberapa pilihan. Nanti kamu tinggal lihat.”
Jove mengangkat alis.
“Aku?”
“Kamu yang akan tinggal di sana juga.”
Jove kembali terdiam.
Siang itu mereka benar-benar membicarakan tempat tinggal yang nantinya akan menjadi rumah mereka.
Bukan rumah keluarga Dewantara.
Bukan pula rumah keluarga Alvarendra.
Tetapi tempat yang hanya akan mereka tempati berdua.
Meski keduanya sudah sepakat untuk hidup masing-masing, tetap saja mereka membutuhkan tempat yang cukup nyaman untuk menjalani kehidupan setelah menikah.
“Jangan terlalu besar,” kata Jove akhirnya.
Nic menatapnya.
“Kenapa?”
“Aku tidak membutuhkan apartemen yang terlalu besar.” Jove kembali melihat ponselnya. “Yang penting ada dua kamar.”
Nic langsung memahami maksudnya.
“Oke.”
Mereka memang sudah sepakat untuk memiliki kehidupan masing-masing setelah menikah.
Dan dua kamar merupakan hal yang tidak perlu diperdebatkan lagi.
“Untuk sementara kita tinggal di sana,” kata Nic.
“Setelah itu?”
“Kita lihat nanti.”
Jove mengangguk.
Tidak ada yang perlu mereka bicarakan lebih jauh.
Setelah kopi mereka habis, keduanya meninggalkan coffee shop.
Nic kembali mengantar Jove ke rumahnya.