NovelToon NovelToon
Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Enemy to Lovers / Cinta Istana/Kuno / Wanita perkasa
Popularitas:583
Nilai: 5
Nama Author: Laygraph

"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."

Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.

"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."

Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.

Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Debat Lontar

Pintu Ruang Lontar dikunci dengan tiga gembok perunggu, dan Prabu Hayam Vira membuka ketiganya sendiri.

Kunci-kuncinya tergantung di rantai yang ia kenakan di balik kain, menempel di dadanya. Dyah Ayu memperhatikan caranya memutar setiap anak kunci. Dua kali ke kiri, satu kali ke kanan. Gembok ketiga harus diangkat sedikit sebelum diputar.

"Kau menghafalnya," ucap Hayam Vira tanpa menoleh.

"Hamba hanya melihat, Gusti."

"Kau selalu hanya melihat." Ia mendorong pintu itu. "Dan setiap kali kau hanya melihat, seseorang kehilangan kepalanya."

Bau yang menyambut mereka adalah bau minyak sereh dan kulit kering. Ruangan itu panjang dan rendah, tanpa jendela, diterangi oleh enam pelita yang digantung pada rantai dari langit-langit. Dinding-dindingnya dipenuhi rak kayu jati, dan di setiap rak tersusun gulungan lontar yang diikat dengan tali berwarna. Merah untuk utara. Kuning untuk timur. Hijau untuk pesisir.

Di tengah ruangan, sebuah meja kayu tebal sepanjang dua kali tubuh manusia. Di atasnya terbentang peta besar Kagendra yang dilukis di atas kulit sapi, ujung-ujungnya ditahan dengan pemberat dari batu kali.

Bidak-bidak kayu kecil berdiri di atas peta. Merah dan cokelat. Pasukan dan benteng.

***

"Tidak ada perempuan yang pernah masuk ke sini," ucap Hayam Vira. "Tidak ibuku. Tidak Prabaswari. Bahkan tidak semua menteri."

"Lalu kenapa hamba?"

"Karena kau membaca catatan pelabuhan Tuban di ranjangmu tiga malam lalu." Ia berdiri di sisi meja yang berseberangan, kedua tangan bertumpu di tepinya. Lengan kirinya sudah tidak lagi diikat ke dada, meskipun ia masih menggerakkannya dengan hati-hati. "Empu Wiradarma melapor kepadaku setiap kali seseorang meminjam lontar dari raknya. Kau meminjam sebelas gulungan dalam satu bulan. Tidak satu pun tentang tata cara sesaji."

Dyah Ayu tidak menyangkalnya.

Hayam Vira mengetuk peta dengan ujung jarinya. Di bagian atas, di sepanjang garis biru yang berkelok dari barat ke timur.

"Kali Lusi. Batas utara kita dengan Kerajaan Medang Utara. Mereka mengirim utusan bulan lalu dengan hadiah dua ekor gajah dan surat yang sangat sopan." Ia mengangkat bidak merah dari sisi utara sungai. "Dan pada bulan yang sama, para pedagang melaporkan tiga ribu orang berkemah di seberang Kali Lusi. Menebang kayu. Membangun lumbung."

Ia meletakkan bidak itu kembali.

"Dewan Perangku sudah bersidang dua kali. Ki Ageng Wiryo, panglima tertua, ingin mengirim lima ribu orang ke Benteng Pamotan di tepi sungai. Memperkuat tembok. Menempatkan pasukan panah di sepanjang tebing." Ia menatap Dyah Ayu. "Itu doktrin Kagendra sejak zaman kakekku. Tahan sungai, dan tidak ada musuh yang bisa menyeberang."

"Dan Gusti setuju?"

"Aku ingin mendengar pendapat seseorang yang tidak berutang apa pun pada Ki Ageng Wiryo."

***

Dyah Ayu berjalan memutari meja. Perlahan. Matanya bergerak di atas peta, dari utara ke selatan, dari barat ke timur. Ia tidak menyentuh apa pun.

Ia berhenti di dekat garis biru Kali Lusi.

"Sekarang musim kemarau, Gusti."

"Lalu?"

"Kali Lusi di musim kemarau setinggi lutut kuda di sebagian besar tempat. Hamba menyeberanginya dua tahun lalu bersama ayah hamba, waktu mengantar upeti ke Pamotan." Ia meletakkan jarinya di atas sungai, lalu menggesernya sepanjang aliran. "Sungai itu bukan tembok di musim kemarau. Sungai itu jalan."

Hayam Vira tidak menjawab. Matanya menyipit sedikit.

"Ki Ageng Wiryo ingin menahan sungai yang tidak bisa ditahan. Lima ribu orang di Pamotan, menghadap ke utara, menunggu musuh yang tidak perlu menyeberang di depan benteng." Ia mengetuk peta di sebelah timur Pamotan, lalu di sebelah barat. "Mereka bisa menyeberang di mana saja dalam jarak satu hari berkuda. Dan sementara itu, lima ribu orang di dalam benteng membutuhkan beras, garam, dan anak panah."

Ia menggeser jarinya ke selatan. Mengikuti garis cokelat tipis yang berkelok dari Pamotan ke arah ibu kota.

"Satu jalan. Hanya satu. Melewati hutan jati di Rengel, lalu menyeberang di penyeberangan Ngawen." Ia berhenti di sebuah titik kecil di tepi sungai lain. "Semua beras untuk Pamotan lewat sini. Tiga ratus prajurit Gusti mati demam di benteng itu musim hujan lalu karena obat dan selimut tidak pernah sampai. Hamba mendengarnya di Balai Agung."

"Karena Wirapati mencurinya."

"Karena Wirapati mencurinya, dan karena hanya ada satu jalan yang bisa dicuri." Dyah Ayu mengangkat matanya. "Kalau hamba panglima Medang Utara, hamba tidak akan menyerang Pamotan. Hamba akan membakar penyeberangan Ngawen dan menunggu. Dalam satu bulan, lima ribu orang di dalam benteng itu akan memakan kuda mereka sendiri."

***

Hayam Vira mengitari meja. Ia berhenti di sampingnya, cukup dekat sampai lengan mereka hampir bersentuhan.

"Medang Utara tidak punya cukup orang untuk menyerang Ngawen sekaligus mengancam Pamotan. Tiga ribu tidak cukup."

"Tiga ribu yang terlihat," jawab Dyah Ayu.

Ia berjalan ke rak di sudut, rak bertali hijau. Ia mengambil satu gulungan lontar tanpa ragu, seolah sudah tahu di mana letaknya. Catatan Pelabuhan Tuban. Ia membukanya di atas peta, menindih Kali Lusi.

"Dalam enam bulan terakhir, Adipati Tuban membeli beras tiga kali lipat dari kebutuhan kadipatennya. Dari Lasem. Dari Gresik. Dibayar dengan perak, bukan dengan garam atau kain seperti biasanya." Ia menunjuk baris-baris angka. "Dan dalam enam bulan yang sama, kapal-kapal dagang dari utara berlabuh di Tuban dua kali lebih sering. Mereka datang dengan muatan ringan dan pergi dengan muatan berat."

"Pedagang beras."

"Pedagang yang membeli beras di pelabuhan yang tidak pernah kekurangan beras, lalu membawanya pergi ke negeri yang baru saja membangun lumbung di tepi sungai?" Dyah Ayu menggeleng. "Kapal-kapal itu tidak membawa beras keluar, Gusti. Mereka membawanya ke tempat lain di pesisir kita. Ke teluk-teluk kecil di antara Tuban dan Lasem."

Ia mengambil bidak merah dari seberang Kali Lusi. Memindahkannya. Bukan ke sungai, bukan ke Pamotan. Ke pesisir. Ke sebuah teluk kecil yang hanya digambar dengan satu lengkungan tinta.

"Tiga ribu orang di seberang sungai itu umpan, untuk menarik lima ribu orang Gusti ke Pamotan. Sementara itu, pasukan yang sebenarnya akan turun dari kapal di pesisir, makan dari lumbung yang sudah disiapkan Adipati Tuban, dan berjalan ke Ngawen dari arah timur. Dari belakang."

Ia meletakkan bidak itu tepat di atas penyeberangan Ngawen.

"Dan Ki Ageng Wiryo akan berdiri di atas tembok Pamotan, menghadap ke utara, menunggu musuh yang tidak pernah datang."

***

Keheningan di Ruang Lontar begitu penuh sampai Dyah Ayu bisa mendengar sumbu pelita mendesis.

Hayam Vira menatap bidak merah di atas Ngawen. Lalu catatan pelabuhan Tuban. Lalu kembali ke bidak itu.

"Adipati Tuban bersumpah setia padaku di Balai Agung sembilan tahun lalu," ucapnya pelan.

"Adipati Watugaluh juga pernah bersumpah setia pada kakek Gusti."

Raja itu mengangkat wajahnya. Matanya berkilat di bawah cahaya pelita.

"Kalau kau salah, aku akan menarik tiga ribu orang dari Pamotan untuk menjaga jalan di Ngawen. Medang Utara akan menyeberang Kali Lusi dengan mudah, dan Ki Ageng Wiryo akan mengatakan di depan seluruh Dewan bahwa Raja Kagendra kehilangan benteng utaranya karena mendengarkan selir dari Watugaluh."

"Dan kalau hamba benar?"

"Kalau kau benar, aku harus memenggal Adipati Tuban sebelum ia sempat membuka lumbungnya." Ia mengambil bidak merah itu dari atas Ngawen, menggenggamnya. "Dan aku harus menjelaskan kepada Ki Ageng Wiryo kenapa doktrin kakekku sudah tidak berguna."

Dyah Ayu mengulurkan tangannya. Telapak menghadap ke atas.

"Kembalikan bidaknya, Gusti. Hamba belum selesai."

Hayam Vira tidak mengembalikannya. Ia meletakkan bidak itu di telapak tangan Dyah Ayu, lalu menutup jemarinya di atas jemari Dyah Ayu. Menggenggam tangannya dan bidak itu sekaligus.

"Kau sudah selesai," ucapnya. "Aku yang belum."

***

Jarak di antara mereka sudah tidak ada.

Dyah Ayu tidak mundur. Bidak kayu itu menekan telapak tangannya, ujung-ujungnya yang tumpul menggores kulit, dan tangan Raja itu menggenggamnya dari luar. Ia bisa merasakan denyut nadi Hayam Vira di sana, di pergelangan yang menempel di pergelangannya. Cepat. Lebih cepat dari biasanya.

"Gusti membawa hamba ke sini untuk menguji hamba," ucapnya. "Bukan sebaliknya."

"Aku membawamu ke sini karena aku ingin tahu seberapa jauh kau sudah membaca ke dalam kerajaanku." Ibu jarinya bergerak di atas punggung tangan Dyah Ayu. "Ternyata lebih jauh dari panglimaku sendiri."

"Itu membuat Gusti takut?"

"Itu membuatku ingin tahu apa lagi yang sudah kau baca."

Ia menunduk. Dyah Ayu mengangkat wajahnya. Ciuman itu tidak dimulai oleh siapa pun. Ia terjadi di tengah-tengah, di jarak yang sama-sama mereka tempuh.

Berbeda dari gua. Berbeda dari dinding Srigading. Tidak ada racun, tidak ada tuak, tidak ada keris di lantai. Hanya bau minyak sereh dan kulit peta, dan napas Raja yang terasa seperti seseorang yang baru saja kalah dalam permainan yang ia sendiri ciptakan.

Bidak kayu itu jatuh dari genggaman mereka. Berguling di atas peta, melintasi Kali Lusi, berhenti di suatu tempat di pesisir utara.

Pinggul Dyah Ayu membentur tepi meja. Tangan Hayam Vira yang tidak terluka menemukan pinggangnya, mengangkatnya, mendudukkannya di atas kulit sapi yang terbentang. Pemberat batu kali bergeser. Satu gulungan lontar bertali merah berguling dari tepi meja dan jatuh ke lantai dengan bunyi gemeresik.

Dyah Ayu mencengkeram kain di bahu Raja itu, menariknya lebih dekat. Lalu ia menahannya. Menatapnya dari jarak sejengkal, dengan napas yang belum teratur.

"Pemberat Gusti jatuh," bisiknya. "Peta Gusti akan tergulung."

"Biarkan tergulung."

"Pamotan ada di bawah punggung hamba."

"Pamotan bisa menunggu satu malam."

Ia menunduk lagi, dan kali ini Dyah Ayu tidak mengatakan apa pun tentang peta.

Salah satu pelita di rantai langit-langit kehabisan minyak dan padam. Lalu satu lagi. Di atas meja kayu tebal itu, di antara bidak-bidak yang berguling dan gulungan-gulungan yang tergeser, garis-garis biru sungai dan cokelat jalan menghilang di bawah kain yang tersibak dan rambut yang terurai.

Tidak ada yang mengatakan apa-apa lagi di Ruang Lontar untuk waktu yang lama.

***

Hanya dua pelita yang tersisa ketika Dyah Ayu membuka mata.

Ia berbaring di atas peta. Pipinya menempel di kulit sapi yang hangat oleh tubuhnya sendiri. Di bawah wajahnya, ia bisa melihat garis pantai utara yang dilukis dengan tinta cokelat, dan sebuah lengkungan kecil yang menandai teluk di antara Tuban dan Lasem. Rambutnya terurai di atasnya, menutupi separuh pesisir.

Hayam Vira duduk di tepi meja di sampingnya. Kainnya sudah kembali terikat, meskipun tidak rapi. Bahunya yang terluka naik-turun perlahan. Ia memegang bidak merah yang tadi jatuh, memutarnya di antara jemari.

Ia tidak menoleh ketika berbicara. Ia menatap peta, ke arah teluk kecil di bawah rambut Dyah Ayu.

"Besok aku akan mengirim Ki Sarpa ke Tuban," ucapnya. "Dengan kotak wayangnya. Kalau ia menemukan lumbung di teluk itu, Adipati Tuban tidak akan melihat musim hujan."

Ia meletakkan bidak merah itu di atas teluk. Tepat di samping pipi Dyah Ayu.

Lalu ia membungkuk. Rambutnya yang tergerai jatuh ke bahu Dyah Ayu. Bibirnya menyentuh daun telinganya, dan napasnya hangat, berat, tanpa sisa tergesa-gesa.

"Prabaswari menghabiskan empat belas tahun mengatur siapa yang duduk di sebelah kanannya dan siapa yang minum teh dari cawan mana," bisiknya. "Keputren ini penuh perempuan yang lumpuh oleh rasa takut. Takut kehilangan tempat duduk, takut kehilangan perhiasan, takut kehilangan perhatianku."

Jarinya menyusuri garis Kali Lusi di atas peta, perlahan, sampai menyentuh punggung tangan Dyah Ayu.

"Kerajaan ini tidak butuh satu lagi perempuan seperti itu." Ia berhenti sejenak. "Kerajaan ini butuh seorang Ratu yang bisa berbaring di atas peta perang dan masih tahu di mana musuh akan menyeberang."

1
Agus Tina
Bagus ceritanya
Agus Tina
Sepertinya semua cerita tentang istana memang penuh dengan intrik dan kepalsuan
Laygraph: Iya kak, bahkan banyak sejahrawan mencatat banyak relief yang membuktikan Konspirasi sudah ada sejak zaman kerajaan kuno. bahkan sampai sekarang. 😄
total 1 replies
Agus Tina
Cerita, alur, cara menukis ceritq ini bagus semua ... kenapa yg like sedikit? Ayo pembaca
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..
Laygraph: Terimakasih masukannya kak, semoga setia sampai ceritanya selesai yah 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!