Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Bayang di Sisi Timur Kurama
Srettt... Srettt... Srett...
Suara derak sapu lidi yang menggesek pelataran batu tua berbunyi secara konstan, berirama, dan teratur.
Di sisi timur Gunung Kurama—wilayah curam yang jarang tersentuh oleh para peziarah biasa karena diselimuti jurang terjal dan vegetasi lumut yang rapat—seorang biksu tua berdiri membelakangi kabut pagi. Ia mengenakan jubah kesa abu-abu kusam yang sudah pudar dibakar cuaca. Tangannya yang dipenuhi garis-garis keriput memegang gagang sapu bambu, mengesampingkan dedaunan kering pohon sugi dengan gerakan yang teramat halus. Seolah-olah setiap dorongan sapunya bukan sekadar membersihkan debu, melainkan merapikan takdir yang berantakan.
Pria itu dikenal sebagai Tenkai.
Wajahnya tersembunyi sebagian di balik bayangan topi bambu lebar. Hanya janggut putih tipisnya yang melambai ditiup angin gunung yang dingin. Matanya, meski terkulai kuyu oleh beban usia yang melampaui rentang hidup manusia biasa, menyimpan kejernihan yang mengerikan—sebuah tatapan dari sosok yang telah menyaksikan ribuan nyawa melayang dan kerajaan-kerajaan besar runtuh menjadi abu.
Di sekeliling pelataran kuil kecil yang hampir roboh itu, dedaunan gugur bergerak bukan karena embusan angin.
Tenkai menghentikan gerakan sapunya. Tanpa membalikkan badan, ia bersuara. Suaranya bergema halus, bagaikan gesekan batu gilingan kuno yang berat namun tenang.
"Jarak antara bilah kunai milikmu dan leherku hanya tinggal tiga jari, anak muda. Jika kau ragu untuk menghujamkannya sekarang, sebaiknya kau sarungkan kembali."
Dari balik bayangan dahan pohon cedar tua yang menggantung di atas pelataran, sosok berbalut pakaian kain serba hitam meluncur turun tanpa suara. Kakinya mendarat di atas tanah berbatu tepat di balik punggung Tenkai. Sosok itu adalah Saburo, salah satu shinobi peronda terbaik klan Iga yang ditugaskan membentengi jalur timur Kurama.
Sebilah pisau lempar masih berada di antara jemari Saburo. Napasnya tertahan, matanya memicing penuh kewaspadaan. Ia telah memantau biksu misterius ini selama tiga minggu terakhir. Pria tua itu muncul begitu saja di kuil terlantar sisi timur, menyapu halaman setiap subuh, menyalakan dupa, dan hidup seperti pertapa biasa. Namun, fakta bahwa biksu ini mampu mendeteksi keberadaannya dari jarak puluhan langkah tanpa memutar kepala membuat darah Saburo berdesir dingin.
"Siapa kau sebenarnya?" bisik Saburo, suaranya tajam melintasi kabut. "Sisi gunung ini bukan tempat untuk peziarah. Putar balik sebelum bayangan hutan ini menelanmu."
Biksu Tenkai terkekeh pelan. Ia menyandarkan sapunya ke pilar kayu kuil, lalu berbalik perlahan. Di tangannya, ia memegang sebuah tasbih kayu hitam berukuran besar yang biji-bijinya tampak berkilat halus akibat sering diusap.
"Gunung ini tidak milik siapa-siapa, anak Iga," jawab Tenkai tenang. Matanya menatap tepat ke arah topeng kain yang menutupi wajah Saburo. "Ia tidak milik klan Toyotomi, tidak milik klan Tokugawa... dan tentu saja tidak milik sisa-sisa darah klan Iga yang bersembunyi dalam ketakutan."
Saburo mengepalkan tangannya. Identitas mereka bukanlah hal yang mudah ditebak oleh orang luar, terlebih oleh seorang biksu pengembara. "Jawabanmu menentukan apakah kau keluar dari gunung ini bernapas atau tidak."
Tenkai tidak terlihat gentar sedikit pun. Ia memutar satu biji tasbihnya dengan ibu jari.
"Kau boleh menyumbat leherku jika kau mau, Saburo," sebut Tenkai, mengucapkan nama sang shinobi dengan amat kasual seolah mereka adalah kenalan lama. "Namun jika kau melakukannya sekarang, pesan yang kubawa dari Kyoto tidak akan pernah sampai ke telinga Ogen atau Tanba Momochi. Dan dalam waktu tiga hari, kuil di puncak barat akan menjadi lautan api."
Mendengar nama pimpinannya disebut, dua sosok shinobi Iga lainnya mendadak muncul dari balik semak-semak dan puncak tiang kayu. Mereka mengurung Tenkai dari tiga arah berbeda dengan senjata terhunus.
"Kau kenal dengan Tanba-sama?" tanya shinobi kedua yang baru muncul, seorang veteran bernama Genzo.
Tenkai menatap ketiga shinobi muda itu dengan tatapan belas kasih yang samar. "Aku mengenal banyak orang. Pria yang hidup di dalam bayangan, pria yang berburu di bawah terik matahari, dan pria yang bertengkar memperebutkan takhta yang nantinya akan membusuk."
"Bicara yang jelas, Biksu!" gertak Saburo, selangkah mendekat. "Pesan apa yang kau maksud?"
Tenkai mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan sebuah gulungan kain sutra tipis bertuliskan tinta hitam yang disegel dengan lilin berwarna kelabu.
"Kuroda Kanbei," ujar Tenkai pelan. Nama itu meluncur dari bibirnya seperti sebuah bisikan kutukan. "Kalian pikir kalian telah aman karena Kanbei menarik mata-matanya dari kaki gunung ini bulan lalu, bukan?"
Ketiga shinobi Iga itu saling memandang sekilas. Strategi penarikan mata-mata Kanbei adalah informasi amat rahasia yang baru saja dikonfirmasi oleh Hattori Hanzo minggu lalu.
"Kanbei adalah pria yang bertindak dua langkah di depan akal sehat manusia biasa," lanjut Tenkai, tatapannya menerawang ke arah lembah Kyoto yang tertutup awan. "Dia menarik mata-mata utamanya untuk menidurkan kewaspadaan kalian. Namun dua hari lalu, dia memerintahkan unit khusus dari kelompok Suppa—orang-orang yang dilatih khusus untuk melintasi tebing terjal—untuk menyusup melalui jalur utara lewat lembah Ohara. Mereka tidak memanjat dari bawah. Mereka merayap dari atas puncak."
Genzo tersentak. "Lembah Ohara? Jalur itu tidak mungkin bisa dilintasi pasukan!"
"Bagi prajurit biasa, tidak," potong Tenkai halus. "Tapi bagi orang-orang yang dibayar oleh Kanbei, tidak ada tebing yang terlalu curam. Pasukan kecil itu berjumlah dua puluh orang. Mereka tidak membawa panji Toyotomi. Mereka bergerak seperti hantu, membawa racun pembunuh tak berbau untuk dimasukkan ke dalam sumber air di kuil barat."
Saburo merasakan tenggorokannya kering. Jika pesan ini benar, maka tempat persembunyian Mumei dan Ogen berada dalam bahaya yang sangat mematikan. Jalur utara adalah satu-satunya titik buta dalam pertahanan klan Iga di Kurama karena tebingnya yang teramat terjal.
"Mengapa kau memberi tahu kami hal ini?" tanya Saburo penuh prasangka. "Apa hubunganmu dengan Kuroda Kanbei? Mengapa seorang biksu dari timur peduli pada keselamatan kami?"
Tenkai tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyembunyikan teka-teki tak bertepi. Ia mengusap tasbih kayunya kembali.
"Mengapa?" Tenkai mendongak, menatap dedaunan pohon sugi yang bergoyang di atas mereka. "Mungkin karena aku pernah berdiri di ruangan yang sama dengannya. Aku pernah bernapas di bawah bendera yang sama dengan Kuroda Kanbei... pada masa ketika peta tanah ini digambar dengan darah seorang pria yang dijuluki Raja Iblis dari Suruga."
Ketiga shinobi itu terhenyak. Bercakap tentang masa Oda Nobunaga? Pria tua ini mengaku pernah bekerja bersama Kanbei di bawah naungan klan Oda.
"Kanbei adalah pria yang terobsesi dengan ketertiban dunia," sambung Tenkai, suaranya berubah menjadi lebih berbobot. "Bagi Kanbei, tidak boleh ada variabel yang tidak terhitung di atas papan catur. Anak perempuan di puncak gunung ini... adalah variabel yang paling ditakuti Kanbei, bukan karena apa yang bisa dilakukan anak itu hari ini, tapi karena apa yang disimbolkan oleh darahnya di masa depan."
Tenkai melemparkan gulungan kain sutra berduri itu ke arah Saburo. Dengan refleks cepat, Saburo menangkapnya di udara.
"Di dalam gulungan itu ada peta rute pergerakan dua puluh orang Suppa milik Kanbei," terang Tenkai. "Mereka akan mencapai celah utara tepat saat bulan mencapai puncaknya malam ini. Jika kalian bertindak cepat, kalian bisa mencegat mereka di celah tebing sebelum mereka sempat menyentuh sumber air."
Saburo memeriksa segel kain itu. Tidak ada racun atau jebakan. Tinta yang tertulis di dalamnya menyajikan detail rute, jumlah personel, hingga jenis senjata yang dibawa oleh pasukan rahasia Kanbei dengan sangat akurat—sebuah tingkat detail yang hanya bisa dimiliki oleh seseorang yang sangat memahami sistem kerja intelijen klan Toyotomi.
"Siapa namamu sebenarnya, Biksu?" tanya Genzo lagi, suaranya kini melunak oleh rasa terkejut dan desakan urgensi. "Jika Tanba-sama bertanya siapa yang memberikan peringatan ini, apa yang harus kami katakan?"
Tenkai mengambil kembali sapu bambunya dari dinding kuil. Ia kembali menghadap ke arah halaman batu, membelakangi ketiga ninja tersebut seolah percakapan mereka telah selesai.
"Katakan saja padanya..." Tenkai menggerakkan sapunya kembali, menyapu dedaunan kering yang baru saja jatuh. "...bahwa seorang kawan lama dari masa-masa pembakaran Kuil Enryaku-ji sedang membayar utang dosanya. Dan katakan pada Ogen, benih yang ditanam di bawah bayangan tidak boleh dibiarkan layu sebelum waktunya mekar."
Saburo menatap punggung biksu tua itu selama beberapa detik. Ada aura keagungan dan misteri yang begitu pekat memancar dari sosok tersebut—sebuah kekuatan yang membuat para shinobi terlatih seperti mereka merasa cilik di hadapannya.
"Kita harus melaporkan ini ke puncak sekarang!" perintah Saburo kepada dua rekannya.
"Bagaimana dengan biksu ini?" panggil Genzo. "Apakah kita harus mengawasinya?"
"Tidak perlu," suara Tenkai menyela dari balik derak sapunya. "Aku tidak akan ke mana-mana. Tempatku adalah di sini, menyapu debu-debu masa lalu yang ditinggalkan oleh orang-orang ambisius seperti Hideyoshi dan Kanbei. Pergilah. Waktu kalian tidak banyak."
Tanpa membuang sekon lagi, ketiga shinobi Iga melompat ke atas dahan-dahan pohon raksasa, melesat bagaikan bayangan hitam menembus kabut tebal menuju sisi barat gunung, meninggalkan Tenkai yang terus menyapu pelataran kuil tua dalam hening.
Dua jam kemudian, di dalam gubuk kayu di puncak barat Kurama, gulungan sutra dari Tenkai telah dibentangkan di atas meja rendah.
Tanba Momochi berdiri di samping Ogen. Wajah sang veteran Iga tampak sangat membatu saat membaca baris demi baris instruksi dan Peta rute yang tertera di atas kain tersebut. Di luar, Mumei sedang duduk diam di teras, memotong kayu bakar dengan gerakan yang tenang dan konsisten, sama sekali tidak terganggu oleh atmosfer tegang di dalam rumah.
"Ini adalah gaya tulisan tangan dan pengodean milik jaringan Kuroda Kanbei," gumam Tanba, jarinya menunjuk beberapa simbol khusus di sudut kain. "Hanya orang yang pernah duduk di meja perencanaan strategis klan Oda atau Toyotomi yang bisa membaca dan meretas kode Suppa secepat ini."
Ogen menatap gulungan itu dengan mata prihatin. "Biksu bernama Tenkai itu... bagaimana cirinya, Saburo?"
Saburo, yang berlutut di depan pintu gubuk dengan pakaian berlumpur, menundukkan kepala. "Beliau membawa tasbih kayu hitam, berpakaian kusam, dan matanya... matanya seperti melihat menembus diri kita, Ogen-sama. Dan beliau menyebutkan peristiwa pembakaran Kuil Enryaku-ji."
Ogen menghela napas panjang, matanya menerawang jauh. Pembakaran Kuil Enryaku-ji oleh pasukan Oda Nobunaga belasan tahun lalu adalah salah satu tragedi paling berdarah dalam sejarah tanah ini—sebuah pembantaian yang melibatkan ribuan biksu dan prajurit.
"Tenkai..." bisik Ogen lirih. "Apakah mungkin dia adalah salah satu penasihat rahasia yang dulu menghilang saat peristiwa Honno-ji? Ada rumor bahwa Nobunaga-sama memiliki beberapa pendeta tingkat tinggi yang bertugas mengurus relik dan intrik spiritual klan."
"Siapa pun dia," sela Tanba dengan nada tegas, "dia baru saja menyelamatkan nyawa kita. Rute penyusupan lewat tebing utara Ohara ini adalah satu-satunya celah yang tidak kita jaga dengan ketat. Jika dua puluh prajurit Suppa itu berhasil lolos dan meracuni mata air, kita semua akan mati tanpa sempat menghunus pedang."
Tanba berbalik menatap Saburo dan lima shinobi senior lainnya yang telah berkumpul di halaman.
"Kumpulkan seluruh tenaga kita yang tersisa," perintah Tanba, matanya memancarkan kilat membunuh yang telah lama terlelap. "Kita akan menghadang pasukan Kanbei di celah tebing Ohara malam ini. Jangan biarkan satu pun dari mereka kembali ke Kyoto untuk membawa laporan!"
"Siap!" jawab para shinobi serempak sebelum melenyapkan diri ke dalam semak-semak.
Setelah para shinobi pergi untuk mempersiapkan jebakan, Ogen melangkah keluar ke teras. Ia menghampiri Mumei yang baru saja menyelesaikan tumpukan kayu bakarnya. Anak perempuan berusia lima tahun itu menengadah, menatap ibunya dengan mata heterokromianya yang jernih.
"Ibu," panggil Mumei pelan. "Apakah paman-paman itu akan pergi bertarung?"
Ogen berlutut, membelai pipi Mumei yang dingin akibat angin gunung. "Mereka hanya pergi untuk memastikan bahwa tidurmu malam ini tetap nyenyak, Mumei."
Mumei menatap ke arah sisi timur gunung—ke arah mana kabut tebal membumbung tinggi menyelimuti pelataran kuil tempat Tenkai berada.
"Orang tua di sebelah sana..." kata Mumei tiba-tiba, membuat Ogen terkejut. "Aku bisa merasakan napasnya dari sini. Napasnya sangat lambat... seperti napas pohon tua yang sudah berdiri seribu tahun."
Ogen menatap putrinya dengan rasa takjub yang bercampur cemas. Kepekaan indra Mumei—dan mungkin pengaruh dari segel Sojobo di dalam dirinya—mulai berkembang jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan.
"Dia adalah teman, Mumei," bisik Ogen lembut seraya memeluk tubuh kecil putrinya. "Seorang teman dari masa lalu yang datang untuk menjaga agar masa depanmu tidak terenggut."
Di sisi lain gunung, di pelataran kuil yang sunyi, Tenkai akhirnya berhenti menyapu.
Matahari mulai terbenam di balik gumpalan awan hitam, memancarkan sinar kemerahan yang memoles puncak-puncak pohon cedar Kurama bagaikan ditumpahi darah. Biksu tua itu meletakkan sapunya, melipat kedua tangannya di dalam jubah kesa, lalu menatap langit malam yang mulai dihiasi oleh bintang-bintang pertama.
"Roda takdir telah berputar, Kanbei," gumam Tenkai pelan, suaranya hilang ditelan deru angin gunung. "Kau mencoba memadamkan api dengan menyebarkan racun dalam gelap... namun kau lupa bahwa di dalam kegelapan yang paling pekat sekalipun, sebuah benih sejati justru akan merambat naik menuju cahaya."
Tenkai memutar tasbih kayunya sekali lagi, memenjatkan doa tenang bagi jiwa-jiwa yang akan gugur di celah tebing Ohara malam nanti—sebuah pertempuran sunyi yang tak akan pernah dicatat dalam buku-buku sejarah Jepang, namun menentukan arah masa depan seluruh negeri.