NovelToon NovelToon
Memilih Terbawa Arus

Memilih Terbawa Arus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Mengubah Takdir
Popularitas:414
Nilai: 5
Nama Author: CICAK rawa

Selama tujuh malam, dia memimpikan hal buruk tentang pria yang selama ini dicintainya. Ketika hari lamaran tiba, dia memilih membatalkan perjodohan dan menjadikan Arus, pria berandal yang dibenci warga desa, sebagai alasannya.

Namun, semakin dekat dengan Arus, semakin dia menyadari bahwa pria itu tidak seperti yang orang-orang katakan. Di balik luka dan reputasinya, tersimpan kehidupan yang tak pernah dia bayangkan.

Awalnya hanya pelarian. Tapi bagaimana jika arus yang dia ikuti justru membawanya menemukan cinta yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Setelah sholat, arus mengajak sang istri jalan jalan ke tempat lain.

Karena anak anak sudah bersama orang tuanya masing masing jadi Alya bisa bebas pergi ke tempat yang ia mau.

Mereka memilih ke warung kopi di area agak jauh, karena suhu yang dingin membuat mereka ingin sesuatu yang hangat.

arus memilih memesan kopi sedangkan Alya yang tak menyukai kopi lebih memilih wedang jahe.

"ly, apa kamu takut denganku...." tanya arus tiba tiba.

Alya dengan santainya menggeleng....

"gak takut...?" tanya arus lagi.

"makasih buk...." ungkap Alya menerima minuman yang sudah datang.

Ia menyeruput sedikit untuk menghangatkan badan.

"buat apa takut, kan sekarang kakak Suami ku. Lagian aku gak pernah takut sama kak arus..."

mendengar ini arus sedikit tersenyum.

"yakin....?"

"ia lah buat apa takut..."

"terus yang dulu waktu dulu lari sambil nangis siapa..."

ingatan keduanya mengawang, saat mereka masih di bangku SMP.

Saat itu, Alya tengah berusaha mengambil sepatunya yang tersangkut di pohon..

Jaman itu Alya memang sering di buli, karena ia sangat jarang ikut membaur bersama yang lain dan sifatnya yang terkesan selalu lembut.

Tapi teman teman sekelasnya justru sering memanggilnya sok alim dan sok polos.

Tak jarang dia di buli saat sekolah.

Hari itu, saat jam pulang tiba.

Alya mencari satu sepatunya yang telah menghilang dari rak.

Saat menemukan sepatu itu, benda itu telah tersangkut di dahan pohon.

tentu Alya berusaha mengambilnya.

Namun selalu saja usahanya itu percuma.

Karena waktu sudah siang, Alya bingung. Matanya pun sudah memerah hendak menangis.

"gak usah cengeng, ambil...!" ungkap seseorang.

Saat menoleh, Alya melihat sepatunya sudah di tangan seseorang. Bahkan ada pisau di tangan orang itu.

Saat menatap siapa orang itu, kaki Alya bergetar.

Walau sudah smp, tapi Alya tetap sangat takut kepada arus.

Apa lagi teman temannya sering mengatakan kalau arus ikut mafia yang sering memukuli orang sampai masuk rumah sakit.

Walau kabar itu tak tau benar atau tidak, tapi Alya lebih condong ke arah setuju tentang berita itu. karena ia sering melihat arus pulang dengan memar di pipi.

Saking takutnya, saat itu Alya berlari hanya mengenakan sebelah sepatu saja.

Sampai rumah, ia langsung terisak. Tak mau keluar sampai beberapa hari, karena dia mengatakan kalau arus mau membunuhnya.

Berita ini sempat heboh di desa, sampai sampai dewangga menyeret arus untuk meminta maaf.

Di sana baru berita itu mulai di luruskan, kalau ternyata arus membawa pisau karena di kelasnya ada acara seni yang memerlukan benda tajam.

Mengingat itu, pipi Alya memerah.

Karena saat itu, para warga sampai hendak mendatangi rumah arus.

"ya... Waktu itukan aku masih kecil, lagian ngapa pisau di bawa bawa. kenapa gak di masukin tas aja.."

"kalo di tas, pasti tasnya robek".

"udahlah kak, ngapain ngebahas aib aku. Katenya mau coba Deket, kalok kayak gini gimana mau Deket. Dari pada ngomongin itu enak ngomongin hobi."

"hobi...?"

Alya mengangguk....

"jadi hobi kakak waktu kecil apa...?"

arus terdiam, mencoba memikirkan hobi masa kecilnya.

Melihat arus yang tampak berfikir Alya mulai menatapnya serius, ia juga ingin tahu hobi sosok misterius di depannya ini.

"mungkin ngejahilin gadis cengeng depan rumah..." ucap arus.

Hal ini langsung mendapatkan tatapan maut dari Alya.

" gak usah becanda kak...!" marahnya.

"aku gak bercanda.." jawab arus.

Ya arus tak bercanda, pasalnya waktu mereka masih kecil. Mereka juga termasuk teman bermain, dan Alya adalah korban yang sering menangis di buat arus.

Karena saat kecil arus sangat usil, sejak masuk kelas 5 SD hubungan arus dengan teman temannya mulai renggang, ia lebih sering tak terlihat bermain bersama anak sebayanya di desa.

"udahlah kamu mah kayak gitu..."kesal Alya.

Melihat Alya yang memalingkan wajahnya, arus hanya diam fokus ke arah kopi dan ponselnya.

Merasa arus malah cuek, Alya menatap lagi.

"kak.....!"

"Hem....."

arus meletakkan kembali ponselnya ke meja dan menatap sang istri.

"gak peka banget, istrinya ngambek bukannya di bujuk malah asik sama hp"

arus terdiam, ia menggaruk kepalanya. bukan tak mau, tapi tak bisa.

Seumur umur hidupnya, ia tak pernah membujuk wanita.

Bahkan semasa sekolah sekalipun, di mana anak anak seusianya sibuk berpacaran dan sering mengatakan gombalan romantis di depannya, ia sama sekali tak bergeming.

Bahkan dia sendiri yang sering mendapatkan kata kata romantis dari wanita yang mengirimnya pesan agar nomor mereka di simpan oleh arus.

"maaf..."

hanya itu yang keluar dari mulut arus, bahkan dia mengatakannya masih dengan ekspresi datar khas arus.

"udahlah, kak arus mah gitu. Gak bisa ngomong romantis sikit sama istri."

setelah itu Alya kembali mengalihkan pandangannya ke tempat lain.

Kali ini arus langsung menyambar ponselnya.

Ia mengirim pesan kepada teman temannya agar mau memberi saran membujuk sang istri.

Namun dari puluhan orang, yang menjawab. Tak ada satupun yang mampu arus lakukan.

Apa lagi salah satu temannya menyuruh mendekat lalu menampilkan wajah imut sambil berkata.

"oh istriku, aku sebagai suami tau kalau yang ku lakukan tadi salah. Tolong maafkan suamimu ini yang penuh dosa"

membaca pesan itu, arus sendiri merasa mual. Ia tak bisa membayangkan jika dia melakukan itu.

Sampai setengah jam mereka hanya saling diam, sampai arus mendengar suara jualan keliling..

Arus berdiri dan meninggalkan Alya yang tengah memunggunginya.

"mau kemana dia..." batin Alya masih kesal.

Namun ia melihat hp arus yang masih tergeletak di atas meja.

Batinnya bergolak....

"ambil gak ya" gumam Alya.

Ia ragu, rasanya ingin mengambil dan mengecek ponsel arus. Namun ada rasa takut kalau nanti arus marah.

Tapi rasa penasarannya sangat besar, ia tak bisa menahan.

Akhirnya Alya mengambil ponsel itu.

Kebetulan ponsel arus tak di kunci, waktu layar di nyalakan.

Ponsel langsung menampilkan layar pesan.

Alya asik membaca pesan satu per satu, bahkan ia sampai terkikik geli membaca pesan pesan itu.

Otaknya bahkan membayangkan kalau arus benar benar melakukan apa yang di sarankan oleh teman temannya.

"udah baikan..." suara seseorang tiba tiba.

Alya menoleh, melihat arus. ia langsung menaruh kembali ponsel arus ke tempatnya, sedangkan wajahnya kembali di tekuk.

Arus mendekat membawa 2 mangkok berisi bakso.

"gak usah marah dulu, dingin dingin gini enakkan makan bakso" ungkap arus.

Melihat bulatan besar serta kuah yang masih mengepul Alya sampai menelan ludah, namun ia gengsi untuk langsung menyambar.

Arus kembali mendekatkan mangkuk bakso ke dekat Alya.

"ini sebagai permintaan maaf, memang aku gak bisa ngegombal. Tapi dari pada gombalan yang gak bikin kenyang, enakkan bakso sebagai permintaan maaf"

"ya udah.... Mau gimana lagi, sayang juga baksonya udah di beli" jawab Alya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!