Sebulan menjelang pernikahan, Dera harus menelan kenyataan pahit saat Vivian, kakak kandungnya sendiri, mengaku hamil anak Galih, calon suaminya.
Lebih menyakitkan lagi, kedua orang tua mereka justru merestui pernikahan Galih dan Vivian, sementara Dera harus merelakan semua persiapan pernikahan yang dibayar dari hasil kerja kerasnya.
Hancur dan dikhianati keluarganya sendiri, Dera memilih pergi ke Jakarta untuk memulai hidup yang baru.
Tak disangka, pertemuannya dengan seorang miliarder tampan mengubah takdirnya. Pria itu bukan hanya menawarkan cinta, tetapi juga sebuah pernikahan yang akan membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal.
Namun, mampukah Dera menemukan kebahagiaan, atau justru terjebak dalam permainan cinta sang miliarder?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Hari ini seharusnya menjadi hari paling indah dalam hidup Dera. Hari di mana ia akan mengenakan gaun putih yang sudah dipesan berbulan-bulan lamanya, hari di mana ia akan berdiri di samping Galih di atas pelaminan, hari di mana orang-orang akan berseru dan memberikan selamat untuk mereka berdua. Tapi pagi ini, ketika matahari baru saja menyentuh atap rumah, Dera sudah tahu bahwa semua itu hanya tinggal mimpi yang sudah dihancurkan.
Ia berdiri di belakang tiang dekorasi, sedikit tersembunyi di antara deretan kursi tamu yang masih kosong. Dari tempatnya, ia bisa melihat segalanya dengan jelas. Pelaminan yang dulu dirancang untuknya kini dihiasi bunga-bunga putih yang sama, kain-kain yang sama, bahkan lagu yang sama. Hanya saja, orang yang berdiri di atasnya bukan dirinya.
Galih berdiri tegak dalam jas hitam yang dulu dipilih Dera sendiri. Di sampingnya, Vivian kakak kandungnya tersenyum seperti seorang ratu. Gaun pengantin yang seharusnya menempel di tubuh Dera kini menempel di tubuh kakaknya, seolah-olah kain itu tidak pernah mengenal pemilik aslinya. Dera menelan ludahnya, karena tenggorokannya terasa kering.
Satu per satu tamu undangan mulai naik ke atas pelaminan. Mereka mengucapkan selamat, memeluk, tertawa, mengambil foto. Tidak ada yang menoleh ke arah Dera. Tidak ada yang bertanya mengapa gadis yang seharusnya menjadi pengantin hanya berdiri di bawah, memegang tas kecil dengan tangan gemetar.
Dera menatap tangan Galih yang menggenggam tangan Vivian. Jari-jari itu, dulu pernah menggenggam jarinya. Sekarang jari-jari yang sama mengelus punggung tangan kakaknya dengan lembut, seolah-olah tidak pernah ada janji itu.
Sejujurnya Dera ingin berteriak, ingin merusak semua acara pernikahan itu. Tapi kaki Dera tidak bergerak. Ia hanya bisa berdiri di posisinya, menahan napas panjang, berusaha mengontrol emosinya.
Lalu, di sela-sela ucapan selamat, mata Vivian tertuju padanya. Kakaknya tersenyum, seakan ingin mengatakan kalau dia lah pemenangnya.
Dera memalingkan wajah ke arah lain.
Tidak lama kemudian, Galih turun dari pelaminan. Ia berjalan melewati tamu-tamu yang masih mengantri, seolah-olah mencari sesuatu. Ketika matanya menangkap sosok Dera di belakang tiang, langkahnya berhenti sejenak. Kemudian ia mendekatinya.
“Dera…” suaranya pelan, hampir tenggelam di antara musik pengiring.
Dera tidak menjawab. Ia hanya menatap dada Galih, tempat di mana dulu ia biasa bersandar ketika lelah. “Kamu datang juga,” kata Galih lagi.
“Aku diundang,” jawab Dera datar. Suaranya terdengar aneh di telinganya sendiri. “Orang tuaku bilang, kalau aku tidak datang, mereka akan malu.”
Galih terdiam. Tangannya naik seolah ingin menyentuh lengan Dera, tapi berhenti di tengah jalan.“Aku… aku tidak tahu harus bilang apa,” bisiknya.
Dera mengangkat wajah. Matanya basah, tapi air mata belum jatuh. “Bilang apa, Galih? Bilang bahwa kau mencintaiku? Atau bilang bahwa kau selama ini berselingkuh dengan kakakku?"
Galih menggeleng. “Bukan seperti itu.”
“Lalu seperti apa?” suara Dera naik sedikit, tapi masih cukup rendah agar tidak didengar orang lain. “Kau bilang padaku dua bulan lalu bahwa kita akan menikah. Kau bahkan sudah bertanya pada orang tuaku. Lalu tiba-tiba, semuanya berubah. Kau menghamili kakakku tanpa sepengetahuan ku" ucap Dera meluapkan emosinya.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau selama ini kamu menyukai kakakku?" tanya Dera.
Galih menunduk."Maaf Dera, selama ini aku khilaf" hanya itu yang keluar dari mulut Galih.
Dera tertawa kecil. Tawa yang pahit. “Khilaf sampai membuat anak orang hamil?" sindir Dera tidak percaya.
“Aku tidak punya pilihan lain. Vivian selalu menggodaku" ucap Galih alasan.
“Semua orang selalu punya pilihan, Galih.” Dera menatapnya dalam-dalam. “Kau hanya memilih yang lebih mudah. Yang lebih menguntungkan. Dan aku… aku hanya menjadi korban dari keegoisan kalian" ucap Dera.
Dari kejauhan, suara Vivian memanggil. “Galih! papa ingin foto keluarga!”
Galih menoleh, lalu kembali menatap Dera. Matanya penuh rasa bersalah yang sudah terlambat.“Aku minta maaf,” bisiknya. “Aku benar-benar minta maaf.”
Dera menggeleng pelan. “Jangan minta maaf padaku. Minta maaf pada dirimu sendiri. Karena suatu hari, kau akan sadar bahwa gaun yang dikenakan Vivian hari ini, seharusnya milik orang yang benar-benar mencintaimu. Bukan orang yang hanya memanfaatkanmu"
Galih membuka mulutnya, tapi tidak ada kata yang keluar. Ia hanya berdiri di situ, seolah kakinya tertanam di lantai.
Dera membalikkan badan. Ia berjalan menjauh, melewati tamu-tamu yang masih sibuk berfoto, melewati meja kue yang dulu direncanakan bersama, melewati segala sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya.
Di pintu keluar, ia bertemu dengan Eni, ibunya.
Eni menatapnya dengan wajah yang penuh rasa bersalah yang dipaksakan. “Dera, jangan buat keributan, ya. Ini sudah keputusan yang terbaik untuk keluarga.” peringatnya kepada sang putri.
Dera berhenti. Ia menatap ibunya lama.
“Keluarga?” tanyanya pelan. “Kalian selalu bilang demi keluarga. Tapi pernahkah kalian bertanya, bagaimana dengan ku?”
Eni terdiam.
Dera tersenyum tipis, senyum yang paling sedih yang pernah ia miliki. “Selamat ya, ma. Hari ini putri sulung mama menikah dengan pria yang dulu mencintai putri bungsu mama. Semoga kalian semua bahagia.” ucap Dera dengan mata yang berkaca-kaca menatap ibunya.
Setelah berkata seperti itu Dera pergi meninggalkan ibunya yang masih berdiri sendirian di tempatnya.
*
*
Angin sore berhembus lembut, membawa aroma bunga yang masih melekat di pakaiannya. Dera duduk di bangku taman kecil di depan rumahnya, memeluk lututnya, dan akhirnya membiarkan air matanya yang dia tahan jatuh.
Ia tidak berteriak, tidak mengamuk, tidak merobek gaun atau menghancurkan pelaminan. Karena di dalam hatinya yang hancur, masih tersisa sedikit kasihan, bukan untuk Galih, bukan untuk Vivian, tapi untuk orang tuanya yang sudah terlalu jauh terjebak dalam kebohongan mereka sendiri.
Dan untuk dirinya sendiri, yang masih terlalu lemah untuk membenci mereka sepenuhnya.
Hari ini, Dera belajar bahwa cinta bisa dicuri, janji bisa diingkari, dan keluarga bisa mengkhianati. Tapi rasa sakit itu hanya miliknya sendiri.
sayangi dan cintai dirimu sndiri dera....
krna istrimu jg org tuanya sifatnya pda buruk & g waras smua....
dan satu"nya org yg waras dan normal di keluarga istrimu.... cuma dera....
bikin dera pintar dikit apa thor..bikin gemes aja sama pola pikir deraa