NovelToon NovelToon
Dendam Yang Salah (Sang Bos)

Dendam Yang Salah (Sang Bos)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:311
Nilai: 5
Nama Author: shkira

Sebuah pertemuan yang tidak terduga terjadi pada Mariana purnama, yang akan mengubah hidup nya, akibat salah sasaran kebencian dan juga dendam dari seorang bos mafia, yang di kenal sebagai Hansen Deen.yang punya pengaruh dan kuasa besar di negara A.


pertemuan yang awalnya tidak di sengaja untuk Ana malah menjadi pertemuan yang akan membawa nya dalam masalah besar untuk hidup nya.

SELAMAT MEMBACA ,SEMOGA TERTARIK😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shkira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 16

Malam itu Ares langsung membawa Hansen. Ke rumah sakit. Ia juga membawa Ana yang masih pingsan bersama mereka.

Kesadaran Hansen pulih saat dalam perjalanan menuju rumah sakit. Ia melihat Ana masih pingsan di samping nya.

Sesampai nya di rumah sakit, Hansen meminta Ares untuk tetap di mobil menjaga Ana agar ia tidak kabur ketika sadarkan diri.

Hansen berjalan lunglai masuk kedalam rumah sakit. Perawat di sana langsung menangi kondisi nya.

Tidak lama, Hansen keluar dengan perban di kepala. kondisi nya pulih dengan cepat .

Ia masuk kedalam mobil dan meminta Ares mengantar nya kembali ke mansion.

Ares melirik kecil pada Hansen. "Apa nona Ana sudah mengetahui identitas mu bos?"

Hansen menatap penuh rasa bersalah Pada Ana "Dia sudah tau semuanya!" Memalingkan wajah "Bagaimana informasi yang aku minta?" Ucap nya, mengalihkan.

Ares menunjukan data informasi di ponsel nya. "Orang yang mengirim data informasi adalah asisten , Tuan Julian dari negara C. Setelah di selidiki lebih dalam, informasi nya sangat jelas dan akurat!" Jelas Ares,

Hansen mengernyit heran " Julian? Kita tidak pernah berurusan dengan dia sebelum nya, kenapa dia membantu kita?"

"Entahlah bos, yang pasti kejadian 3 tahun lalu. Tidak ada hubungan nya dengan nona Ana!"

Ares melirik ana dari kaca kemudi "Jantung yang ia miliki juga bukan milik nona Alexa! Nona Ana saat itu hanya kebetulan di waktu yang sama saat nona Alexa meninggal!" Jelas Ares.

Hansen terdiam menatap penuh rasa menyesal pada gadis yang sama sekali tidak bersalah di hadapan nya itu harus menerima kekejaman nya. 'Sekarang dia pasti sangat membenci ku!' batin nya kecewa.

"Selidiki lebih dalam, siapa dalang dari masalah ini hingga bisa mengecoh dengan cerdik!" Tegas Hansen, dingin.

Ares mengangguk patuh. Ia kembali fokus menyetir menuju mansion.

Sesampai nya di mansion.

Hansen menggendong tubuh ana yang masih tidak sadarkan diri. Ia berjalan masuk naik ke lantai 3 kamar nya.

Melatakan Ana di atas ranjang.

Ia duduk di samping Ana menatap wajah nya lalu mengusap lembut pipi nya. "Maaf, ternyata aku salah! " Lirih nya menyesal.

Hansen mencium kening Ana penuh rasa bersalah, setelah itu ia beranjak pergi meminta seorang pelayan wanita untuk membantu nya mengganti pakaian Ana yang kotor.

pelayan wanita masuk membawa set piyama dan kain basah untuk membersihkan tubuh Ana.

Hansen yang saat itu duduk di ruang tengah, melihat pelayan itu sudah turun dari lantai 3 kamar nya.

"Tuan, baju nona Ana sudah selesai di ganti!" Ucap pelayan itu, melaporkan tugas nya.

Hansen hanya menjawab dengan anggukan kecil. Wajah nya terlihat pucat dan lelah. Akibat luka di kepala nya.

Hansen pergi ke kamar tamu untuk istirahat.

.

.

Keesokan pagi nya..

Ana terbangun dari pingsan nya sepanjang malam, pandangan nya silau tersorot matahari.

Ia beranjak duduk menahan tengkuk yang masih terasa sakit.

Mata nya menatap setiap ruangan yang tidak asing. Ia ingat itu adalah kamar di mansion Hansen yang ada di lantai 3.

Ia segera bangun dari ranjang menatap sekeliling untuk meyakinkan. Ia juga tersadar saat melihat baju nya Bahakan sudah di ganti.

Ana terduduk di atas ranjang Dengan expresi putus asa "Apa aku benar-benar akan mati begitu saja!" Gumam nya terisak.

Klak.

Ana tersentak kaget ketika mendengar suara pintu terbuka.

Langkah Hansen masuk dari balik pintu.

Ana beranjak cepat dari ranjang berlari ke arah balkon, namun ternyata pintu nya terkunci. Ia berusaha membuka tapi tidak bisa.

Ia panik kebingungan berlari ke sudut ranjang saat Hansen melangkah masuk.

Hansen tertegun saat melihat Ana sudah tersadar dan berdiri di sudut ranjang penuh waspada.

Ia berjalan pelan mendekat pada Ana. Hati nya tiba-tiba sakit ketika melihat Ana ketakutan ketika melihat diri nya datang.

Hansen berdiri tepat di hadapan Ana. "Aku tidak akan menyakiti mu!" Tangan nya meraih.

"Jangan sentuh aku!" Tepis Ana. Takut.

Hansen melihat penolakan Ana yang terlihat sangat jelas. Ia tidak terima dengan sikap Ana yang menolak nya lalu ia menarik Ana ke dalam pelukan nya.

"Lepaskan aku!" Memberontak.

Hansen mengeratkan pelukan nya "Diam!" Sentak nya. membuat Ana terdiam.

Raut wajah ana sangat putus asa " Lakukan, aku siap mati sekrang!" Ucap nya, pasrah.

Hansen tertegun sedih mendengar kalimat Ana. "Maaf!"

Ana tidak percaya kalimat itu keluar dari mulut Hansen.

Ia bisa mendengar detak jantung Hansen yang berdegup keras.

Namun itu tetap tidak bisa membuat hati nya yang telah hancur kembali lagi.

Ana mendorong kasar tubuh hansen " Kamu mau mempermainkan aku lagi," marahnya "jika ingin membunuh ku, bunuh aku sekarang!"

Hansen menarik kembali tubuh Ana dalam pelukan nya "Tidak, aku tidak bisa! sejak awal juga aku tidak pernah bisa. Ana! Aku bisa jelaskan kesalahpahaman yang terjadi!" Jelas nya.

Ana menolak penjelasan Hansen yang sudah membuat nya sangat kecewa."Lepaskan aku, aku tidak mau dengar!"

" Tapi kamu harus dengar!" Memaksa

"Hansen, aku bilang lepaskan aku!"

Hansen tidak sabar melihat sikap memberontak Ana sehingga ia mencium paksa Ana yang tidak mau mendengar penjelasan nya.

Ana tertegun kaget melihat Hansen mencium nya dengan paksa, ia menggigit bibir Hansen hingga membuat nya mengernyit kesakitan, namun Hansen tidak juga melepaskan ciuman nya. Sehingga ana hanya bisa pasrah sampai hansen melepaskan nya.

Saat melihat Ana sudah lebih tenang, hansen melepaskan nya..

Ana terdiam sedih seakan terus di permainkan oleh Hansen.

Hansen membawa nya duduk di atas ranjang. Ia berlutut di hadapan Ana. Yang terus memalingkan wajah.

" Maaf!" Lirih nya, menyesal.

"Semua yang terjadi Itu salah ku, aku tidak menyelidiki nya dengan jelas!" Tertunduk sedih " aku bersalah, tolong maafkan aku!"

Ana terdiam menggenggam erat ujung baju nya, ia menggigit bibirnya menahan air mata yang sebentar lagi akan tumpah.

Ia tidak tau harus bersikap seperti apa pada Hansen, pria yang sudah menghancurkan hati dan kepercayaan nya bahkan hampir membunuh nya malam itu.

Ana mengusap kasar air mata yang akhirnya tumpah, " Biarkan aku pergi, jika ini memang hanya salah paham!" Ucap nya, tegas.

Hansen menolak permintaan Ana "Tidak!"

Ana menatap lirih "Apa lagi yang Kamu mau dari ku? Kamu sendiri yang mengatakan kalau semua nya hanya salah paham! Lalu apa lagi? biarkan aku pergi!"

Hansen tertegun sedih " Beri aku kesempatan, aku mau Kamu tetap di sisi ku!" Pinta nya berharap.

"Tidak, aku tidak mau berada di sisi mu!" Tolak Ana.

"Kamu harus tetap di sisi ku!"

Ana beranjak kesal "Untuk apa!" Menepis. "Sejak awal Kamu tidak pernah mencintai ku, jadi untuk apa aku berada di sisi mu? apa agar kamu bisa mempermainkan aku lagi?"

"KARENA AKU MENCINTAI MU!" tegas Hansen.

Ana tersenyum pahit "Tapi aku sudah tidak mencintai mu lagi!"

Hansen terpaku diam, ia tidak bisa membantah kalimat yang di ucapkan Ana.

"Biarkan aku pergi!" Ucap ana sekali lagi.

Hansen tertunduk menarik diri seakan memberi jalan untuk Ana pergi,

Ana melirik kecil pada Hansen memastikan Dia tidak akan menghalangi langkah nya.

Ia berjalan pelan menuju pintu, sejak ia melangkah Hansen benar-benar membiarkan nya pergi.

Dengan wajah putus asa Hansen menoleh pada Ana. "Jangan pernah muncul di hadapan ku lagi!" Seru nya terdengar sangat menyakitkan

Ana mendengar ucapan nya ,namun ia terus melangkah mengabaikan nya.

Hansen mengepal marah. "Jika kamu muncul di hadapan ku lagi, aku akan membuat mu tetap di sisi ku apapun cara nya!" Tegas nya mengancam.

Langkah Ana terhenti saat mendengar kalimat ancaman dari Hansen. "Itu tidak akan pernah terjadi!" Balas nya, dingin.

Lalu ia kembali melangkah pergi meninggalkan kamar.

Ia bergegas keluar dari mansion sebelum Hansen merubah pikiran nya.

Hansen menatap nya jauh dari atas balkon, expresi nya terlihat sangat berat melepaskan Ana. Namun ia bersalah dan harus menebus nya Dengan cara mengabulkan permintaan Ana, untuk di bebaskan.

"Jangan pernah kembali, jika tidak. aku akan mengurung mu selama nya di sisi ku!" Gumam nya, berat untuk melepaskan yang terasa sangat sakit di hati.

.

.

.

.

Bersambung..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!