"Aku milih kamu."
"Tapi kita berbeda, Tuan."
"Berbeda?" Arnold mengernyitkan dahinya heran, pasalnya gadis di depannya ini dari kasta yang setara dengannya. "Apanya yang berbeda?"
"Agama." lirih Arini dengan menggelengkan kepalanya, "agama kita berbeda, Tuan."
"Gampang! Aku bisa mengikuti agamamu kalau kamu mempersoalkan itu."
Ikuti perjalanan kisah beda agama antara Arini dan Arnold ya readers, apakah mereka akhirnya bisa menikah? atau itu hanya angan-angan seorang Arnold saja? Dan apa sebenarnya motif Arnold memilih Arini untuk menjadi istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inisial EY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Arnold
"Ayah!" Bunda Jennifer menoleh pada suaminya dengan kepanikan melanda, "mana Arini? sebentar lagi pesawat akan terbang, dan dia belum juga kembali dari toilet."
"Ayah udah keliling toilet di sini, tapi enggak ada Arini, Bun." Ayah Darius memijit pelipisnya, "coba Bunda telpon kak Chandra, siapa tau Arini pulang dulu karena ada yang ketinggalan."
"Ayah!" teriak Bunda Jennifer histeris, "Pesawat kita sebentar lagi akan terbang."
"Bun! Bunda yang tenang!"
"Bunda enggak bisa tenang, Yah. Arini hilang dan Ayah menyuruh Bunda tenang?"
"Ayah akan bertanya dengan pihak keamanan, minta tolong biar Ayah bisa ngecek CCTV!" jelas Ayah Darius yang kini membuat Bunda Jennifer menganggukkan kepala sembari meneteskan air mata.
Buru-buru setelah Ayah Darius pergi, Bunda Jennifer menelpon Uncle Chandra untuk menanyakan Arini.
Panggilan tersambung...
Jennifer : Kak, apa Arini pulang ke rumah?
Chandra : Tidak ada. Kenapa Jen?
Jennifer : Arini hilang kak! Tadi dia bilang mau ke toilet, tapi sampai setengah jam dia belum juga kembali.
Chandra : Kalian sudah cek CCTV?
Jennifer : Kak Darius baru saja minta tolong sama pihak keamanan buat ngecek CCTV.
Chandra : Kakak ke bandara sekarang, Jen. Kamu tunggu kakak!
Panggilan terputus..
**
Menunggu setengah jam lamanya di pintu masuk Bandara tanpa melihat Arini menghampirinya padahal pesannya sudah dibaca, membuat Arnold akhirnya mengembuskan napas kasar seraya masuk ke dalam Bandara untuk mencari Arini dan bertemu istrinya sebelum istrinya pergi ke Jerman.
Arnold sudah tidak peduli jika nanti dia ditolak oleh Bunda Jennifer saat ia akan mendekati Arini.
Ia hanya ingin melihat istrinya sebelum ke Jerman, itu saja.
Namun saat ia baru masuk ke Bandara, ia malah melihat Ayah Darius berjalan menuju pihak keamanan dengan raut panik yang begitu kentara.
"Ayah!" panggilnya yang membuat Ayah Darius menoleh lalu menatapnya seraya mengerutkan kening, "Arnold?" sapanya yang membuat Arnold maju lalu mencium tangan Ayah Darius.
"Ada apa Ayah? Kenapa Ayah terlihat panik?" tanyanya saat Ayah Darius tidak menolak sapaannya.
Sangat berbeda dengan Bunda Jennifer yang pasti akan menghindarinya.
"Arini hilang, Arnold. Ayah mau minta tolong pihak keamanan untuk mengecek CCTV."
"Arini hilang?" tanya Arnold memastikan.
"Ya. Setengah jam yang lalu dia izin sama Bunda buat ke toilet, dan Ayah tadi udah ngecek semua toilet yang ada di sini, tapi Ayah tidak menemukannya." jelas Ayah Darius yang membuat Arnold mengingat sesuatu.
Setengah jam yang lalu adalah waktu dimana Arini membaca pesannya jika ia sudah sampai di Bandara dan mengajukan permintaan ingin bertemu.
Arini membaca pesannya, namun tidak dijawab tapi Arnold sekarang yakin kalau Arini izin ke toilet pada Bundanya itu untuk menemuinya.
"Biar Arnold saja yang mengecek CCTV, Ayah. Sekarang Ayah temani Bunda saja sambil menunggu informasi dari Arnold." pinta Arnold yang dijawab anggukan serta tepukan di pundak dari Ayah Darius tanda Ayah Arini itu menyetujui kata menantunya.
"Ayah tunggu di ruang tunggu, Arnold."
"Iya Ayah."
Ayah Darius dan Arnold pun berpisah, lalu Arnold tidak tunggu lama menuju pihak keamanan untuk mengecek CCTV.
Sebagai pengusaha sukses tanah air, tidak sulit bagi Arnold meminta rekaman CCTV setengah jam yang lalu di sekitar toilet pada pihak keamanan Bandara.
Rekaman CCTV itu menampilkan Arini yang berada di ruang tunggu bersama Bunda Jennifer tengah melihat ponselnya, lalu berpamitan pada Bundanya untuk ke toilet, dan saat di toilet saat Arini baru membuka pintunya, ada seorang laki-laki berjas hitam membekap Arini dengan sapu tangan.
Arini sempat memberontak, namun tiba-tiba tidak sadarkan diri dengan terkulainya tangan Arini ke bawah.
Dan saat laki-laki berjas hitam itu berbalik badan, Arnold menajamkan penglihatannya saat melihat siapa yang menculik Arini.
"Pak Raka!" ucap Arnold saat melihat benar jika yang menculik Arini adalah Raka Bramantyo walaupun laki-laki berjas hitam itu menggunakan kaca mata hitam.
Arnold yakin jika ia tidak salah menebak, dan kini Arnold pun tiba-tiba mengepalkan tangannya saat mengingat jika Raka Bramantyo adalah Ayah biologis Arini yang membuat Bunda Jennifer tiba-tiba menyuruhnya membatalkan pernikahan mereka yang baru saja terjadi kemarin.
Dengan menampilkan muka bengisnya yang tengah begitu berang, Arnold berjalan dari ruang pihak keamanan di mana ia mengecek CCTV menuju ruang tunggu dimana Ayah Darius dan Bunda Jennifer berada.
"Gimana, Arnold? Arini dimana?" tanya Ayah Darius saat melihat Arnold mendekat padanya, sedangkan Bunda Jennifer terus tergugu.
"Arini dibawa Pak Raka, Ayah." jelas Arnold yang membuat Bunda Jennifer seketika menatap nyalang Arnold.
"Apa aku bilang hah!" Bunda Jennifer lalu berdiri dan memukuli Arnold membabi buta, "Dari kemarin aku udah bilang kalau kamu harus menceraikannya, kenapa kamu belum juga mau menceraikannya hah! Dimana hati nuranimu, Arnold. Dimana?"
Arnold memejamkan matanya, menerima saja pukulan Bunda Jennifer yang tidak begitu terasa bagi Arnold.
Arnold menyadari jika Bunda mertuanya sedang kalut, karena hal yang sedari kemarin dikhawatirkan dimana Pak Raka akan berupaya mendekati Arini ternyata benar terjadi.
Dan kali ini Pak Raka melakukan pendekatan itu dengan cara yang salah.
"Arini anakku. Hanya anakku." Bunda Jennifer histeris, lalu terduduk saat Ayah Darius menangkap tangannya dan menenangkannya, "Arini anak kita, Yah. Bukan anak laki-laki sialan itu."
"Iya, Bun. Arini anak kita." Ayah Darius memeluk erat istrinya. "Kita berdoa semoga Arini baik-baik saja, Bun."
"Bunda, Ayah, tolong restui pernikahan Arnold dan Arini." Arnold meminta restu seraya menatap pilu Bunda mertuanya.
Bunda Jennifer menatap Arnold saat mendengar permintaan menantunya.
"Bunda akan merestui pernikahan kalian, kalau kamu bisa bawa Arini ke tangan Bunda lagi."
"Terimakasih Bunda. Arnold berjanji akan bawa Arini ke tangan Bunda lagi, tapi hidup bersama Arnold menjadi istri." ujar Arnold yang membuat Bunda Jennifer menatap Ayah Darius, dan Ayah Darius pun menganggukkan kepalanya dan Bunda Jennifer berganti menatap Arnold lalu menganggukkan kepalanya.
***
"Lepaskan saya! Kasihan Bunda. Pasti Bunda mencari saya, Pak." pinta Arini saat Pak Raka kembali masuk ke dalam kamarnya untuk memberinya makan malam.
"Kamu anakku, Arini. Tempat kamu disini." tolak Pak Raka sembari menatap penuh kasih anaknya.
"Tempat saya bukan disini. Dan saya perlu bilang berapa kali, kalau saya bukan anak Anda."
"Kamu anakku. Kamu anak yang aku-"
"Saya bukan anak Anda." Arini menunjuk dirinya sendiri seraya menggelengkan kepalanya, "Nama saya Arini Abimana binti Jennifer Abimana, lantas dari kata mana Anda bisa menyimpulkan kalau saya Anak Anda Pak Raka?"
"Saya anak tak ber-nasab, saya tidak mempunyai nasab pada lelaki manapun. Nasab saya pada Bunda saya." jelas Arini yang membuat Raka kehilangan kata-kata.
"Tolong lepaskan saya!" pinta Arini lagi saat Pak Raka hanya menatapnya.
"Tidak akan. Aku tidak akan melepaskan kamu Arini. Karena dari kamu lahir sampai kamu menikah, baru kali ini Papa bisa berkesempatan dekat denganmu."
"Anda bisa bicara baik-baik dengan Bunda, Pak. Tidak dengan cara yang seperti ini."
"Arini--"
"Lepaskan saya!" pinta Arini entah keberapa kali, yang kali ini membuat Pak Raka menghela napas kasar, lalu berdiri dan keluar kamar tanpa menjawab pinta Arini.
Bersambung..