Pernikahan Nadira Alesya batal di depan mata ketika calon suaminya melarikan diri demi menikahi wanita lain. Terluka dan dipenuhi dendam, Nadira tak menyangka justru harus menikah dengan Rayzan Arjunawan, saudara dari pria yang telah meninggalkannya. Bagi Nadira, Rayzan hanyalah penebus dosa atas penghinaan yang ia terima.
Namun, Rayzan menghadapi sikap Nadira dengan kesabaran dan ketulusan. Perlahan, pernikahan yang awalnya dibangun atas dendam berubah menjadi sesuatu yang tak pernah Nadira rencanakan. Laki-laki yang seharusnya menjadi alat balas dendam justru membuat hatinya jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Kecil
Menjelang pagi, Nadira lebih dulu terbangun daripada Rayzan. Wanita itu sama sekali tidak kaget ketika mendapati Rayzan tidur begitu dekat di sampingnya karena semua itu terjadi atas permintaannya sendiri.
Kini Nadira termenung memikirkan kejadian semalam. Tangannya terulur menyentuh perutnya sendiri, mengkhawatirkan apa yang mungkin terjadi di kemudian hari.
“A-aku nggak mau hamil anaknya Rayzan. Aku benci dia. Seharusnya aku nggak melakukan semua itu.”
Nadira masih terbayang bagaimana dirinya kehilangan kendali dan menjadi orang yang lebih dulu mendekati Rayzan hanya karena melihat wajah lelaki itu dalam kegelapan kamar.
“Nadira.”
Nadira tersentak ketika merasakan wajahnya dielus.
“Ra-Rayzan.”
“Kamu ngapain?” tanya lelaki itu kebingungan.
Lamunan Nadira terhenti. Ia segera mengubah posisinya menjadi duduk. Menoleh ke arah Rayzan, wanita itu mengernyitkan kening.
“Rayzan, hei.”
“Dingin, Nadira.”
“Ya Tuhan, kamu demam, ya?”
Rayzan tidak menjawab. Nadira mencoba membangunkan lelaki itu agar bisa duduk seperti dirinya.
“Antarin aku pulang, ya.”
“Lho ... Ngapain kamu minta pulang? Terus aku sama siapa di sini?”
“Nadira ... Aku benar-benar nggak kuat saat ini. Aku nggak mau ribut sama kamu. Lebih baik aku pulang. Uhuk...”
Nadira justru merasa iba melihat keadaan lelaki itu. Ia meletakkan telapak tangannya tepat di kening Rayzan.
“Kayaknya kamu demam tinggi, deh.”
“Tolong jangan macam-macam sama aku, ya. Aku janji nggak akan bikin kamu kesal.”
Nadira menarik tubuh lelaki itu dan memeluknya. Tanpa sadar, ia mengusap-usap punggung Rayzan. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar mengkhawatirkan laki-laki yang selama ini dibencinya.
“Dingin, hm?”
“I-iya.”
“Apa karena efek kamu mandi malam tadi?”
“Aku nggak tahu,” lirih Rayzan.
Kesempatan itu tidak disia-siakan Rayzan. Perlahan tangannya melingkar di pinggang sang istri.
“Kamu mau makan apa?”
Rayzan menggeleng perlahan.
“Kamu harus makan, ya, supaya cepat sembuh.”
“Makasih, ya, sudah khawatir sama aku.”
Nadira memutar bola matanya malas.
“Aku mau kamu sembuh bukan berarti aku khawatir. Tapi aku nggak punya teman berantem.”
“Nadira ... Aku minta maaf.”
“Minta maaf kenapa?”
Rayzan mengembuskan napas. Hembusan itu membuat Nadira sedikit bergidik ketika terasa di lehernya.
“Aku suami yang jahat. Aku sudah menghina kamu sampai membuat kamu menangis.”
“Sudahlah, Rayzan. Kamu nggak perlu bahas itu lagi.”
“Nadira ... Setelah kita melewati malam tadi, apa kamu masih mau meninggalkan aku?”
Nadira terdiam. Posisi mereka terasa begitu membingungkan. Ia masih ingin berpisah dengan Rayzan, tetapi setelah semua yang terjadi di antara mereka, perasaannya mulai tidak sesederhana sebelumnya.
Wanita itu akhirnya melepaskan pelukannya. “Aku mau mandi dulu.”
“Kalau kamu pergi ke kantor, lebih baik kamu antar aku ke rumah Umi.”
“Aku nggak ke kantor. Aku mau masak bubur dulu. Selagi buburnya belum matang, aku mau mandi sebentar.”
“Aku nggak mau bubur.”
“Tadi aku tanya kamu mau makan apa, tapi kamu nggak mau jawab.”
“Aku mau kamu.”
Nadira menelan ludah.
“Kamu jangan macam-macam, ya. Lagi sakit saja masih bisa mesum.”
Rayzan berdecak kesal.
“Sekali saja kamu berpikiran baik tentang aku. Aku mau kamu di sini jagain aku. Tadi malam, kan, aku sudah jagain kamu dari ketakutan.”
“Iya ... Tapi aku mau mandi dulu, ngerti?”
“Ngerti, sayang.”
[] [] []
Sarapan pagi baru saja dimulai. Semua orang sudah berpakaian rapi. Sampai saat ini, Resya masih merasa dirinya tidak benar-benar diinginkan di rumah itu karena sikap yang ditunjukkan Indah kepadanya.
“Umi mau ke mana?”
“Mau ke rumah besan. Umi khawatir sama Rayzan. Apalagi Ayah kamu bilang dia sudah jarang masuk kantor.”
“Iya, sih. Tadi malam aku juga udah coba menghubungi dia, tapi nggak diangkat.”
“Nadira?” tanya wanita berkerudung itu.
“Nadira dan Sultan udah aku telepon. Nggak ada satu pun yang menjawab.”
“Hmm ... Ya sudah. Nanti Umi pastikan dulu.”
“Umi mau ditemenin nggak?” tanya Resya.
“Memangnya kamu mau ikut? Kamu, kan, paling takut dekat sama kami. Nempel terus sama suami.”
“Nggak boleh ngomong begitu tau. Resya udah jadi menantu kita,” sambung Ozan.
“Kamu jangan ikut. Nanti yang ada Nadira malah mengajak kamu bertengkar.”
“Nggak apa-apa, Mas. Umi, kan, ada. Aku yakin Umi nggak akan membiarkan kami bertengkar.”
[] [] []
Saat ini Nadira sedang menyiapkan bubur untuk suaminya. Ia begitu perhatian kepada Rayzan setelah semua kejadian yang membuat hubungan mereka berubah. Tanpa sadar, Nadira mulai memberikan perhatian lebih kepada lelaki itu.
“Aku boleh pegang perut kamu?”
“Buat apa? Jangan aneh-aneh kamu. Mau aku tumpahin buburnya ke wajah kamu?”
Rayzan tersenyum simpul. “Aku mau berdoa supaya di dalam rahim kamu ada anakku.”
“Anak? Jangan mimpi, Rayzan. Nggak akan ada anak dalam pernikahan kita,” ucap Nadira tegas. “Kamu, aku, cerai. Paham!”
“Allah nggak akan membiarkan kita bercerai. Aku yakin dia akan menitipkan cinta kita di dalam keluarga kecil kita nanti.”
“Cinta, cinta, cinta. Kamu jangan bodoh, deh! Aku nggak akan pernah cinta sama kamu.”
“Nggak apa-apa, Nadira. Tapi aku janji, walaupun aku hanya suami pengganti saat calon suamimu membatalkan pernikahan kalian, aku akan tetap mencintai kamu sampai perjalanan hidupku berakhir.”
“Ya udah, bunuh diri saja dari sekarang.”
“Kenapa bukan kamu yang bunuh aku? Kalau aku bunuh diri, nanti aku dapat dosa.”
“Sama aja, dong. Kalau aku bunuh kamu, berarti aku yang dapat dosa.”
“Kamu tau dosa?” tanya Rayzan.
“Tau, lah ... Gini-gini aku juga paham agama. Walaupun sedikit.”
“Oke ... Kalau kamu tau tentang dosa, terus kenapa kamu nggak pernah menghargai aku sebagai suamimu?”
“Hmm ... Aku, kan, nggak menginginkan pernikahan ini. Jadi jangan heran kalau aku nggak pernah menganggap kamu sebagai suamiku.”
“Aku juga nggak menginginkan pernikahan ini, tapi aku bisa menerima semuanya.”
“Karena kamu bodoh! Kamu itu laki-laki bernasib buruk.”
Rayzan menatap lekat ke arah Nadira. Kemudian ia mengubah posisinya dan memilih berbaring.
“Lho, buburnya nggak jadi dimakan?”
“Aku memang laki-laki bernasib buruk. Aku selalu menjadi kambing hitam saudaraku. Sekarang aku mendapatkan wanita yang kuharapkan bisa menjadi teman bahagia, ternyata malah menyakiti perasaanku.”
Nadira terdiam.
“Aku butuh doa dari kamu. Semoga penyakitku ini cepat membaik atau setidaknya aku bisa segera terbebas dari semua masalah yang ada.”
“Ra-Rayzan ... Aku minta maaf.”
“Aku sadar, Nadira. Ucapan kamu memang benar. Aku laki-laki bernasib buruk.”
Rayzan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
“Rayzan.”
Di balik selimut, Rayzan tersenyum simpul. Lagi-lagi ia berhasil membuat wanita itu merasa bersalah.
“Pergi, Nadira. Bukan kamu aja yang bisa merasakan sakit hati. Aku juga,” ungkap lelaki itu.
“A-aku minta maaf. Ucapanku tadi sudah menyakiti hati kamu.”
“Pergi! Aku nggak butuh kamu.”
“Tapi—”
“Kamu pergi atau aku pulang dan meninggalkanmu sendirian di rumah ini?”
Nadira akhirnya menuruti permintaan suaminya. Ia berlalu pergi sambil membawa bubur tersebut kembali ke dapur. Bahkan setengahnya pun belum sempat dihabiskan Rayzan.