NovelToon NovelToon
Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Bad girl
Popularitas:116
Nilai: 5
Nama Author: Xyfvxnyy

Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.

Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.

Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.

Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saksi Bisu di Dalam Flashdisk

Langkah Clyrine sempat tertahan sejenak di bordes tangga lobi utama. Otaknya yang mulai dingin mendadak menangkap kejanggalan dari rentetan argumen mematikan yang dilontarkan Damien di ruang BK tadi.

Ia mendongak, menatap lekat-lekat sisi wajah Damien yang diterpa pendar lampu temaram lorong.

"Tunggu dulu, Kak..." gumam Clyrine, menarik pelan tautan tangan mereka hingga Damien ikut menghentikan langkahnya dan menoleh ke bawah.

Kening gadis itu berkerut dalam, matanya menyipit penuh selidik. "Kakak kok bisa tahu kejadiannya sedetail itu? Kayaknya tadi di lapangan gue cuma sempat bilang kalau dituduh lihat contekan doang. Gue bahkan belum sempat cerita gimana caranya Claire pura-pura jatuhin botol minumnya ke kolong meja gue."

Damien menatap ekspresi bingung Clyrine selama beberapa detik. Bukannya panik atau mengelak, sudut bibirnya justru terangkat samar—sebuah seringai tipis yang mencerminkan kendali penuh atas situasi.

"Gue udah lihat rekaman CCTV-nya sebelum nyamperin lo ke sini," jawab Damien santai tanpa beban, seolah meretas atau meminta akses cepat sistem pengawas sekolah adalah hal paling sepele di dunia baginya.

Mata Clyrine membelalak lebar. "Hah?! Kapan sempatnya?!"

"Waktu Claire mulai buka mulut di ruang tamu rumah lo tadi sore," jelas Damien tenang sembari kembali melangkah menuruni anak tangga, tetap menuntun jemari Clyrine di sampingnya. "Claire pasang muka sedih sambil bilang lo dihukum karena nyontek. Om Charles langsung emosi, tapi gue tahu kapasitas lo. Lo emang hobi cari ribut dan malas buka buku, tapi lo terlalu punya harga diri buat pakai contekan murahan kayak gitu."

Mendengar pengakuan tersirat itu, degup di dada Clyrine mendadak berantakan. Rasa hangat merayapi relung hatinya; Damien mengenalnya lebih baik daripada ayahnya sendiri.

"Terus?" kejar Clyrine, menahan senyum yang berusaha merekah di bibirnya.

"Terus, pas gue tolak tawaran Om Charles buat ngajarin Claire, gue langsung buka laptop di mobil," lanjut Damien datar. "Akses server keamanan Rexanswood itu terhubung sama jaringan kantor konsultan gue. Cuma butuh dua menit buat gue narik rekaman kamera sudut kelas tiga belas jam sepuluh pagi tadi. Dan di sana kelihatan jelas banget gerakan tangan saudari tiri lo waktu dia nunduk di samping tas lo."

Clyrine ternganga takjub. "Gila... lo bener-bener periksa sampai segitunya cuma buat ngebuktiin gue nggak salah?"

Damien menghentikan langkah tepat di samping pintu penumpang mobil sedan hitamnya. Ia membuka kunci otomatis, lalu membuka pintu untuk gadis itu. Sebelum membiarkan Clyrine masuk, Damien menatap lurus ke dalam manik mata oranye-tembaga yang kini berbinar haru.

"Gue udah tanda tangan komitmen buat jadi tutor lo, Clyrine," bisik Damien dengan suara baritonnya yang berat dan serius. "Kalau ada orang yang mau ngehancurin murid bimbingan gue pakai cara kotor, itu artinya dia cari perkara langsung sama gue."

Sentuhan dingin pada nada bicaranya kontras dengan kehangatan protektif yang melingkupi hati Clyrine. Gadis itu menelan ludah pelan, pipinya kembali bersemu merah di tengah wajahnya yang masih kotor oleh sisa debu lapangan.

"Udah, buruan masuk," titah Damien, sedikit menyentil ujung hidung Clyrine dengan telunjuknya agar gadis itu berhenti melamun. "Di jok belakang ada jaket cadangan sama sebotol air mineral dingin. Minum dulu, bersihin muka lo. Habis ini kita pulang dan bikin Claire tahu rasa."

Sepanjang perjalanan dari sekolah menuju kawasan perumahan elit keluarga Rexander, Clyrine meneguk habis setengah botol air mineral dingin yang diberikan Damien. Hawa pendingin mobil perlahan meredakan panas di kulitnya. Jaket hitam cadangan milik Damien yang sengaja ia kenakan untuk menutupi seragamnya yang kotor dan kusut terasa begitu besar, namun menyelimutinya dengan kehangatan dan aroma kayu manis khas pria itu.

Damien fokus menyetir, wajahnya diterangi pendar dasbor mobil. Dari saku jasnya, ia menarik sebuah flashdisk kecil berwarna perak bertali hitam, lalu meletakkannya di tempat penyimpanan dekat tuas persneling.

"Itu apa, Kak?" tanya Clyrine melirik benda kecil tersebut.

"Potongan rekaman CCTV kelas lo," jawab Damien santai. "Termasuk sudut pandang dari kamera koridor pas Claire bicara sama Genevieve sebelum bel masuk. Semuanya tersimpan rapi dengan cap waktu resolusi empat K."

Clyrine tersenyum miring, rasa lelah di sekujur tubuhnya seolah terbayar lunas. "Gue nggak sabar liat ekspresi mukanya nanti."

Damien melirik sekilas, sudut bibirnya terangkat tipis. "Ingat prinsip kita di kafe tempo hari. Lo nggak perlu teriak-teriak atau lempar barang buat menang. Tunjukkan bukti, biarkan fakta yang menampar wajahnya di depan Charles."

Mobil sedan hitam itu melambat saat gerbang besi kediaman Rexander terbuka lebar. Hari sudah beranjak petang; lampu-lampu taman bergaya Eropa mulai menyala temaram, menyorot fasad rumah megah yang tampak anggun namun menyimpan bara konflik di dalamnya.

Damien mematikan mesin mobil tepat di depan lobi depan. Begitu turun, ia menunggu Clyrine merapikan jaketnya, lalu tanpa ragu meraih pergelangan tangan gadis itu lagi, menuntunnya melangkah melewati pintu ganda utama yang tak terkunci.

Di ruang tengah, suasana terasa sangat menekan.

Charles Rexander masih duduk di sofa kulit favoritnya dengan segelas wiski di atas meja, ditemani Runica yang tampak cemas. Di sofa lain, Claire duduk dengan buku catatan terbuka di pangkuannya. Gadis itu berpura-pura membaca dengan tekun, sesekali memasang wajah sedih dan termenung—berharap sang ayah semakin bersimpati pada dirinya yang 'gagal' mendapatkan bimbingan Damien gara-gara ulah Clyrine.

Suara langkah kaki dua orang yang berderap di lantai marmer seketika membuyarkan lamunan seisi ruangan.

Claire mendongak cepat, matanya membelalak lebar melihat siapa yang melangkah masuk. Di sampingnya, Charles meletakkan gelasnya dengan dentingan keras, langsung bangkit berdiri dengan raut wajah mengeras.

"Clyrine!" suara bariton Charles menggelegar di ruang keluarga. "Bagus sekali kamu baru pulang jam segini dengan pakaian berantakan seperti gelandangan!"

Charles beralih menatap Damien dengan nada kecewa bercampur heran. "Damien, untuk apa kamu repot-repot menjemput anak tidak tahu diri ini? Biarkan saja dia merenungi perbuatannya yang mencoreng nama baik keluarga!"

Claire menyunggingkan senyum tipis yang amat samar di sudut bibirnya. Namun sebelum ia sempat menambahkan racun dalam percakapan itu, Damien melangkah maju satu tindak, berdiri tepat di hadapan Charles tanpa ada rasa gentar sedikit pun.

"Saya bawa dia pulang karena tugasnya di sekolah sudah selesai, Om," ujar Damien tenang, suaranya yang berat memotong emosi Charles secara telak. "Dan saya pastikan, anak yang berdiri di samping saya ini tidak pernah mencoreng nama baik siapa pun hari ini."

Charles mengerutkan kening dalam-dalam. "Apa maksudmu, Damien? Claire sendiri yang melihat dia membawa contekan waktu ujian Sejarah tadi pagi!"

Claire buru-buru menunduk, meremas roknya. "Dad... sudahlah, nggak apa-apa kalau Kak Damien mau belain Clyrine. Mungkin Clyrine cuma khilaf..."

"Buka mata Om Charles lebar-lebar," potong Damien dingin tanpa mempedulikan ocehan Claire.

Pria itu merogoh saku jaketnya, mengeluarkan flashdisk perak tadi, lalu meletakkannya di atas meja marmer tepat di hadapan Charles dan Runica.

"Di dalam situ ada salinan resmi rekaman CCTV kelas tiga belas dari server pusat akademi," lanjut Damien dengan nada datar yang menusuk tulang. "Om bisa pasang di televisi ruang tengah ini sekarang juga. Lihat sendiri jam sepuluh lewat lima belas menit. Lihat tangan siapa yang menjatuhkan botol minum ke bawah meja Clyrine, dan tangan siapa yang menyelipkan kertas lipat berisi tinta gel biru ke dalam saku ranselnya."

Mendengar kata rekaman CCTV, tubuh Claire mendadak kaku membeku. Warna darah seolah surut seketika dari wajah cantiknya. Napasnya tercekat di tenggorokan, matanya terpaku pada benda perak kecil di atas meja itu dengan horor yang luar biasa.

Bohong... rekaman kelas kan mati kata Genevieve... batin Claire histeris, jemarinya mulai gemetar tak terkendali.

Charles menatap benda itu, lalu beralih menatap Claire yang kini tampak gemetar pucat pasi. Insting bisnis dan ketajaman logika Charles yang puluhan tahun memimpin perusahaan besar langsung menangkap perubahan bahasa tubuh anak tirinya.

"Claire..." panggil Charles pelan, suaranya berubah sangat dingin dan berbahaya. "Kenapa wajahmu pucat sekali?"

"D-Dad... itu... Kak Damien pasti salah paham..." suara Claire bergetar hebat, air mata panik mulai menggenang di pelupuk matanya—kali ini bukan air mata kepalsuan, melainkan ketakutan murni. "Aku... aku nggak bermaksud..."

"Pak Antonio Roberto sudah membatalkan sanksi Clyrine sore ini di ruang BK," sambung Damien tanpa ampun, menghantam sisa-sisa pertahanan Claire hingga hancur berkeping-keping. "Besok pagi jam delapan, Claire dan Genevieve dipanggil ke dewan kedisiplinan yayasan untuk pemeriksaan tindakan manipulasi bukti dan pencemaran nama baik. Kalau Om Charles mau mendampingi putri tiri Om, silakan datang."

Runica menutup mulutnya dengan kedua tangan, menatap Claire dengan tatapan tak percaya yang amat pedih. "Claire... kamu... benar-benar melakukan hal sekeji itu pada saudaramu sendiri?"

Claire tak mampu menjawab. Ia hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam, terisak ketakutan di sofa dengan seluruh aibnya yang terbongkar telanjang di depan Charles.

Charles memejamkan mata sesaat, napasnya terdengar berat menahan murka yang teramat sangat. Pria paruh baya itu menatap Clyrine yang berdiri diam di samping Damien dengan jaket kebesaran dan telapak tangan yang lecet. Ada gurat rasa bersalah dan penyesalan yang teramat dalam di mata sang kepala keluarga karena telah meragukan putri kandungnya sendiri.

"Clyrine..." panggil Charles lirih.

Clyrine menatap ayahnya lurus-lurus, tidak meluapkan amarah, tidak pula menangis meminta iba. Ia hanya tersenyum tipis—senyuman yang mencerminkan kedewasaan dan ketenangan baru yang ia pelajari dari pria di sampingnya.

"Aku cuma mau tepati janji ke Daddy buat belajar hari ini," ucap Clyrine tenang.

Damien melirik jam tangannya, lalu menatap Charles dan Runica bergantian secara formal.

"Jadwal les privat Clyrine tertunda dua jam karena kekacauan ini," pungkas Damien tegas. "Saya minta izin menggunakan ruang perpustakaan atas sampai jam delapan malam untuk mengganti waktu belajar yang terbuang."

Charles mengangguk kaku, suaranya serak. "Silakan, Damien... pakai ruangan itu sesukamu."

Tanpa menoleh sedikit pun pada Claire yang masih terisak hancur di sofa, Damien menepuk pelan bahu Clyrine. "Ayo. Jangan buang waktu lagi untuk hal-hal yang nggak penting."

Clyrine mengangguk mantap. Dengan dagu terangkat dan langkah yang tegap, ia berjalan mendampingi Damien menaiki anak tangga menuju lantai atas, meninggalkan ruang keluarga yang kini diliputi badai pembalasan bagi sang pembuat onar sejati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!