Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.
Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.
Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.
Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Sore hari perlahan datang menggantikan teriknya matahari siang yang membakar.
Sinar keemasan mulai menyelimuti desa kecil yang sedang dilanda kesunyian dan keputusasaan itu.
Arga keluar dari rumah dengan memanggul cangkul kecilnya di pundak kanan.
Natasya berjalan riang di sebelahnya sambil menggandeng tangan kiri ayahnya.
"Ayo kita pergi menuju candi tua sekarang, Ayah."
Natasya menarik tangan Arga dengan semangat yang menggebu-gebu.
"Iya, iya, Ayah mengerti, tapi kamu jangan berjalan terlalu cepat, Natasya."
Arga tersenyum tipis melihat antusiasme putrinya yang sangat tidak biasa.
"Ayah masih harus mengatur tenaga karena Ayah belum makan apa pun sejak pagi."
Mereka berdua berjalan menyusuri jalan setapak tanah yang berdebu.
Beberapa warga desa yang sedang duduk lesu di teras rumah hanya menatap kosong kepergian mereka.
"Mau pergi mencari makanan di reruntuhan hantu itu ya, Arga?"
Seorang pria kurus kering bernama Pak Joko menyapa dengan suara serak.
"Semua tempat di desa ini sudah kering kerontang, percuma saja kau mencarinya sampai ke ujung desa sana."
"Aku hanya mengikuti firasat putriku saja hari ini, Pak Joko."
Arga menjawab santai sambil terus berjalan tanpa mengurangi langkahnya.
"Siapa tahu Tuhan memang menyembunyikan rezeki kecil di tempat yang paling tidak terduga."
Sesampainya di pertengahan jalan menuju candi tua, sebuah keanehan mulai terjadi.
Ciap.
Ciap.
Suara kicauan burung terdengar sangat ramai memecah keheningan sore di atas kepala mereka.
"Lihat itu, Ayah, banyak sekali burung yang berputar-putar di langit."
Natasya menunjuk ke atas dengan wajah sok terkejut yang sangat natural.
"Tumben sekali burung sebanyak itu terbang bergerombol ke arah timur sana."
Arga mendongak dan mengerutkan keningnya melihat sekawanan burung kecil melesat cepat ke satu arah.
"Itu memang aneh, Natasya."
"Burung-burung itu biasanya sudah pulang ke sarang masing-masing kalau sore hari begini."
Tuk.
Sebuah benda kecil jatuh dari paruh seekor burung dan mendarat tepat di depan sepatu Arga.
Pria itu berjongkok dan mengambil benda yang ternyata adalah sebuah kacang tanah yang masih segar.
Ukurannya besar, berkulit bersih, dan sama sekali belum membusuk atau keriput kekurangan air.
"Dari mana burung kecil itu bisa mendapatkan kacang tanah sebagus ini di musim kemarau panjang begini?"
Arga menggumam penuh keheranan sambil menatap lekat kacang di tangannya.
Tuk.
Tuk.
Beberapa benda kecil lainnya kembali dijatuhkan oleh burung-burung yang terbang di atas kepala warga desa lainnya.
"Hei, burung ini menjatuhkan daun singkong yang sangat segar dari mulutnya."
Suara teriakan heboh Bu Rini langsung terdengar melengking dari ujung jalan.
Wanita yang selalu penasaran itu langsung berlari keluar halaman memunguti daun-daun singkong liar.
"Burung-burung itu terbang ke arah candi tua di ujung timur desa sana."
Pak Joko yang tadi duduk lesu kini sudah berdiri tegak dengan mata berbinar-binar penuh harapan.
"Pasti ada sebuah sumber makanan segar yang mereka temukan di dekat reruntuhan itu."
"Tunggu apa lagi, ayo kita segera ikuti rombongan burung itu sebelum hari gelap."
Bu Rini memprovokasi warga lain sambil memegang keranjang anyaman kosong di tangannya.
Beberapa warga desa yang masih memiliki sisa tenaga langsung bergegas mengambil keranjang dan berlari mengikuti arah burung-burung tersebut.
"Rencana pura-pura ini benar-benar berjalan sangat mulus dan sempurna."
Natasya bersorak girang di dalam hatinya melihat keluguan orang-orang dewasa desa.
"Teman-teman burungku memang aktor yang sangat hebat di udara sana."
"Kita juga harus segera ke sana, Natasya."
Arga langsung menggenggam erat tangan putrinya dan mempercepat langkah kakinya mengikuti rombongan warga.
"Firasatmu tadi siang ternyata benar-benar membawa petunjuk langsung dari langit untuk kita."
Rombongan kecil warga desa itu akhirnya tiba di depan pelataran candi tua yang sudah hancur setengahnya.
Area candi itu dikelilingi oleh pepohonan beringin raksasa dengan akar gantung yang sangat lebat dan menyeramkan.
Tumpukan batu berukir peninggalan zaman dulu berserakan tak terawat tertutup oleh rimbunnya semak belukar.
"Tempat ini benar-benar terasa sangat angker dan membuat bulu kudukku merinding sendiri."
Bu Rini tiba-tiba berhenti melangkah dan bersembunyi di belakang suaminya karena nyalinya mendadak ciut.
"Bagaimana kalau ternyata burung-burung itu adalah kiriman setan penunggu candi untuk menyesatkan kita semua ke alam gaib?"
"Berhenti bicara omong kosong tentang setan kalau kau tidak punya keberanian sama sekali, Bu Rini."
Arga berjalan mendahului rombongan dan memegang cangkulnya dalam posisi siap waspada di depan dada.
"Setan tidak akan memberimu makan kacang tanah atau singkong liar yang masih segar."
Krasak.
Krasak.
Suara kepakan sayap burung terdengar riuh berkumpul dari arah belakang bangunan utama candi.
"Suara burungnya berasal dari balik reruntuhan batu besar di belakang sana."
Arga memberi instruksi sambil terus melangkah maju membelah semak belukar yang berduri tajam dengan cangkulnya.
Natasya mengikuti tepat di belakang punggung lebar ayahnya sambil terus mengawasi sekitar agar rencananya tidak gagal.
Saat mereka tiba di bagian belakang candi, pemandangan yang aneh namun menakjubkan tersaji di depan mata.
Ratusan ekor burung kecil hinggap memadati dinding tebing batu yang berada tepat di belakang candi tua tersebut.
Mereka semua mematuk-matuk sebuah celah kecil di tebing batu yang ditutupi oleh akar merambat berdaun lebat.
Di sekitar celah tersebut, terdapat sisa-sisa kulit kacang, buah ceri hutan, dan dedaunan liar berserakan di tanah.
"Burung-burung itu seperti sedang berusaha masuk ke dalam celah tebing batu itu."
Pak Joko menunjuk ke arah celah tersebut dengan tangan kurusnya yang gemetar hebat karena antusias.
"Pasti di balik tebing batu ini ada sebuah hutan tersembunyi yang masih hijau dan belum terkena dampak kemarau parah."
"Ayo kita buka jalan masuknya sekarang juga."
Beberapa pemuda desa yang kelaparan langsung maju dan menarik paksa akar-akar merambat yang menutupi tebing.