Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.
Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..
"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"
Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.
Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Kayna menatap Adrian. Pria itu tidak terlihat marah. Tidak terlihat bingung. Ia hanya terlihat... ingin tahu. Dan itu lebih menakutkan daripada kemarahan.
"Kayna adalah... metafora," ucap Kayna akhirnya, suaranya terdengar lemah bahkan di telinganya sendiri. "Nama yang kuciptakan untuk diriku sendiri. Nama yang kuinginkan."
"Nama yang kuinginkan," ulang Adrian pelan. "Jadi Kayla von Ardent bukanlah dirimu yang sebenarnya?"
Kayna menelan ludah. Ia tidak bisa memberitahu Adrian bahwa ia berasal dari dunia lain. Ia tidak bisa memberitahu pria ini bahwa ia adalah jiwa yang terjebak di dalam tubuh orang mati. Tapi ia juga tidak bisa berbohong. Tidak setelah semua yang terjadi.
"Ya," bisik Kayna akhirnya. "Kayla von Ardent adalah... seseorang yang tidak ingin menjadi diriku sendiri."
Adrian menatapnya lama. Sangat lama. Lalu, dengan gerakan yang lambat dan hati-hati, ia mengulurkan tangannya dan menyentuh punggung tangan Kayna yang terkepal di atas meja.
"Kalau begitu," ucap Adrian lembut, "mulai sekarang, aku akan memanggilmu Kayna. Karena itu adalah nama yang kauinginkan."
Kayna menatap tangan Adrian yang menyentuh tangannya. Tangan yang hangat, yang kokoh, yang semalam memeluknya seolah ia adalah satu-satunya hal yang berharga di dunia.
Dan untuk pertama kalinya, Kayna tidak ingin menarik tangannya.
Ini gawat, batin Kayna, merasa panik yang sama sekali berbeda dari panik karena mendekati kematian. Aku mulai tidak ingin mati. Ini adalah kegagalan terbesar dalam sejarah bunuh diri.
***
Sementara itu, di sebuah rumah kecil di pinggiran kota, Freya duduk di depan cermin, menatap pantulannya sendiri dengan tatapan yang dingin dan kalkulatif.
Gaun birunya yang kemarin sudah diganti dengan gaun putih sederhana. Rambutnya yang pirang dikepang rapi. Wajahnya yang cantik terlihat pucat, tapi matanya... matanya tidak lagi polos.
"Kau menyelamatkanku," gumam Freya pada pantulannya sendiri, meniru suara Kayna dengan nada datar yang sempurna. "Tapi aku tidak menyelamatkanmu. Aku mencoba menarikmu ke bawah lampu gantung itu agar kita berdua mati bersama."
Freya tertawa pelan. Tawa yang terdengar sangat tidak cocok dengan wajah polosnya.
"Kau pikir kau bisa menghancurkanku dengan satu insiden, Kayla?" bisik Freya, jarinya menelusuri tepi cermin. "Kau pikir dengan menjadi pahlawan, kau bisa mengambil tempatku? Adrian? Istana? Semua yang seharusnya milikku?"
Freya berdiri, berjalan menuju meja kecil di sudut ruangan. Di atas meja itu ada sebuah kotak kayu kecil, di dalamnya terdapat beberapa botol kaca berisi cairan berwarna-warni.
"Aku tidak akan membiarkanmu menang," ucap Freya, mengambil salah satu botol berisi cairan bening. "Kau mungkin selamat dari lampu gantung. Tapi kau tidak akan selamat dari ini."
Freya membuka botol itu, menghirup isinya dalam-dalam. Bau almond pahit menguar ke udara.
"Racun tanpa rasa, tanpa warna, tanpa bau," gumam Freya, tersenyum tipis. "Cukup untuk membunuh seekor kuda dalam lima menit. Dan kau, Kayla... kau hanya manusia biasa."
Freya menutup botol itu, lalu memasukkannya ke dalam saku gaunnya. Ia menatap cermin sekali lagi, memastikan bahwa wajahnya kembali terlihat polos dan tidak bersalah.
"Malam ini," bisik Freya, "aku akan mengirim hadiah perpisahan untukmu, Kak Kayla. Hadiah yang tidak bisa kau tolak."
***
Kembali ke kamar batu pualam, Kayna sedang mencoba merencanakan metode bunuh diri berikutnya ketika Rosa masuk dengan wajah pucat.
"N-Nona Kayla..." suara Rosa bergetar. "Ada... ada paket untuk Anda. Dari Nona Freya."
Kayna menoleh. "Paket? Apa isinya?"
Rosa menyerahkan sebuah kotak kecil yang dibungkus kertas indah. "Katanya... katanya ini adalah hadiah permintaan maaf karena insiden kemarin. Dia bilang... dia bilang ini adalah teh khusus dari wilayah selatan yang sangat langka."
Kayna menatap kotak itu. Teh?
Otak Kayna langsung bekerja. Teh dari Freya? Setelah semua yang terjadi? Ini mencurigakan. Sangat mencurigakan.
"Buka," perintah Kayna.
Rosa membuka kotak itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada sebuah kantong teh yang indah, dengan pita biru yang diikat rapi.
"Nona... ini..." Rosa menghirup bau teh itu, lalu wajahnya berubah. "Ini... ini bau almond pahit."
Kayna menyipitkan mata. Almond pahit?
Itu adalah bau sianida.
Kayna tersenyum tipis. Jadi Freya mencoba meracuniku? Bagus. Ini memudahkan segalanya.
"Rosa," ucap Kayna, suaranya terdengar sangat tenang. "Tuangkan teh ini ke dalam cangkir. Lalu bawa ke kamarku. Aku akan meminumnya."
"N-Nona?!" Rosa terkesiap, matanya membelalak ngeri. "Tapi ini racun! Nona tidak bisa..."
..gagal terus🤣