Menikah muda dan Kirana menyerahkan seluruh masa depannya untuk menjadi penopang di balik kesuksesan Gibran. Lima belas tahun ia setia mengabdi sebagai ibu rumah tangga, merawat anak-anak dan memastikan nama suaminya bersinar sebagai pria sempurna yang dipuja publik.
Namun, ketika harta dan tahta telah tergenggam, Gibran justru menganggap Kirana bab lama yang harus dibuang demi wanita lain.
Surat gugatan cerai dilayangkan. Satu kali, dua kali, hingga tiga kali.
Gibran mengira Kirana akan menangis mengemis cinta. Betapa naifnya. Bagi Kirana, ketenangannya bukanlah kepasrahan, melainkan strategi catur dingin.
Saat Gibran sibuk bertarung di ruang sidang, Kirana melangkah anggun menikmati masa mudanya yang tertunda. Kirana sengaja menjaga nama baik suaminya tetap bersih memastikan aset yang dibangun bersama berada di puncak nilai tertinggi.
Ketika Gibran mulai kehabisan napas, Kirana melayangkan pukulan balik. Ia mengincar delapan puluh lima persen harta gono-gini dan secara takt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Sah Yang Tak Sudi Diceraikan
Malam makin larut, namun udara di dalam kamar utama kami terasa jauh lebih menggigil dibanding hembusan pendingin udara. Pintu gerbang besi di bawah sana baru saja tertutup rapat. Gibran telah pergi, meninggalkan rumah dengan deru mesin mobil mewahnya yang membelah keheningan kompleks perumahan elite ini. Ia melarikan diri dari konfrontasi, persis seperti anak kecil yang merajuk dan murka karena mainan barunya belum berhasil didapatkan.
Aku melangkah mendekati jendela kaca besar yang menjulang dari lantai hingga langit-langit. Dari lantai dua ini, terpampang hamparan taman belakang lengkap dengan kolam renang berair biru jernih dan pilar-pilar gading yang menopang kemegahan bangunan ini. Istana ini begitu megah, namun malam ini terasa amat dingin dan hampa.
Pikiranku berputar kembali ke belasan tahun yang lalu. Saat usiaku baru menyentuh angka sembilan belas tahun.
Kala itu, ketika gadis-gadis seusiaku sibuk menari di bawah pendar masa muda, merajut cita-cita di bangku kuliah, dan menikmati kebebasan tanpa beban, aku justru memilih melipat sayapku rapat-rapat. Aku menyerahkan seluruh masa depanku untuk menjadi bayangan di balik punggung Gibran.
Saat aku memutuskan mengikat janji suci dengannya di atas kesederhanaan yang hampir mendekati nestapa, keluargaku sempat menentang keras. Mereka menilai Gibran terlalu berasumsi tinggi, seorang pemuda tanpa masa depan pasti yang hanya bermodalkan mimpi-mimpi besar tentang dunia teknologi dan bisnis. Namun, cinta masa mudaku yang naif membisikkan bahwa aku harus menjadi penopang hidupnya. Aku melepas kesempatan beasiswa universitas, menimbun rapat-rapat cita-citaku untuk menjadi seorang perancang, lalu memilih mengenakan apron dapur dan menyapu lantai kontrakan kecil kami.
Aku ingat betul betapa dinginnya jemariku saat mencuci pakaian secara manual di musim hujan, karena kami belum mampu membeli mesin cuci. Aku ingat bagaimana aku berpura-pura kenyang agar Gibran bisa menghabiskan porsi nasi terakhir saat modal usahanya habis dikuras penipuan rekan bisnisnya.
Dialah pria yang kuselamatkan dari rasa putus asa, pria yang kupeluk saat usahanya berkali-kali dihantam kegagalan, dan pria yang kubangunkan pilar-pilar kekuatannya hingga ia sanggup berdiri tegap menjadi penguasa imperium bisnis hari ini.
Di atas air mata dan pengorbanan itulah NexTech Group berdiri. Di atas jemariku yang lebam mengurus rumah tangga tanpa bantuan asisten itulah jaringan hotel mewah yang kini dibanggakannya berdiri megah.
Dan sekarang, setelah semua puncak dunia berhasil ia pijak, ia merasa bahwa aku hanyalah beban masa lalu yang tidak lagi serasi bersanding di samping jas mahalnya. Ia merasa wanita muda yang baru dikenalnya selama beberapa bulan wanita yang hanya menikmati hasil bersih dari pohon yang kutanam belasan tahun lebih layak mendampinginya di karpet merah perjamuan bisnis.
"Mami..."
Ketukan pelan dan suara lembut Kayla terdengar dari balik pintu kamar yang terbuka sedikit. Putri cantikku melangkah masuk dengan gaun tidurnya, membawa secangkir teh hangat yang masih berasap di atas nampan kecil. Di belakangnya, Evan mengekor dengan langkah pelan dan rahang terkatup rapat.
"Mami belum tidur?" tanya Kayla sembari melangkah mendekat dan meletakkan cangkir itu di meja samping tempat tidur.
Aku memutar tubuhku, menyunggingkan senyum hangat senyum yang selalu kuberikan untuk merengkuh mereka sejak mereka lahir ke dunia. Kuusap lembut lengan Kayla, lalu menatap Evan yang berdiri kaku di samping tempat tidur.
"Mami sedang menikmati pemandangan malam, Sayang," jawabku halus. "Kenapa kalian berdua belum tidur? Ini sudah lewat tengah malam."
Kayla menatapku dengan mata yang masih sembab dan kemerahan. "Gimana Kayla bisa tidur, Mi? Pikiran Kayla kacau banget. Kalimat Papi tadi di bawah terus berputar di kepala Kayla."
"Evan juga nggak bisa tidur, Mi," sahut Evan, suaranya yang mulai berat khas remaja laki-laki terdengar amat serius. Ia melangkah maju dan duduk di tepi ranjang, menatapku lurus-lurus. "Mami... kalau Mami mau pisah sama Papi, kita berdua ikut Mami. Evan nggak butuh uang Papi. Evan nggak butuh rumah ini, Evan nggak butuh mobil atau fasilitas dari Papi lagi."
Aku menatap putra laki-lakiku itu dengan dada yang bergetar. "Evan..."
"Evan serius, Mi!" potong Evan cepat, matanya menyipit menahan emosi yang terpendam. "Evan bisa kerja nanti setelah lulus SMA. Evan bisa cari uang buat Mami dan Kak Kayla. Mami nggak usah bertahan demi kita kalau cuma bikin Mami disakiti terus sama Papi. Evan benci lihat Papi memperlakukan Mami kayak tadi!"
"Iya, Mi," timpal Kayla, duduk di sebelah adiknya dan menggenggam jemariku erat-erat. "Kayla juga nggak sudi tinggal sama Papi kalau Papi cuma mau mempertahankan wanita gatal itu. Kayla siap keluar dari rumah ini kapan aja bareng Mami. Kita bertiga bisa mulai dari awal lagi, Mi. Kayla nggak takut hidup susah."
Dada hampa di dalam rongga rusukku mendadak terisi oleh kehangatan yang luar biasa. Anak-anak yang kubesarkan dengan kasih sayang dan peluh keringat ini tidak pernah membiarkan ibunya berdiri sendirian. Di tengah pengkhianatan pria yang kupilih menjadi ayah mereka, dua jiwa muda ini hadir sebagai benteng terkuatku.
Aku menggeleng pelan, lalu merangkul bahu Kayla dan memegang jemari Evan dengan kehangatan yang mantap.
"Dengarkan Mami baik-baik, Kayla, Evan," bisikku dengan nada tegas namun penuh kasih sayang, menatap mata mereka satu perper satu. "Mami sangat bangga punya anak-anak seperti kalian. Tapi Mami minta, hapus semua pikiran itu dari kepala kalian sekarang juga."
Kayla tertegun. "Tapi, Mi"
"Tidak ada tapi, Kayla," potongku lembut namun tak terbantahkan. "Kalian berdua tidak boleh mengorbankan apa pun. Tidak masa depan kalian, tidak sekolah kalian, dan tidak juga kenyamanan hidup kalian. Rumah ini, semua fasilitas ini, dibangun dari darah dan masa muda Mami. Kenapa kita harus angkat kaki dan menyerahkan kekayaan ini begitu saja pada orang lain?"
Evan mengerutkan keningnya, nampak bingung sekaligus gelisah. "Maksud Mami apa? Mami mau tetap bertahan sama Papi padahal Papi udah jahat banget?"
Aku menyunggingkan senyuman paling anggun, memandangi dua harta terbaik yang kumiliki di dunia ini.
"Mami tidak sedang pasrah, Evan. Mami berjanji pada kalian berdua... Mami akan bertahan," tegasku dengan pendar mata yang dingin dan tajam. "Mami akan bertahan di rumah ini, di pernikahan ini, dan di atas tahta ini. Mami tidak akan pernah menandatangani surat cerai itu, berapa kali pun Papi kalian membawanya ke depan muka Mami."
Kayla menatapku makin bingung, ibu jarinya mengusap punggung tanganku. "Kayla nggak paham, Mi. Kalau Mami bertahan, bukannya Papi akan terus tekan Mami? Papi bakal makin ketus dan jahat sama Mami..."
"Papi kalian mengira Mami bertahan karena Mami takut kehilangan uangnya atau takut hidup miskin," ucapku pelan, suara alusku bergema tenang di dalam kamar yang luas itu. "Dia lupa, dialah yang datang pada Mami tanpa membawa apa-apa belasan tahun lalu. Dia pikir dia bisa menekan Mami dengan kekuasaannya? Tidak, Sayang. Biarkan dia mengajukan gugatan cerai sepuluh kali pun di pengadilan. Mami akan menolaknya sepuluh kali pula. Mami akan membiarkannya lelah, membiarkannya habis tergerus oleh ambisi, emosi dan kebodohannya sendiri."
Evan menyimak setiap kata yang kuucapkan, matanya membesar saat memahami maksud di balik rencanaku. "Mami mau bikin Papi frustrasi?"
"Mami hanya sedang mengambil kembali kendali," jawabku tenang. "Saat Papi kalian berada di titik paling frustrasi, saat dia berpikir telah berhasil memojokkan Mami dengan hartanya... di situlah Mami akan melayangkan satu pukulan balik yang akan mengambil kembali seluruh apa yang menjadi hak kita. Bukan cuma harta dan saham perusahaan, tapi juga kehormatan keluarga ini yang coba dia injak-injak malam ini."
Kayla menghela napas panjang, pendar kebingungan di matanya perlahan berganti menjadi rasa kagum yang mendalam. "Mami... Mami hebat banget."
"Mami bukan cuma wanita yang bisa memasak di dapur, Kayla," bisikku seraya merapikan poni putri sulungku itu. "Mami adalah arsitek di balik semua keberhasilan Papi kalian. Dan Mami tidak akan membiarkan arsitektur yang Mami bangun dihancurkan begitu saja oleh kebodohan masa krisis usianya."
Aku memegang kedua bahu Evan, menatap anak laki-lakiku itu dengan penuh penekanan.
"Karena itulah, Mami punya satu permintaan besar buat kalian berdua," ucapku serius.
"Apa, Mi? Evan bakal lakukan apa aja buat Mami," sahut Evan cepat.
"Tugas kalian berdua saat ini hanya satu jangan pernah ikut campur dalam urusan Mami dan Papi," tegasku. "Jangan buang energi kalian untuk marah-marah pada Papi. Jangan biarkan emosi ini merusak konsentrasi belajar kalian. Kayla, kamu sudah kelas tiga SMA, bentar lagi masuk perguruan tinggi negeri impianmu. Evan, kamu baru kelas satu, perjalananmu masih panjang. Fokus belajar, raih prestasi tertinggi di sekolah terbaik, dan jadilah manusia yang terhormat."
Kayla menggigit bibir bawahnya, mata cantiknya kembali berkaca-kaca. "Tapi Kayla nggak tega lihat Mami sendirian berjuang menghadapi Papi..."
"Mami tidak sendirian, Sayang," balasku seraya tersenyum teduh. "Mami punya kalian berdua yang berprestasi dan membanggakan. Itu adalah senjata terbesar Mami. Kalau kalian belajar dengan baik dan menunjukkan bahwa kalian anak-anak yang luar biasa, itu sudah cukup untuk membungkam Papi kalian. Biarkan Mami yang menyelesaikan pertempuran dewasa ini di belakang layar. Tugas kalian hanya tumbuh menjadi anak-anak Mami yang hebat. Janji pada Mami?"
Evan menatapku lama, lalu perlahan menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Evan janji, Mi. Evan bakal fokus sekolah dan nggak bakal bikin Mami kepikiran. Tapi kalau Papi udah keterlaluan, Mami harus janji cerita sama Evan."
"Mami janji, Jagoan," jawabku hangat.
Aku menatap Kayla yang kini mengusap sisa air mata di pipinya. "Gimana dengan Kayla? Janji sama Mami?"
Kayla mengangguk pelan lalu memelukku erat, menyandarkan kepalanya di dadaku. "Kayla janji, Mi. Kayla bakal buktiin ke Papi kalau Kayla bisa sukses tanpa perlu bangga-banggain nama Papi, tapi karena bimbingan Mami."
"Anak pintar," bisikku lembut, merengkuh kedua buah hatiku ke dalam pelukan yang hangat dan protektif.
Kayla dan Evan saling berpandangan saat melepaskan pelukan. Ada pendar ketenangan dan kebanggaan baru yang terpancar dari mata kedua anakku. Mereka menyadari malam ini, bahwa ibu rumah tangga yang selama ini menyambut mereka dengan senyuman hangat di depan pintu rumah bukanlah wanita lemah yang bisa ditumbangkan begitu saja oleh badai.
"Sekarang, kalian berdua kembali ke kamar masing-masing dan tidur," perintahku halus. "Besok kalian harus bangun pagi untuk sekolah."
"Iya, Mi. Mami juga langsung tidur ya, diminum tehnya," kata Kayla seraya berdiri dan memberikan senyuman manisnya.
"Iya, Mami minum. Selamat tidur, Anak-Anakku."
"Selamat tidur, Mami," ucap Evan seraya mencium pipiku sebelum melangkah keluar kamar bersama kakaknya, menutup pintu kayu tebal itu dengan sangat perlahan.
Kini, keheningan kembali menguasai kamar utama yang luas ini. Aku melangkah kembali menuju jendela kaca besar, memandangi pendar lampu-lampu kota yang memantul di kejauhan. Kuusap cangkir teh hangat di tanganku, merasapi kehangatan yang menjalar ke jemariku.
Di bawah naungan istana megah yang mulai retak ini, sebuah perang dingin resmi dimulai. Pria yang pernah kucintai setengah mati telah memilih menjadi musuh dalam selimut. Namun ia lupa, aku bukanlah sekadar pelengkap di dalam hidupnya. Aku adalah Ratu di papan catur ini, dan aku tidak akan pernah membiarkan Raja jatuh sebelum aku sendiri yang menumbangkannya.
yx seperti Gibran ni ,, dg ikhlas lahir batin dy mengakui semua kebusukan ny bersama nyai lampir ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
slmt buat kirana,krna udh brhsil bkin mreka malu plus kismin....mngkn abs ni mreka bkln jd rakyat jelata....😛😛😛
nanti kalo jatuh bukan cuma sakit ,, tp malu ny tu looo ,, gx bisa d tampung dmna2🤭🤭🤭🤣🤣🤣
gmna ga stia,duitnya msh bnyak trs pnya jbatan jg...cba kl nnti udh ga pnya apa2,plingn jg bkln kabur.....🙄🙄🙄
🕺🕺🕺🕺🕺🕺🕺🕺🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣