NovelToon NovelToon
Cuma Kamu

Cuma Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:755
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Permintaan Vidi

Suasana pagi di meja makan keluarga Sumargo terasa dingin meski aroma keju panggang dan kopi segar memenuhi ruangan.

Denting sendok dan garpu beradu dengan piring porselen, menjadi satu-satunya suara yang memecah kecanggungan sebelum Karlina memulai permainannya.

Dengan gerakan anggun, Karlina menuangkan teh hangat ke cangkir Damian. Wajahnya dipasang senyum paling manis, sebuah topeng sempurna untuk menyembunyikan niat di balik tatapannya.

"Papi, kemarin malam Mami dengar dari temannya Bianka," ujar Karlina membuka percakapan, memecah hening dengan nada suara seolah hanya sekadar obrolan ringan.

"Katanya kemarin pagi ada yang lihat Zahira turun dari SUV mewah di pinggir jalan. Mobilnya bagus sekali, keluaran terbaru."

Damian menghentikan kunyahannya, menatap istrinya heran. "Oya? Mungkin temannya Zahira yang mengantar?"

"Ah, masa teman sebaya bisa punya SUV harga miliaran, Pi?" sahut Bianka cepat, menyambung umpan maminya. Ia mengoles mentega ke rotinya dengan senyum sinis.

"Setahu Bianka, sopirnya itu pria matang berpenampilan sangat mapan. Ya... istilah zaman sekarang sih sugar daddy gitu."

Zahira yang baru saja hendak menyuap sarapannya langsung meletakkan sendoknya. Dadanya berdesir, namun ia berusaha tetap tenang.

"Itu tidak benar, Mami, Bianka. Yang mengantar Zahira kemarin itu Om Elvan, paman dari Gisel teman kuliahku. Motor Zahira mogok di jalan dan beliau kebetulan lewat."

"Om Elvan?" Karlina terkekeh halus, nada suaranya penuh celaan yang terselubung. "Aduh, Zahira... kamu ini polos atau pura-pura polos? Pria dewasa mana yang mau repot-repot mengatakan gadis muda di tepi jalan kalau tidak ada 'maksud' di baliknya? Mami cuma khawatir, jangan sampai demi gaya hidup atau cari tumpangan enak, kamu malah merusak nama baik keluarga ini."

"Mami!" tegur Damian tegas, menatap istrinya dengan sorot mata menajam. "Jangan menuduh Zahira yang tidak-tidak tanpa bukti!"

"Mami cuma mengingatkan, Pi! Zaman sekarang banyak anak muda yang menghalalkan segala cara," kilah Karlina tidak mau kalah, menatap Zahira dengan sudut mata penuh ancaman.

"Lagipula, kalau cuma sekadar paman teman, kenapa harus sampai segitunya?"

Zahira menghela napas panjang, menatap Karlina dan Bianka secara bergantian dengan pandangan lurus tanpa rasa takut.

"Zahira tahu diri, Mami. Zahira tidak pernah meminta atau memanfaatkan siapa pun," Ucap Zahira lembut namun sarat akan ketegasan.

"Om Elvan murni menolong karena beliau kenal baik dengan Zahira dan Gisel. Kalau Mami dan Bianka ingin berpikir buruk, itu hak kalian. Tapi mohon jangan bawa-bawa nama baik keluarga untuk prasangka yang tidak berdasar."

Tergagap oleh ketenangan Zahira, Bianka mendengkus keras. "Alasan! Bilang aja kamu emang kegatelan!"

"Cukup, Bianka!" potong Damian seraya menepuk meja pelan. Suasana meja makan seketika membeku. Damian menatap Zahira dengan binar kebanggaan sekaligus penyesalan atas sikap anak dan istrinya.

"Zahira, Papi percaya sama kamu. Tidak usah dengarkan omongan yang tidak penting. Fokus saja buat persiapan sidangmu besok."

"Terima kasih, Pi. Zahira selesai sarapan dulu," tutur Zahira pamit dengan sopan, menyalami tangan papinya sebelum beranjak dari meja makan.

Karlina menyandarkan punggungnya di kursi, memandangi punggung Zahira yang menjauh. Tangannya mengepal erat di bawah meja. Ketenangan Zahira justru makin membakar amarahnya.

Lihat saja besok, Zahira, batin Karlina seraya mengukir senyum tipis yang sarat akan intrik. Saat sidang skripsimu, Mami pastikan semua topeng kepolosanmu itu hancur berkeping-keping.

.

.

.

Suara mesin mobil Damian meraung halus membelah jalanan pagi yang mulai padat. Di kursi penumpang depan, Vidi putra bungsunya hanya diam menatap keluar jendela.

Tas sekolahnya dipangku erat, mencerminkan raut wajah yang murung dan enggan bersuara.

Damian melirik sekilas, lalu memecah keheningan. "Jagoan papi, tadi kenapa enggak ikut turun sarapan di meja makan?."

Vidi menghela napas panjang, matanya masih menatap deretan pohon yang berkelebat cepat.

"Vidi malas, Pi," jawabnya jujur, nadanya terdengar lelah nada suara yang terlalu dewasa untuk usianya.

"Vidi enggak mau dengar keributan lagi. Tiap kali di meja makan, ada saja alasan Mami sama Kak Bianka buat menyudutkan Kak Zahira. Rasanya makin hari suasana di rumah itu makin bikin sesak."

Damian menghembuskan napas berat. Tangannya mencengkeram kemudi lebih erat, ada rasa bersalah yang menyelinap ke dalam dadanya.

"Mami dan Bianka cuma... belum bisa memahami Kak Zahira penuhnya, Nak," ujar Damian berusaha menenangkan.

"Bukan belum paham, Pi, tapi Mami sama Kak Bianka memang benci sama Kak Zahira," potong Vidi cepat. Ia memutar tubuhnya, menatap Papi Damian dengan sorot mata yang dipenuhi kesedihan.

"Papi tahu enggak? Tiap kali Kak Zahira dipojokkan, disindir, atau dituduh yang enggak-enggak, hati Vidi rasanya sakit banget. Vidi kasihan sama Kak Zahira. Kalau boleh jujur, Vidi malah lebih ikhlas kalau Kak Zahira tinggal di luar saja, sewa kos atau tinggal bareng sahabatnya."

Damian agak terkejut mendengar penuturan putra bungsunya. "Vidi... kenapa kamu bicara begitu? Ini rumah Kak Zahira juga."

"Tapi Kak Zahira enggak pernah merasa tenang di sana, Pi!" suara Vidi mulai bergetar, menahan emosi yang terpendam.

"Biarkan Kak Zahira tinggal tenang di luar. Di sana dia dihargai, punya teman yang tulus sayang sama dia. Daripada di rumah sendiri tapi setiap hari dijadikan sasaran kebencian? Vidi sedih banget tiap kali melihat Kak Zahira cuma bisa tersenyum sabar padahal hatinya disakiti."

Kata-kata Vidi seperti hantaman keras yang merobohkan ketegaran Damian. Ia terdiam cukup lama, membiarkan mobilnya berhenti perlahan di lampu merah.

Tatapan matanya bergetar menatap jalanan di depan. Selama ini, ia pikir dengan membelanya di meja makan sudah cukup, namun ia lupa betapa dalam luka emosional yang menyerap ke anak-anaknya.

Damian menepi ke pinggir jalan dekat gerbang sekolah Vidi. Ia mematikan mesin, lalu memutar badannya dan memegang kedua bahu Vidi dengan lembut.

"Vidi... maafkan Papi ya, jagoan papi," tutur Damian lirik, matanya berkaca-kaca. "Papi baru sadar, ternyata kamu sebegitu sayang nya sama kakak kamu, Zahira.."

Vidi menunduk, menahan air mata yang hendak menetes.

"Papi janji sama kamu," lanjut Damian mantap, menatap lurus ke dalam mata Vidi.

"Papi bakal berusaha jadi sosok ayah yang lebih tegas dan lebih baik untuk kalian bertiga. Papi enggak akan biarkan Kak Zahira terus-terusan tersudut, dan Papi juga bakal bimbing Mami sama Bianka. Papi ingin kita semua bisa benar-benar hidup akur dan saling menyayangi di bawah atap yang sama. Tolong beri Papi waktu untuk memperbaiki ini semua ya?"

Vidi menatap papinya lama, lalu mengangguk pelan. Senyum tipis akhirnya terukir di wajahnya. "Vidi cuma mau keluarga kita tenang, Pi."

"Iya, Nak. Papi mengerti," Damian mengelus kepala Vidi penuh kasih sayang. "Nah, sekarang masuk sekolah ya. Belajar yang rajin."

"Iya, Pi. Vidi pamit ya," ujar Vidi seraya menyalami tangan papinya sebelum turun dari mobil dengan perasaan yang jauh lebih lega.

1
sunaryati jarum
Semoga lulus dengan nilai sempurna dengan predikat Cumlaude, Zahira
fazry_fazriyah: aamiin....

terima kasih doakan selalu Zahira ya
total 1 replies
Best
apa sih si Imelda ini, jahat
Best
Mampir lagi Thor. semangat up ceritanya...✨
Best
lanjut Thor... semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!