Aria Utama, seorang arsitek bertangan dingin, mendadak terjebak dalam pusaran konflik dua pria paling dominan di kota. Di satu sisi ada Adrian Mahardika, CEO dingin dari Mahardika Group yang menawarkan perlindungan, kestabilan, dan cinta yang tenang. Di sisi lain ada Dante Vance, pemimpin sindikat kejahatan paling tak tersentuh yang siap menghancurkan dunia demi mendapatkan Aria. Saat rahasia masa lalu terkuak, Aria harus memilih antara kepastian yang aman atau gairah yang mematikan di tengah pertumpahan darah dan perebutan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aletaia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Bayangan di Belakang Panggung
Aria meremas ujung kemejanya. Keheningan yang mencengkeram ruangan kerja Adrian terasa jauh lebih mengintimidasi daripada guruh hujan tadi malam. Pandangan mata Adrian yang cokelat gelap menatapnya tajam, menembus seolah mampu membongkar seluruh rahasia yang berusaha Aria sembunyikan.
"Saya... tidak mengenal D.V. secara pribadi, Tuan Mahardika," jawab Aria berusaha menjaga nada suaranya tetap datar dan profesional. "Malam kemarin mobil saya sempat mogok dan seorang pria tak dikenal menawarkan bantuan. Mungkin itu hanya kebetulan atau kelakar yang salah tempat."
Adrian tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Ia melangkah mendekati Aria, menyisakan jarak begitu tipis hingga Aria bisa merasakan aura kepemilikan yang kuat dari pria itu. Adrian mengangkat kartu ucapan berwarna merah gelap itu di antara jemarinya.
"Dante Vance tidak pernah melakukan 'kelakar', Nona Utama," bisik Adrian dengan suara berat yang dipenuhi ancaman terselubung. "Dia adalah pemimpin sindikat Black Viper. Pria berbahaya yang tidak akan ragu menghancurkan siapa pun di jalurnya. Jika nama Anda sudah berada di dalam radar Dante, berarti kehidupan tenang Anda baru saja berakhir."
Adrian melempar kartu itu ke atas meja glass-top dengan ketukan nyaring. "Mulai detik ini, saya tidak hanya mempekerjakan Anda sebagai arsitek. Saya juga bertanggung jawab atas keselamatan Anda selama proyek ini berjalan."
"Tuan Mahardika, saya bisa menjaga diri saya sendiri—"
"Tidak, Anda tidak bisa," potong Adrian tegas tanpa memberi ruang untuk bantahan. "Saya kenal siapa Dante Vance dan sejauh mana kegilaannya. Rian, siapkan pengawalan tersembunyi untuk Nona Aria mulai hari ini."
Tiga minggu berlalu dengan cepat. Proyek Mahardika Grand Tower resmi memasuki tahap pengenalan publik. Malam ini, Ballroom Hotel Grand Hyatt Jakarta disulap menjadi ruang pameran megah bertabur lampu krisotil dan karpet merah. Para pengusaha kelas atas, pejabat pemerintahan, hingga insan media berkumpul untuk menghadiri Gala Launching proyek bernilai triliunan tersebut.
Aria berdiri di sudut ruangan pameran, mengenakan gaun malam berwarna merah maroon tanpa lengan yang memperlihatkan leher jenjangnya. Rambut hitamnya disanggul rapi ke atas, menyisakan beberapa helai yang jatuh lembut di pipinya. Di tangannya menggenggam segelas champagne, tetapi pikirannya terus melayang. Selama tiga minggu terakhir, Adrian memantau setiap detail pekerjaannya—menunjukkan perhatian yang intens dan protektif, tetapi di saat yang sama tetap menjaga jarak dingin khas seorang CEO.
"Kau terlihat sangat memukau malam ini, Aria."
Suara bariton yang familiar itu membuat Aria berbalik. Adrian berjalan mendekatinya, tampak luar biasa tampan dalam balutan tuxedo hitam berbahan beludru. Tatapan mata Adrian yang biasanya tertutup rapat kini memancarkan binar kehangatan yang tak biasa saat memandangnya.
"Terima kasih, Tuan Mahardika. Acara malam ini sangat luar biasa," ujar Aria dengan senyum tipis.
"Saat kita hanya berdua, panggil aku Adrian," sahut pria itu pelan. Adrian mengulurkan tangannya, secara alami merapikan helai rambut Aria yang terjatuh di samping pelipisnya. Sentuhan jemarinya yang hangat dan mantap membuat dada Aria berdebar halus. "Kerja kerasmu dalam merancang maket utama gedung ini adalah bintang sesungguhnya malam ini."
Namun, momen hangat itu tak bertahan lama.
Tiba-tiba, riak kegemparan merayap di seluruh ruangan. Suara gelak tawa para pengusaha berangsur-angsur senyap, digantikan oleh bisik-bisik cemas. Barisan pengawal berjas hitam yang menjaga pintu utama ballroom mendadak terdorong mundur saat sekelompok pria melangkah masuk dengan aura yang amat dominan dan mengintimidasi.
Di barisan paling depan, melangkah seorang pria tinggi tegap dengan kemeja hitam yang dibiarkan terbuka di dua kancing teratasnya, dibalut mantel panjang berwarna gelap. Rahangnya tegas dengan bekas luka tipis di garis pipi yang justru menambah kesan berbahaya pada wajah tampannya. Rambut hitamnya sedikit berantakan, dan sepasang mata abu-abu gelapnya memancar bagaikan serigala yang sedang berburu.
Dante Vance.
Kemunculan sang Raja Mafia di tengah acara berkelas para elit sontak membuat atmosfer ruangan menjadi begitu tegang. Dante melangkah santai, mengabaikan tatapan panik para tamu VIP yang ketakutan. Tatapan matanya yang liar menyapu seluruh isi ballroom, hingga akhirnya terkunci rapat pada satu sosok wanita bergaun merah maroon.
Sudut bibir Dante terangkat, membentuk senyuman tipis yang tajam dan sarat akan ancaman.
"Nekat sekali dia datang ke mari," desis Adrian. Wajah sang CEO berubah drastis menjadi sangat dingin. Secara refleks, Adrian melangkah maju, meletakkan tangannya di pinggang Aria dan menyembunyikan posisi wanita itu di balik tubuh tegapnya.
Dante menghentikan langkahnya tepat tiga meter di hadapan mereka berdua. Para pengawal pribadi Mahardika Group langsung bersiap mengambil posisi, tetapi Dante hanya mengibaskan tangannya santai, menyuruh anak buahnya sendiri untuk tetap di belakang.
"Luar biasa, Adrian. Acara yang sangat megah," suara Dante terdengar berat, serak, dan penuh karisma kegelapan. "Tapi rasanya kurang sopan jika kau tidak mengundang mitra lama bisnismu."
"Tempat ini adalah acara bisnis resmi, Dante. Orang seperti kau tidak punya tempat di sini," jawab Adrian dengan nada penuh penekanan dan kebencian yang mendalam.
Dante tertawa pelan—sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya berdiri. Tatapan mata abu-abunya kemudian bergeser, melewati bahu Adrian dan menancap tepat pada mata Aria.
"Aku tidak datang untuk bisnismu yang membosankan ini, Adrian," ujar Dante pelan. Ia mengambil satu langkah lebar mendekat, mengabaikan halangan tubuh Adrian, lalu mengulurkan tangannya ke arah Aria. "Aku datang untuk menagih janji pada wanita yang memegang cincinku."
Mata para tamu yang menyaksikan kejadian itu melebar. Adrian mengepalkan tangannya rapat-rapat, dadanya naik turun menahan amarah yang membakar.
"Dia adalah arsitek utamaku dan berada di bawah perlindunganku," tegas Adrian seraya mempererat cengkeramannya di pinggang Aria.
Dante menatap Adrian dengan kilatan mata bernada menantang, lalu beralih kembali menatap Aria dengan tatapan penuh gairah yang berbahaya.
"Perlindungan?" Dante terkekeh sinis, matanya mengunci pandangan Aria. "Wanita ini milikku sejak malam dia menyelamatkan nyawaku di tengah hujan. Bukankah begitu, manis?"
Aria menahan napas. Di antara cengkeraman protektif Adrian dan tatapan obsesif Dante yang mengunci jiwanya, ia menyadari bahwa dirinya kini berada tepat di garis tengah pertempuran dua penguasa yang siap saling membantai.