Melisa Monaco memalsukan tahun lahirnya demi mendaftar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya membaca kontrak. Ternyata isi kontrak adalah persetujuan pernikahan. Ia terpaksa tetap menjalaninya sebab jika mundur sepihak maka harus membayar denda yang jumlahnya sangat besar.
Sejak pernikahan digelar, hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia yang muak direndahkan, nekat berusaha merebut hati Dharma Panjalu dan membuktikan pada seluruh keluarga bahwa ia bukan perempuan yang layak direndahkan.
Dalam perjalanan membuktikan diri, ia mengalami banyak kejadian buruk. Tanpa disangka kejadian buruk yang dialaminya justru membantu keluarga itu menguak penyebab kematian istri Dharma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosella Nona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari pertama di Rumah Baru
Maya menjelaskan konsep pernikahan yang akan digelar minggu depan.
Banyak sekali poin-poinnya, tapi yang Melisa dengar dan perhatikan hanya bagian Intimate Wedding, ia bersyukur tidak harus berdiri dengan gaun-gaun besar berhari-hari. Membayangkannya saja sudah sangat melelahkan.
“Melisa, apa ada keluarga yang mau kamu undang?”
Pertanyaan Bu Inggit menyadarkannya dari lamunan.
“Tidak ada, Bu. Seperti tertulis di berkas, saya yatim piatu dan merantau sendirian di kota ini.”
“Iya, saya tahu. Mungkin ada kerabat jauh atau sahabat yang mau kamu undang untuk menyaksikan hari bahagia kamu besok.”
“Sebenarnya saya ga terlalu bahagia sih, Bu,” ucap Melisa. Ia tidak berani terlalu percaya diri dalam lingkungan yang belum ia kenal.
Bukan hanya Bu Inggit, Maya dan Dharma juga terkejut mendengar pernyataan Melisa yang terkesan blak-blakan.
“Saya tidak mau membahas tentang perasaan kamu di sini. Pembahasan sekarang adalah tamu undangan. Perihal perasaan sudah dianggap sepaket dengan persetujuan kemarin.” Bu Inggit menolak sanggahan Melisa tadi.
“Eh.” Melisa melihat sekitar. Maya dan Dharma juga menatapnya. Melisa baru sadar sepertinya ia salah bicara, padahal sama sekali tidak berniat mengacaukan apapun, ia hanya menyampaikan perasaannya yang kontras dengan suasana hati Bu Inggit.
“Saya tidak bermaksud …., Maaf.” Ia urung meluruskan, lebih baik meminta maaf saja di saat-saat begini.
“Oke. Kita lanjut. Kalau tidak ada yang perlu kamu undang berarti kita tidak perlu merevisi jumlah tamu,” ucap Bu Inggit seraya menyerahkan buku yang cukup tebal pada Melisa.
Tatapan keheranan Melisa langsung disambut baik oleh Maya, kali ini ia yang menjelaskan. “Itu daftar tamu yang akan hadir dalam acara besok, ada lima ratus orang saja dan semuanya adalah keluarga inti. Pasangannya saja yang jelas bukan keluarga inti, mereka orang lain yang sudah masuk bagian keluarga kita. Jadi tetap kamu pahami info tentang mereka ya, Mel.”
Melisa masih menatap buku itu. Ia coba meraihnya, melihat jumlah halamannya saja sudah membuatnya mual. Kalau harus tahu semua info tentang anggota keluarga yang ada dalam buku ini apakah itu berarti sedikit banyak ia harus menghafalkannya?
“Hah? Sebanyak ini harus dihafal?”
Kan, ada ada saja gebrakan yang membuatnya harus terkejut berkali-kali. Keluarga ini memang special, atau ia yang terlalu berasal dari kalangan yang tidak setara dengan mereka. Belum apa-apa Melisa sudah ingin menangis dan berteriak.
“Tidak harus, cukup tahu beberapa orang saja.” Dharma coba menenangkan, ia tidak tega melihat perempuan yang baru akan masuk menjadi bagian keluarga itu terlihat begitu tertekan. Ekspresi wajahnya mirip sekali dengan mantan istrinya dulu.
“Kalau bisa hafal juga malah lebih bagus.”
Nah, tambahan dari Bu Inggit barusan yang membuat Melisa keberatan kalau harus membaca saja, setidaknya ia akan coba menghafal informasi dasar dari beberapa orang.
Selesai. Pertemuan hari itu diakhiri dengan Maya yang mengantar Melisa menuju kamar yang sementara akan ditinggalinya sebelum acara berlangsung.
…
Di dalam kamar, Melisa termenung. Ruangan sebesar ini tidak akan membuatnya bahagia kalau ditekan seperti ini. Ia memutuskan untuk sedikit bersantai dulu, setidaknya ia bisa menikmati sedikit waktunya untuk mencicipi fasilitas-fasilitas yang membuatnya penasaran di rumah besar ini.
Ia berjalan ke dapur. Bagus, tapi ia tidak bisa menjelaskan satu-satu teknologi canggih yang ia jumpai di sana sebab baru pertama kali melihatnya. Kapan-kapan ia akan coba cari informasi di gugel tentang furniture mewah seperti ini.
“Permisi. Boleh tahu bagaimana mengambil air dari sini? Aku tidak menemukan tombol apapun.” Melisa menemukan alat yang ia kira dispenser air, ia tertarik untuk membuat teh hangat, tapi belum tahu cara mengalirkan air hangat itu dari sana.
Saat ada orang berseragam seperti ART yang melintas di dekat dapur, ia memberanikan diri bertanya. Yang ditanya juga belum mengenal Melisa. Melihat baju lusuh Melisa yang tidak selevel dengan para majikan di rumah ini, pembantu itu mengira Melisa adalah pegawai baru yang belum dapat seragam.
“Saya Rosa. Siapa nama kamu, Anak Baru?” Rosa menanyainya sambil membantu mengambilkan air hangat.
“Melisa.”
Begitu segelas air hangat itu diserahkan, Melisa berterimakasih.
“Kalau belum tahu apa yang bisa kamu kerjakan di sini, kamu bisa bergabung dengan kami dulu.”
Menarik. Melisa ikut saja, lumayan house tour dengan pemandu yang sukarela mengantar tanpa diminta. Ia melewati beberapa pintu besar, sepertinya itu kamar dan ruang-ruang lain yang Melisa belum tahu apa.
Mereka sampai di kamar para pembantu, pembantu-pembantu lain yang duduk di sana ternyata baru selesai makan bersama. Salah satu orang itu memakaikan celemek pada Melisa. Belum memahami apa yang akan terjadi, ia menurut saja.
Ia diantar ke wastafel untuk mencuci bekas alat-alat makan yang bahkan tidak ikut ia gunakan.
“Kenapa harus aku yang mencuci? Aku bahkan tidak makan bersama kalian sama sekali.” Ia coba menolak dengan sopan.
Bagaimana tidak? Ia belum makan apapun sejak masuk ke rumah ini, tapi malah sudah diberi tugas mencuci alat-alat makan yang digunakan oleh para pembantu.
“Itu semacam ritual perkenalan, Melisa. Agar kita semua sesama pelayan jadi lebih mudah akrab. Toh, ini juga pekerjaan yang selama tinggal di sini ke depan akan kamu lakukan,” jawab Rosa yang membawanya ke mari.
Oh, ia dikira berada di sini karena akan dijadikan pembantu seperti mereka. Melisa merasa harus meluruskan ini sebelum mereka semakin memintanya mengerjakan yang tidak-tidak.
“Kalian salah paham. Aku calon istri Dharma.”
Melisa mengatakan itu sambil sedikit membusungkan dadanya. Orang-orang ini harus sedikit diberi pelajaran agar tidak bertindak semaunya.
Bukannya terkejut dengan pernyataan Melisa, mereka malah menertawakannya.
“Bangun! Jangan terlalu lama berkhayal dalam mimpi, Nak,” ejek salah satu pembantu yang usianya paling tua.
“Nona Sheila yang secantik itu saja belum berhasil meluluhkan hati Pak Dharma yang sekaku itu. Ini kulit rambutan busuk malah sudah kepedean bakal jadi istri."
“Penampilanmu saja bikin sakit mata tahu."
Mereka tertawa sekali lagi. Puas sekali merendahkan Melisa.
Satu hal yang dipahami Melisa, mereka semua bermuka dua. Di depan para majikan bersikap manis seolah paling santun, ternyata di belakang semuanya malah kebalikannya. Ini bukan lingkungan yang hangat seperti di tempat kerjanya kemarin.
Ia memperingati dirinya sendiri untuk lebih berhati-hati agar tidak terlibat dalam hal-hal yang tidak diinginkan.
Daripada meladeni mereka, Melisa memilih melepas celemek begitu saja dan hendak pergi dari ruangan itu.
Begitu ia berbalik untuk pergi, seseorang menahannya dengan menarik rambutnya.
“Heh. Main pergi aja.”